
Informasi pendaftaran OSIS dipajang besar-besar pada mading digital akademi. Yah, itu adalah majalah yang terdapat pada sebuah panel transparan besar. Saat panel itu dinyalakan, gambar yang disetting akan keluar.
Para murid tahun pertama dan kedua ribut membicarakan soal pendaftaran itu. Meskipun OSIS tak sebesar BEA, mereka tetap memiliki kuasa di akademi. Selain bagus untuk membina kemampuan berorganisasi, OSIS juga berguna untuk menyambung relasi.
Di ibu kota terdapat banyak akademi ternama selain Akademi Altair. Antara satu akademi dengan akademi lainnya ada tali yang saling tertaut dalam berbagai bidang, salah satunya bidang keorganisasian. Pada kesempatan tertentu, anggota OSIS akan diundang untuk pertemuan besar seluruh organisasi akademi di ibu kota, bahkan seluruh kekaisaran.
"Hai, acara itu bakal ada tahun ini, kan?" tanya seorang murid tahun pertama. Ia sudah pernah mendengar rumor berita itu di suatu tempat. Murid lainnya pun menjawab, "Kalau nggak salah sih, harusnya tahun depan. Tapi nggak tahu kenapa tiba-tiba dipercepat."
"Bagus dong," yang lain menimpali, "Kita harus gabung dan ikut acara itu."
Obrolan itu tertiup ke mana-mana. Apalagi di kantin. Setiap jam makan, para murid yang antusias selalu membicarakan hal itu.
"Nyambung relasi emang penting sih, tapi itu bukan esensi sejati bergabung ke organisasi," Arjuna menjadi salah satu pengkritik antusiasme para murid itu, "Mereka bakal nyesel kalau nggak siap buat mengabdi nanti."
"Yah, relasi kan pada dasarnya memang keuntungan dari berorganisasi, bukan esensinya," Putu membalas komentar itu, "Nggak masalah walaupun awal niat mereka buat dapetin relasi ke dunia luar. Seiring berjalannya waktu, mereka akan sadar dengan esensinya. Lagian, sudah jadi tugas organisasi untuk mendidik mereka."
"Solar nih," Ats yang baru saja menghabiskan buah segarnya menepuk-nepuk pundak Solar, "Katanya, dia sudah pasti dapat kursi di OSIS."
"Bukannya kamu juga?" Arjuna mengerutkan kening.
"Kata siapa?" Ats menggeleng kuat. Ia tak pernah mengatakan hal seperti itu.
"Loh, kamu kan dekat sama Senior Fang," Arjuna mengankat tangan dengan jari yang seolah membawa uang digital, "Tinggal gesek dikit, masuk dah."
__ADS_1
"Hus! Nggak boleh kayak gitu," Ats menolak cara seperti itu mentah-mentah. Putu pun mendukungnya,"Iya nih. Arjuna emang parah sih. Mentang-mentang jadi muridnya Master Eden, jadi pongah begini kamu?"
"Apaan sih?" Arjuna membalas ketus.
"Kalian semua pada mau ikut daftar jadi anggota OSIS, kan?" tanya Solar kemudian, "Kesempatan loh ini. Tahun ini banyak acara langka yang diadakan tiap tahun-tahun tertentu."
"Daftar atau nggak, ya?" Arjuna malah kembali bertanya. Ia masih bimbang untuk mendaftar. Baginya, pelatihan dari Master Eden dan kelas-kelas tambahannya sudah menyita banyak waktu, apalagi kalau ia bergabung ke OSIS.
"Aku mau coba nanti," berbeda dengan Arjuna, Putu sudah mantap untuk ikut. Ia bahkan ingin mengincar posisi yang paling dekat dengan ketua, yaitu Komite Kesekretariatan. "Kamu, Ats?"
"Masih kupikir sih," Ats sama ragunya dengan Arjuna. Mereka berdua punya alasan yang sama. Sama-sama sudah sibuk sejak tahun ajaran pertama.
Waktu makan siang pun berakhir. Bagi mereka yang memiliki kelas tambahan seperti Ats, maka harus segera pergi ke tempat kelasnya diadakan. Sayangnya, siang itu kelas tidak bisa dimulai dengan anggota penuh karena kebanyakan murid kelas satu dan dua sibuk melakukan pendaftaran OSIS.
"Kamu beneran nggak mau daftar nih?" tanya Fang yang saat itu sengaja mendatangi Ats karena tak kunjung mendapati namanya di list pendaftar.
"Entah," Ats memberi jawaban yang ambigu, "Terakhir besok siang, kan?"
"Jangan ditunda-tunda," ucap Finn yang kebetulan ikut bersama Fang, "Kamu bakal nyesel loh kalau suka menunda-nunda kayak gitu."
"Aku bukannya nunda-nunda sih," Ats menggeleng pelan, "Cuman masih ragu aja."
"Hais ... udah nggak usah ragu. Coba dulu aja," desak Fang dengan senyum usilnya yang khas, "Benefitnya banyak loh. Misal, bisa ketemu sama orang seberang."
__ADS_1
"Nggak peduli," jawab Ats datar, "Aku bukan orang kayak kamu, Senior."
"Emang aku gimana?" Fang menunjukkan raut bertanda tanya di wajahnya.
"Diri sendiri masa nggak tahu," Ats tak percaya bahwa Fang tidak sadar dengan rumor yang beredar tentangnya. Sebagai wakil ketua OSIS urakan, dia merupakan sosok yang sangat terkenal. Apalagi bagi murid tahun pertama sampai ketiga, bahkan murid senior tahun keempat ke atas.
"Iya nih," Finn menimpali, "Sok nggak tahu kamu, Fang."
Fang pun tersenyum hambar. Ia tak bisa menyangkal hal itu. Selama ini, wakil ketua OSIS itu memang nakal. Ia sendiri mengakuinya.
"Ats, jangan jadi kayak dia," tambah Finn kemudian, "Bocah banyak masalah dia itu."
"Aku setuju sih," Ats mengangguk-angguk pelan, "Dia memang gitu."
"Heh, dasar," Fang mengepalkan tangannya, berniat menjitak kedua bocah di hadapannya itu. Ia kembali mengajak Ats dengan beberapa kalimat. Sejak awal, dia sudah menunggu agar bocah dari Keluarga Asir itu ikut pendaftaran.
Sorenya, Arjuna memberi Ats sebuah tautan formulir. Itu adalah lembar pendaftaran anggota OSIS. Tautan itu akan dikirim ke akun murid jika ia mendaftar ke bagian pendaftaran.
"Loh, Jun," Ats menatap Arjuna keheranan, "Kok kamu yang kirim?"
"Senior Fang yang suruh," balas Arjuna, "Udah, isi aja."
"Lah," Ats menatap formulir di gawainya itu dengan setengah hati, "Maksa amat."
__ADS_1
Pada akhirnya, ia pun mendaftar juga. Fang tersenyum puas saat menerima input namanya di basis data OSIS. Ia ingin melihat bagaimana bocah itu akan memanfaatkan peluangnya di lingkungan organisasi.