Sistem Arselan: Pengendali AI

Sistem Arselan: Pengendali AI
Bab 033: Dokter Razana Asir


__ADS_3

"Hais ... Ats, apa saja yang kamu adukan pada Dokter Razana kemarin?" keluh Profesor Han lemas. Sepanjang pagi tadi, ia mendapat omelan keras dari wanita itu. Rasanya seperti mendapat omelan langsung dari adiknya sendiri, Elnara Zarah Altair yang cerewet.


"Em, semuanya," jawab Ats enteng, "Semua yang dokter tanyakan pada saya."


"Ah, begitu, ya," Profesor Han menatap tak percaya. Ia yakin bahwa muridnya ini mengadukan banyak hal pada Dokter Razana. Buktinya, omelan itu tak kunjung pergi dari pikirannya. Ia jadi tak bisa fokus sepanjang hari ini. Rasa bersalahnya pada Ats pun jadi semakin besar.


Ats menatap sang profesor iba. Sebenarnya, bukan hanya profesor saja yang mendapat omel, tapi ia juga. Kemarin malam, bibinya itu bahkan hampir menginap di ruang kesehatan akademi hanya untuk memastikan Ats benar-benar mematuhi kata-katanya. Karena itu, Ats belum bisa sekolah meskipun sudah mampu hari ini.


"Yah, mungkin kita hentikan dulu penelitian ini untuk sementara," ujar Profesor Han kemudian, "Seperti kata dokter, kamu harus lebih menjaga kesehatan, sedangkan aku harus mencarikan alternatif yang tepat untuk menjaga keselamatanmu."


"Hm," Ats menurut.


"Lalu, apa yang kamu rasakan selama di dunia virtual?" Profesor Han beranjak ke pertanyaan utamanya. Sejak kemarin, inilah yang ingin ditanyakannya.


"Sepi," jawab Ats mengingat-ingat saat itu. Memorinya masih sedikit buram sekarang. Ia belum mampu mengingat seluruhnya, "Makanya, kupikir tempat itu cocok untuk melakukan akselerasi."


Akselerasi adalah upaya meningkatkan kemampuan neuron zarah. Teknik itu dilakukan dengan melatih daya tahan praktisi dan meningkat energi zarahnya dalam waktu singkat. Itulah yang Ats lakukan kemarin.


"Kamu harusnya memberi tahuku dulu sebelum melakukan itu," Profesor Han pun menghela napas kecil, "Kalau kamu bilang dulu, kan aku jadi lebih siap."


"Hehe, maaf, Profesor," Ats tulus meminta maaf. Profesor Han pun menjelaskan hasil penelitian yang mereka dapat kemarin. Ia juga menceritakan bagaimana Ats bisa ada di pusat kesehatan akademi.


"Dokter Razana adalah yang paling ahli di bidang itu, jadi kami tak punya pilihan lain," jelas Profesor Han, "Untung saja dia kerabatmu."


"Kenapa memangnya?" Ats menatap curiga.


Profesor Han terlihat ragu untuk menjawabnya. Ia bahkan sedikit memalingkan wajahnya. Setelah beberapa saat memberanikan diri, ia akhirnya bertanya, "Apa kamu akrab dengan Dokter Razana?"


"Ya," Ats mengangguk. Melihat ekspresi di wajah sang profesor, ia bisa sedikit menebak maksud di balik pertanyaannya.

__ADS_1


"Orang yang seperti apa beliau?" lanjut Profesor Han.


"Ha? Apa Profesor mau melamar bibiku?" Ats langsung memastikan tebakannya. Pertanyaan balik yang tak terduga itu membuat sang profesor gelagapan. Ia ingin menyangkal, tapi merasa sayang. Ini adalah kesempatan terbaiknya untuk mendapat informasi itu.


"Saya tidak akan menjelaskan kalau Profesor tidak menjawab," ancam Ats setengah bercanda.


"Em—" Profesor Han masih ragu. Ia pun berkata, "Mungkin saja begitu. Para tetua terus mendesakku untuk menikah. Kalau Dokter Razana berkenan, aku akan segera melamarnya. Menurutku, dia calon terbaik."


"Wah, Profesor tidak trauma setelah diceramahi sebanyak itu?" Ats menatap kagum, lalu kembali memastikan tebakannya, "Atau, karena itulah Profesor tertarik pada Dokter Razana?"


"Bukan, mana mungkin aku tertarik diomeli setiap hari?" sangkal Profesor Han, "Kubilang, mungkin saja ia yang cocok denganku yang sudah tua ini."


"Wah, ternyata Profesor menyadarinya," gumam Ats lirih. Sebenarnya, bibinya itu pun sudah sangat terlambat dari ambang batas usia normal pernikahan. Jadi, mereka mungkin memang cocok.


