SOLEDAD

SOLEDAD
Atlanta


__ADS_3

Vote ya😘


.


.


.


***


Suasana di meja makan itu hanya diisi oleh suara piring dan sendok yang bersentuhan. Ketiga manusia itu sama-sama terdiam.


Sara hanya memerhatikan gerak-gerik Alana yang menurutnya masih dalam batas wajar. Tidak ada yang mencurigakan.


Apa Max berbohong padaku? Aku belum bisa memercayai pria ini.


Sara melirik Max yang sedang makan dalam diam. Entah apa yang dipikirkan pria itu, Sara melihat ada yang dipikirkan Max sampai kening sang suami berkerut.


Hingga berakhirnya sesi makan yang dilakukan Max dan Alana dengan Sara yang bertugas mengawasi, hanya ada keheningan yang mengisi.


"Lana, kau harus beristirahat sekarang. Kau bisa berjalan-jalan besok."


Sara merenggut kesal. Mendengar nama wanita lain dipanggil dengan manja oleh Max membuat telinganya memanas.


Lana? Huh, menggelikan.


"Sayang, aku di sini," ucap Sara memperingatkan Max bahwa dirinya juga ada di sana. "Ayo, ke kamar."


Max menatap istrinya dalam diam. Pria itu masih belum mengerti tentang perubahan sang istri hari ini.


"Apa lagi yang akan dilakukannya kali ini?" Max bergumam bagai angin lalu.


"Maaf, Alana, aku harus menemani istriku sekarang."


Wanita itu tersenyum. "Sudah seharusnya begitu. Pergilah!"


Sara membalas, "Ya, kau harus tahu diri. Sudah seharusnya suami istri bersama."


"Maaf, aku mengganggu waktu kalian."


"Bagus, tahu diri. Sayang, ayo lanjutkan permainan kita yang sempat tertunda."


Sara menggandeng tangan Max dan berlalu dari sana meninggalkan Alana yang berubah menjadi diam.


"Sara, aku tidak tahu apa yang kau pikirkan. Tapi, kalau kau benar-benar cemburu, hentikanlah. Alana hanya mantan kekasihku."


Sara berbalik dan menatap Max tajam. "Karena kata mantan itu membuatku siaga. Bisa saja suatu hari nanti berubah menjadi hal lain."


Max mendekati istrinya dan menarik tangan perempuan itu untuk digenggam.


"Ayolah, cerita masa lalu hanya tinggal cerita. Aku tidak bisa mengubahnya lagi, tapi aku bisa mengubah masa kini demi masa depan kita kelak. Aku janji."


Sara merenggut kesal. "Matamu tidak mengatakan yang sebenarnya, Max."


***


"Kita bertemu di tempat biasa! Sekarang!"


Setelah mendapat perintah dari pesan singkat itu, seorang pria bermata kelabu duduk menunggu sambil menghisap rokoknya. Menunggu seseorang yang sudah dianggapnya seorang kakak.

__ADS_1


Dan tak lama kemudian, yang ditunggu akhirnya datang.


"SeƱor, sesuatu terjadi?"


Pria yang ditanya meremas rambutnya frustasi. Wajahnya masam dan sepertinya akan menelan siapapun hidup-hidup.


"Cepat berikan aku informasi tentangnya secara lengkap. Aku tidak ingin istriku terus marah dan mendiamiku."


Alex terkekeh keras. Ternyata karena masalah ini sehingga dia harus buru-buru datang.


"Kau sekarang mengerti? Aku sudah melarangmu membawa wanita itu kemari, SeƱor."


"Tapi aku tidak menyangka Sara akan berubah jadi aneh."


Max mendesah frustasi. Menghadapi Sara yang diam lebih menyulitkan daripada berhadapan dengan musuh bersenjata.


"Aneh? Dia marah? Hahaha, maklum saja, SeƱor. Kalau wanita sudah cemburu, seluruh dunia akan hancur."


Pemilik mata biru itu menatap Alex dengab intens. "Cemburu? Kau yakin? Dari mana kau belajar tentang wanita"


"Apa dia tidak mengatakannya, SeƱor?"


"Dia mengatakannya dengan jelas, tapi aku tidak percaya."


Alex terkekeh sampai seluruh ruangan VIP bar itu terisi suaranya. "Kau harus belajar tentang wanita, SeƱor. Kadang kau membutuhkan itu, dan akan sangat berguna disaat seperti ini."


"Mungkin harus tapi tidak sekarang. Aku sedang kesal. Bisakah kau memberitahuku sejauh mana yang sudah kau dapatkan? Aku membutuhkan itu sekarang untuk menjalankan misi selanjutnya."


