Sistem Arselan: Pengendali AI

Sistem Arselan: Pengendali AI
Bab 046: Penguntit Menyebalkan


__ADS_3

"Selamat sore, Master," Ulu menyapa seorang pria tua dengan penuh hormat. Begitu pula rekan-rekan setimya. "Perkenalkan, kami adalah utusan dari Akademi Neo-Altair."


"Oh, kalian anak-anak yang dikirim oleh bocah itu, ya?" pria tua yang dipanggil "Master" itu mengamati baik-baik para pemuda yang berbaris menyapanya penuh hormat.


"Benar, Master," Ulu menganngguk. Diam-diam, ia menelan ludahnya. Bocah yang dimaksud oleh pria tua itu pastilah guru mereka yang hebat. Namun, di mata seorang master senior sejati, guru mereka itu tetaplah seperti seorang anak kecil.


"Bagaimana kabarnya selama ini?" tanya sang master sembari mengelus-elus janggutnya yang cukup panjang. "Kudengar, dia sudah menyelesaikan banyak misi di luar sana."


"Benar, Master. Beliau pun sudah kembali dinas di luar minggu ini," jawab Ulu yang masih dalam posisi memberi hormat, "Karena itu, kamilah yang diutus ke mari. Mohon maaf atas segala kelancangannya. Beliau menitipkan salam untuk Anda sekeluarga."


"Hm, begitu, ya. Angkat kepala kalian!" sang master akhirnya mengizinkan Ulu dan kawan-kawannya berdiri tegak, "Aku sudah menyiapkan tempat untuk kalian selama tinggal di sini. Ats akan memandu kalian untuk berkeliling nanti. Kalau ada apa-apa, tanyakan saja padanya."


"Terima kasih, Master," Ulu mengangguk senang. Pundaknya sudah cukup sakit. Kalau ia menunduk lebih lama lagi, ia mungkin akan menderita encok permanen di masa tua nanti.


Sejak awal, tugas Ulu dan timnya memang sebagai utusan dari Akademi Neo-Altair untuk Perguruan Zarahian Asir di Pulau Reda. Di samping itu, mereka ditugaskan untuk menjaga Ats dan teknologi yang dimilikinya agar tidak jatuh ke pihak seberang.


"Ats, pandu mereka ke asrama tamu," ucap sang master setelah penyambutan selesai.


"Baik, Kakek," Ats menurut. Ia pun menghela napas lelah. Sebenarnya, ia ingin langsung beristirahat setelah perjalanan panjang. Namun, Ulu dan timnya itu benar menjadi penguntit sampai akhir. Ia pun terpaksa mengantar mereka ke asrama tamu. Dengan nada datar, ia berkata, "Ikuti aku. Asrama kalian ada di sana."


"Ei, kamu baik-baik saja kan, Ats?" tanya Ulu begitu kakek Ats pergi. Ada corak kemenangan di wajahnya. Ia seperti seorang pembawa acara yang berhasil mengerjai targetnya.

__ADS_1


"Ya," jawab Ats datar. Ia memang tak menyangka bahwa Ulu dan timnya itu akan tinggal di kompleks perguruan kakeknya. Apalagi sebagai tamu resmi yang sudah terdaftar dalam buku kunjungan Keluarga Asir. Karena itu, ia tak ada niat untuk mengusir mereka lagi.


"Kamu terlihat lelah," Zagan mengamati wajah Ats yang lesu dan tak bersemangat. Ats pun menoleh, lalu menjawab, "Hm, karena perjalan kali ini memang sangat melelahkan."


"Apalagi dengan adanya pengganggu yang tidak diharapkan," lanjut Ats dalam hati. Sebenarnya, ia ingin menyindir Ulu dan rombongannya begitu. Namun, ia sadar bahwa itu adalah tindakan tidak sopan terhadap tamu. Sebagai tuan rumah, ia harus bisa menghormati tamunya.


"Ini asrama kalian, selamat beristirahat," kata Ats begitu sampai di depan sebuah pondok tradisional berbentuk rumah joglo, "Apa ada yang mau kalian tanyakan sebelum aku pergi?"


