Sistem Arselan: Pengendali AI

Sistem Arselan: Pengendali AI
Bab 024: Kelas Zarah


__ADS_3

"Hebat," puji Ats senang, "Aku yakin kamu emang bisa."


"Jelas dong," ucap Solar bangga, "Aku kan bakal jadi calon penerus Keluarga Efendi yang paling kuat."


"Haha ... yah, selama kamu bekerja keras pasti ada jalan," Ats ikut bangga dengan tekad besar kawannya itu. Ia juga punya cita-cita. Yah, walupun tak seambisius Solar, tapi cita-cita itu juga butuh perjuangan yang besar.


"Tapi, Ats," Solar menatap Ats dengan dingin kali ini, "Kenapa kamu nggak pernah bilang kalau kamu sudah jadi praktisi zarahian sampai tahap ahli?"


"Hm? Buat apa bilang ke kamu?" Ats menatap heran, "Lagian, kamu juga nggak pernah tanya."


"Mana aku tahu!" Solar jadi sebal menyadari fakta itu. Sepanjang tesnya kemarin dengan Master Khaled, praktisi kejam itu sangat suka membanding-bandingkannya dengan Ats. Pria itu bilang bahwa ia tak sebaik rivalnya ini. Tentu ia tak menerimanya. Selama ini, ia merasa seimbang dengan Ats. Karena itu, ia perlu mengujinya. "Ats, mumpung Master Khaled belum datang, ayo kita sparing. Aku memang baru mau masuk tahap ahli, tapi aku nggak bakalan kalah sama kamu."


"Nggak mau ah," Ats langsung menolak. Ia pun duduk di kursi tunggu yang terpasang di pinggir balai pelatihan. Pemuda itu tak ingin kelelahan sebelum latihan dimulai. Sebagai orang yang sudah beberapa kali menderita di bawah arahan Master Khaled, ia tahu bahwa pelatihan ini selalu membutuhkan banyak tenaga.


"Kamu takut, hah?" Solar berusaha memprovokasi. Sayangnya, itu tak berpengaruh sama sekali kepada Ats. Rivalnya itu malah sibuk sendiri dengan gawainya dan berkata santai, "Ya, anggap aja begitu. Aku juga nggak terlalu ambisius buat jadi praktisi zarahian kok."


"Bohong," Solar tak percaya, "Mana mungkin kamu bisa jadi praktisi tingkat ahli kalau nggak ada ambisi buat itu?"


"Bisa," nada bicara Ats yang tetap santai membuat Solar makin jengkel, "Ini aku bisa."


"Heh, aku serius nih," Solar mengepalkan tangannya, berniat memukul Ats jika pemuda itu menjawabnya dengan asal lagi. Ats pun berpaling dari gawainya dan menatap bocah Efendi yang cerewet itu.


"Aku juga serius kok," kata Ats dengan nada yang tak berubah sama sekali, "Di keluargaku, rata-rata juga sudah masuk tingkat ahli di usia ini."


"Makanya, sini lawan aku!" Solar terus memaksa, "Jangan-jangan kamu cuma omong kosong."


"Ck, aku betulan ko—"


"Hai!" sebuah sapaan memotong kata-kata Ats sebelum ia sempat menuntaskannya. Suara yang terdengar riang itu berasal dari seorang pemuda berwajah supel yang tiba-tiba menepuk pundak Solar. Solar pun langsung menjauh karenanya. Ia tak merasakan kedatangan pemuda itu sama sekali.

__ADS_1


"Senior Arka?" Ats menatap pemuda supel itu. Ia pun jadi dapat ide untuk menghindari gangguan Solar. "Pas banget nih. Solar baru butuh lawan buat sparing. Senior bisa nemenin dia, kan?"


"Eh?" Arka tertegun. Sebenarnya, ia baru berniat untuk menantang Ats. "Padahal—"


"Tuh, Lar. Senior Arka mau tanding sama kamu," Ats tak memberi Arka kesempatan untuk menjelaskan sama sekali, "Dia juga praktisi zarahian tingkat ahli loh. Lebih hebat dari aku malah."


"Ck, bilang aja nggak mau," Solar berdecak kesal.


"Aku kan dah bilang gitu," jawab Ats sambari tersenyum simpul, "Dari tadi malah."


"Eh?" Arka masih agak kebingungan, "Beneran nih?"


"Iya," Solar yang menjawab. Ia pun mengajak Arka ke tengah lapangan. begitu sampai di sana, ia langsung membuat kuda-kuda menyerang yang sempurna. Arka jadi tertarik melihat itu.


"Oke, kamu duluan yang maju," Arka memasang kuda-kuda bertahan dengan seulas senyum simpul di wajahnya. Senyumnya itu sedikit mirip dengan senyuman Ats yang membuat Solar jengkel.


"Ha!" Solar menyerang sambil menyerukan teriakan intimidasi. Jika lawannya bermental tahu, sudah pasti orang itu langsung ambruk sebelum terkena serangannya. Sayangnya, praktisi ahli sudah tentu tak bermental tahu.