"Apa?" Profesor Han hampir saja mendengar gumaman itu. Ats pun segera menggeleng, lalu menjelaskan tentang bibinya, "Dokter Razana baik hati, cerdas, dan perhatian. Beliau selalu membawakan oleh-oleh padaku setiap pulang ke kampung. Beliau juga yang mengajarkanku kiat-kiat di akademi sebelum aku berangkat. Karena itulah aku sangat siap tinggal di sini."


"Beliau tidak pemarah, kan?" tanya Profesor Han hati-hati. Ats pun segera menggali ingatannya, lalu menggeleng. "Beliau orang yang ramah kok. Cuman, kadang cerewet banget tergantung perasaannya."


Ats menatap Profesor Han miris. Meskipun tersirat, ia bisa mengerti maksud asli dari pertanyaan itu. "Dokter Razana bukan orang yang matre kok, tapi beliau suka berbagi. Anggaran angpaunya paling besar di antara kerabat yang lain, jadi—"


"Cukup! Aku sudah paham," Profesor Han tak bertanya lagi, "Mungkin akan lebih baik kalau aku berkenalan langsung dengannya."


"Wah, apa Anda akan meluangkan waktu?" Ats mendapatkan hal yang menarik, "Mungkin saya bisa membantu."


"Hm," Profesor Han mencoba mengingat-ingat, "Biar kulihat lagi jadwalku nanti."


"Oke, katakan saja saat Anda butuh bantuan saya," Ats menyatakan dukungannya, "Saya pasti membantu."


"Membantu apa?" sosok Dokter Razana muncul begitu pintu ruang kesehatan dibuka, "Profesor, jangan bilang Anda mengajak Ats untuk melakukan eksperimen berbahaya lagi."

__ADS_1


"Sama sekali bukan," Profesor Han langsung menjelaskan dengan singkat, padat, dan jelas, tapi meragukan bagi Dokter Razana.


"Wah, Bibi," Ats jadi bersemangat melihat bibinya datang, "Kebetulan sekali, Profesor ing—"


"Ssst ...!" Profesor Han langsung meminta Ats untuk diam. Ia belum memeriksa jadwalnya. Tidak, sebenarnya ia belum siap saja.


"Apa itu, Profesor?" Dokter Razana menatap curiga. Ada hawa mengerikan yang terpancar dari pertanyaannya itu. Entah mengapa, itu membuat Profesor Han merinding.


"Profesor ingin 'berkenalan' dengan Bibi," Ats menjelaskannya tanpa ragu. Kata-katanya itu membuat Profesor Han terkejut, sedangkan Dokter Razana tertegun.


Selama beberapa saat, suasana jadi kaku dan canggung. Samar-samar, Ats bisa melihat rona merah di pipi bibinya. Ia pun tersenyum jahil. Sepertinya, perjodohan ini akan semakin menarik.


"Ke—kenapa harus berkenalan? Kita kan sudah saling kenal," Dokter Razana pun memutuskan untuk pura-pura tak mengerti. Itu membuat Ats berdecak. Akting bibinya ini terlalu payah.


"Tentu saja berkenalan untuk 'itu', Bibi," Ats mempertegas di kata "itu". Sebagai orang yang sudah cukup berumur, tentu Dokter Razana sangat paham.


"Ah, begitu, ya," pandangan Dokter Razana berubah jadi dingin. Ia pun berkata pada Profesor Han, "Profesor, bisakah Anda keluar dari sini sekarang?"


"Eh?" Profesor Han tertegun. Ia tak menyangka reaksi itu sama sekali. Mungkinkah ia langsung ditolak? Tidak mungkin, kan? Usia mereka memang terpaut hampir sepuluh tahun, jadi—ditolak itu mungkin sih.


"Mohon Anda keluar sekarang, Profesor," pinta Dokter Razana lagi dengan aura yang lebih dingin. Profesor Han pun mengindahkan pengusiran halus itu. Ia tak akan memaksa kalau Dokter Razana memang tak mau menerimanya.


"Bibi?" Ats menatap Dokter Razana yang terduduk dan menekuk wajah di sampingnya. Ia jadi cemas karena itu, "Bibi nggak apa-apa, kan?"


"Ats—" Dokter Razana mendongak. Rona merah di pipinya benar-benar terlihat kali ini. "Kamu nggak bohong? Itu serius?"


"Iya, serius kok," jawab Ats jujur.


"Si Nggak Peka itu seriusan mau ngajak "kenalan" dulu?" tanya Dokter Razana sekali lagi.

__ADS_1


"Iya, serius. Eh, dua rius malah," jawab Ats dengan helaan lega. Ia pikir, ia menyinggung bibinya barusan. "Oh ... jangan-jangan—"


"Ssst ...! Kamu masih kecil!" Dokter Razana mencegah Ats untuk mengatakan tebakannya itu. Ia bahkan mencubit pipi bocah itu seperti kemarin. Cubitannya sangat keras sampai membuat pipi Ats sangat merah.


__ADS_2