Sistem Arselan: Pengendali AI

Sistem Arselan: Pengendali AI
Bab 030: Uji Coba yang Terlalu Mulus


__ADS_3

"Ats," panggil Arjuna begitu bocah dari Keluarga Asir itu masuk ke asrama, "Tadi ada yang nyariin kamu loh."


"Hm?" Ats pun menoleh, "Siapa?"


"Senior Salam," Arjuna menjawab sambil tetap berkutat dengan gawainya. Ia ada tugas dari kelas tambahannya. Hari ini merupakan tenggat waktu terakhir pengumpulannya.


"Ada apa emangnya?" Ats merasa curiga. Ia tak menyangka bahwa murid payah itu akan mencarinya sampai ke asrama. Itu sangat aneh mengingat mereka tak pernah saling bertemu atau kenal sebelumnya.


"Nggak tahu,"Arjuna mangangkat bahu, "Dia cuman tanya sekali, terus langsung pergi."


"Oalah," Ats memutusan untuk tak memedulikan hal itu. Ia ingin segera beristirahat. Sore ini, ia ada penelitian dengan Profesor Han. Mungkin ia bisa bertanya tentang seniornya itu pada profesor nanti.


"Ah, ya," Ats mengingat perihal adiknya begitu berbaring di kasur. Selama ini, ia tak pernah merasa penasaran sama sekali dengan gadis itu. Ia hanya pernah mendengar nama dan penobatannya sebagai salah seorang putri kekaisaran, tapi tak pernah sekali pun melihat wajahnya.


"Arselan," panggil Ats yang lantas bertitah "Carikan info mengenai Putri Ayya Zarah Altair!"


"Baik, Tuan," Arselan muncul dengan wujud kucing pustakawannya. Dalam sekejap, muncul puluhan informasi di belakangnya yang menyatu dengan seketika. Semua itu adalah informasi tentang Ayya, putri satu-satunya Laksama Agung Asir sekaligus putri paling kecil di keluarga kerajaan generasi ini.


Nama: Ayya Zarah Altair


Usia: 6 Tahun


Status: Putri Kekaisaran Altair


Afiliasi: Istana Tulip Emas


...


Ats pun menatap foto Ayya yang tersenyum manis bersama beberapa putri lainnya. Dari sekian banyak informasi yang Arselan dapatkan ini, tak ada satu pun yang memuat foto tunggal Ayya. Pada dasarnya, keberadaan putri kecil itu sangatlah samar dibanding keluarga kekaisaran lainnya.

__ADS_1


"Dia sungguh seorang putri, meski tidak populer," gumam Ats dengan seulas senyum tipis di bibirnya. Ia dan adik kandungnya itu memiliki marga yang berbeda. Marganya adalah Asir, sedangkan marga adiknya adalah Altair. Itu karena ibu mereka juga seorang putri dari kekaisaran.


Namun, Ats dilahirkan di Wilayah Keluarga Asir sehingga mendapat marga itu, sedangkan Ayya lahir di ibu kota sehingga mendapat marga keluarga kekaisaran. Akibatnya, hak pengasuhan mereka pun jatuh ke tangan yang berbeda setelah menjadi yatim-piatu.


Itu bukanlah masalah. Meskipun marga mereka berbeda, fakta bahwa mereka lahir dari rahim yang sama tidaklah sirna. Sesuai janji yang pernah dikatakannya pada sang nenek, ia pasti akan menyayangi adiknya itu saat mereka bertemu nanti. Akan tetapi ...


"Kapan kami bisa bertemu?" Ats menghela napasnya pelan. Matanya pun terpejam. Kesadarannya menguap dalam perlahan. Akan tetapi, rasanya belum lama sejak ia terlelap, Arjuna membangunkannya.


***


"Ha?" Profesor Han menatap tak percaya, "Anak itu masih ada di akademi?"


"Hm, saya bertemu dengannya tadi," jawab Ats sembari menatap kedua tangannya. Ia duduk bersila di atas sebuah bantal empuk. Hari ini, ia akan menguji fungsi tambahan pada sistem.


"Aneh, menurut aturan yang berlaku, harusnya dia sudah dikeluarkan dari akademi sejak beberapa hari yang lalu," Profesor Han berwajah curiga, "Hais ... aku harus mempertanyakannya kepada staf administrasi akademi nanti."


Tanpa memperpanjang basa-basi lagi, mereka berdua pun akhirnya melakukan uji coba yang dijadwalkan. Ini adalah uji coba simulasi alam. Sebenarnya, simulasi alam sudah cukup sempurna untuk dioperasikan oleh akademi. Prototipenya sudah dimutakhirkan dengan baik. Hanya saja, simulasi itu belum memungkinkan sepenuhnya untuk simulasi para praktisi zarahian.


