
"Profesor Han sudah secara resmi mengajukan penundaan untuk penelitian lanjutan pada sistem itu," kata Iskandar mengabarkan, "Beliau juga sudah menunjukkan hasil penelitian yang kalian dapat selama ini."
"Saya tahu," balas Ats singkat.
"Ini kabar baik buatku," seulas senyum ramah tersungging di wajah Iskandar, "Tapi, sayangnya para eksekutif badan intelijen nggak mau penelitian itu ditunda terlalu lama. Mereka kagum dengan hasilnya sampai saat ini, apalagi denganmu yang mampu menahan beban berat dari sistem itu."
"Badan intelijen?" Ats diam-diam langsung meminta Arselan untuk menyelediki kode kata itu. Arselan pun menyanggupi. Setelah muncul sebentar di mata Ats dengan wujud kucingnya, ia segera pergi untuk menelusuri hal-hal yang berkaitan dengan badan intelijen.
"Ya, kamu sudah tahu tentang Departemen Jasus, kan?" tanya Iskandar sambil menekan-nekan jam pintar di lengannya. Sejenak kemudian, muncul sebuah logo bergambar sayap. Itu adalah emblem Divisi Observasi dari Departemen Jasus.
"Saya tahu sedikit," Ats beruhasa menebak arah pembicaraan ini. Namun, ia merasa bahwa Iskandar hanya mengatakan segalanya dengan acak. Itu membuatnya susah mendeteksi. Yah, mungkin memang belum terbentuk sih.
"Beberapa tahun lalu, salah satu tim dari Divisi Observasi terkena musibah yang besar. Kita semua tahu apa musibah itu," Iskandar kembali menekan-nekan jam pintarnya, lalu muncullah wajah seorang pemuda yang usianya sekitar belasan tahun. Di samping wajah pemuda itu, terdapat data identitas yang menunjukkan namanya.
Ia adalah Salam Eden, observer paling muda yang tercatat dalam kecelakaan itu. Wajahnya sangat mirip dengan Salam Eden yang ada di akademi. Bahkan tak bisa dibedakan. Sulit dipercaya bahwa seseorang bisa awet muda begitu setelah sepuluh tahun berlalu.
"Kenapa Anda menunjukkan ini pada saya?" Ats tak mengerti maksud Iskandar. Sejak tadi, pembicaraan mereka tak kunjung tersambung.
"Tiga tahun dia di akademi, tak ada satu pun yang mencurigainya," ujar Iskandar yang tak bosan sedikit pun menunjukkan senyum ramahnya, "Dia berakting sangat baik sebagai orang yang payah sampai menjadi figur kegagalan di akademi selama tiga tahun terakhir. Karena itu, orang-orang hanya fokus pada kegagalan yang dideritanya. Namun, tiba-tiba kamu bersama kawan-kawanmu curiga padanya dan membuat hipotesis asal-asalan yang kacau."
"...."
Ats diam mendengarkan. Ia mulai bisa menangkap maksud Iskandar yang meminta pertemuan pribadi dengannya begini. Sesekali, matanya melirik ke luar. Tak ada seorang pun yang menghampiri mereka ke kelas ini.
__ADS_1
"Awalnya, Salam berpikir bahwa kalian hanya bercanda saja. Ia pun berniat membiarkannya. Siapa sangka kalian akan iseng menyelidikinya sampai melapor pada Profesor Han?" Iskandar bercerita dengan ekspresi yang riang. Ekspresi itu sangat kontras dengan topik obrolan mereka yang serius ini. "Jujur saja, itu membuat badan intelijen gempar. Agen yang menyamar sebagai Salam Eden adalah agen terbaik di kekaisaran. Sulit dipercaya bahwa ia akan ketahuan oleh sekelompok anak tahun pertama yang masih sangat hijau."
"Jadi, dia kaki-tangan kekaisaran?" Ats merasa heran, "Buat apa dia menyamar sebagai murid payah di akademi selama tiga tahun? Apakah ada hal yang dicurigai oleh pemerintah di akademi ini?"
"Tidak sama sekali. Itu adalah kemauannya untuk mendidik generasi baru," jelas Iskandar. Ia terlihat sangat antusias membahas agen itu. "Karena dia sangat perfeksionis, dia ingin memilih sendiri murid-muridnya dari akademi."
"Ah, begitu, ya," kata Ats datar. Ia semakin mengerti arah pembicaraan ini. Ia bahkan sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan yang kemungkinan akan dikatakan oleh Iskandar nanti.
"Dia tertarik sama kamu loh," kata Iskandar seolah memberi kabar gembira, "Sama temanmu juga. Siapa namanya? Arjuna kan kalau nggak salah?"
"Mungkin," Ats mengangguk kecil.
