
Jangan lupa like dan komenšš
.
.
.
***
Perempuan itu meringis saat membuka piyamanya. Luka di pundaknya terasa perih jika bergesekkan dengan sesuatu.
Tubuhnya terasa pegal, dan kini ditambah lagi dengan sakit di pundaknya. Saking asyiknya tadi memasak bersama Adrian, ia melupakan pundaknya yang masih berdenyut sakit.
Lama ia berendam di dalam bathup, menghirup aroma lavender dari skincare di sana. Ingatannya kembali terulang pada kejadian semalam.
Bagaimana Max menciumnya seraya menyebut nama Alana, dan menyatakan pernyataan cinta sebanyak-banyaknya.
"Kau sangat beruntung, Alana. Max sangat mencintaimu," gumam Sara.
Ketika ia bangun dari sana dan berniat membasuh dirinya di shower, tiba-tiba pintu terbuka. Sara sangat terkejut dan kembali duduk di dalam air sabun.
Sial, apa aku lupa tidak mengunci pintu?
Max masuk ke sana. Sara berdoa semoga saja Max tidak menyadari keberadaannya.
"Sayang?"
Mati aku! Dia menyadarinya. Sialan.
"Aku melihatmu di cermin ini. Jangan mengepalkan tangamu di udara," ledek Max seraya terkekeh pelan.
"Pergi kau!"
"Aku menggosok gigi, Sayang."
"Cepat!"
"Belum selesai."
"Kenapa hanya berdiri?"
"Tidak ada alasan." Max mengedikkan bahunya acuh, ia melanjutkan aktifitasnya.
"Sangat lama," sungut Sara dari dalam yang masih didengar oleh Max. "Max!"
"Sayang ...."
Suara itu, Sara memahaminya. Ia langsung bergidik menyadari kesalahan yang baru saja dibuatnya. Ia memukul pelan mulutnya.
"Maafkan aku, Sayang."
"Tidak semudah itu."
"Kau pendendam, Max."
"Bukan hal baru, Sayang. Aku terlahir untuk itu."
Selesai dengan kegiatannya, Max ikut masuk ke dalam bathup, membuat Sara membelalakkan matanya.
"Max?!!"
"Gerah. Aku ingin mandi lagi."
Sara melipat kakinya, duduk menyangga dagunya dengan tangan memeluk tubuh. Ia takut melihat wajah datar Max. Apalagi kondisinya sekarang tanpa sehelai benang di tubuh.
"Gosok punggungku!"
Sara tidak bergeming, ia terdiam memeluk lututnya.
"Sara?"
Masih tidak ada jawaban.
"Sayang?"
Karena Sara tetap berpegang teguh pada pendiriannya, Max menarik tangannya sehingga bibir keduanya beradu.
"Aw, Max!"
__ADS_1
"Kau menjadi tidak penurut, Sara. Jangan menyangka bahwa aku tidak bisa melakukan apapun padamu karena beberapa hari ini terlihat penuh tawa. Wajah ini malaikat, tapi tidak dengan hatiku."
Geraman tertahan dari mulut pria itu membuat tubuhnya bergetar seketika. Wajah datarnya terlihat menyeramkan ditambah dengan mata birunya yang menatap tajam.
"Ada saatnya aku hanya ingin bermain-main denganmu. Jaga sikap dan tutur katamu!"
Sara terdiam menunduk. Dadanya terasa sesak mendengar itu. Max yang dikenalnya beberapa hari ini terlihat berbeda. Benar yang dikatakan banyak orang bahwa pemimpin klan ternama itu menyeramkan dan terlihat menakutkan.
"Sara? Apa kau menangis?"
"T-tidak."
"Kenapa kau menunduk?"
"Aku hanya ingin."
"Beri aku ciuman!"
Sara melakukannya.
"Bukan kecupan!"
Sara melakukannya, sedikit lama sampai ia menahan napasnya.
"Bernapas, Sayang. Kau bisa mati jika seperti itu."
Perempuan itu mengangguk dan menghembuskan napasnya.
"Bilas tubuhmu dan tunggu aku di kamar. Jangan kemana-mana!"
Tanpa banyak berdebat, Sara keluar dari bathup setelah Max menciumnya lagi. Hatinya meringis mengingat statusnya di rumah suaminya.
Kebebasannya direnggut, masa mudanya kini menghilang, hidup yang seharunya ia jalani dan nikmati bersama teman-teman kini telah tiada.
Ia tidak bisa mengubah takdir yang mengikatnya bersama pria itu, bahkan bagaimanapun tindakan Max selanjutnya akan ia terima dengan lapang dada.
Demi mendiang ibunya, ia melakukan itu. Menjadi seorang perempuan penebus hutang, meski kemarahannya pada Peter belum sirna.
"Kenapa kau melamun? Cepat ganti pakaianmu, kita akan keluar."
"Keluar? Aku boleh keluar?"
"Jika bersamaku."
Max memicingkan matanya, memerhatikan seriap gerak-gerik Sara yang membuatnya risih. Dan tanpa dinyana, perempuan itu datang memeluknya.
"Sesenang itu?"
Sara mengangguk. "Terima kasih."
Max menelan ludah kasar. Kulit halus perempuan itu menyentuh kulitnya yang bertelanjang dada. Ia sedikit mendorong tubuh Sara agar menjauh karena sesuatu dalam dirinya mengusik kenyamanan itu.
