
"Loh? Jun," Ats terkejut melihat kehadiran Arjuna, "Kamu ngapain ke sini?"
"Lihat-lihat aja kok," jawab Arjuna santai. Ia memang hanya akan menonton di sini. Yah, meskipun ia tidak terlalu tertarik pada Kelas Zarah.
"Oh," Ats pun duduk di samping sahabatnya itu. Mereka menonton pertandingan Solar dengan salah seorang senior yang kemampuannya tak jauh dari ia.
"Hm, seperti katamu, dia memang berbakat," puji Master Eden, "Sayang sekali, kalau dia bukan calon suksesor, tentu aku akan dengan senang hati membimbingnya menjadi seorang kadet yang hebat."
"..."
Ats menatap pria yang kini asyik mengobrol dengan Arjuna itu. Arselan sudah mengonfirmasi identitasnya. Ia memang benar Eden Bey.
"Kenapa aku tak bisa melepas curiga padanya?" gerutu Ats dalam hati. Ia terus memikirkan kata-kata Iskandar malam itu. Untuk saat ini, ia menduga bahwa pria itu adalah salah seorang agen yang kekaisaran kirimkan.
"Hai, Ats!" seru Arka memanggil, "Ayo maju. Sekarang giliran kita."
"Hais ... baiklah," Ats menghela napasnya. Sebenarnya, ia keberatan dengan pertandingan ini. Dalam statistik, kemampuan Arka jauh di atasnya. Ini adalah pertarungan yang tidak seimbang.
"Majulah duluan," Arka memberi kelonggaran. Senyum menyebalkan di bibirnya tersungging sinis. Ia adalah tipe yang suka memanipulasi emosi lawan untuk meraih kemenangan. "Aku akan serius kalau kamu bisa mendesakku."
"Senior sungguh murah hati," Ats membalas senyuman sinis Arka dengan seulas senyuman simpul. Dengan kemampuan batinnya yang terdidik sejak kecil, provokasi itu tidak berefek padanya sama sekali.
Kedua belah pihak pun membangun kuda-kuda. Selekas kemudian, pertandingan dimulai. Tanpa membuang waktu, Ats maju menerjang ke depan. Pukulannya mengincar tepat ulu hati Arka.
Arka pun menangkisnya tanpa kesulitan berarti. Sebagai seorang praktisi zarahian ahli, pertahanannya sangat kokoh sehingga tak sukar ditembus.
"Hai, ayolah," ucap Arka begitu mematahkan serangan Ats yang kesekian kalinya, "Kamu juga praktisi tingkat ahli, kan? Tunjukkan kemampuanmu yang sesungguhnya."
"..."
Ats tak membalas ocehan Arka. Sebisa mungkin, ia tak menggunakan kemampuan zarahiannya. Meskipun tenaga zarah dan daya tahannya sudah meningkat sejak akselerasi, ia masih harus waspada agar tidak masuk ke Pusat Kesehatan Akademi. Sejujurnya, ceramah dari Dokter Razana lebih menyebalkan daripada provokasi Arka ini.
__ADS_1
"Ck! Tidak akan seru kalau kamu tidak bermain serius," Arka menyadari bahwa lawannya menahan diri. Ia tak suka itu. Yah, meskipun ia sendiri juga sering meremehkan lawan.
"..."
Ats menahan serangan balasan dari Arka. Tampaknya, seniornya itu mulai meningkatkan level bertarungnya. Ats harus lebih waspada agar serangan-serangan itu tak memberi akibat yang fatal padanya.
Makin lama, pukulan keduanya pun jadi semakin kuat dan tajam. Keduanya saling bertukar pukulan dan tendangan. Namun, pada akhirnya Ats yang terpojokkan.
"Kamu masih belum mau mengeluarkan kemampuanmu, hah?" bentak Arka. Ia sudah pernah melihat bagaimana Ats menusuk Master Khaled dari belakang dulu. Tentu ia tak percaya bahwa kemampuan lawannya ini hanya segini.
"..."
Ats tak juga termakan provokasi Arka itu. Sejak awal, ia tak pernah membalas ocehan seniornya itu sama sekali. Alhasil, efek provokasi itu pun malah berbalik pada Arka sendiri.
"Ck! Ayolah," Arka sudah tak sabar lagi. Ia pun melapisi tangannya dengan tenaga zarah. Jika serangannya kali ini mampu menyentuh Ats, bocah itu pasti akan terkena luka fatal meskipun berhasil menangkisnya.
"..."
Tanpa suara, tanpa rasa, tanpa aura. Tubuh Ats melebur di udara sebelum serangan Arka mengenainya. Partikel-partikel tubuhnya pun berpindah secepat cahaya ke titik buta Arka. Sejenak kemudian, ia balas menyerang seniornya dari belakang.
Mendengar pertanyaan itu, seringai usil tersungging di wajah Ats. Ia pun menjawab, "Buat apa aku menggunakannya?"
