Sistem Arselan: Pengendali AI

Sistem Arselan: Pengendali AI
Bab 054: Penolakan Tegas


__ADS_3

"Maaf, Master," Ats tak berniat sama sekali untuk berbincang dengan sosok yang mencurigakan, "Saya tidak bisa menerima undangan itu karena suatu kepentingan."


"Hm? Sayang sekali," Sauka tampak kecewa, "Padahal, saya membawakan pesan dari kepala keluarga kami."


"Kalau begitu," Ats tetap tak peduli, "Silakan beri pesan itu kepada Master Aruj. Jika itu adalah pesan dari Kepala Keluarga Zivana, maka beliaulah yang pantas menerimanya."


"Ini adalah pesan yang khusus disampaikan kepada Anda," Sauka tetap bersikeras untuk bertemu dengan Ats, "Kepala keluarga kami ingin pesan ini disampaikan langsung kepada Anda."


"Setahu saya," Ats mulai muak dengan pria di hadapannya ini. Andai ia bukan tamu di sini, Ats pasti sudah mengabaikannya dengan mudah. "Beliau bukan orang yang rendah martabat seperti itu. Apakah ada sesuatu yang mendesak sampai Anda menjadikan nama Kepala Keluarga Zivana sebagai alasan?"


Ucapan Ats itu menarik perhatian orang-orang di sekelilingnya. Namun, Ats sama sekali tak peduli. Ia memandang Sauka dengan tatapan yang samar-samar terkesan tak bersahabat.


"..."


Sauka kehabisan kata-kata. Ia mengepalkan tangannya kesal, tapi masih dapat menahan emosinya. Bagaimanapun juga, bocah di hadapannya ini adalah salah satu anggota inti dari Keluarga Asir Yang Terhormat. Berbeda dengannya yang hanya seorang menantu dari Keluarga Zivana.


"Em, Ats," sosok Anasiya muncul di tengah ketegangan dingin itu, "Sepertinya ada kesalahpahaman di sini. Pamanku tak bermaksud memaksa."


"..."


Ats menatap Anasiya dengan dingin. Melihat gadis itu membela Sauka, ia sempat berpikiran sempit dan curiga. Namun, kecurigaan itu langsung sirna karena tak mungkin Anasiya tahu-menahu mengenai masalah yang dialaminya.


"Begitu, ya," Ats menghela napasnya pelan, "Kalau itu yang dikatakan Nona Anasiya, saya akan memakluminya. Hari sudah hampir petang, saya pamit undur diri."

__ADS_1


Anasiya ingin berbincang dengan Ats lebih lama lagi, tapi ia tahu bahwa pemuda dari Keluarga Asir itu sedang dalam suasana hati yang buruk. Selain itu, ia bisa merasakan permusuhan yang ditunjukkan oleh Ats pada Sauka.


Di sisi lain, Radu dan Zagan menghela napas lega untuk sesaat. Mereka jadi tenang karena Ats menolaknya. Pokoknya, ia harus menjaga Ats agar tidak tertarik dengan orang-orang kubu seberang. Sistem dan drivernya harus diamankan sebaik-baiknya agar tidak menimbulkan masalah yang fatal bagi kekaisaran.


Hari demi hari berlalu. Sauka berkali-kali meminta pertemuan pribadi dengan Ats, tapi pemuda itu selalu menolaknya dengan berbagai alasan. Padahal, waktu sang master di perguruan ini tinggal sebentar lagi.


***


Langit hari ini amat cerah. Angin sepoi-sepoi berhembus. Anasiya duduk di sebuah kursi empuk yang tersedia di teras asrama tamu. Ia menikmati makanan ringan yang disajikan bersama secankir teh poci panas.


"Apa yang sebenarnya sudah Paman lakukan?" tanya Anasiya heran. Selama beberapa hari ini, ia terus memperhatikan Ats kapan pun ada kesempatan. Dengan pengamatannya itu, ia tahu bahwa Ats memandang utusan dari Perguruan Awan Putih dengan penuh kecurigaan.


