SOLEDAD

SOLEDAD
Pilihan


__ADS_3

Vote ya😘


.


.


.


***


Seorang lelaki membawa tubuh perempuan yang sedang mengerang kenikmatan di dekapannya ke dalam kapal pribadi miliknya setelah turun dari perahu karet yang dipersiapkan panitia lelang milik Stephen.


Sara terhuyung ketika lelaki itu mendorongnya masuk ke sebuah kamar yang gelap. Rasa panas dan keinginan mendamba untuk menikmati hal lain menjadi sesuatu yang sangat menyiksa.


Sara mengelus lehernya sendiri dan mulai meracau dengan suara serak. Efek obat yang diminumkan Marcus secara paksa padanya lambat laut jadi sangat menggila.


Sara ingin sesuatu untuk memuaskan hasratnya. Ketika lelaki itu mendekat padanya, Sara langsung menyambar dan menyentuh otot lelaki itu.


"Oh, kau menginginkanku sekarang? Ke mana sikap arogan yang tadi kau tunjukkan padaku? Ck, dasar mulut dan perbuatan tidak sama," ucap lelaki yang memenangkan lelang dirinya itu.


"Ku mohon, bantu aku ... ahh ...."


Sara meracau dan membuka ritsleting belakang gaun malam yang seksi itu. Dan hal itu membuat pria bernama Murray Russel itu menelan ludah kasar.


Tubuh Sara memang tidak sebagus wanita malam yang selalu menggoyangkan pinggulnya untuk pria berduit, tapi jika bagian tubuh atasnya sudah terpampang di hadapan pria, tentu saja mengundang hasrat untuk dinikmati.


Dengan seringai nakal di bibir lelaki itu, dia menarik Sara dan mencium bibir perempuan itu dengan buas. Menggigit kasar hingga bibir Sara berdarah.


"Jangan salahkan aku, kau membuatku bergairah. Aku pikir, aku bisa menahan ini sampai ke Roma, tapi cara Tuan Elijah ini boleh juga," bisik Russel dengan seringai sinis.


Mata Sara berkabut oleh gairah, dia tidak melihat lelaki itu sebagai seorang lelaki berumur yang rambutnya hampir beruban. Di pikirannya, satu wajah yang bisa membuatnya menggila seperti ini hanya Max.


"Max ...," desahnya parau.


Lelaki paruh baya itu menghentikan aksinya yang hendak merobek gaun tipis di tubuh Sara.


"Namaku Russel, Cantik. Kau harus mendesahkan namaku malam ini. Dan ini akan menjadi malam yang panjang bagi kita berdua. Tidak ada yang akan mengganggu kesenangan kita."


Namun, mulut Sara otomatis menyebut nama pria yang dia cintai. "Max, lanjutkan .... Aku ingin ... sekarang ...."


Russel menatap Sara tajam, tangannya mencengkram tangan perempuan itu yang sedang menggosok leher dan dadanya.


"Max ...."


Ketidaksadarannya membuat Sara terus memberontak dan mendekatkan tubuhnya pada Russel.


Dia hanya ingin memuaskan hasratnya yang menginginkan sentuhan lebih. Saat Sara membuka matanya yang tadi menyipit, dia melihat lelaki itu sangat dekat padanya.


Sara menarik lelaki itu ke dadanya, membiarkan dia merasakan sedikit kelegaan karena sentuhan yang diterimanya. Dia mengerang kenikmatan kala lelaki itu mengecup dadanya yang setengah terbuka.


"Max ... lakukan ...."


Sara terus meracau. Menyebut nama Max di setiap bibirnya terbuka, dia membuka paksa kemeja lelaki itu dan membuangnya asal.


"Max, ku mohon ... lakukan sekarang ...."


Dan tarikan lelaki itu sehingga dia ditindih membuat Sara mendesah lega. Permainan lidah lelaki itu sangat buas apalagi ketika Russel merobek dan membuang gaunnya.

__ADS_1


***


"Hancurkan kasino itu!"


