
Tujuh tahun lalu ...
"Salam kenal," ucap gadis kecil yang cantik itu, "Namaku Anasiya Zivana. Senang bertemu denganmu."
"..."
Ats tak langsung menjawab. Ia menatap wajah gadis itu dengan ekspresi polos. Tak ada senyum sama sekali di bibirnya.
"Ats, perkenalkan dirimu juga," pinta Nenek Amina kemudian. Ats pun mengangguk, lantas memeberi salam pada gadis di hadapannya, "Salam kenal, aku Atssuria Asir."
"Nah, kalian berteman yang akrab, ya," karena ada urusan lain, Nenek Amina pun memasrahkan Ats dan Anasiya kecil pada salah seorang murid. Mereka bermain bersama, tapi seakan tak bersama.
Yah, begitulah pertemuan awal mereka yang pasif. Meskipun sebenarnya Anasiya adalah gadis yang supel, ia memiliki kepekaan tinggi sehingga tidak menggannggu Ats—berbeda dengan seseorang. Ia mengajak Ats bermain hanya ketika bocah itu memiliki perasaan yang baik.
"Ats, kamu mau ngapain?" tanya Anasiya dengan firasat buruknya ketika melihat jurang di depan mereka. Saat itu, keduanya sudah sangat akrab sampai Ats mau membawa Anasiya ke tempat favoritnya.
"Main," jawab Ats singkat dengan seulas senyum simpul di bibirnya. Telunjuknya pun menunjuk bukit yang ada di seberang jurang. Ia lantas berkata, "Ayo ke sana. Di sana tempatnya lebih bagus."
"Eh? Gimana caranya?" firasat Anasiya semakin buruk begitu melihat pandangan Ats yang menatap ke jurang. Bocah dari Keluarga Asir itu pun menjawabnya enteng dengan seulas seringai polos, "Terjun."
"Ha? Terjun?" Anasiya benar-benar tak menyangka bahwa firasatnya akan tepat begini. Ia tak habis pikir dengan ide gila bocah di depannya ini.
"Iya, terjun," Ats menegaskan, "Kamu sudah belajar teknik zarahian, kan?"
Anasiya mengangguk. Sebagai gadis dari keluarga terpandang di Pulau Reda, tentu ia sudah diajari hal-hal dasar bagi Klan Zarah. Ia pun menatap bingung kepada Ats.
"Kita terjun, terus kalau aku bilang 'lepas'," kata Ats memberi petunjuk, "Lepaskan teknikmu. Habis itu, kita pergi ke sana."
Ats menunjuk sebuah batu besar yang tersembunyi di antara pepohonan. Jika hanya diamati dari ujung bukit ini, jalan setapak yang ada di baliknya tak akan terlihat. Jalan setapak itu akan membawa mereka ke puncak bukit yang ada di seberang.
__ADS_1
"Emangnya bisa?" Anasiya tak percaya diri.
"Bisa kok," Ats meyakinkan. Ia pun mengulurkan tangannya. "Sini pegang tanganku."
Anasiya menerimanya dengan ragu-ragu. Ia masih belum paham petunjuk Ats sepenuhnya. Namun, ia percaya bahwa bocah itu pasti berhasil.
"Terjun!" seru Ats yang kemudian menarik Anasiya lompat ke jurang. Jurang itu sangat tinggi. Anasiya berteriak histeris saat terjun ke sana.
"Sekarang!" Ats kembali berseru untuk mengalahkan teriakan Anasiya, "Lepas!"
Ats lebih dulu melepaskan tekniknya. Ia berjaga-jaga untuk mengamankan pendaratan Anasiya jika gadis itu gagal melakukan tekniknya. Namun, seperti yang diduga, Anasiya mampu melakukannya sama seperti Ats sehingga tak ada sedikit pun kecelakaan yang terjadi.
Partikel-partikel mereka muncul di atas batu besar. Anasiya langsung berusaha mengatur napasnya yang ngos-ngosan. Perutnya mual. Ia hampir saja memuntahkan isi perutnya pagi itu. Andai gengsinya terhadap Ats tidak tinggi, ia mungkin benar-benar sudah muntah.
