
Seleksi anggota OSIS dilaksanakan dalam beberapa tahap, yaitu pelatihan, praktik, dan ujian. Pelatihan itu diberikan kepada seluruh pendaftar. Setiap komite OSIS akan memperkenalkan dan mempresentasikan diri mereka di sana. Keaktifan para murid akan menjadi nilai tambah dalam tahap ini. Biasanya, mereka yang suka bertanya akan amat dipandang oleh para penguji.
Proses pelatihan berjalan dengan cepat. Tiga hari berlalu tanpa terasa. Setiap murid tahun pertama dan kedua yang mendaftar akan dituntut untuk menunjukkan kedisiplinannya. Terlambat semenit barang sekali saja akan menjadi nilai minus yang besar dalam penilaian. Ats dan kawan-kawannya pernah hampir terlambat karena ulah salah satu dari mereka sendiri.
Dalam tahap praktik, para calon anggota OSIS akan dikelompokkan berdasarkan komite yang mereka pilih. Solar jelas memilih Komite Kedisiplinan. Dia ingin melatih kemampuan kepemimpinannya. Baginya, Komite Kedisiplinan adalah jalan terbaik untuk menjadi calon presiden OSIS di tahun depan.
Arjuna memilih Komite Informasi, bidang yang sejalan dengan kelas-kelas tambahannya. Putu mengambil Komite Kesekretariatan sebagaimana yang ia incar sebelumnya. Ats sendiri, ia mencoba Komite Digital, komite yang bertanggung jawab atas dokumen dan komputerisasi basis data kegiatan OSIS. Itu adalah komite yang paling cocok untuknya.
Selama masa praktik, para murid jadi semakin sibuk dengan komite pilihannya masing-masing. Putu langsung sibuk dengan berbagai dokumen admistrasi begitu kelas selesai. Solar pergi ke tempat Komite Kedisiplinan dan digembleng di sana. Adapun Ats dan Arjuna, mereka saling bersinergi karena kedekatan komite mereka.
"Kamu telat lagi, Ats," kata Erwin, ketua Komite Digital yang mengawal penilaian praktiknya. Ia adalah pemuda berkacamata tebal. Rambutnya gelap kecokelatan. Tatapan matanya sinis memandang. "Kamu nggak bakal lulus loh kalau begini terus."
"..."
Ats hanya mengangguk kecil. Sejujurnya, ia tidak peduli mau diterima atau tidak. Lagi pula, ia mendaftar karena dipaksa oleh Fang. Kalaupun tidak diterima, maka itu baik untuknya. Kalaupun diterima, itu juga baik untuknya.
__ADS_1
Di sesi praktik itu, para murid mempelajari seluk-beluk komitenya lebih dalam. Mereka diajari berbagai kemampuan pendukung yang akan mereka butuhkan untuk menjalankan tugas. Apa yang menjadi penilaian utama bukanlah kelihaian dalam kemampuan itu, tapi keseriusan dalam mempelajarinya. Mereka yang berbekal kemampuan hebat sejak awal, tapi tidak bersungguh-sungguh akan sukar untuk diterima.
Sebagai anak yang akrab dengan gawai-gawai mutakhir, Ats merupakan salah satu murid paling ahli di antara para murid yang mendaftar ke Komite Digital. Ia bisa menyelesaikan dua tugas saat murid lainnya hanya dapat mengerjakan satu. Sayangnya, kesibukan yang memadati aktivitasnya membuat ia tak bisa maksimal menjalankan praktik itu.
Di hari terakhir minggu itu, ujian diadakan. Ujian ini meliputi dua sesi. Sesi pertama dikerjakan secara mandiri, sedangkan sesi kedua merupakan kerja kelompok. Setiap siswa akan diberi studi kasus atas masalah tertentu. Mereka dituntut untuk memberi solusi dari masalah tersebut.
"Ini typo, ya?" batin Ats ketika mencoba untuk menyelesaikan studi kasus yang ia dapatkan.
Di sana tertulis, "Dalam organisasi X, terdapat dua pendapat yang saling bertentangan. Sisi A yakin dan optimis bahwa proyek mereka akan selesai meskipun target masih jauh dari selesai, sedangkan ambang batas waktu pengerjaan sudah menipis. Sebaliknya, sisi B yakin dan 'optimis' bahwa proyek mereka tidak akan selesai dan mengusulkan untuk menunda proyek sampai semester depan."
"Hm, jelas sisi B yang rasional," pikir Ats, "Menunda pekerjaan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik di masa selanjutnya adalah tindakan yang tepat."
Di sisi lain, ada murid yang berpendapat bahwa sisi A lebih tepat. Pasalnya, proyek mereka memiliki ambang batas waktu yang telah ditentukan. Mereka tidak boleh lewati ambang batas itu. Untuk mengatasi masalahnya, organisasi mungkin bisa bekerja lebih keras dan menambahkan waktu kerja agar proyek dapat diselesaikan tepat waktu.
"Hah ... akhirnya selesai," ucap salah seorang murid begitu keluar dari ruang ujian, "Kira-kira, kita bakal diterima nggak, ya?"
__ADS_1
"Santai aja," balas kawannya, "Nggak usah dipikir berat. Toh, kalaupun kita belum lulus tahun ini, kita masih bisa coba tahun depan."
Ats mampir ke Koperasi Akademi setelah ujiannya selesai. Ia ingin membeli sepucuk es krim cokelat karamel yang segar. Makanan manis itu enak dimakan setelah berpikir keras.
"Yo, Ats," sapa Fang yang kebetulan sedang ada di koperasi juga, "Gimana ujianmu?"
"Yah ...," Ats manjawab tanpa menoleh. Matanya fokus memilih es krim yang ingin ia beli. "Gitu deh."
"Gimana maksudnya?" Fang kembali bertanya karena belum mendapat jawaban yang jelas.
"Aku yakin analisisku sudah tepat," ucap Ats begitu mendapat es krim yang dicarinya. Pada dasarnya, pada soal analisis itu tidak ada benar atau salah. Penilaiannya diambil berdasarkan relevansi penanganan kasus dan efektivitasnya.
"Wah," Fang tersenyum puas, "Yakin keterima nih?"
"Entah sih," Ats menatap Fang kali ini, "Kan masih banyak orang yang lebih baik dari aku."
__ADS_1
"Hais ... kamu jangan merendahkan," Fang menepuk-nepuk pundak Ats dengan senyum khas yang selalu tersungging di bibirnya, "Orang yang berbakat kayak Ats ini pastilah lulus dengan mudah."
"Siapa yang tahu?" Ats mengangkat bahu. Ia pun berjalan ke kasir dan menebus es krimnya.