SOLEDAD

SOLEDAD
Lega


__ADS_3

Happy reading!


.


.


.


***


Seorang pria muda nampak acak-acakan dengan pakaian kumuhnya bak seorang pengemis. Tangan dan kakinya diikat serta mulutnya ditutup paksa. Wajahnya yang rupawan tertutup oleh noda hitam dan merah, tapi masih menguarkan aura pemudanya.


Darah yang menguncur dari sudut bibirnya bertambah banyak seiring berjalannya waktu. Begitu pula dengan luka di kening dan sebagian besar wajahnya, sehingga penampilannya terlihat sangat buruk.


Beberapa orang yang berdiri di hadapannya terus mengintimidasi, menanyakan pertanyaan yang sama setiap kali, menyebutkan nama 'Serigala Liar' pada saat yang bersamaan. Namun, tidak ada yang bisa ia berikan. Ia tak mengenal serigala liar yang dimaksud.


Setiap pukulan dan tendangan yang didapatkannya membuatnya mengingat sosok seseorang. Seorang yang pernah muncul sebagai pahlawan dan malaikat penolong pada masa sulitnya. Mungkinkah yang dimaksud mereka adalah dia? Karena ia pernah melihat banyak sekali korban dan menjadi salah satu pemukul pada waktu itu.


Tak lama setelah itu, pintu ruangan tempatnya disekap terbuka lebar. Cahaya matahari pagi menyilaukan matanya dan tampaklah sosok yang sangat ia kenali dari arah cahaya itu.


"Kak Max?" Ia berusaha mengucapkan nama itu dari balik mulutnya yang disekap.


Matanya berbinar setelah mengetahui bahwa orang yang membawanya ke Madrid adalah Max.


"Buka penutup mulutnya, biarkan dia berbicara!" perintah tegas Max yang langsung dipatuhi bawahannya.


"Kak Max!" teriaknya setelah pembuka mulut itu terlepas. Ia bangkit dari kursinya namun sesaat kemudian ia jatuh tersungkur, kaki dan tangannya diikat pada sebuah kursi tempatnya duduk dan ia melupakan fakta itu.


"Beraninya kau menyebut namaku seperti itu dengan mulut iblismu, Pengkhianat!"


Kilatan amarah di mata Max terpancar jelas, dan pria itu meringis ketakutan karenanya.


"Kak Max? Kenapa kau marah padaku?"


"Tutup mulutmu, Gerald! Kau tidak pantas lagi menyebut namaku seperti itu!"


Gerald -pemuda itu- kaget, Max sangat marah. Ia mengenal Max, dan jika pria itu benar-benar marah maka tidak akan ada yang luput dari kobaran api amarahnya.


"Ke-kenapa ...?" Gerald berusaha menanyakan alasan di balik kemarahan Max.


"Apa kau tidak menyadari kesalahanmu? Beraninya kau berkhianat padaku, Gerald. Berapa banyak yang kau jual barang-barangku tanpa sepengetahuanku?"


Gerald sekarang menyadari motif dari penangkapannya dan berakhir di kota Madrid. Rasa bersalah menyelimuti hatinya.


"Seseorang menawarkan harga yang lebih tinggi dari nilai pasar di sana dan aku tergiur dengan uang itu. Aku pikir, aku bisa memberikan sedikit lebih banyak dari jumlah bulan lalu, Kak."


Max masih diam mendengarkan. Matanya terus menatap tajam ke depan, menyorot langsung ke bola mata yang jernih milik Gerald. Pemuda yang dulu disayanginya dan dipanggil adik olehnya.


"Lalu? Apa yang terjadi?"


"Dia tidak membayar sepeserpun. Saat aku hendak mengabarimu, orang itu mengirim utusannya dan menghancurkan semua yang kumiliki di sana. Dan memaksaku pindah hanya dengan pakaian ini."


Max menghela napas berat. "Kau pikir aku akan percaya pada ceritamu? Bagaimana dengan peta-peta yang kau miliki?"


