
"Kamu pulang sekarang?" tanya Profesor Han saat Ats mampir ke kediamannya.
Inilah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh para murid, hari perpulangan. Semua murid bergembira karena akhirnya mereka mendapat kesempatan untuk libur selama dua minggu. Yah, kecuali murid tahun kelima sih. Mereka harus menetap di akademi untuk beberapa urusan.
"Ya, saya akan langsung menggunakan kereta antarpulau," jawab Ats. Sejak percobaan terakhirnya, ia belum menambah praktek lagi. Namun, ia tahu bahwa Profesor Han tetap melakukan banyak eksperimen di tengah kesibukan mengajarnya dan proses "Perkenalan" dengan Dokter Razana.
"Bagaimana perkembangan Anda dengan Dokter Razana?" tanya Ats penasaran ketika mengingat hal itu. Profesor Han pun sedikit tersentak mendengar pertanyaannya.
"Apa tak berjalan baik?" pikir Ats melihat reaksi itu.
"Masih dalam proses," jawab Profesor Han setelah memperbaiki sikapnya. Ada rona merah yang samar di wajahnya. "Kamu harus membantuku untuk meyakinkan para tetua Keluarga Asir, ATs"
"Tidak masalah," Ats mengacungkan jempolnya, "Selama kakek dan nenek setuju, itu pasti akan mudah. Biasanya, mereka selalu mendengarkanku."
"Bagus, terima kasih banyak atas itu," ucap Profesor Han tulus, "Di semester kedua nanti, aku mungkin bisa mengajarimu Dasar Teknik Penyusunan Partikel."
Teknik Penyusunan Partikel merupakan teknik yang mempercepat penelitian teknologi nano oleh Klan Zarah. Umumnya, teknik ini dipelajari oleh para ilmuwan yang berfokus pada teknologi zarah. Sama seperti Teknik Penyimpanan Partikel, teknik ini merupakan teknik tingkat tinggi yang tak mudah dipelajari.
"Wah, saya akan menantikannya," Ats senang mendengar itu, "Kalau begitu, apa Anda akan berkunjung ke kediaman kami di Wilayah Asir saat liburan nanti?"
"Hm, aku akan meluangkan waktu," Profesor Han mengangguk. Ia tetap saja seorang yang sibuk. Penelitiannya tak pernah berhenti meskipun hari libur.
__ADS_1
"Profesor, saya percaya pada Anda," ucap Ats sebelum pamit undur diri, "Tolong jangan kecewakan bibi. Kalau tidak—"
"Haha," Profesor Han terkekeh, "Aku mengerti. Kamu tak perlu khawatir."
"Saya pamit dulu, Profesor," Ats pun menyungging senyum terbaiknya, "Terima kasih atas segala ilmu yang Anda ajarkan."
"Hm," Profesor Han membalasnya dengan senyuman yang sama, "Hati-hati di jalan."
Begitu keluar akademi, Ats langsung berangkat ke stasiun. Ia memesan tiket ekonomi. Yah, meski begitu, kelas ekonomi itu sudah lebih dari cukup. Menurut sejarah otomotif yang pernah ia baca, kelas ekonomi yang ia dapatkan hari ini bahkan lebih baik dari kelas eksklusif dan bisnis di masa lalu. Transportasi di Kekaisaran Altair memiliki standar kualitas yang sangat tinggi.
Tanpa menunggu lama, kereta yang Ats pesan berangkat. Itu adalah kereta khusus yang terbang melalui jalur cahaya penyambung antarpulau di kekaisaran. Jalur cahaya itu hanya akan menyala ketika ada perjalanan. Kecepatannya moderat. Didesain agar tidak terlalu cepat ataupun lambat. Dengan begitu, para penumpang dapat menikmati perjalanannya dengan santai.