"Ck!" Solar berdecak sebal tanpa membalas ocehan Arka. Ia terus melancarkan serangan. Sayangnya, sebagian besar serangan yang ia luncurkan tak mengenai sasaranya. Arka bisa menepis atau menghindari serangan beruntun itu dengan mudah. Sesekali ena, itu pun tak fatal. Level mereka memang berbeda.


"Hai, kamu dari Keluarga Efendi, kan?" tanya Arka sambil menangkis serangan Solar yang mengincar kepalanya, "Ilmu bela diri itu ... aku yakin asalnya dari Keluarga Efendi yang hebat."


"Tentu saja," Solar terpancing untuk menjawab pertanyaan Arka, "Keluarga Efendiku adalah keluarga yang agung."


"Geh, kamu pikir begitu?" terdengar suara mengejek pada nada bicara Arka kali ini, "Kamu tahu? Meskipun ilmu bela diri kalian hebat, kalian paling payah di teknik zarahian."


Sindiran frontal itu membuat pukulan Solar jadi lebih kuat dari sebelumnya. Wajahnya mendadak sedingin gunung es. Matanya menatap tajam. Pemuda itu tak terima keluarganya hinakan.


"Bagus, kamu pasti bisa lebih kuat dari ini, kan?" Arka terus memprovokasi, "Atau ... mungkin segini saja batas kekuatanmu? Geh, ternyata begitu. Kalian tak lebih dari ini."

__ADS_1


"Ck! Bac*t!" Solar semakin terpancing. Ia ingin terus memperkuat serangannya, tapi batasnya memang hanya segini. Seperti yang Arka katakan, ia memang hanya sebatas ini.


Buk!


"!?" sebuah pukulan di leher membuat Solar yang kelelahan tumbang seketika. Ia pun tersungkur di lantai. Napasnya terengah-engah. Kesadarannya bahkan hampir sirna. Namun, ia masih berusaha menjaganya sekuat tenaga. Sebagai calon penerus Keluarga Efendi, ia harus bisa menjaga martabat keluarganya.


"Nak," suara yang serak-serak basah mengagetkan Solar, tapi pemuda itu tak bisa merespon apa-apa, "Kamu sudah cukup hebat sehingga masuk kualifikasiku. Namun, ada yang kurang darimu. Apa kamu tahu apa itu?"


Ats menghampiri Solar dan membantu kawannya itu untuk bangkit. Solar pun mendapati Master Khaled berdiri di hadapannya. Wajah garang yang terkenal itu menatapnya dengan datar.


"Mohon petunjuk Anda, Master," ucap Solar lirih sembari menunduk kecil di papahan Ats. Sebesar apa pun kebanggaannya terhadap Keluarga Efendi, ia tetap rela merendah pada orang yang lebih tinggi darinya guna menjadi lebih baik.


"Kamu kuat," kata Master Khaled dingin, "Tapi kamu ceroboh. Tenagamu yang besar itu jadi mubazir karena kamu menggunakannya dengan serampangan. Kamu juga terlalu mudah termakan emosi. Ingatlah bahwa kamu harus bisa berpikir jernih dalam kondisi apa pun, apalagi di dunia luar sana yang jauh berbeda dengan Konstelasi Altair. Kamu mengerti?"


"Saya mengerti, Master," Solar mengangguk. Ia sudah lepas dari papahan Ats sekarang. Meskipun napasnya masih kurang stabil, ia siap mengikuti latihan dengan sang master.


"Ck! Beristirahatlah dulu!" Master Khaled menunjuk pinggir lapangan, "Aku tak mau kamu tumbang di tengah latihan."


"...!?"


Solar tertegun sesaat. Ia pun kembali mengangguk kecil kemudian. Saat ia berjalan ke pojok lapangan. Didengarnya suara Ats yang berkata, "Senior, kamu keterlaluan."


"Hm," Arka malah tak merasa bersalah sama sekali, "Menurut gitu? Menurutku biasa-biasa aja sih."


Ats pun melihat senyum getir di wajah Arka. Sepertinya, ada sesuatu yang pernah seniornya itu alami di masa lalu. Yah, itu bukan urusannya sih. Tak baik terlalu mencampuri masa lalu pribadi seseorang.


"Hai, aku mau mengajakmu tanding tadi," akhirnya Arka menyampaikan niat awalnya yang terhalang tadi, "Kamu malah nyuruh aku tanding sama dia."


"Emang kenapa kalau sama aku? Bukannya sama aja?" Ats menoleh. Arka pun menggeleng dan tersenyum, "Beda dong. Kamu kan dah masuk tahap ahli, sementara dia belum. Aku juga penasaran sama teknik zarahiannya Keluarga Asir. Keluargamu itu kan yang paling hebat di bidangnya."

__ADS_1


"Haha ... kalaupun Senior Arka juga minta tadi, aku tetap nggak mau nerima tantangan Senior," Ats merenggangkan tubuhnya. Ia berdiri di belakang Master Khaled, bersiap untuk pemanasan. "Aku nggak mau kecapean sebelum latihan."


__ADS_2