
Ats terduduk sendirian di tempat itu. Ia terus meningkatkan fokusnya untuk mempertahankan teknik zarahian. Tak ada yang perlu dirisaukannya di tempat ini. Ini adalah dunia kosong yang mana hanya ada ia di dalamnya. Tidak mungkin ada harimau yang tiba-tiba datang mengganggunya, kan?
"Kakak."
"!?" Ats tertegun, tapi ia masih berusaha mempertahankan konsentrasinya. Lagi-lagi, suara adiknya itu bergema di kepalanya. Tidak! Apa itu memang suara adiknya? Kenapa ia berpikir bahwa suara itu milik adiknya hanya karena kata "Kakak" yang diucapkannya?
"Kakak."
"...," Ats memutuskan untuk tak peduli dengan suara terus menggema itu. Ia harus fokus pada penelitiannya. Yah, harusnya begitu, tapi ....
"Sebenarnya kenapa?" gumam Ats dalam keheranannya, "Kenapa aku terus memikirkannya setelah sekian lama?"
"Ats!" suara Profesor Han masuk ke telinga Ats. Namun, suara itu tak begitu jelas. Ats pun mempertajam indranya. Partikel-partikel tubuhnya semakin merenggang dan tersebar ke segala penjuru. Tubuhnya jadi tak terlihat sama sekali di dunia virtual maya.
Nihil. Ats tak merasakan apa pun. Pada dasarnya, dunia maya ini hanyalah kekosongan yang menipu. Semua keindahan itu hanyalah data yang terekam oleh observer. Ia tak lebih dari fatamorgana yang semu. Namun, tempat ini amatlah tenang dan sunyi sehingga cocok untuk mengembangkan teknik itu.
***
"Apa-apaan ini? Kenapa jadi seperti ini?" seru Profesor Han cemas sekaligus bingung. Ats tak juga menjawab panggilannya, sedangkan alatnya masih saja tak menunjukkan masalah. Entah gawai itu rusak atau apa, pokoknya, ini bukan hasil yang profesor duga sama sekali.
"Profesor, apa yang terjadi?" Master Khaled tiba-tiba masuk ke ruang penelitian Profesor Han tanpa mengetuk pintu. Yah, ia memang dapat panggilan dari sang profesor sih. Panggilan darurat lagi. Karena itu, ia tampak tergesa-gesa.
"Ini—!?" Master Khaled merasakan energi zarah yang kuat. Pandangannya langsung jatuh ke tempat Ats duduk bersila. Didapatinya tubuh transparan pemuda itu.
"Hai, bagaimana bisa dia jadi begitu, Profesor?" tanya Master Khaled penasaran. Bukannya menjawab, Profesor malah membalas, "Entahlah. Aku memanggilmu karena kukira kamu tahu sesuatu tentang kondisinya ini."
"Oh, itu—" Master Khaled pun memberi tahu apa yang ia ketahui terkait kondisi Ats. Mendengar penjelasan itu, Profesor Han malah jadi semakin bingung. Dia memang seorang ilmuwan, tapi bukan master zarahian. Spesialisasinya adalah perangkat teknologi mutakhir.
__ADS_1
"Jadi, apa akselerasi itu berpotensi membahayakan nyawanya?" tanya Profesor Han yang masih belum tenang.
"Bisa jadi," Master Khaled menjawab serius sembari terus memperhatikan kondisi Ats, "Itu tergantung dari bagaimana ia melewatinya."
"Hah? Apa tidak ada cara untuk mengantisipasi kemungkinan gagalnya?" Profesor Han kembali menengok ke gawainya yang berjalan normal, padahal komunikasinya dengan Ats terputus.
"Entahlah, biasanya kami akan membangunkan orang itu kalau ada pertanda buruk," jelas Master Khaled yang kemudian menyarankan, "Kenapa tak menyabut alat itu saja untuk membangunkannya?"
"Tidak, itu terlalu berbahaya," Profesor Han menolak, "Terakhir kali, ia terkena efek samping yang fatal ketika sistem dicabut dengan paksa."
"Bukannya ini berbeda?" Master Khaled tak mengerti. Profesor Han pun menggeleng, lalu menjelaskan, "Memang sedikit berbeda, tapi bando dan sistem memiliki cara kerja yang sama-sama mempengaruhi otak. Sistem memang lebih berat, tapi bukan berarti yang lebih ringan dari itu aman."
"Hais ... aku tak mengerti, Profesor," Master Khaled mendengus, "Untuk saat ini, kita hanya bisa menunggu sampai dia sadar dengan sendirinya. Lagi pula, kemungkinan gagal itu tak terlalu besar untuk tahapnya. Yah, kita tetap harus mengawasinya dengan intensif sih."
