
"Kita berdua sudah besar," kata Ats begitu sampai di kaki bukit, "Nggak etis dua muda-mudi yang nggak ada hubungan apa pun jalan berduaan."
"Eh?" Anasiya berpura-pura tak terima dengan kata-kata itu, "Kita kan teman."
"Ya, kita teman," Ats membenarkan, "Tapi, tetap ada jarak yang harus kita jaga satu sama lain demi kebaikan masing-masing."
"..."
Anasiya tak langsung membalas. Apa yang Ats katakan itu memang tidak salah. Setelah mereka berdua dewasa, mereka harusnya sudah sadar dengan jarak masing-masing. Ia pun menyunggingkan senyumnya, "Oke, aku bakal balik duluan kalau gitu. Kamu jagain aku dari belakang, ya."
"Hm," Ats mengangguk kecil. Ada sesuatu yang bergejolak di dadanya saat Anasiya tersenyum padanya. Ia pun segera memalingkan wajah dengan ekspresi datar guna menyembunyikan perasaannya. Ia tak ingin memedulikan semua perasaan semu itu. Saat ini, ia hanya perlu fokus untuk menimba ilmu di akademi dan melihat banyak dunia baru.
"Ats, kamu dari mana aja sih?" tanya seorang pemuda berambut hitam legam. Ia berkacak pinggang dengan wajah yang kesal. Sepertinya, ada sesuatu yang telah membuat pemuda itu berang.
"Zen?" Ats menoleh pada sepupunya itu. Dilihatnya pemuda itu berpakaian serba rapi dan formal. Tampak sekali ia ditugaskan untuk menyambut tamu barusan.
"Aku habis dari bukit belakang," jawab Ats santai setelah beberapa detik. Tak ada rasa bersalah sama sekali di wajahnya. Ia bahkan menyungging senyum simpul yang tulus berterima kasih.
"Kok kamu nggak ikut penyambutan sih?" sewot Zen kesal, "Ada yang bilang kalau kamu terjun ke jurang. Apa-apaan itu?"
"Emang, kok," jawab Ats dalam hati. Selama ini, hanya ia dan Anasiya yang tahu tempat rahasia itu. Ia tak pernah memberitahukannya pada orang lain, bahkan kakek dan neneknya.
__ADS_1
"Kamu capek, ya?" tanya Ats seolah perhatian dengan penderitaan sepupunya. Ia tak mengharapkan jawaban dari pertanyaan itu sama sekali. "Semangat, ya. Nyambut tamu emang harus sabar."
"Ats, cepat ganti bajumu," seru Nenek Amina yang datang entah dari mana, "Kamu harus ikut acara siang nanti."
"Hmph! Cepat ganti sana!" kata Zen menegaskan perintah neneknya.
"Oke," Ats tak masalah sama sekali dengan sikap emosional sepupunya. Ia sudah terbiasa dengannya sejak kecil. Menurutnya, itu hanya sikap wajar seorang anak kecil—tidak, Zen bukan anak kecil. Dia hanya belum dewasa saja.
Siang itu, acara penyambutan utusan diadakan seperti biasanya. Namun, karena ini adalah acara dadakan, penyambutannya dibuat lebih sederhana. Tidak ada banyak kemeriahan yang muluk-muluk. Cukup dengan makan siang bersama, ramah tamah, dan mengobrolkan berbagai hal yang terjadi di masa lampau maupun rencana di masa depan.
Sore harinya, sebuah pertandigan persahabatan diadakan. Perguruan Zarahian Asir dengan Perguruan Awan Putih masing-masing mengutus tamid terbaiknya untuk bertanding. Pertandingan itu disaksikan oleh banyak orang, utamanya masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar perguruan.
Dulu, Ats pernah menjadi perwakilan keluarganya beberapa kali. Sekarang, ia tak perlu lagi maju ke sana karena sudah dianggap sebagai sosok yang dituakan dan dihormati di perguruan. Ia cukup melihat dan mengamati. Kalau menurutnya ada yang perlu dievaluasi, ia bisa saja maju memberikan arahan. Namun, ia belum pernah menggunakan hak itu sama sekali. Bagaimanapun juga, ia masih junior yang perlu banyak belajar. Di Akademi Altair, bahkan banyak sosok yang lebih hebat darinya.
"Ya," jawab Ats singkat.
"Aku," pria paruh baya itu menundukkan kepalanya sedikit dengan tangan yang ditaruh ke dada, "Mohon maaf atas perbuatan tidak sopan yang telah dilakukan tamidku. Mereka hanya bermaksud menyampaikan pesanku padamu."
"Angkatlah kepala Anda, Master," balas Ats dengan nada berbicara yang datar, "Saya adalah junior. Anda tak perlu segan begitu."
Arselan langsung memindai wajah pria itu begitu ia bangkit. Namanya adalah Sauka Sarae, seorang master zarahian tahap awal. Ia berafiliasi pada Perguruan Awan Putih sejak dua tahun yang lalu sebagai seorang master di sana.
__ADS_1
"Sarae? Dia bukan dari Keluarga Zivana?" batin Ats begitu membaca profil itu.
"Namaku Sauka Zivana. Aku kepala utusan dari Perguruan Awan Putih. Senang bertemu denganmu, Tuan Muda Ats," kata pria itu memperkenalkan diri. Marga yang diucapkannya berbeda dengan yang Arselan tunjukkan. Melihat itu, Ats mempertimbangkan berbagai hal.
"Begitu pula saya," Ats membalas dengan formal, "Senang bisa mengenal Anda, Master Sauka."
Pria itu adalah bos dari si kumis tebal dan si alis tebal. Kedatangan mereka amat ganjil dan mencurigakan. Karena itu, identitas Sauka pun pantas dicurigai.
Ats dan Sauka saling memandang dalam diam selama beberapa saat. Mereka seolah sedang menilai satu sama lain.
"Tuan Muda, saya ingin memperbincangkan beberapa hal dengan Anda," Sauka yang akhirnya kembali memulai percakapan. Ia mengubah cara bicaranya jadi formal. "Kalau berkenan, maukah Anda menerima undangan saya untuk makan malam bersama malam ini?"
Radu dan Zagan spontan menoleh diam-diam mendengar ucapan itu. Mereka orang yang bertugas 'menjaga' Ats kali ini. Sebagai agen junior yang diutus pemerintah, tentu mereka sudah dibekali berbagai info, termasuk hal yang berkaitan untuk mengenali lawan-lawannya.
"Kita harus berjaga-jaga," kata seorang pemuda yang merupakan salah satu agen di Tim Ulu. Namanya adalah Arie Lak. Ia menggunakan piranti khusus untuk berkomunikasi dengan rekan-rekan setimnya. "Aku akan membicarakannya dengan yang lain. Kalian berdua, tetap awasi dia."
"Dimengerti," Radu dan Zagan menjawab kompak. Arie pun segera menghilang dari keramaian, sementara Radu dan Zagan dengan cermat menjalankan tugasnya.
"Bagaimana, Tuan Muda?" tanya Sauka menuntut jawaban, "Apakah Anda berkenan?"
"Kenapa tidak mengatakannya di sini?" Ats tak bisa membuang perasaan skeptisnya. Ia tak berniat untuk menerima tawaran.
__ADS_1
"Ini adalah hal privat," jawab Sauka dengan seulas senyum simpul di wajahnya, "Saya rasa akan lebih baik jika kita dibicarakan di tempat yang tepat."