"Dia bakal balik lagi ke sini sebagai orang lain. Katanya, dia bakal mendidik langsung murid-muridnya di sini. Kamu mau ik—"
"Saya menolak," kata Ats tegas.
"Kalau Anda tanya mengenai ketertarikan saya pada kelas yang dibina agen itu, saya menolak. Saya tak ingin menyelam ke dalam dunia hitam," Ats menegaskan. "Tapi Arjuna mungkin mau menerimanya."
"Hm," Iskandar menunjukkan wajah yang rumit, "Sayang banget loh. Sejauh ini, cuman kamu yang bisa menjalankan 'sistem' itu."
"Itu tidak ada hubungannya dengan tawaran Anda," Ats kembali melirik ke luar. Ia ingin segera pergi dari tempat yang menyesakkan ini.
"Kamu belum tahu?" Iskandar menatap Ats dengan tajam kali ini, "Sistem yang kamu teliti itu sejatinya dikembangkan untuk mengoptimalkan operasi intelijen kekaisaran. Sistem itu memuat kemampuan analisis informasi yang umumnya harus diolah oleh satu tim profesional. Namun, karena beratnya beban yang harus diterima oleh driver saat menggunakannya, sistem itu jadi tidak berguna."
__ADS_1
"Saya mengerti, tapi saya tidak tertarik untuk menyelam ke dunia bayang-bayang kekaisaran," tegas Ats tak peduli, "Kami masih meneliti spesifikasi yang tepat untuk driver. Saat penelitian itu sukses, Anda bisa mencari siapa pun yang cocok selama dia mampu."
"Hais ... Oke, karena kamu nggak mau, aku nggak akan maksa," ucap Iskandar pasrah, tapi bukan berarti menyerah, "Tunggu aja dia datang. Dia bakal temuin kamu lagi nanti."
"...."
Ats tak membalas. Apa pun yang ditawarkan padanya, ia tak akan mau menerima tawaran itu. Sebagai orang yang merdeka, ia tak tertarik menggadaikan kehidupan normalnya pada dunia bayang-bayang yang gelap.
"Oh, ya," Iskandar hampir melupakan sesuatu, "Kamu harus menjaga baik-baik sistem itu. Menurut laporan yang kuterima, ada pihak yang berusaha mendapatkannya."
Ats cukup terkejut mendengar kabar itu, tapi gestur tubuhnya tak berubah sama sekali. Tatapan matanya yang tajam pun tetap sama. Ia memang pandai mempertahankan konsistensi ekspresinya sehingga tak mudah terlihat lemah.
"Karena ini proyek rahasia pemerintah, kami akan turut menjaganya," Iskandar berdiri dan menepuk pundak Ats, "Aku mewakili mereka untuk memohon maaf padamu. Setelah malam ini, mungkin kami akan mengawasimu dengan ketat. Ah, tentu nggak sampai mengganggu keseharianmu. Jadi, kamu nggak perlu terlalu memikirkannya."
"Apa pemerintah selemah itu sampai membiarkan musuhnya masuk ke akademi?" Ats turut berdiri. Ia memberi tatapan yang amat dingin kepada Iskandar. Jelaslah ia tak ingin kehidupan sehari-harinyaa diusik.
"Musuh?" Iskandar mengerutkan keningnya, "Sayang sekali, mereka bukan musuh. Setidaknya, terlihat bukan musuh. Karena itu, kami tidak bisa sembarangan menyentuh mereka. Sebagai murid dari Magister Snoug, kamu pasti mengerti, kan?"
Ats terdiam. Bohong kalau ia bilang tak mengerti. Ia sangat paham dengan kondisi perpolitikan kekaisaran akhir-akhir ini. Karena itu, ia tak bisa protes banyak atas perlakuan Iskandar.
"Aku sudah memintamu untuk meninggalkan proyek itu sejak dulu. Sudah kubilang, sistem itu berbahaya. Tapi, kamu malah bersikukuh untuk tetap mengembangkannya," Iskandar membalas tatapan dingin Ats dengan wajahnya yang ramah sebagaimana biasa. Ia seolah tak tersinggung sama sekali dengan perbuatan bocah dari Keluarga Asir itu.
"Sekarang sudah terlambat," lanjut Iskandar, "Badan Intelijen sangat tertarik dengan penelitian ini. Para petinggi militer kepercayaan kaisar juga menaruh perhatian padanya. Kamu tidak bisa lagi mundur dari penelitian ini."
__ADS_1
Ats tertegun. Pundaknya jadi terasa berat seolah menerima beban ribuan ton besarnya. Ia tak pernah mengira sama sekali bahwa penelitiannya akan jadi begini. Ada penyesalan di hatinya, tapi ...
Juga ada tekad di sana. Ia pun membalas perkataan Iskandar tanpa ragu, "Saya tidak akan mundur dari penelitian ini."