"Pakai ini," Profesor Han memberikan sebuah alat mirip bando yang dipasangkan pada kepala. Saat benda itu terpasang, Arselan otomatis terpaut dengannya. Data-data penelitian seperti kondisi Ats pun mulai muncul di gawai Profesor Han.


"Kamu siap?" tanya Profesor Han meminta konfirmasi.


"Ya," Ats mengangguk kecil. Simulasi alam pun dinyalakan. Sejenak kemudian, pandangan Ats menggelap, lalu kembali terang. Ia pun mendapati sebuah dunia yang berbeda di matanya.


"Ats, kamu bisa mendengarku, kan?" suara Profesor Han terdengar di kepala Ats.


"Saya dengar, Profesor," jawab Ats singkat. Dilihatnya pemandangan sekitar yang indah. Pohon-pohon rindang berdiri kokoh. Akar-akarnya kuat mencengkeram bumi, dahan-dahannya tinggi mencakar langit.


Ats pun berjalan ke sebuah ... entah dahan atau akar. Pokoknya, itu adalah bagian pohon yang mencuat ke atas dari permukaan tanah. Ukurannya sangat besar dan lebar sampai-sampai sebuah mobil terbang dapat diparkirkan di atasnya.

__ADS_1


Lumut-lumut hijau tumbuh di sekitarnya seakan-akan mereka sudah lama tinggal di sana. Pohon-pohon ini pun pasti sudah sangat tua usianya. Mereka terjaga dari segala bentuk intervensi makhluk lain yang mungkin merusaknya seperti ...—Yah, pasti tahu lah siapa yang paling banyak merusak alam di bumi.


"Profesor, apa tempat ini benar-benar ada di dunia nyata?" tanya Ats pernasaran.


"Ya, itu adalah penampakan hutan yang konon katanya tempat Klan Peri berada," jawab Profesor Han menjelaskan. Setelah Klan Zarah melakukan Skema Menghilang dari Muka Bumi, mereka melakukan ekspedisi ke berbagai belahan dunia—ke tempat yang belum pernah dijamah oleh klan lain tentunya.


Salah satunya adalah Hutan Lumut Seribu Tahun yang ada di tengah Benua Cherokee. Alasan hutan itu tak pernah bisa dijamah berkaitan dengan letak geografisnya yang ekstrim. Konon, akar-akar menjalar hidup menjaga setiap sisinya. Akar-akar itu memiliki resistansi terhadap api. Mereka juga sangat kuat menahan logam panas. Karena itu, para penjajah dari klan lain tak dapat memasukinya terlalu dalam.


"Kita lewatkan perkenalan itu untuk lain kali," ujar Profesor Han. Saatnya mereka melakukan uji coba. "Sekarang, kamu bisa mencoba teknikmu di dalam sana."


"Baik, Profesor," Ats pun duduk bersila di atas bagian pohon yang mencuat itu. Ia berkonsentrasi untuk mengaktifkan teknik zarahian yang sudah dikuasainya. Partikel-partikel tubuhnya mulai berpisah, tapi masih saling mengikat.


Di dunia nyata, tubuh Ats juga mengaktifkan teknik zarahian dasar itu. Itu seperti yang Profesor Han duga. Dilihatnya bando yang ia pasang pada kepala Ats. Saat ini, Arselan tengah mengondisikan agar koneksi dengan benda itu tak terputus.


"Hm, begitu, ya," Profesor Han manggut-manggut, "Teknik ini bisa digunakan selama driver dan servernya tak terputus. Sistem bisa membantu para driver untuk tetap terkoneksi pada server. Ats, apa kamu baik-baik saja?"


"...."


Tak ada jawaban. Profesor Han pun menoleh ke data yang masuk ke gawainya. Menurut data-data itu, tak ada masalah pada kondisi Ats.


"Semoga berjalan lancar," gumam Profesor Han berharap. Ia pun menunggu sambil terus mengamati data yang masuk ke gawainya. Sesekali, ia pergi sebentar untuk membuat kopi.


"Tak ada masalah sejauh ini," ujar Profesor Han setelah menyeruput kopinya. Ini sudah hampir setengah jam sejak Ats masuk ke dunia virtual maya. Kondisinya baik-baik saja sejauh ini.


"Apa karena ia hanya berdiam di tempat?" Profesor Han memikirkan kemungkinan itu. Menurutnya, ini terlalu mulus untuk percobaan pertama. Ia pun memutuskan untuk kembali memanggil Ats, "Nak, apa kamu masih bisa mendengarku?"


"...."


Tak ada jawaban.

__ADS_1


"Ats, apa kamu dengar?" tanya Profesor Han mulai khawatir. Ia pun segera menoleh ke gawai. Tak ada masalah di sana. Namun, justru itulah masalahnya. Sekali lagi, ia memanggil Ats, "Hai, Nak! Dengar aku! Kamu bisa mendengarku kan?"


__ADS_2