"Seru, kan?" Ats yang sudah terbiasa dengan terjun bebas itu bisa pulih lebih cepat. Peluh keringat mengucur di dahinya. Akan tetapi, ada riak riang gembira di air mukanya.
"..."
"Ke sini jalannya," ucap Ats menunjuk jalan setapak yang tersembunyi, "Ayo naik!"
***
"Ats," Anasiya muncul di sebelah Ats yang tengah fokus memperhatikan sesuatu. "Kamu kenapa sih?"
"Ssht!" Ats lagi-lagi meminta Anasiya untuk diam. Ia meletakkan telunjuknya di bibir. Matanya memandang ke daerah bukit yang lebih rendah.
"Itu!" mata Anasiya melebar, "Apa itu Pussy?"
"Belum tentu," Ats menggeleng. Matanya masih saja awas mengamati hewan yang dipanggil "Pussy" oleh Anasiya itu.
__ADS_1
"Itu pasti Pussy," ucap Anasiya yakin.
Kucing besar berwarna hitam itu jelas kucing yang pernah mereka temukan dulu. Kucing itu tengah tiarap di antara akar-akar pohon yang besar. Mata kuningnya yang secerah pagi mengintai mangsa dengan tajam.
"Ja—" Ats ingin meminta Anasiya untuk tidak mengusik kucing besar itu. Bagaimana pun juga, ia masih belum yakin dengan identitasnya. Namun, Anasiya malah lebih dulu memanggilnya.
"Pussy!" seru Anasiya sambil melambaikan tangannya. Mangsa yang diincar kucing itu pun kabur saking terkejutnya, sedangkan kucing itu langsung menoleh dan menatap Anasiya penuh curiga.
"Hai, ini kami," seru Anasiya lagi, "Pussy, sini!"
"Oi, dia—" Ats hendak mengingatkan Anasiya untuk hati-hati. Namun, ia sudah terlambat.
Kucing hitam itu benar-benar mengincar mereka sekarang. Dengan kecepatan penuh, ia memanjat akar-akar besar yang mencuat di permukaan tanah untuk sampai ke tempat Ats dan Anasiya.
"Hati-hati!" seru Ats yang reflek mengaktifkan teknik zarahiannya saat kucing hitam itu sampai. Tubuhnya pun ditembus oleh si kucing besar yang kemudian menatap dengan kebingungan.
"Hais ... jahatnya ... Padahal Pussy cuman mau menyapa," gerutu Anasiya. Ia muncul di samping Pussy, lalu mengelus-elus surainya yang tebal dan lembut. Pussy pun mendengkur senang dengan belaiannya.
"Tubuhnya sudah sebesar itu," Ats membela diri, "Aku bakal jatuh kalau dia mendorongku."
"Alasan," balas Anasiya yang kemudian menggelembungkan pipinya seperti anak kecil. Ia terus mengelus kucing hitam raksasa yang bermanja ria kepadanya. Kalau Ats tak mau menyambut Pussy, biarlah ia sendiri yang bermain dengannya.
Pussy mengeong saat Ats mendekatinya. Ia pun menundukkan kepala, meminta bocah itu juga mengelusnya.
"Kamu nggak jadi liar walaupun kami tinggal di sini, ya?" tanya Ats seolah-olah Pussy akan menjawabnya. Kucing itu pun hanya tetap mendengkur senang. Ia menutup matanya menikmati belaian dua orang yang amat perhatian padanya.
Ponsel Ats dan Anasiya berdering bersamaan tak lama kemudian. Mereka pun menjawabnya. Isi percakapan mereka mirip.
"Baik, Nek. Aku pulang sekarang," Ats mengakhiri teleponnya duluan, baru kemudian Anasiya selanjutnya, "Oke, Paman. Aku sudah bertemu dengannya. Kami akan kembali sekarang."
__ADS_1