Gerald menengadah, menatap dalam manik biru yang menyorot tajam padanya itu. "Orang itu menyeramkan, Kak. Badannya penuh tato bahkan sampai ke kepala. Dia seperti seorang diktator di tempatnya."


"Bagaimana dengan petanya?" Max kembali menanyakan pertanyaan yang sama.

__ADS_1


"Aku berhasil menyelamatkannya. Tapi ..., itu masih di Valencia."


"Aku belum sepenuhnya memercayai omonganmu. Kau bisa saja berlalibi dan memalsukan semuanya, waktu bisa mengubah perilaku manusia."


Setelah mengucapkan itu, Max bangkit dan berbalik keluar. "Buka ikatannya dan biarkan dia bergabung dengan kalian. Alex, kosongkan jadwalku di sini sampai minggu depan. Aku akan mencari barangku yang hilang itu."


Mendengar itu, Gerald berteriak. "Kak, jangan berurusan dengan mereka! Orang itu sungguh mengerikan!"


"Tampilan luar tidak mendeskripsikan siapa dia di dalam, Gerald. Bahkan sekarang aku meragukan kesetiaanmu padaku. Kau masih di bawah pengawasanku sekarang, lakukanlah semua hal sesukamu dan aku bisa menilaimu sekali lagi."


Tanpa memedulikan teriakan kecemasan Gerald, Max keluar diikuti Alex.


"Señor, apa kau yakin ingin ke sana?"


"Kau meragukan keputusanku, Alex?"


"Bagaimana jika Gerald mengatakan yang sebenarnya?"


"Maka aku akan menemukan kebenarannya dan mengambil kembali apa yang seharusnya kumiliki."


***


Sara melongo saat makanan terhidang di atas meja. Berbagai jenis makanan dalam dan luar negeri tertera di sana degan tampilan yang luar biasa.


"Kenapa banyak sekali, Ken?"


"Aku belum makan sejak kemarin," ucap pria itu sambil terkekeh. Tanpa sungkan, ia mengambil beberapa lauk dan memakannya. "Kau juga harus makan yang banyak, lihat tubuhmu yang kurus itu."


"Kau tidak perlu menyindir badanku. Ini postur istimewa untuk seorang perempuan, tidak perlu diet dan melakukan olahraga ekstrim untuk menurunkan berat badan seperti yang dilakukan para model kelas atas," jelas Sara dengan mengerucutkan bibirnya.


"Kau beruntung, tapi keberuntunganmu tidak menentukan takdirmu."


Sara memutar bola matanya malas. Pria itu tidak percaya bahwa dirinya sudah menikah bahkan Kenneth tertawa saat ia menyebut nama Maxwell sebagai suaminya. Itu ilusi, begitu katanya.


"Aku sudah menikah, Ken. Aku mengenakan cincin pernikahanku, lihat ini," ucap Sara seraya menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya, tanda status suami istri sahnya dengan Max.


"Semua orang bisa memakai cincin dan menipu publik, Sara. Aku tetap tidak percaya sebelum aku melihatnya dengan mata kepalaku."


Meski sangat dongkol, Sara tetap bersikap manis di depan pria itu. Bagaimanapun, pria itu pernah menjadi penolongnya dulu.


"Baiklah, aku tidak akan memaksamu untuk percaya. Bagaimana kalau kita makan saja tanpa banyak berbicara?"


Dentingan garpu pada piring di hadapannya menjadi penghibur atas kekesalan Sara yang sudah mencapai ubun-ubun. Meski tadi sempat sarapan, tapi melihat banyak makanan yang menggiurkan dan menarik perhatian perutnya, Sara merasa lapar.


Karena itu, tanpa menunggu Kenneth mengiyakan, ia makan dengan rakus.


"Makan dengan pelan, Sara. Tidak ada yang akan berebut denganmu," tutur Kenneth ketika menyadari perempuan di depannya itu melahap dengan sekejab.


"Aku tidak memiliki banyak waktu sekarang, Ken. Max pasti akan segera datang menjemputku."