"Ck!" Arka kembali mengumpulkan tenaga di tangannya. Ia pun maju menyerang Ats, tapi dengan cara yang berbeda. Tubuhnya melebur sekejap di udara, lalu muncul dengan cepat di samping lawannya.
Mengantisipasi hal itu, Ats juga meleburkan tubuhnya di udara. Partikel-partikel zarah pun saling beradu. Sejenak kemudian, tubuh Ats muncul di jarak yang cukup jauh dari jangkauan Arka. Napasnya naik-turun lebih cepat dari sebelumnya.
Belum lega ia menghela napas, Arka kembali muncul di dekatnya dengan serangan bertenaga zarah. Ats pun terpaksa menghindarinya lagi, tapi tanpa meleburkan tubuh. Ia menggeser tubuhnya ke samping, lalu melapisi tangannya dengan tenaga zarah untuk membelokkan serangan Arka.
Duar!
Dentuman keras terjadi begitu dua kekuatan beradu. Ats pun terlontar beberapa meter ke belakang. Saat tubuhnya masih di udara, ia melebur menjadi partikel-partikel dan menghilangkan keberadaan sepenuhnya. Arka jadi tak bisa menerka tempatnya muncul kembali.
__ADS_1
"Aku menyerah," Ats muncul di samping Master Khaled yang memperhatikan dengan teliti sejak awal. Ia juga sempat kehilangan jejak Ats di saat-saat terakhir tadi. Dilihatnya bocah Asir itu menyeka keringat yang mengalir deras di keningnya.
"Ha? Siapa yang menyuruhmu menyerah, Bocah?" Master Khaled terlihat tidak puas.
"Bukannya sudah jelas? Senior Arka pasti akan menang meskipun pertandingan ini dilanjutkan," Ats tak peduli. Ia tak suka melihat gelagat Arka yang terus mendesaknya itu. Rasanya, ada sesuatu yang mengganjal di sana.
"Dasar pesimis," ejek Arka yang mempercepat langkahnya dengan teknik perpindahan pendek.
"Tolong katakan itu sebagai realistis. Kamu kan emang hebat, Senior," Ats mengulas senyum simpul. Ia tak mau bertanding lagi dengan maniak ini. Bisa jadi, ia benar-benar masuk ke Pusat Kesehatan Akademi dan dimarahi bibinya jika dilanjutkan. Yah, itulah motifnya sesungguhnya.
"Hais ... itu pun sudah cukup untuk kalian," Master Khaled melerai sebelum terjadi perdebatan tak berguna. Ia tahu jelas karakter Arka. Meskipun Ats anak yang tenang, tetap bisa terjadi perselisihan jika Arka bersikukuh.
"Kamu masih bisa melanjutkannya, kan?" Master Eden mendekati Ats begitu pertandingan selanjutnya dimulai. Meskipun ia sedikit kecewa karena Ats tidak bertarung dengan serius sampai akhir, tapi ia tetap mengakui kemampuannya sebagai salah seorang praktisi termuda yang berbakat.
"Mungkin saya memang masih bisa melanjutkannya," Ats menjawabnya dengan ekspresi datar dan tidak yakin sama sekali, "Tapi dengan risiko yang tinggi setelahnya."
"Apa itu?" Master Eden mengerutkan kening.
"Mungkin cidera, terluka, atau pingsan," jawab Ats sedikit lebih serius kali ini, "Kemungkinan terburuk, neuron zarah saya akan jadi tidak stabil."
"Kalau sampai itu terjadi, bibi akan berceramah sepanjang hari," lanjut Ats dalam hati.
"Hm? Itu kan memang risiko seorang praktisi," Master Eden heran dengan kepengecutan Ats ini. Ia harus menilai ulang rekomendasinya.
"Memang, tapi saya bukanlah tipe praktisi yang amat berambisi untuk memenangkan kejuaraan dunia," jelas Ats yang tanpa sadar mengungkapkan pandangannya, "Tidak sama sekali. Saya telah diajarkan untuk mengembalikan teknik itu pada esensinya. Jadi, saya tidak akan menyiksa diri sampai gila. Selama bisa selamat, buat apa bertarung sampai mati hanya untuk gengsi."
"Ho," Master Eden tertarik dengan pemikiran itu. "Kamu tak punya ambisikah?"
"Ambisi saya bukan untuk dunia praktisi zarahian," Ats menjawab itu sambil memperhatikan pertandingan di tengah lapangan. Peluh keringat di dahinya sudah hampir mengering. Napasnya pun semakin teratur.
"Begitu, ya," Master Eden manggut-manggut paham. Ia batal menarik penilaiannya. Bocah ini memang menarik. "Hai, namamu Ats, kan?"
__ADS_1
"Ya," Ats menoleh.
"Aku punya penawaran yang bagus untukmu," Master Eden menunjukkan senyum optimismenya, "Mau mendengarnya?"