"Aku tak melakukan apa pun," jawab Sauka yang sama herannya. Tidak, ia hanya tak mau mengakuinya saja. Ia jelas tahu bahwa Ats menjauhinya karena si kumis tebal dan si alis tebal yang bertindak ceroboh. Harusnya, mereka tidak boleh ketahuan sama sekali.


"Kenapa kamu malah bertanya padaku?" Sauka menatap Anasiya dengan dingin.


"Mereka bilang, utusan itu tamid Paman," jawab Anasiya yang membalas tatapan Sauka tanpa perasaan takut sama sekali.


"Itu hanya gosip," bantah Sauka tanpa merasa bersalah sama sekali. Ia membuang muka, lalu bangkit dari duduknya. "Kamu harusnya tak percaya dengan suara angin begitu saja."


"Sudahlah, berikan pesan itu kepada Master Aruj," kata Anasiya sebelum Sauka pergi dari teras, "Kalau Master Aruj sudah membacanya, kita pasti bisa berbincang dengan Tuan Muda Ats."


"..."

__ADS_1


Sauka ingin menolak. Namun, ia memang tak punya cara lain karena Ats sudah telanjur menjaga jarak darinya.


"Ck! Padahal, aku hanya perlu menyampaikan beberapa patah kata padanya," keluh Sauka dalam hati. Ia pun menghela napas, lalu menjawab perintah Anasiya. "Baik, aku akan menyerahkannya."


Anasiya menatap punggung Sauka sampai menghilang di balik pintu. Ia pun menyeruput teh pocinya, lalu menatap langit berawan di atas sana. Beberapa kejap kemudian, ia membuang napas perlahan.


Gawai di pangkuannya pun berdering. Sebuah notifikasi muncul di sana. Melihat itu, Anasiya tersenyum.


"Ini yang kutunggu," ujarnya, lantas membaca karya terbaru dari penulis favoritnya.


Sejatinya, kehidupan ini bagai menyusuri padang yang luas, amat sangat luas. Kamu bisa berjalan ke mana saja, ke mana pun yang kamu mau. Namun, di sana ada pagar pembatas yang tak boleh kamu lalui.


Pagar itu adalah norma, pantangan, tabu, dan segala aturan yang ditetapkan oleh agama. Yah, pada dasarnya, semua itu adalah pembatas. Pembatas antara prinsip moral yang haq dan batil.


Mereka menghalangi 'kebebasan' untuk berbuat apa saja. Mereka membatasi 'kebebasan' untuk melakukan apa saja. Mereka melindungi dari 'kebebasan' berbuat semena-mena.


Yah, sayangnya, orang-orang terlalu serakah dan tak acuh dengan pagar-pagar itu. Segala larangan tersebut ingin ditembusnya meskipun mereka harus merangkat di jalan berkabut tebal. Orang-orang itu tak bisa melihat dengan jelas. Padahal, bisa jadi ada jurang yang dalam di depannya. Bisa jadi pula ada hewan buas yang akan menyergap mereka, sedangkan mereka tak menyadarinya.


Karena itulah ada aturan yang mengikat dan menjaga mereka agar tidak merugi dan celaka. Begitulah kontrasnya 'kebebasan' dan 'kebijakan' yang perlu kita pikirkan sebaik-baiknya.


Anasiya berpaling dari bacaannya ketika seorang pelayan datang menghampiri. Pelayan itu membawa sebuah nampan keperakan. Ketika nampan itu dibuka, tampak sebuah alat kertas kecil di atasnya.


"Nona, Tuan Muda Zen mengirimkan surat kepada Anda," kata pelayan itu penuh hormat.

__ADS_1


"Zen?" Anasiya menutup gawainya. Ia pun mengambil surat itu dan membacanya. Tak lama kemudian, ia melatakkannya di meja, lalu berkata, "Ambilkan penaku di dalam. Aku akan langsung membalasnya."


__ADS_2