
"Salam, Magister," ucap Ats sembari memberi hormat kepada seorang pria paruh baya di hadapannya. Pria itu memiliki kumis yang panjang, rambut klimis yang mengkilap, dan aura cendekiawan.
"Salam, Ats," balas pria itu ramah. Senyum lembut terukir di wajah tirusnya. Ada kebahagiaan yang terpancar dari sana. "Silakan duduk di sana, Nak."
"Terima kasih, Magister," Ats pun duduk di sofa yang Magister Snoug tunjuk. Pandangannya menyusuri setiap sisi ruangan. Tak ada banyak perabot di sini. Ruangan ini jadi terkesan luas dan simpel.
"Tunggu sebentar, ya," ucap Magister Snoug yang masih berkutat pada gawai di hadapannya, "Biar kuselesaikan dulu pekerjaanku yang tinggal sedikit."
Ats tidak keberatan. Sembari menunggu, ia memainkan gawainya bersama Arselan. Dengan bantuan sistem itu, penggunaan gawainya jadi lebih mudah.
"Arselan, bagaimana menurutmu desain ruangan ini?" tanya Ats iseng. Arselan pun langsung menanggapi. Ia memancarkan gelombang ke seluruh ruangan. Sekejap, kemudian, ia menerima kembali gelombang itu.
"Pemindaian selesai!" lapor Arselan.
Muncul cetak biru seluruh ruangan di mata Ats. Ini mirip dengan konfigurasi 3D, tapi pada kapasitas yang lebih kecil. Karena itu, Profesor Han tidak menguncinya.
"Desain futuristik MD_4.5.5."
Begitulah Arselan menunjukkan nama desain ruangan yang simpel itu. Berbagai keterangan muncul di setiap perabot di dalamnya, termasuk hal-hal yang simpel seperti sofa dan vas bunga antik yang ada di meja.
Di sudut atas ruangan, ada sistem keamanan dalam ruangan level menengah. Itu adalah sistem keamanan standar yang digunakan di instansi-instansi penting seperti Akademi Altair. Jika ada hal yang mencurigakan, sistem itu akan segera melaporkannya pada pusat keamanan. Jika droid juga diaktifkan, droid itu sendiri yang akan langsung memeriksa kecurigaan.
"Wah, sofa ini bahkan bukan sofa biasa," gumam Ats lirih ketika membaca keterangan yang Arselan tunjukkan. Di sana ada nama, jenis, tahun pembuatan, keunggulan, dan kekurangan sofanya.
__ADS_1
"Vas itu juga," Ats memperhatikan vas di meja Magister Snoug, "Itu vas yang berasal ratusan tahun yang lalu, bahkan sebelum Klan Zarah melancarkan skema menghilang dari muka bumi."
"Bunga Tulip," Ats membaca nama bunga merah muda di dalam vas tersebut, "Bunga yang berasal dari Benua Median Tengah. Bunga ini dibudidayakan oleh Klan Saval dan Klan Alian. Diimpor ke Benua Altair jauh sebelum Perang Antarklan Terakhir."
"Kamu suka ruangan ini?" suara Magister Snoug mengagetkan Ats. Pemuda itu pun tersenyum simpul, lalu menjawab, "Ya, ruangan ini sangat ringkas dan simpel. Rasanya seperti duduk di tempat yang luas."
"Hm, benar," Magister Snoug senang karena tampaknya Ats memiliki pandangan yang sama dengannya. "Oke, aku sudah selesai. Mari kita mulai kelas ini di luar."
"Di luar?" Ats mengerutkan kening.
"Yah, aku lebih suka belajar sambil jalan-jalan," ujar Magister Snoug, "Ikuti saja aku."
Ats pun menuruti perintah sang guru besar. Mereka berdua berjalan ke parkiran mobil. Di sana, Magister Snoug mengetuk gawai di pergelangan tangannya. Tak lama kemudian, sebuah mobil terbang mendarat mulus di depan mereka berdua.
"Eh?" Ats tak menyangka. Ia kira, Magister Snoug hanya akan membawanya jalan-jalan di akademi yang sangat luas. Yah, tidak masalah sih. Sesekali keluar akademi juga bagus.
Ats pun masuk ke mobil. Ia menatap interior dalam mobil yang juga terkesan simpel dan sederhana, sama seperti ruang kerja sang magister.
"Ats, bagaimanakah pemimpin ideal menurutmu?" tanya Magister Snoug begitu mobil menyala dan terbang ke jalan-jalan angkasa di kompleks akademi. Pria itu menyetir langsung mobilnya meskipun ia sebenarnya bisa mengaktifkan fitur pengemudi otomatis. Ia lebih suka melakukannya sendiri dan menikmati nyamannya perjalanan.
