Sistem Arselan: Pengendali AI

Sistem Arselan: Pengendali AI
Bab 059: Perasaan dalam Hati


__ADS_3

"Pangeran Han," panggil Radu yang diperkenankan untuk ikut bersama Ats dan rombongannya. "Sistem itu, apa yang akan Anda lakukan jika suatu saat nanti Tuan Muda Ats menyalahgunakannya?"


"Hm," Profesor Han menoleh pada Radu. Ia duduk di salah satu akar raksasa yang ada di bukit itu. Dedaunan pohon yang rimbun menaunginya dari panas mentari. Ia pun menatap kembali kepada Ats yang tengah menggendong adiknya. "Aku tidak yakin orang sebaik dia akan melakukan itu. Karena itulah aku mempercayainya. Namun, kalau dia benar-benar menyalahgunakannya suatu saat nanti, maka aku harus bertindak tegas. Bagaimanapun juga, aku adalah guru sekaligus rekan penelitian bocah itu."


Radu ikut menatap Ats. Ada banyak sekali laporan yang harus ia dokumentasikan nanti. Meskipun tugasnya terlihat sepele, sebenarnya ia sedang menanggung tugas yang amat besar.


Mereka pun mengobrolkan beberapa hal ringan. Tak lama kemudian, Ulu dan seorang kawannya yang lain datang bergabung.


"Pangeran, bagaimana rasanya mau naik ke pelaminan?" entah apa yang mereka bicarakan sebelumnya, Ulu tiba-tiba menanyakan hal itu, "Profesor ke mari untuk melamar putri dari Master Aruj, 'kan?"


"Ya ...," Profesor Han memutar bola matanya ke arah lain, menghindari tatapan antusias yang terpancar dari mata Ulu, "Itu cukup seru dan mendebarkan. Aku khawatir karena hampir saja ditolak oleh beliau. Syukurlah ada orang dalam yang membantuku."


"Orang dalam?" Radu berpikir bahwa mungkin saja orang itu adalah eksekutif atau tetua di Keluarga Asir, tapi sebenarnya itu adalah Ats.


"Yah," Profesor Han menyungging senyum, "Kalian harus pandai menyambung silaturahmi untuk kesuksesan di masa depan. Relasi itu merupakan faktor penting yang akan sangat berguna untukmu."


"Oh," Ulu dan kawan-kawannya manggut-manggut paham.


Tak jauh dari mereka, Ats membawa Ayya ke tempat paling tinggi. Ia terus menggendong putri kecil itu di punggungnya. Berat adiknya ini sangat ringan dibanding anak-anak seusianya.


"Kakak, Kakak," panggil Ayya begitu mereka tiba di tempat tertinggi, "Kakak juga akan menikah seperti Bibi Razana dan Paman Han?"

__ADS_1


"Ya, suatu saat nanti," jawab Ats. Ia pun menurunkan Ayya dari punggungnya. Gadis kecil itu didudukkannya di atas sebuah akar yang besar.


"Sama Kak Ana?" tanya Ayya lagi.


"Kak Ana?" Ats mengerutkan keningnya. Ia sengaja mengeraskan ajah guna menekan ekspresi agar terlihat biasa-biasa saja. "Maksudmu Anasiya."


Anasiya yang kebetulan ada di dekat situ tertegun. Saat ini, tempatnya berdiri tidak terlihat dari kakak-beradik itu. Mendengar apa yang Ayya katakan, ia bisa paham akan ke mana arahnya. Karena itu, ia memutuskan untuk bersembunyi di sana.


"Iya," Ayya mengangguk, "Dia temannya Kakak, 'kan?"


"Iya, kami cukup akrab waktu kecil dulu," jawab Ats sambil mengingat bagaimana ia mengajak Anasiya ke mari dulu. Andai ia tahu bahwa Anasiya ada di dekatnya, ia pasti akan lebih waspada dengan perkataannya.


"Apa Kakak bertengkar sama Kak Ana baru-baru ini?" tanya Ayya dengan polosnya. Ia masih butuh konfirmasi dari Ats setelah mendapat penjelasan dari Anasiya.


"Karena Kakak sudah nggak dekat lagi sama Kak Ana," kata Ayya mengungkapkan dugaannya, "Kak Ana juga minta maaf ke Kakak, 'kan, kemarin?"


"Ya, tapi itu bukan salahnya sama sekali," jawab Ats jujur, "Aku juga nggak ada alasan untuk bertengkar dengannya."


"Tapi," Ayya masih belum percaya," Kenapa Kakak menghindar dari Kak Ana terus? Kakak nggak suka sama dia, ya?"


"Em, itu bukannya aku nggak suka sama dia," jawab Ats memberi pengertian, "Tapi karena kami berdua sudah besar. Kami berdua harus saling menjaga satu sama lain. Kalau kami terlalu dekat, akan ada masalah yang tak diinginkan terjadi."

__ADS_1


"Masalah apa?" Ayya tak mengerti.


"Ada deh," Ats belum tahu cara menjelaskannya pada Ayya. Ia pun hanya menjawab sekadarnya. "Pokoknya, kami saling menjauh untuk menjaga aja. Masalah itu baru akan hilang kalau kami benar-benar menikah masa depan nanti."


"Kapan Kakak menikah sama Kak Ana?" pertanyaan Ayya kembali ke konteks pertama. Ats pun berpikir sebentar sebelum menjawabnya. Sementara itu, Anasiya duduk dengan hati berdebar di persembunyiannya.


"Kakak masih belum tahu," jawab Ats akhirnya, "Karena akademi belum membolehkan muridnya menikah selama masa pendidikan, mungkin setelah aku lulus. Jika saat itu belum ada yang meminangnya, maka aku akan mencobanya. Apa menurutmu dia gadis yang baik?"


"Kak Ana baik," jawab Ayya cepat, "Dia lembut dan perhatian. Lebih baik dari Bibi Elnara."


"Phft!" Ats menahan tawanya begitu Ayya membandingkan Anasiya dengan Putri Elnara. "Begitukah? Bibi akan sedih kalau mendengarnya."


"Biarin," Ayya tak peduli. Ia malah ingin mengatakannya kuat-kuat di dekat Putri Elnara jika pemilik Istana Tulip Emas itu benar-benar ada di sini. "Itu karena bibi sering melarangku ke luar."


"Bibi begitu karena mengkhawatirkanmu," Ats mengetuk kening adiknya pelan dengan jari telunjuk. Senyumnya mekar seindah pagi. Ada kasih sayang tulus yang memancar darinya.


Di tempatnya sembunyi, Anasiya terdiam menahan hati yang berdesir pelan, tapi perlahan semakin kencang. Wajahnya memerah semerah tomat yang matang. Ia pasti akan sangat malu kalau sampai Ats melihatnya.


Anasiya merasa debaran di hatinya semakin keras. Ia tak ingin ketahuan telah menguping pembicaraan itu. Tubuhnya pun perlahan menghilang, melebur dengan udara. Dalam sekejap, tempatnya sembunyi menjadi kosong.


Ats melirik ke samping. Ia bisa merasakan kekuatan itu. Matanya pun menyipit. Ia pasti akan langsung mengejar orang itu kalau saja Ayya tak ada di hadapannya. "Tapi ... ini aneh."

__ADS_1


"Arselan," panggil Ats dalam hatinya, "Kamu mendeteksi orang di balik sana beberapa saat yang lalu, 'kan?"


"Benar, Tuan," jawab Ats, "Subyek terdaftar sebagai 'bukan ancaman'."


__ADS_2