
"Penelitianmu diihentikan?" Magister Snoug yang tengah menyetir mobil terbangnya berekspresi tak percaya.
"Ya, untuk sementara ini, kami sedang menghentikannya," Ats mengangguk kecil. Hari ini, Magister Snoug kembali mengajaknya ke luar akademi. Lebih tepatnya, ke sebuah kawasan luas yang merupakan sebuah kompleks pertenakan.
Tempat itu cukup jauh dari akademi. Dengan mobil terbang, dibutuhkan waktu hampir satu jam untuk sampai ke sana. Padahal, kecepatan tempuhnya sudah tiga kali lipat lebih cepat dari mobil biasa.
"Tapi, kamu masih menggunakan sistemmu, kan?" Magister Snoug berharap penuh. Pelajarannya hari ini sangat membutuhkan piranti itu.
"Saya selalu memakainya," Ats kembali mengangguk kecil. Ia pun menoleh ke luar. Padang rumput yang luas terlihat di pandangannya. Ada banyak sekali hewan ternak di bawah sana. Uniknya, para pengembala di padang itu adalah droid-droid canggih yang dikendalikan dari jauh.
"Magister, kenapa kita datang ke peternakan?" tanya Ats penasaran. Mobil yang mereka tumpangi terus melaju konstan di atas padang peternakan.
"Ats, apa kamu tahu?" bukannya menjawab, Magister Snoug malah balik bertanya, "Kebanyakan pemimpin-pemimpin besar di masa lalu punya riwayat sebagai pengembala. Mereka belajar banyak hal dari pekerjaannya yang terlihat sederhana itu. Pekerjaan ini tidaklah seremeh yang kamu pikirkan. Ia memiliki banyak hikmah kepemimpinan."
Ats memperhatikan kata-kata itu dengan baik. Jika direnungkan baik-baik, perkataan itu tidaklah salah. Menjadi seorang pemimpin itu berarti mengayomi orang lain dan hal itu bisa dipelajari di sini.
"Kamu pasti sudah paham maksudku saat berangkat tadi, kan?" Magister Snoug menghentikan mobilnya, lalu menurunkannya perlahan. "Kita akan mengembala hari ini."
"Hm, saya mengerti," Ats menyungging seulas senyum simpul. Pintu mobil pun terbuka. Begitu mereka keluar, seorang pria tua yang seluruh rambutnya beruban menyambut kedatangan mereka.
"Oh-oh, lihatlah siapa yang datang," kata pria tua itu, "Sudah lama tidak bertemu, Bocah udik. Ah, tidak. Haruskah kupanggil kamu Magister Snoug sekarang? Kamu bahkan sudah punya murid."
"Lama tak bertemu, Pak Tua Chung," balas Magister Snoug dengan seulas senyum ramah di bibirnya. "Anda terlihat sehat meskipun sudah semakin tua, ya."
__ADS_1
"Hai, Bocah udik," Pak Tua Chung menudingkan tongkatnya pada Magister Snoug dengan wajah yang galak, "Jangan pikir pak tua ini sudah lemah dimakan umur. Di peternakan ini, tak ada yang lebih hebat dariku."
"Ya, tentu saja," Magister Snoug tak membantahnya. Itu berarti, sang magister mengakui kemampuan Pak Tua Chung yang hebat. "Andalah sosok yang berhasil mempertahankan peternakan ini dari krisis di masa lalu."
"Hmph, itu hanya hal kecil. Jelas berbeda dengan bocah yang hanya tahu merusuh saja. Ck! Dasar," Pak Tua Chung pun menatap kepada Ats yang sejak tadi diam memperhatikan. "Oi, Bocah udik. Siapa anak muda ini? Dia terlihat lebih bermartabat darimu."
"Pak Tua," Magister Snoug berusaha mempertahankan senyumnya sebaik mungkin. Andai saja Ats tidak ada di sini, tentu ia akan meladeni omong kosong pak tua itu. Ia harus menjaga martabat seorang pendidik di depan muridnya. "Tolong pekalah pada kondisinya, Pak Tua. Saya datang sebagai perwakilan dari akademi, bukan bocah udik yang suka mengganggu keseharian Anda. Mohon jangan masukkan ke hati perbuatan saya di masa lalu. Saya masihlah daun yang mudu dulu."
"Heh, munafik," cibir Pak Tua Chung, "Ini bukan wajah aslimu yang biasanya kan, Bocah licik? Saat menelponku kemarin pun, kamu tidak bersikap seperti ini."
"Saya menyesal," Magister Snoug tak ingin memperpanjang perdebatan tak berguna ini. Harga dirinya sebagai seorang magister akan semakin hancur jika ini dilanjutkan. "Mari saya perkenalkan, dia adalah murid khusus saya, Atssuria Asir."