"Pemimpin ideal?" Ats langsung memikirkannya. Ia tak perlu bantuan Arselan untuk mengumpulkan semua info tentang kepemimpinan karena ia sendiri sudah mengerti dasarnya.
"Mereka yang paling berpengetahuan dan amanah," jawab Ats singkat. Magister Snoug pun menatapnya sekilas, berharap agar bocah dari Keluarga Asir itu mau memberi lebih banyak jawaban.
__ADS_1
"Juga—" lanjut Ats kemudian, "Pemimpin itu harus adil dan bijak dalam mengambil keputusan, tegas dalam bertindak, dan tidak memperturutkan hawa nafsunya."
"Hm, kalau kamu sudah tahu sebanyak itu, kamu sudah tidak perlu lagi pengajaran dariku," Magister Snoug tersenyum tipis. Mereka tengah melintasi pusat kota. Ada istana kekaisaran di tengahnya. Sang magister pun memberi pertanyaan selanjutnya, "Menurut sepengetahuanmu, apa saja bentuk pemerintahan di kekaisaran ini?"
"Itu sudah jelas monarki absolut," jawab Ats cepat, "Kaisar memiliki kekuasaan tertinggi di negaranya. Ialah yang menentukan hukum dan kebijakan yang berlaku."
"Kamu benar," Magister Snoug mengangguk, "Tapi, di sebagian wilayah kekaisaran yang luas ini, ada beberapa daerah yang menganut sistem pemerintahan aristokrasi, oligarki, juga demokrasi."
"Seperti wilayah Kota Altalimain?" tebak Ats. Magister Snoug hanya tersenyum kecil, lalu menambahkan, "Yah, begitulah, tapi kurang tepat. Adipati Altalimain sama seperti Kaisar Altair. Ia memiliki kekuasan absolut di bawah kaisar. Namun, dia memiliki pemikiran yang bijak karena mau mengajak rakyatnya berdiskusi."
Ats terdiam. Ia tidak ingin terseret ke dalam pertikaian politik. Karena itu, ia memasang mode waspadanya seperti saat bersama Pangeran Kedua. Sudah jelas bahwa Magister Snoug sedang menunjukkan kecenderungannya pada Adipati Altalimain.
"Wilayah yang menganut sistem aristrokasi kebanyakan dari barat," lanjut Magister Snoug, "Seperti wilayah yang dikuasai oleh Keluarga Efendi dan Salamun. Mereka bekerja sama memimpin Pulau Ukab, juga keluargamu yang memimpin di Pulau Reda. Sedangkan wilayah yang menganut sistem oligarki ada di Pulau Tseen Foo yang dikendalikan oleh Asosiasi Tseen. Untuk demokrasi ... sebagian rakyat di Pulau Tazared sedang mengusahakannya."
"Apakah itu berarti kekuasaan di kekaisaran sedang terbagi-bagi?" tanya Ats setelah mendengar penjelasan itu. Magister Snoug pun mengangguk pelan, lalu menjawab, "Bisa dibilang begitu. Namun, kekuasaan Keluarga Kekaisaran Altair tetap paling kuat. Sebagian besar keluarga aristokrat pun cenderung mendukung mereka. Wilayah-wilayah yang jauh seperti Bered dan Bezek-lah yang sulit dikendalikan."
Mereka berdua pun terus berdiskusi selama perjalanan. Saat bayang-bayang mentari lebih panjang dari objeknya, mereka pun turun untuk ishoma. Magister Snoug mengajak Ats makan di sebuah warung makan tradisional yang terkemuka.
"Ini tempat makan favoritku," kata Magister Snoug sembari menunjukkan menu makan yang dipesannya, "Meskipun penyajiannya tidak secepat di lapak-lapak kekinian, tempat ini menyajikan makanan yang paling spesial dan sedap."
"Saya setuju," balas Ats sembari menatap makanan di hadapannya. Bau harum yang sedap tercium dari sana. Tampilan luarnya begitu menggoda. Saat masuk ke mulut, beribu rasa rempah yang enak memanjakan lidah. "Masakan rumah ini merupakan yang paling sedap di antara makanan-makanan lainnya."
"Benar, kan?" Magister Snoug senang karena lagi-lagi ia memiliki selera yang sama dengan murid didiknya ini. "Olahan bumbunya sangat khas sehingga membuat orang ketagihan. Hai, pesan saja lagi kalau mau tambah. Kamu tak perlu sungkan."
__ADS_1
"Terima kasih, Magister," Ats tersenyum simpul. Magister Snoug sangat ramah dan supel, jauh berbeda dengan Master Khaled yang galak dan otoriter. Ats senang bisa belajar dengannya.