
Di depan asrama, ada saung sebesar tujuh kali tiga meter berpilar enam. Di sana ada empat meja persegi dengan masing-masing mejanya memuat empat kursi. Terdapat peranti digital di setiap meja itu guna menunjang proses belajar para murid akademi. Jadi, andaipun ada murid yang tak memiliki fasilitas gawai pribadi, mereka bisa menggunakan peranti ini untuk belajar.
Petang belum lama masuk. Cahaya mentari senja masih terlihat samar-samar di ufuk barat. Ats duduk di salah satu meja saung itu sendirian setelah bersembahyang. Ia mulai mencicil tugas literasi yang diamanatkan padanya. Sembari menunggu aktifitas spiritual selanjutnya, ini akan menjadi kegiatan yang bermanfaat. Lagi pula, ia sudah makan malam sebelum petang tadi.
"Baru mbaca apaan, Ats?" sebuah suara yang tak asing terdengar. Ats pun menoleh dan mendapati Iskandar melambaikan tangan sambil tersenyum padanya. Pemuda bermata ruby itu terlihat punya maksud tersembunyi di balik senyumnya—itu hanya asumsi Ats saja sih, jadi ia memasang kewaspadaan.
"Yang Mulia Is?" Ats memberi tatapan tanda tanya. Matanya itu seolah berkata, "Ada apa?"
"Hais ... kamu masih kaku aja," Iskandar menarik kursi di depan posisi Ats sehingga mereka saling berhadap-hadapan, "Ini akademi. Nggak usah formal-formal amat. Panggil aku kayak biasanya. Eh, karena kita sepupu, kamu bisa panggil namaku langsung sih."
"Itu terlalu berlebihan untuk saya," Ats menolak untuk berbicara nonformal. Sikapnya itu menunjukkan bahwa ia tidak ingin terlalu akrab dengan Pangeran Kedua ini. Kalau ia terlalu akrab, bisa jadi ia benar-benar terseret ke dalam kompetisi politik kekaisaran.
"Apa tali persaudaraan antara ayahku dan ibumu tidak cukup untuk mengenyahkan tembok itu?" tanya Iskandar heran, kali ini dengan intonasi yang terkesan datar. Ia menatap Ats lekat-lekat, lalu kembali membujuk, "Kalau itu tidak cukup, anggaplah aku sebagai saudara sepersusuan adikmu. Bukankah berarti kita sudah seperti saudara kandung?"
"..."
Ats tak langsung menjawab. Sebenarnya, ia cukup terkejut mendengar fakta bahwa adiknya bersaudara sepersusuan dengan Pangeran Kedua. Ia memang pernah mendengar bahwa adiknya dilantik jadi seorang putri bungsu, tapi ia tak pernah menyangka bahwa penyebabnya adalah hal itu.
"Kalau begitu—" ucap Ats lirih sampai membuat Iskandar harus menajamkan pendengarannya, "Saya tidak perlu risau lagi terkait Putri Ayya. Saya harap, dia dapat tumbuh dengan baik dan sehat."
"Ha? Kamu ngomong apaan sih?" Iskandar pun berdecak sebal. Ia sungguh heran dengan bocah kaku yang satu ini. Sikapnya itu seolah menolak keberadaan sang pangeran.
"Bukan apa-apa," Ats menggeleng pelan. Bagaimanapun juga, ia tak ingin terlalu dekat dengan kekuasan. Keluarganya memang pendukung utama kaisar. Namun, mereka akan menjadi oposisi paling depan jika terdapat kejanggalan pada kebijakan sang kaisar. Karena itulah para kaisar amat segan pada keluarga ini sejak dulu.
"Hah, sudahlah," Iskandar menghela napas pasrah. Ia tahu bahwa mendekati bocah bermarga Asir memang tidak mudah dengan kedudukannya ini. Namun, bukan berarti tidak bisa. Ia bisa membujuknya lain kali. "Sebenarnya, aku cuman mau mengucapkan terima kasih."
__ADS_1
"Untuk apa?" Ats mengedipkan matanya dua kali. Bocah Asir itu merasa tak pernah membantu Iskandar sedikit pun. Ia bahkan beberapa kali membuatnya repot. Budi apa yang telah dilakukannya sampai Pangeran Kedua mau berterima kasih.
"Tidak, sebenarnya tidak hanya aku," Iskandar menggeleng, lalu menatap ke arah taman yang ada di halaman asrama. Itu taman indah yang ditanami dengan berbagai macam bunga hias dan pohon pucuk merah. "Kalau urusan ini sudah pasti, para tetua pasti juga akan berterima kasih padamu."
"Tetua?" Ats mengerutkan keningnya tak mengerti, "Apa maksud Anda, Senior?"
"Ini tentang Paman Han dan Bibi Razana," jelas Iskandar dengan senyum yang kembali mengembang di bibirnya, "Kamu pasti mengerti, kan?"