Kau benar-benar sesuatu, Sara.
***
"Kita akan kemana?"
"Perusahaan."
"Hah?! Kenapa kau membawaku ke sana?"
"Aku menginginkannya."
Sara mendengus tidak suka. Menyebalkan sekali melihat Max berbuat sesuka hatinya sedangkan dirinya tidak pernah bisa.
"Seberapa jauh? Badanku sudah keram duduk di sini."
Max diam. Menandakan bahwa ia tak berniat menjawab.
Sara mengerucutkan bibirnya. Pria itu tidak banyak berbicara sejak tadi. Hanya menjawab seadanya jika ditanya.
"Kau marah padaku? Aku minta maaf untuk itu."
"Hm."
Hanya jawaban singkat yang menyebalkan itu yang keluar dari bibirnya.
"Max?"
__ADS_1
"Sayang, aku sedang tidak ingin diganggu."
"Maaf."
Mata yang tadi terpejam, perlahan terbuka. Seringai di bibirnya meredupkan binar bahagia Sara.
"Jangan lupakan hukumanmu, Sayang. Cium aku!"
Perlahan tapi pasti, karena tidak ingin melihat wajah suaminya mengeras, Sara mendekat. Belum sempat ia menempelkan bibirnya, mobil itu berhenti mendadak. Mulutnya terantuk rahang Max. Ia meringis dan memejamkan matanya.
"Lewis!"
"Maaf, SeƱor, tiba-tiba ada motor berkecepatan tinggi menghadang jalan kita."
"Kemudilah dengan benar!"
Mobil kembali melaju. Mata Sara menengok kemana saja asal tidak bersitatap dengan Max. Ia sangat malu. Namun, ia bersyukur juga karena mobil itu berguncang. Jika tidak, sudah dipastikan Max akan menciumnya lagi.
"Sayang?"
Sara terkejut. Pikirannya ambyar.
"A-apa?"
"Kau belum membayar hukuman itu."
Sial.
Ternyata pria itu tidak mudah melupakan apapun. Secepat kilat, Sara menempelkan bibirnya dan dibalas lummatan oleh Max. Tangan pria itu menahan tengkuknya agar ciuman itu semakin dalam.
Saat pasokan udara dalam dadanya hampir habis, Sara memukul-mukul tangan Max. Ia hampir kehabisan napas. Mengerti dengan itu, Max melepaskan ciuman itu sesaat lalu melanjutkannya lagi.
Bibir perempuan itu seolah candu yang membuatnya gila. Tidak pernah ia merasa membutuhkan sebuah ciuman dari Alana dulu. Perempuan itu yang meminta dan sebagai penghormatan atas perasaannya, ia mencium perempuan itu.
Ketika ia melepaskan ciuman, ia dapat merasakan tubuh perempuan itu bergetar. Keringat membasahi keningnya. Dengan bibir yang terus tersenyum, Max menyeka keringat itu menggunakan saputangannya.
"Aku akan mengajarimu cara berciuman yang benar. Kau hampir kehabisan napas, Sayang."
Sara segera memalingkan wajahnya. Ia benar-benar malu sekarang. Max sangat menyebalkan. Meski ada Lewis di depan kemudi, keduanya berciuman dengan sangat panas di kursi belakang.
"Tidak butuh. Terima kasih!"
"Aku memaksa."
Cih, aku tidak sudi diajari pria mesum sepertimu.
"Terserah," jawabnya pasrah.
Meski ia melarang dan mengatakan tidak mau, tetap Max adalah otoriternya. Apapun bisa dilakukan oleh pria itu. Tanpa persetujuan dan penuh paksaan.
Akhirnya, mobil berhenti di depan sebuah bagunan berketinggian beribu kaki. Sara tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya jika ia menaiki tangga darurat seperti yang sering dilakukannya di perusahaan Peter.
"Ini kantormu?"
"Ya. Ayo turun!"
Sara turun dan melingkarkan tangannya di lengan Max. Berpura-pura sebagai istri yang sangat dicintai suaminya.
"Haruskah aku melakukan ini? Ini penipuan, Max."
Max terkekeh, dia melangkah masuk ke bangunan itu diikuti beberapa orang di belakangnya. Tangan Sara mencengkram erat lengan jasnya.
"Tenanglah, tidak ada yang menipu dan ditipu di sini. Semuanya nyata, Sara. Kita sudah menikah."
"Kita tidak saling mencintai, Max. Tidak ada cinta di antara kita. Bagaimana bisa aku menipu para pekerjamu? Mereka mengira bahwa tuan mereka menikahi wanita yang dicintai, tanpa tahu seperti apa faktanya."
"Kalau begitu, berusahalah untuk jatuh cinta padaku. Ayo, tunjukkan faktanya pada mereka."
Sara terkesiap. Perkataan itu seolah memberi lampu hijau untuknya. Haruskah ia memercayai ucapan Max sementara cinta di hati pria itu masih untuk Alana?
Ia menggeleng pelan.
Aku tidak bisa, tidak baik merebut posisi milik wanita lain. Aku berharap sandiwara pernikahan ini segera berakhir dan Max bersatu dengan kekasihnya. Persetan dengan perusahaan Peter.
.
.
***
__ADS_1
Love,
Xie Luā”