"Em, nggak sih," Zagan peka melihat betapa lelahnya Ats saat ini. Ia pun memutuskan untuk tidak mengganggu pemuda itu lebih jauh lagi. "Maaf, ya. Kami sudah membuatmu repot sepanjang perjalanan."


"Hm," Ats mengangguk kecil. Ia pun berpaling dan kembali ke rumahnya untuk beristirahat juga.


"Nggak ada yang mau ngikutin dia nih?" tanya Ulu sebelum Ats sempurna menghilang dari kompleks asrama.


"Aduh!" Ulu mengusap kepalanya yang sakit. Sebuah benjolan muncul di sana. Zagan memukulnya dengan keras barusan.


"Dia nggak suka tahu," cecar Zagan mengingatkan, "Kamu nggak sadar, ya? Kita ketahuan sama dia aja sudah jadi nilai minus buat misi kita. Jangan bikin masalah lainnya."


"Biasa aja kali!" balas Ula sebal. Ia pun mendengus dan berpaling masuk ke asrama.


***

__ADS_1


"Ck!" Ats berdecak kesal. Meski tak menoleh ke belakang, ia bisa merasakan aura yang samar-samar mengikutinya. Pemuda dari Keluarga Asir itu pun mengepalkan tangannya, berniat untuk memperingatkan siapa pun yang mengikutinya agar berhenti. Namun, saat ia berbalik, aura itu menghilang.


"Hm?" pandangan Ats menyapu sekitar. Aura itu benar-benar menghilang tanpa jejak. Itu membuat Ats semakin kesal. Ia pun kembali berjalan ke rumahnya.


Saat itu juga, aura yang mengikutinya kembali terasa. Meski begitu, Ats memutuskan untuk berpura-pura tak menyadarinya kali ini. Lagi pula, tak ada gunanya memperingatkan mereka sekarang.


"Peringatan! Penguntit terdeteksi. Izin melakukan protokol penanganan."


Arselan melaporkan sekaligus meminta izin aktivasi sistem keamanan darurat. Ats pun menyeriangai tipis. Sekejap kemudian, ia berkata, "Diizinkan."


Cakram yang menjadi wadah Arselan langsung naik ke atas kepala Ats. AI yang bertanggung jawab atas keamanan driver sistem pun mengambil alih droid mini itu. Dalam waktu kurang dari sedetik, ia memancarkan gelombang kejut ke segala arah. Tak lama kemudian, suara-suara erangan terdengar di telinga Ats.


Ats mengaktifkan teknik zarahiannya. Partikel-partikel tubuhnya terpisah dengan kecepatan tinggi sampai ia tak terlihat sama sekali, bahkan auranya. Dalam sekejap mata, Ats muncul di atas orang yang membuntutinya.


"Meskipun kalian lebih kuat dariku, tidak sepantasnya kalian meremehkanku begitu!" ujar Ats dengan emosi yang mengalir dalam kata-katanya. Tangannya yang berlapis tenaga zarah menekan sebuah kepala sampai tertanam di tanah. Ia sedikit kehilangan kendali saking emosinya.


"Tu—Tuan Muda, mohon berhenti," kata seorang yang juga ada di sekitar situ. Orang itu berusaha mengatakan permohonnya sambil menutup telinga kuat-kuat demi meredam gelombang aneh yang tiba-tiba muncul. Ia tampak kesakitan dengan tubuh yang gemetar.


"Siapa kalian?" Ats menyadari bahwa dua orang yang membuntutinya ini bukanlah dari timnya Ulu.


"Ka—kami," orang yang memohon pada Ats tak dapat berkata dengan lancar karena gelombang yang menekannya. Ia memperkanalkan diri sebagai utusan dari salah satu perguruan ternama. Tujuan kedatangannya sama seperti Ulu dan kawan-kawannya.

__ADS_1


"Ats," panggil sebuah suara yang serak-serak basah. Ada intimidasi yang mengalir dari suara itu. Sesosok tinggi besar pun muncul di belakang Ats. "Ada apa ini?"


__ADS_2