"Oh, bocah dari Keluarga Asir itu," Pak Tua Chung manggut-manggut, "Pantas saja kamu begitu tenang. Keluargamu sungguh hebat mendidik generasi penerusnya. Namaku Chung Hoo. Aku suka anak yang tenang sepertimu. Panggil saja aku Kakek Chung."
Pak Tua Chung pun mendekat kepadanya. Matanya menatap sekilas pada Magister Snoug. "Oi, kamu harus hati-hati dengan bocah udik itu. Dia bisa menularkan keburukan padamu."
"Pak Tua Chung, saya bisa mendengar bisikan itu," Magister Snoug ingin sekali memukul pak tua itu, tapi urung karena ada Ats. Lagi pula, ia mungkin akan kesulitan menghadapinya. Dengan penampilan tua yang ringkih itu, tak akan ada yang menyangka bahwa Pak Tua Chung merupakan mantan seorang Master Zarahian terkemuka di zamannya.
"Saya rasa, beliau guru yang baik," Ats memberikan pandangannya. "Di akademi, beliau merupakan salah satu sosok yang amat dibanggakan."
"Kau dengar itu, Pak Tua?" Magister Snoug merasakan kemenangan. Sesuai dugaannya, Pak Tua Chung malah semakin mencibir, "Heh, bocah udik sepertimu, apa yang mau dibanggakan?"
"Banyak hal," jawab Magister Snoug tanpa kehilangan momentum. Ia pun menepuk tangannya agar sambutan tak ramah ini segera berakhir. "Pak Tua, mari kita segera memulai praktiknya."
__ADS_1
"Kamu benar," Pak Tua Chung mengangguk, "Pokoknya, Nak. Kamu jangan sampai meniru sikap bocah udik itu."
"Ekhem! Kita bisa mulai sekarangkan, kan, Pak Tua?" Magister Snoug mulai geram, tapi tetap menekan emosinya.
"Mulai saja," Pak Tua Chung melambaikan tangannya, "Aku sudah menyiapkan alat-alat praktikum kalian di bangsal. Kalian bisa memakainya sesuka hati."
"Terima kasih atas perhatian Anda," Magister Snoug memberi penghormatan, tapi Pak Tua Chung malah merasa risih. Sebelum benar-benar pergi, pak tua itu mengatakan satu hal lagi yang hampir terlupakan.
"Jaga barang-barangku baik-baik! Jangan sampai ada yang rusak. Aku sudah bersusah payah untuk membeli besi-besi itu," ujarnya, "Juga, jangan sampai ternakku jadi ribut karena ulah kalian. Bocah udik, kamu harus mengajari bocah Asir itu dengan baik. Jangan sampai ternakku ada yang mati."
"Tidak akan separah itu," canda Magister Snoug dengan senyum usil di wajahnya, "Mungkin hanya kejang-kejang sedikit beberapa hari ke depan nanti."
"Bocah udik ini ...!" Pak Tua Chung hampir saja marah. Namun, pak tua itu tahu bahwa Magister Snoug hanya menggodanya. Ia pun segera pergi karena sudah enek dengan pria itu.
"Apa Anda sering membuatnya marah dulu?" tanya Ats heran.
"Itu masa lalu yang indah. Dia memang pak tua yang pemarah. Kamu tak perlu memikirkan kata-kata. Yah, meskipun dia juga baik hati sih, kadang-kadang," Magister Snoug pun mengajak Ats ke bangsal yang dimaksud Pak Tua Chung. Bangsal itu terlihat sangat biasa dengan dinding kayunya. Tak ada sistem keamanan yang melindunginya sama sekali. Yah, itu memang hanya gudang sementara sih.
Begitu masuk ke bangsal, Arselan langsung mendeteksi berbagai perangkat berjenis droid. Itu adalah droid-droid pengembala generasi yanng lampau. Meskipun bukan yang terbaik, ini sudah cukup untuk pelatihan Ats.
"Aku sudah mendapat beberapa trik dari Profesor Han," Magister Snoug menyungging seulas senyum, "Ikuti aku untuk menautkan droid-droid itu pada sistemmu."
"Baik, Magister," Ats menurut.
__ADS_1
"Ini adalah legalisator," kata Magister Snoug menunjukkan sebauh gawai kecil seukuran ponsel, "Kudengar, untuk bisa mengendalikaan perangkat, sistem harus bisa mengenali legalitas perangkat itu, kan? Yah, mirip mendaftar perangkat sih. Setelah aku mendaftarkan droid-droid ini pada leglisator, cobalah untuk mengendalikannya. Kita akan langsung ke padang kemudian."