Pria itu terkekeh mengejek. "Kau bahkan masih mengigau, Sara."


"Terserah, tidak perlu percaya pada perkataanku karena kenyataan akan menjawab pada waktu yang tepat," jawab Sara santai. Ia melanjutkan makannya dengan cepat.


Nampak pria itu berpikir sejenak. "Kalau begitu, kapan kau menikah? Kenapa tidak ada pemberitahuan di publik? Biasanya kalau pernikahan pria seperti Tuan Del Montaña akan tersebar luar di sini."


Seraya mengunyah makanannya, Sara menggeleng. "Kami tidak ingin mengekspos hubungan kami," jawab Sara setelah menelan makanannya.

__ADS_1


Ia memakai alibi seperti itu untuk mencegah pertanyaan lain dari Kenneth, namun tetap saja mulut pria itu seperti ember bocor dan penuh dengan rasa penasaran.


"Kenapa? Apa kalian bukan pasangan kekasih?"


Mendapat pertanyaan mendadak dan tepat sasaran seperti itu membuat Sara tersedak makanan di mulutnya.


"Minumlah." Kenneth menyodorkan segelas air putih untuknya.


"Terima kasih," ucap Sara setelah meneguk habis air itu.


"Kenapa kau tersedak? Apa tebakanku benar?"


Berusaha tenang dan menarik napas dalam, Sara tidak berani mendongak. Karena ia tahu, setiap ia bertatapan dengan Kenneth, pria itu seolah bisa menebak apa yang ada dalam pikirannya.


Ketakutan tentang keretakan hubungan yang baru saja dibangun oleh mereka menjadi alasan utamanya untuk menutup diri. Ia tak mau ada orang yang ingin menghancurkan hubungan mereka, karena Sara tidak bisa membiarkan orang dicintainya menjauh.


"Kau salah, kami saling mencintai dan dulunya adalah sepasang kekasih."


Kenneth tertawa sinis. "Meski kau menunduk, aku bisa menebak dari nada bicaramu, Sara. Dan juga, belum lama ini, Max terekspos memiliki kekasih yang bernama Alana."


Deg!


Sara melupakan fakta itu dan betapa percaya dirinya ia mengatakan bahwa mereka sepasang kekasih.


"Itu dulu, kami berpacaran setelah itu. Aku tahu Alana."


Menyebut nama wanita yang pernah menjadi bagian dari masa lalu sang suami membuat hati Sara getir. Ia menahan diri dan berusaha tegar. Ia beralih mengambil beberapa potong daging dan mengunyah dengan penuh emosi.


"Tidak ada lagi skandal setelah itu, Sara. Kau membohongiku. Kalian tidak saling mencintai 'kan?"


Meski sangat ingin menonjok muka Kenneth, Sara masih mengingat kebaikan pria itu. Tidak mungkin ia tak tahu terima kasih setelah diselamatkan orang lain, meski itu adalah musuhnya sekalipun.


"Kau salah besar! Aku mencintai istriku dan istriku juga mencintaiku. Benar begitu 'kan, Sayang?"


Suara dan derap langkah seseorang dari belakangnya membuat bulu kuduk Sara berdiri. Ia tak menyangka Max menemukannya di sana. Namun, ada sedikit rasa lega setelah Kenneth melihat Max.


Seperti seorang istri yang ketahuan selingkuh, ia menoleh cepat dan tersenyum. "Max? Kau datang!"


"Kau berharap aku tidak datang? Bagaimana aku akan menangkap istriku yang sedang selingkuh kalau begitu?"


Dengan tidak tahu malunya, Max mengecup pipi Sara yang mendapat cubitan di perut oleh istrinya.


"Kau benar-benar bermuka tebal, Max," bisik Sara.


Merasa dirinya tidak dihiraukan, Kenneth berdehem. "Aku akan menjadi garis pemisah."


.


.


.


***


Love,


Xie Lu♡

__ADS_1


__ADS_2