"Oh," Ats langsung paham. Ia pun jadi ingat bahwa gurunya merupakan bagian dari Keluarga Kekaisaran Altair. Kebujangan profesor itu mungkin telah membuat para tetua keluarga kekaisaran resah. Jadi, saat sebuah rumor berhembus, mereka langsung heboh.
"Katanya, kamu yang jadi pak comblangnya mereka berdua, ya?" tanya Iskandar serius, tapi masih dengan senyum yang sama.
"Pak comblang?" Ats langsung menggeleng. Apa pula maksudnya itu? Ia memang berniat membantu mereka berdua, tapi tak sampai sejauh itu.
"Haha, yang penting mereka bisa bahagia kok," kata Iskandar senang. Setelah puas tertawa, aura dari tubuhnya pun berubah. Senyum di wajahnya seolah berganti jadi seringai yang menyimpan beribu ekspresi. "Ats, kamu kenal Salam Eden, kan?"
"Eh?" bantahan yang terlalu cepat itu membuat Iskandar keheranan. Ada ekspresi tak percaya di wajahnya. "Masa?"
Ats pun mengangguk serius. Ia memang tahu satu dua hal di balik Salam Eden. Namun, ia sama sekali tidak mengenalnya dengan baik.
"Salam Eden yang itu loh, yang paling payah di antara anak-anak tahun ketiga," jelas Iskandar seolah berusaha untuk mengingatkan pasien amnesia, "Masa ada yang belum kenal sama dia?"
"Kalau masalah rumornya, saya tahu," ujar Ats menjawab penasaran Iskandar itu, "Tapi, saya bukan orang yang sungguh-sungguh mengenalnya."
"Bukannya kalian sudah pernah bertemu?" Iskandar memastikan informasi yang pernah disampaikan kepadanya. Mendengar pertanyaan itu, Ats jadi menaruh curiga. "Kami memang pernah bertemu sebelum dia dikeluarkan dari akademi, tapi itu hanya sekilas saja."
__ADS_1
"Oh, begitu, ya?" ekspresi di wajah Iskandar berubah datar, "Kalian cuman bertemu sekilas? Apa karena kamu curiga padanya?"
"...."
Ats tak menjawab. Ia menduga bahwa Pangeran Kedua telah tahu kemungkinan bahwa Salam Eden adalah mata-mata. Dengan statusnya itu, wajar saja dia tahu.
"Ternyata benar, kan?" Iskandar meminta konfirmasi tanpa mengharapkan jawaban, "Kamu hebat bisa menyadarinya. Sistem yang kamu kembangkan bersama Paman Han memang keren."
"...."
Ats lagi-lagi tak menjawab. Saung ini terlalu terbuka. Ia tak ingin membicarakan Arselan di sini. Kebetulan saat itu seruan sembahyang berkumandang. Mereka pun harus segera menyelesaikan obrolannya.
"Arselan memang banyak membantu saya," kata Ats tepat sebelum ia berdiri. Ia pun segera pamit untuk jalan duluan. Tanpa menunggu jawaban dari Iskandar, ia langsung bergegas ke surau untuk bersembahyang.
Ats bergegas kembali ke asrama setelah itu. Ia tak ingin berpas-pasan lagi dengan Iskandar. Baginya, itu akan jadi hal yang merepotkan. Sayangnya, Pangeran Kedua itu seolah tak mau melepaskannya sebelum pembicaraan selesai.
"Ayolah, aku tahu kamu punya waktu," pinta Iskandar setengah memaksa, "Izinkan saudaramu ini mengganggu waktumu sebentar."
"Apa yang ingin Anda bicarakan, Senior?" tanya Ats datar. Ia tak ingin mengobrol berlama-lama. Akan lebih baik kalau dia melanjutkan tugas literasinya.
"Ini tentang penelitianmu," jelas Iskandar yang kemudian memberi kode pada Ats untuk pergi ke tempat yang lebih privat. Mereka pun masuk ke sebuah ruangan kosong yang biasanya digunakan untuk kegiatan tambahan atau belajar malam oleh para murid akademi. Ini adalah ruangan dengan gaya kelas di masa lalu yang penuh meja dan bangku.
Sebelum mengobrol, Iskandar mengeluarkan sebuah benda terlebih dahulu. Bentuknya seperti bola. Saat ditekan salah satu sisinya, benda itu mekar seketika, lalu mengambang di atas telapak tangan Iskandar.
Arselan menangkap gelombang pendeteksi kemudian. Ia langsung melaporkan jenis perangkat yang digunakan oleh Pangeran Kedua itu kepada Ats. Itu adalah perangkat anti mata-mata termutakhir.
__ADS_1
"Tempat ini aman dari penyadapan," ujar Iskandar ringan, "Kita akan berbincang dengan leluasa di sini."
Ats tak mengendurkan kecurigaannya sedikit pun. Ia bahkan semakin waspada. Bocah Asir itu tak tahu apa yang akan dibicarakan oleh Pangeran Kedua, tapi hal itu pastilah bukan suatu yang sederhana.