
"Arselan, tunjukkan penyelidikannya," ucap Ats dalam hati begitu Iskandar keluar dari kelas.
Arselan pun segera merespon. Wujud kucing detektifnya muncul di mata pandangan Ats, lalu memberikan ratusan informasi mengenai Badan Intelijen. Sama seperti Ayya, informasinya sangat terbatas.
Badan Intelijen bukanlah instansi resmi pemerintah. Keberadaannya tak pernah dipublikasikan pada masyarakat. Di laman-laman web bebas, hanya terdapat uraian asal tentang mereka yang tidak berdasar sama sekali. Sebagian besar orang yang membacanya pun terkesan tak percaya dengan keberadaannya jika merujuk dari komentar-komentar mereka. Itu karena kekaisaran punya departemen khusus yang memang mengurus operasi-operasi di balik layar. Keduanya dianggap sebagai dua hal yang berbeda.
"Kemungkinan, pemerintah sengaja membuat laman-laman seperti ini untuk mengecoh netizen," pikir Ats dalan kesendiriannya, "Para pendengung bahkan dikerahkan untuk mengalihkan perhatian mereka. Badan ini jadi terlihat palsu, padahal benar-benar ada. Aku bahkan juga tak akan percaya kalau Senior Is tak mengatakan keberadaannya tadi."
"Tuan, apa yang akan Anda lakukan?" tanya Arselan kemudian.
Ats tak langsung menjawab. Ia bahkan harus waspada pada Arselan juga kali ini. Kalau dipikir lagi, Arselan telah banyak menyimpan informasi, sedangkan ia adalah piranti yang hanya sebesar lencana. Di mana basis data penyimpanannya. Bisa jadi, pemerintah memang sudah mengawasinya selama ini.
"Aku harus tanyakan itu pada Profesor Han nanti," jawab Ats. Ia pun kembali membaca hasil penyelidikan Arselan terkait Badan Intlijen. Kalau saja seorang senior yang bertugas untuk jaga malam tak mengingatkannya, ia mungkin akan tetap di ruang belajar itu sampai tengah malam.
Saat sampai di asrama, sebagian besar lampu kamar sudah dimatikan. Itu aturan umum yang diterapkan oleh Dewan Pengasuhan pada seluruh murid akademi di asrama. Dengan begitu, para murid diharapkan segera tidur tepat waktunya.
"Baru balik?" suara ketus Solar yang khas menyambut Ats. Calon suksesor Keluarga Efendi itu masih belum tidur juga rupanya. Ia tengah mengisi cadangan air pribadinya dari dispenser.
"Ya," balas Ats singkat. Ia pun duduk di sofa aula. Lampu di sana masih menyala walaupun sedikit redup.
"Ngomongin apa sama Senior Is tadi?" tanya Solar penasaran. Bacah dari Keluarga Efendii itu sempat melihat pembicaraan Ats dengan Iskandar tadi. Ia pun ikut duduk di sofa, lalu meneguk air segar yang baru saja diambilnya.
"Nggak apa-apa kok, cuman masalah penelitian sama Profesor Han aja," jawab Ats dengan ekspresi yang tak berubah sedikit pun. Ada semburat lelah di wajahnya. Solar bisa melihatnya dari pandangan lesu pemuda itu.
"Enak, ya, punya banyak koneksi," ujar Solar yang kemudian menyandarkan bahu pada sofa, "Kamu bisa buat apa pun yang kamu mau."
"Kalau maksudmu aku, rasanya nggak seenak itu," bantah Ats, "Semakin banyak yang kamu kenal, semakin banyak tuntutan yang mungkin kamu dapat. Karena itulah para sastrawan berkata bahwa dalam ketidakkenalan ada ketenangan."
"Hm, kamu capek banget, ya?" Solar terlihat iba pada kondisi Ats, "Kenapa nggak langsung tidur?"
__ADS_1
"Aku belum bisa tidur," Ats menjawab spontan. Saat ini, matanya tengah fokus membaca laporan Arselan yang tersisa. Ia merasa belum bisa tidur sampai hasil penyelidikan itu selesai ia baca.
"Hais ... hati-hati loh," Solar mengingatkan, "Kamu bisa kena insomnia."
"Ya," Ats hanya membalas singkat.
Solar pun meninggalkannya. Sebelum masuk ke kamar, ia mematikan lampu aula agar Ats bisa segera beristirahat. Meskipun tidak di kamarnya, sofa aula itu juga lumayan nyaman untuk tidur.
"Hah ...," Ats menghela napasnya. Ia pun memejamkan mata. Secara otomatis, sebagian fungsi Arselan dinonaktifkan. Fungsi penjagaan pun dinyalakan.
Perlahan, kesadaran Ats memudar. Nyawanya menguap ke alam bawah sadar. Sayang sekali, rasa lelahnya masih belum hilang juga begitu terbangun di pagi harinya.