"Berapa lama waktu yang umumnya terjadi pada kondisi ini?" Profesor Han berusaha berpikir dengan kepala dingin guna meredakan kecemasannya. Jika ia terlalu panik, malah bisa berakibat fatal nantinya.
"Akselerasinya tinggal sebentar lagi kalau begitu," Master Khaled pun duduk di sofa yang ada di sana. Ia mengambil kopi yang Profesor Han suguhkan untuknya. Matanya pun menyapu ke seluruh ruangan, lalu ia berkomentar, "Profesor, bagaimana Anda bisa betah di ruangan yang sumpek dan berantakan ini?"
"Hm?" Profesor Han menoleh dengan ekspresi tak paham. Ia tak mendengar dengan jelas pertanyaan Master Khaled karena sedang fokus pada penelitiannya. Sang master pun melambaikan tangannya dan membiarkan profesor kembali bekerja. Untuk saat ini, mereka harus memastikan keselamatan Ats terlebih dahulu.
5 menit ...
10 menit ...
20 menit ...
Sudah lebih dari setengah jam sejak Master Khaled datang, tapi Ats tak kunjung sadar juga. Master Khaled pun jadi ikut cemas karenanya. Ia sudah beberapa kali meminta Profesor Han untuk mematikan alat yang menempel pada kepala Ats, tapi profesor terus menolaknya.
__ADS_1
"Ini sudah hampir dua jam, kan?" Master Khaled memastikan, "Apa gawai di tangan Anda itu benar-benar mampu menghimpun data dengan benar?"
"Aku yakin gawaiku tidak rusak. Gawai ini pun sudah kucoba pada piranti lainnya dan itu berjalan normal," meski Profesor Han berkata begitu, ia sama ragunya dengan Master Khaled. Kasus seperti ini sangat jarang terjadi.
"Apa kondisi anak itu benar-benar stabil, Profesor?" Master Khaled semakin risau. Andai proses akselerasi selama ini terjadi pada orang-orang seusianya, tentu ia tak merasa masalah sama sekali. Namun, pemuda di depannya ini masih 16 tahun. Dia seperti daun muda yang hijau dan labil.
"Masih stabil," Profesor Han menoleh ke gawainya sekilas, lalu kembali memperhatikan monitor-monitor lebar di depannya. Monitor itu menunjukkan aktivitas yang terjadi di dunia virtual maya. Tak ada pergerakan aktif yang terdeteksi di sana. Hanya ada partikel-partikel kecil yang samar terlihat. Yah, sampai saat itu, begitulah yang terlihat.
"Ini—!?" Profesor Han tertegun ketika melihat kode-kode merah yang muncul di gawainya. Kecepatan munculnya pun amat tak terduga. Dalam sekejap, seluruh layar penuh dengan kode merah.
"Profesor, ada masalah dengannya!" seru Master Khaled. Ia memperhatikan ketidaksesuaian pada pergerakan partikel Ats. Itu bisa berakibat fatal.
"Aku tahu!" Profesor Han tengah sibuk dengan gawai-gawai di hadapannya. Ia harus bisa mencari cara untuk melepaskan Ats dari alat itu dengan aman bagaimana pun caranya. Harus bisa! Jangan sampai ada masalah lagi pada neuron zarah anak itu.
***
"Argh!" Ats merasakan sakit yang teramat pedih. Konsentrasinya benar-benar buyar sekarang. Mimpi itu kembali menghampirinya. Mimpi yang tak pernah ingin ia ingat sama sekali.
Memori-memorinya pun tumpang tindih. Antara nyata dan tidak, Ats tak mampu membedakannya sama sekali. Andai tubuhnya tengah menyatu sekarang, ia pasti menggigil ketakutan.
Namun, partikel-partikel Ats tengah tercerai-berai saat ini. Harusnya, partikel-partikel itu langsung menyatu bila energi dan neuron zarahnya tak mampu lagi mempertahankan teknik. Ah, tidak selalu begitu. Ada kasus di mana setiap partikel tak mampu lagi menyatu sampai akhirnya eksistensi praktisi itu menghilang sepenuhnya.
"Mungkinkah aku juga akan ...," Ats hampir menyerah. Rasa sakit yang diderita seluruh tubuhnya yang tersebar semakin berat. Rasanya seperti ditekan dari segala sisi. Kalau sampai ia gagal menahan rasa sakit itu, ia mungkin akan benar-benar, "Menghilang?"
"Kakak ....
Cepat sembuh agar kita benar-benar bisa bertemu."
__ADS_1
Suara itu terdengar amat tulus dan lembut. Ada kerinduan dan kasih sayang mengalir darinya. Dalam kegelapan yang semakin pekat, Ats tersenyum dan bersyukur bisa mendengarnya meskipun untuk terakhir kalinya.