Sistem Arselan: Pengendali AI

Sistem Arselan: Pengendali AI
Bab 077: Semifinal Arena


__ADS_3

"Ini padang pasir?" tanya Arjuna begitu peta informasi pertandingan selanjutnya diumumkan. Ia melihat foto-foto 2D dan 3D yang disampaikan ke grup anggota Tim Yildirim. Ada banyak gambar lautan pasir di sana.


"Benar, ini kondisi salah satu daratan di luar konstelasi," jawab Darwis sambil memperhatikan informasi di gawai Arjuna itu, "Itu tempat yang tandus dan panas. Tidak sembarang makhluk bisa tinggal di sana."


"Wow, menakjubkan," respon Arjuna singkat.


"Hai, di mana Ats?" tanya Solar kepada kawan-kawannya, "Kita harus segera membuat strategi."


"Itu dia," Bayu menunjuk Ats yang baru sampai ke ruang khusus anak-anak tahun pertama, "Tinggal beberapa orang lagi yang sedang dalam perjalanan ke mari. Apa kita mulai saja duku."


"Ayo," Solar setuju dengan ide itu. Lagi pula, anggota-anggota tim yang belum datang tinggal mengikuti arahannya. Ia pun meminta kawan-kawannya untuk merapat. "Seperti yang kalian lihat, ini adalah detail arena kita selanjutnya. Pertempuran kali ini akan fokus pada kavaleri ringan. Kita akan memiliki kendaran penunjang di dunia virtual nanti."


"Kendaraan seperti apa?" Bayu menekan-nekan gawainya, mencari informasi yang ia cari.


"Mobil jip," jawab Ats sembari menunjukkan foto mobil yang pernah ia coba, "Kita akan mendapatkannya di basis komando dan pos-pos jaga lainnya."


"Hm," Arjuna memperhatikan detail peraturan Arena babak kedua kali ini, "Jadi, ini permainan merebut pos."


"Bisa dibilang begitu," Ats mengangguk, "Semakin banyak pos yang kita dapat, semakin banyak kendaraan penunjang yang kita punya. Tapi, fokus kita tetaplah menguasai markas musuh."


"Baiklah," Solar menepuk tangannya sekali, "Mari kita susun rencana untuk mengalahkan anak-anak tahun keempat."

__ADS_1


***


"Kita kembali lagi, Kawan-kawan semua!" seru Jemy mengawali Arena pada sore hari ini, "Di tengah meriahnya festival, di antara hiruk pikuk keramaian, kita akan menyaksikan bakat-bakat muda yang akan melanjutkan generasi Klan Zarah di masa depan."


"Ya, kita sudah menyaksikan pertandingan yang hebat dari setiap angkatan sejak pagi tadi," Ari menimpali dengan wajah riangnya yang khas, “Mereka semua telah menunjukkan performa terbaiknya sepanjang babak penyisihan.”


“Kita akan segera menyaksikan pertandingan berikutnya, Bung Ari,” Jemy mengelus-elus dagunya takzim seperti seorang veteran ahli yang telah menyaksikan banyak pertempuran, “Jadi, siapa kontestan kita selanjutnya?”


“Tentu kita tidak akan lupa dengan aksi anak-anak tahun pertama, bukan?” Ari memberi petunjuk sekadar untuk berbasa-basi. Jemy pun mengangguk semangat. Ia berkata, “Itu adalah aksi penyusupan yang sangat senyap sampai kita tidak menyadarinya, Bung. Aku sungguh tertipu tadi pagi. Kukira, Regu Zehinlah yang akan menang.”


“Ya, begitulah,” Ari mengangguk pelan, “Kita tentu akan menanti aksi menakjubkan selanjutnya yang akan Regu Yildirim tunjukkan. Namun, tampaknya mereka akan melawan regu yang sulit dari angkatan tahun keempat, bukan?”


