
"Kerja bagus, Semua," puji Solar antusias begitu melihat kawan-kawannya keluar dari ruang kapsul.
"Iya dong," seorang pemuda berambut abri membalas. Ia adalah Bayu, Ketua Tim Belati 3 yang memimpin sabotase terhadap Markas Regu Zehin. Teknik zarahnya cukup mumpuni sampai bisa menyusup dan mematikan sistem keamanan musuh. "Kita kan memang hebat."
"Hais … jangan sombong dulu," Arjuna menegur. Ditepuknya pundak Bayu. Ia pun mengingatkan, "Kamu hampir ketahuan tadi. Untung aja aku bisa mengeliminasi senior itu sebelum dia sampai ke tempatmu."
"Hehe, iya sih," Bayu menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kamu juga loh, Lar," panggil Ats dengan wajah yang datar, tapi terlihat sedikit kesal, "Harusnya kamu nggak sembarangan maju kayak tadi. Titik pertahanan kita langsung kosong setelah kamu pergi tadi."
"Yah, yang penting kalian berhasil bertahan, kan?" Solar mengangkat bahu dengan senyuman wajah tak peduli, "Aku berhasil mengeliminasi tiga dari mereka, tahu?"
"Sama aja, yang kamu bunuh kan cuma anggota penyokongnya aja," Andre, pengintai dari Tim Mata 2 menanggapi, "Secara teknis, kekuatan tempur mereka nggak berkurang sama sekali. Makanya menara sama pos kita hancur semua."
"Udahlah," Siver, anggota operator yang membantu Ats meminta kawan-kawannya untuk tenang, "Lomba Pertama kita juga sudah selesai kok. Yang penting kita yang menang."
"Nah," Solar merasa mendapat dukungan, "Bener tuh. Ayo balik ke aula aja, lihat pertandingannya kelas tiga sama kelas empat."
Beberapa anak memutuskan untuk berpisah. Mereka ingin menikmati Festival Akademi terlebih dahulu. Mencicipi kuliner adalah tujuan utama mereka.
__ADS_1
Ada juga yang memutuskan untuk ke spot lomba lainnya. Ada beberapa lomba yang tak kalah serunya dengan Arena. Mereka juga bisa jadi pendukung di sana, bersorak-sorai meramaikan suasana.
"Anak tahu ketiga jelas lebih baik dari tahun kedua," ucap Ali sembari memperhatikan pertarungan sengit antara dua regu senior mereka, "Itu mengerikan. Mereka semua bertarung secara frontal."
"Kita akan kalah kalau bertarung begitu," Ats menimpali, "Mereka adalah orang-orang yang sudah hampir masuk tahap zarahian ahli."
"Bukannya kamu dan Solar malah sudah lebih?" Arjuna merasa tersinggung oleh ucapan Ats yang terkesan meremehkan anak-anak tahjn pertama.
"Memang, tapi mereka punya lsbih dari dua praktisi zarahian ahli," Solar yang membalas, "Aku saja gagal menghindari serbuan peluru. Kalau kita bertarung frontal seperti mereka, kita pasti akan kalah. Aku yakin 99%."
"Jadi," Bayu menatap miris pada dirinya, "Kesempatan menang kita hanya satu persen."
"Yah," Ats mengangguk dan menunjuk layar di aula, "Itu kalau kita bertarung secara langsung begitu."
"Cerai berai dan kuasai," ucap Darwis yang entah sejak kapan bergabung dengan anak-anak lomba Arena, "Itu strategi penjajahan yang ampuh sekaligus kejam."
"Benar," Ats setuju, "Tapi, di kancah politik, strategi itu lebih kejam lagi."
"Hm, para penjajah itu sengaja memecah belah lawannya dengan mendukung salah satu pihak berpengaruh," jelas Darwis yang kini jadi pusat perhatian di tengah kawan-kawannya, "Lalu, memusuhi pihak lawannya. Dengan begitu, persatuan musuh akan terpecah dan melemah. Mereka yang sudah begitu akan dengan mudah dikuasai."
__ADS_1
"Itu kondisi yang sangat buruk bagi suatu bangsa," Arjuna berkomentar, "Yah, mau bagaimana lagi? Masyarakat selalu memiliki pemikiran yang majemuk. Kita mungkin tidak bisa memaksakan penyatuan semuanya, tapi kita bisa mengupayakan persatuan demi kebaikan bangsa."
"Haha, seperti seseorang yang tiba-tiba maju menerjang musuh dengan gegabah," sindir Bayu. Solar pun tersenyum kecut merespon sindiran itu. Ia sadar bahwa tindakannya memang gegabah.
Namun, pemuda dari Keluarga Efendi itu tak peduli karena Arena ini hanyalah simulasi. Ia memang sengaja maju untuk menguji kemampuan dirinya. Kejadian tadi akan menjadi petunjuk baginya untuk terus melangkah maju.
"Aku duluan," Ats tiba-tiba pamit untuk pergi. Ia berniat untuk istirahat di kamar dahulu. Selain itu, ia ingin menganalisis data pertempurannya sampai saat ini bersama Arselan.
"Yo," respon Arjuna mewakili kawan-kawannya yang lain, "Hati-hati di jalan."
Ats pun tersenyum simpul. Dia ada akademi dengan penjagaan yang ketat, apalagi sedang ada festival yang diselenggarakan. Yah, ucapan Arjuna memang tidak salah sih. Buktinya, sejak awal Arena tadi, sudah ada orang-orang yang tak berhenti membuntutinya.
"Arselan," panggil Ats dalam hati, "Laporkan analisismu."
"Melaporkan analisis," Arselan langsung menjawab. Ia mengkritik strategi Ats yang mengutamakan pengintaian sehingga pertanan mereka melemah. Alhasil, wilayah mereka amat mudah ditembus oleh musuh.
Pada dasarnya, Ats cukup menggunakan dua tim pengintai untuk mengamati keseluruhan area. Lagi pula, ada fasilitas radar termal yang terhubung dengan peta timbul di setiap basis pertahanan. Ia harusnya lebih msngoptimalkan kinerja sistem itu daripada msngurangi jumlah pasukan pertahan.
"Oh, oke," Ats manggut-manggut sendiri di kamarnya. Ia duduk di atas ranjangnya sambil bersandar pada tembok. Matanya sibuk meneliti peta perbukitan tempat ia dan kawan-kawannya bermain tadi.
__ADS_1
"Bagaimana kalau begini?" Ats msngubah susunan kelompok pada regunya. Kali ini, ia membuat tiga pataka yang akan menyerang bersamaan dari sisi yang berbeda. Ini mirip dengan strategi yang digunakan anak-anak tahun kedua tadi. Bedanya, ia menambahkan tim penembak jitu yang bertugas mengawasi sekitar agar pataka bisa sampai ke sasarannya dengan selamat.
"Sayangnya, kita tidak akan bertarung di tempat yang sama setelah ini," gumam Ats sambil mengelus-elus dagunya. Sudah ada beberapa helai janggut yang tumbuh di sana. "Itu tidak masalah. Kita akan punya waktu untuk menyusun strategi bersama. Waktunya tinggal sebentar lagi sampai area selanjutnya diumumkan. Aku jadi tidak sabar."