"Hai, kamu murid Akademi Altair, ya?" sapa seorang pemuda yang duduk di hadapan Ats. Ia adalah sosok yang terlihat periang dari senyumnya yang lebar, juga supel dari cara bicaranya yang santai kepada Ats. Ats pun hanya mengangguk atas pertanyaannya. Wajar pemuda itu tahu. Selama perjalanan pulang, para murid diharapkan tetap memakai minimal satu atribut akademi.
"Hm, seleksi akademi memang ketat," jawab Ats datar dan setengah hati. Ia merasa canggung dengan pemuda sok akrab itu. Sebagai orang yang lebih suka ketenangan, kehadiran pemuda itu menjadi gangguan baginya. Apalagi saat ini menanyakan hal-hal remeh hanya untuk menyambung obrolan yang semestinya sudah berhenti.
Ponsel Ats bergetar. Panggilan itu menyelamatkannya dari pemuda supel yang bahkan tidak memperkenalkan diri di hadapannya ini. Ia pun memasang handsfree-nya dan menjawab panggilan itu.
"Ats!" suara Dokter Razana terdengar di seberang sana. Ada nada amarah yang mengalir di sana, "Kamu di mana?"
"Sudah di kereta, Bibi," jawab Ats dengan firasat buruk, "Kenapa?"
__ADS_1
"Kok malah tanya sih?" Dokter Razana berseru heran, "Kok kamu main pulang sendiri begitu? Kan ada kerabat yang lain."
"Eh?" Ats mengerutkan kening, "Aku dah ngomong sama Kak Emir kok. Dia bilang terserah aku. Ya, udah. Aku duluan."
"Hais ... kamu tuh, ya," andai Dokter Razana ada di depan Ats sekarang, ia pasti menjitak bocah itu, "Masa pulang sendiri sih. Kayak nggak ada kerabat aja."
"Yah, aku kan emang nggak terlalu suka acara formal," kata Ats blak-blakan. Setiap pergantian semester, keluarga-keluarga berpengaruh mendapat undangan dari Keluarga Kekaisaran untuk menghadiri penjamuan di istana. "Maklumin, ya. Kakek sama nenek juga sudah nunggu di rumah soalnya."
"Hedeh, padahal adikmu bakal datang di acara itu," Dokter Razana menyesalkan. Satu-satunya alasan Ayya yang sakit-sakitan menyempatkan datang ke acara ramai itu adalah untuk bertemu dengan Ats. Kalau sosok yang ingin ditemuinya saja tak ada, apa yang akan Dokter Razana katakan pada tuan putri kecil itu nanti.
"Lah, aku baru denger," Ats merasa bersalah, tapi ia sudah ada di kereta sekarang. Mana mungkin ia kembali?
"Kamu sih," Dokter Razana menyalahkan, "Sulit banget dihubungi."
"Yah, maaf," Ats semakin merasa bersalah, "Ada banyak urusan akhir-akhir ini."
"Urusan apaan? Mau libur kok banyak urusan?" Dokter Razana tak percaya. Ia pun bertanya curiga, "Kamu ada penelitian sama profesor lagi, ya?"
"Bukan, aku belum mulai lagi penelitiannya," jawab Ats serius. Ia tak ingin disalahpahami oleh bibinya yang cerewet ini. "Pokoknya ada gitu deh. Ini juga dah mau selesai kok. Bibi nggak usah khawatir."
"Ats, Ayya mau ketemu sama kamu nih," kata Dokter Razana sebelum menutup teleponnya, "Jangan lupa hubungi dia loh nanti."
__ADS_1
"Oke, Bibi," Ats berjanji. Ia sudah keluar akademi, jadi bisa bebas menghubungi siapa saja sekarang.
"Kamu punya keluarga yang harmonis, ya?" pemuda di hadapan Ats kembali bertanya begitu Ats menutup teleponnya. Itu membuat Ats sangat terganggu. Ia pun menatap pemuda itu dengan dingin. Dalam sekejap, Arselan langsung mencari informasi mengenai dirinya.