“Yah, Regu Asman sangatlah mengesankan,” Jemy memicingkan matanya seolah sedang berpikir keras, “Mereka memiliki kerja sama yang sangat baik sampai anak-anak tahun ketiga kewalahan. Sejauh ini, mereka adalah regu dengan poin terbanyak.”


Ari berhenti sejenak, kemudian mengucapkan nama regu yang bertanding bersama Jemy dengan kompak, “Pertandingan antara Regu Yildirim dan Regu Asman…!!!”


“Arena …,” Jemy mengangkat tangannya tinggi-tinggi, lantas mengayunkannya ke bawah seperti menebaskan sebilah pedang, “Dimulai!”


Di padang pasir yang luas, tepatnya di salah satu benteng yang berdiri kokoh di sana, Ats dan kawan-kawannya muncul hampir bersamaan. Mereka pun segera bergerak ke posisinya masing-masing. Operator dikurangi menjadi tiga. Dua lainnya memutuskan untuk ikut bertanding di lapangan.


“Belati 1, bergeraklah ke arah selatan,” Ats memberi komando seperti sebelumnya, “Belati 2, ambil pos jaga kedua di sebelah tenggara.”

__ADS_1


“Dimengerti!” jawab semuanya kompak.


Arjuna bergerak bersama partnernya menggunakan sebuah motor dengan kecepatan tinggi. Meraka melaju ke sebuah pos terdepan tempat mereka akan memantau pergerakan musuh. Pos itu ada di atas sebuah bukit. Kalau mereka tidak bergegas, bisa jadi pos itu direbut lebih dulu oleh anak-anak tahun keempat yang brutal.


“Syukurlah tempat itu kosong,” gumam Arjuna pelan, “Sepertinya.”


“Hati-hati!” Ain, kawan setim Arjuna mengingatkan. Arjuna pun mengangguk. Ia memegang baik-baik senjatanya, siap menyerang kapan saja. Mereka pun masuk ke sebuah pos menara. Tempat itu sangat hening dan tenang. Sampai di puncak tertinggi, mereka tidak menemukan satu pun musuh.


“Aman,” ucap Arjuna dengan posisi yang tetap siaga, “Segera siapkan senapan runduknya. Aku akan mengawasi sekitar.”


“Oke,” balas Ain sigap. Ia pun membuka koper yang mereka bawa. Sekejap kemudian, pemuda mengeluarkan sebuah senjata laras panjang yang mereka gunakan sejak Arena sebelumnya.


“Negatif,” lapor Arjuna kemudian, “Sepertinya, para senior juga belum mengisi pos terdepan mereka. Kita selangkah lebih maju.”


“Tetap waspada,” Ain kembali mengingatkan, “Mereka bisa datang kapan saja. Coba kamu tanyakan kondisi di pos lainnya.”


“Baiklah,” Arjuna mengangguk singkat. Ia pun menghubungi basis komando tempat para operator bertugas. Kepalanya manggut-manggut beberapa kali, lantas melaporkan keadaan pos mereka yang masih aman.


“Ya, di sini masih sangat tenang,” kata Arjuna enteng, “Aku akan segera melapor kalau ada pergerakan sedikit saja.”


Saat Arjuna mengatakan itu, sebuah meriam ledak bergeser ke sudut posnya berada. Meriam itu pun memuntahkan pelurunya dengan suara yang sangat pelan. Hanya dalam waktu yang singkat, pos Arjuna dan Ain pun meledak dan runtuh seketika.

__ADS_1


“Arjun! Hai, Arjun!” panggil Ats panik. Ia sempat mendengar suara ledakan itu sebelum komunikasinya terputus. Setelah beberapa kali memanggil lagi dan tak mendapat balasan, ia pun berkesimpulan.


“Tim Mata 1 telah tereliminasi,” kata Ats kepada semua tim lainya. Berita itu mengejutkan seluruh anggota regunya. Namun, juga menambah kewaspadaan pada diri mereka. “Kawan-kawan, lawan kita bergerak sangat cepat. Berhati-hatilah dengan artileri mereka.”


__ADS_2