***
"Oi, tidur jam berapa semalam," Arjuna menepuk pundak Ats hingga membuat bocah dari Keluarga Asir itu tersentak. Pelajaran memang belum dimulai, tapi persiapan harus segera dilaksanakan.
Ats pun menghela napasnya, lalu mengeleng-gelengkan kepala guna mempercepat kembalinya nyawa. Matanya mengerjap-ngerjap beberapa kali. Kantuk di wajahnya belum hilang sama sekali.
"Dia belum tidur sampai jam sebelas semalam," Solar yang menjawab. Itu perkiraannya karena ia masuk ke kamar pukul sebelas kurang sedikit.
"Kamu ngapain emangnya, Ats?" Arjuna tak habis pikir. Sesibuk-sibuknya ia di akademi, paling lambat ia tidur pukul sepuluh malam, setengah jam setelah lampu-lampu kamar dimatikan.
"Nggak ngapa-ngapain," Ats enggan menjawab. Mana mungkin ia bilang bahwa dirinya sedang menyelidiki Badan Intelijen.
"Kamu mikirin orang seberang, ya?" Darwis tiba-tiba datang menanyakan hal aneh. Di akademi ini, ketika disebut kata "Orang seberang", maka itu hanya merujuk pada satu hal, yaitu orang dari kompleks perempuan. Pembatasan yang ketat antara murid laki-laki dan perempuan diberlakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak sepatutnya.
"Mana ada?" bantah Ats dengan gelengan.
"Oh, iya sih," Arjuna tersenyum usil mengingat sesuatu, "Ats kan habis perawatan di Pusat Kesehatan. Ats, emangnya kamu nggak ketemu senior seberang yang magang di sana?"
__ADS_1
"Nggak, aku ketemu sama bibiku," jawab Ats jujur sekalian menyangkal, "Setiap masuk sana, aku pasti dapat teguran, tahu!"
"Eh, siapa? Emangnya kamu punya sanak saudara di akademi?" Solar menunjukkan wajah tak percaya. Selama ini, Ats sangat jarang menunjukkan identitas kekeluargaannya.
"Banyak," jawab Ats singkat. Keluarga Asir adalah salah satu keluarga yang besar dan berpengaruh. Jelas ia punya banyak kerabat di sini, mulai dari murid sampai staf dan pendidik. Namun, nama keluarga tidak terlampau berarti di sini. Ada etiket dasar yang telah dipelajari oleh murid-murid akademi sejak sebelum mereka masuk ke mari.
"Bibiku yang ada di Pusat Kesehatan namanya Dokter Razana," jelas Ats kemudian.
"Oh! Dokter yang galak itu, ya?" tampaknya Solar kenal betul dengan Dokter Razana.
"Galak?" Ats, Arjuna, dan Darwis menoleh berbarengan.
"Iya, galak banget," Solar ingat bagaimana ia dimarahi saat berobat setelah latihan ekstra dengan Master Khaled. "Pantesan dia belum punya pasangan sampai setua itu."
"Ih, Solar parah banget sih. Mulutmu tuh kayak silet, tahu!" Arjuna mencibir. Jelas perkataan Solar itu bisa menyinggung Ats.
"Yah, emang galak sih," Ats membenarkan kata-kata Solar.
"Tuh, kan? Kamu aja yang nggak tahu, Jun," Solar menatap Arjuna penuh kemenangan.
"Pasti gara-gara kamu nggak manut sama peringatannya, kan?" lanjut Ats datar.
"Hehe, iya sih," Solar memalingkan wajahnya. Kata-kata yang sederhana itu cukup menusuk hatinya.
Tak lama kemudian, guru pelajaran sesi pertama memasuki ruangan. Ia adalah seorang pria paruh baya berkacamata kotak. Ada aura cendekiawan yang memancar darinya. Ia adalah Doktor Wafi, guru mata pelajaran Prinsip Yurisprudensi.
Metode pembelajarannya sederhana. Sebagai pelajaran yang berisikan hukum-hukum peradilan, ia menjelaskan istilah-istilah dasar dalam hukum terlebih dahulu. Untuk menjelaskan itu, ia membentuk para murid menjadi 18 kelompok.
Setiap kelompok berisikan dua orang yang menjelaskan satu istilah dengan presentasi. Dalam sekali pertemuan, biasanya akan ada dua sampai tiga kelompok yang maju. Mereka diberi waktu sekitar dua puluh menit untuk menjelaskan. Lalu, akan ada sesi tanya-jawab dengan audiens. Setelah rangkaian pembelajaran mandiri itu selesai, barulah Doktor Wafi memberi tanggapan.
__ADS_1
Dokter Wafi merupakan salah satu guru favorit para murid. Itu karena beliau memiliki wawasan yang luas dan metode penyampaian yang ringan. Jadi, para murid lebih mudah memahami pendidikannya. Sesekali, beliau akan ke luar dari konteks materi dan menjelaskan ilmu yang biasanya tak didapatkan di kelas. Begitulah hebatnya para pendidik di Akademi Altair, akademi paling elit sekekaisaran.