Alex memberikan sebuah tablet dan Max membaca sampai keningnya berkerut.


"Elijah? Siapa pria ini?"


Max memberenggut. Dia meremas tablet itu. "Kenapa tidak kau pastikan? Apa Gerald sudah pindah planet?"


Pria bermanik kelabu itu menyengir. "Aku baru mendapatkannya, SeƱor, tapi kau menyuruhku cepat-cepat ke sini."


"Tidak berguna."


"Ayolah, SeƱor. Itu salinan pesan dari virus yang kau sebarkan di ponselnya. Dan wanita itu sudah melapor pada pria bernama Elijah itu. Aku tebak, pria ini adalah dalangnya."


Max sesaat diam, mempertimbangkan prediksi Alex.


"Cari tahu siapa 'dia' sebenarnya. Aku menunggu sampai besok pagi."


"Sƭ, SeƱor."


"Tinggallah di sini, aku bertemu seseorang di luar sana tadi. Dan dia bilang ingin bertemu denganmu."


Alex menebak siapa orang itu sampai dia terkejut saat seseorang masuk.


"Kau?!"


"Hola, Tampan. Apa kabar? Sudah lama kita tidak bertemu."


Max tergelak melihat ekspresi Alex yang seperti orang yang baru saja menginjak kotoran. "Bersenang-senanglah," ucapnya dan keluar dari ruangan itu.


Perempuan itu mendekat dan duduk di samping Alex. "Hei, apa kau berubah jadi bisu?"


"Pergi."

__ADS_1


"Tidak." Perempuan itu menggeleng. "Aku ke sini karena merindukanmu, Tampan."


Wajah Alex datar dan hatinya sudah terbakar karena kesal. "Kau tidak ada hubungan denganku."


"Ayolah, kau pernah menjemputku dari bandara. Dan kita hanya berdua saja di mobil waktu itu. Itu sudah termasuk sangat dekat bahkan ...."


Claire mendekat dengan senyuman menggoda. Bermaksud memegang tangan Alex, tapi ditepis kasar oleh Alex.


"Menjauh dariku, Nona."


"Aku sedang mengejarmu, Tampan. Apa kau tidak senang?"


"Aku lebih senang kalau kau enyah dari sini. Berhenti menggangguku."


Kekehan Claire membuat Alex tambah gusar. Kemungkinan ada yang tidak beres dengan perempuan itu dan Alex perlu waspada.


"Aku punya nomor ponselmu sekarang, Tampan. Kau tidak bisa lari jauh dariku."


"Tidak ada pengaruh."


"Aku akan menelponmu setiap saat, mengirim pesan setiap menit dan merindukanmu sampai aku mati. Bisakah kau lari dariku?"


Alex menyeringai. Tangannya menarik sebuah benda dari balik sweater hitam yang dipakai.


"Kau yakin?"


Claire merinding takut melihat sebuah pistol sudah ada di tangan Alex dan siap mengeluarkan isi kepalanya. Karena keteguhan hatinya, dia mengangguk.


"Aku tidak akan pernah menarik ucapanku," ucapnya tersenyum sementara tangannya gemetar dan meremas kuat gaun yang dipakainya itu.


"Maka, matilah!"


***


'Elijah, apa lagi yang harus aku lakukan? Aku sangat senang bermain di sini.'


Sebuah pesan dengan emoticon tertawa lebar berhasil terkirim. Wanita yang mengirim itu tertawa.


"Cepat balas, Sayang," ucapnya sambil berguling-guling di kasur menunggu jawaban dari seberang.


Dan bunyi tanda pesan masuk membuatnta tersenyum lebar.


'Aku serahkan padamu, Atlanta. Sepertinya kekasih gelapmu itu sudah mencurigai sesuatu. Aku mendeteksi ada virus yang masuk ke sini dari pesan yang kau kirim.'


Alana kaget, dia tidak menyangka akan ketahuan secepat itu. Padahal dia masih ingin bermain lebih lama lagi dengan Max dan istrinya.


Mengetahui bahwa pria itu sungguh menggilainya merupakan kebahagiaan terbesar bagi misi Alana. Insiden dikejar preman itu adalah idenya dan ternyata berhasil menipu Max.


"Ck, aku pikir kau masih bodoh seperti dulu, Maxwell. Hehe, kau belum bisa lari dari jeratku. Dan keberadaanku di sini mempermudah segalanya. Tunggu aku, Blue Wolf! Istanamu sebentar lagi akan dihiasi warna merah."


.


.


.


***


Maaf, telat!

__ADS_1


__ADS_2