Satu perintah dari Max dan langsung dilaksanakan oleh anak buahnya yang berjumlah banyak. Beberapa anak buah Max yang menyamar jadi penjaga langsung membunuh anak buah Elijah yang masih selamat dari ledakan granat.


Pertumpahan darah terjadi di mana-mana dan kasino itu penuh oleh lautan darah. Seluruh penjaga bahkan beberapa tamu yang datang untuk acara ditumpas dengan ledakan peluru.


Tidak ada ampun, apapun yang terjadi, terus berperang sampai tetes darah penghabisan. Keadilan akan menang. Itulah yang diajarkan Max pada anggota kartelnya.


Dan motto itu menjadi penyemangat bagi mereka dalam menjalankan tugas, bertekad kuat untuk menyelamatkan keadilan.


Sementara itu, di depan sebuah kamar yang tersembunyi dari keramaian, seorang wanita bertato mengetuk pintu yang sejak tadi tertutup dengan tergesa-gesa.


Dia khawatir pada seseorang di dalam. "Signore (Tuan), kasino dikepung. Ada banyak mata-mata milik musuh di sini!"


Tak lama, muncul Stephen dengan pakaian acak-acakan dan seorang wanita di belakangnya.


"Apa yang terjadi?"


"Keamanan kita sebagian besar dikuasai oleh Pria Spanyol itu. Banyak orang kita yang dihabisi."


Stephen menyeringai. "Kau bisa beraksi, Selena."


Wanita bertato itu mengangguk. "Baik, Signore."


Dengan sigap, Selena langsung menarik Alana dari belakang Stephen dan mencekik lehernya. "Kau sekutu mereka, jalaaang! Kau harus mati!"


Stephen tertawa sinis, dia menatap dua wanita itu tanpa kedip.


"Selena, kau bisa menjadikannya sesuatu yang menyenangkan," ucap Stephen dan berlalu dengan sikap cueknya.


"Sialan kau, Max!"


Meski lehernya dicekik, Alana masih menahan sakitnya dan bertanya dengan suara kecil. "Di mana George?"


Kemampuan Stephen mendengar suara sekecil itu membuatnya menyeringai, dia menoleh dan menampar wajah Alana.


"Putramu ada di kasino yang sudah meledak itu. Dan malam ini juga kau akan mati bersama dengan anakmu."


***


Max menarik tuas perahu motor itu dengan kekuatan penuh. Dia tak sabar ingin mengejar kapal di tengah lautan itu.


Dia kesal juga marah, dirinya terlambat dalam hal ini dan menilai dirinya adalah seorang suami yang konyol.


"Semoga tidak terjadi apa-apa," gumamnya.


Dengan kecepatan penuh perahu motor itu, Max bisa menyusul hanya dalam beberapa menit. Tak peduli bagaimana, dia langsung banting tuas itu saat dekat dan melompat naik ke pinggir kapal.


Meski malam gelap, tapi lampu di kapal itu tidak padam dan itu memudahkan Max untuk merangkak naik. Dengan kewaspadaan penuh, Max melongok ke dalam dari balik jendela.


Tapi kamar itu gelap. Melihat sekeliling yang sangat tenang, Max merasa aman untuk bisa memasukinya.


Dengan gerakan kaki yang lincah, Max melompat dan mendarat di dalam. Dia terkejut saat seseorang menembaknya dan Max langsung menyadari sehingga hanya telapak kakinya tertembak.


Seringainya muncul, tanpa peduli dengan kaki yang berdarah itu, Max langsung membunuh orang itu.

__ADS_1


"Sialan!"


Tidak ada yang bisa menghentikan serigala yang sedang marah, Max membunuh semua orang yang ada di kapal itu dengan sekali tarikan pelatuk.


Kemudian dia mengecek seluruh isi kamar di sana dengan teliti. Hingga di sebuah kamar gelap yang tadi diintipnya terdengar suara Sara yang memanggil namanya.


Dua penjaga sedang berdiri dan mereka belum menyadari keberadaan Max. Yang mana membuat Max leluasa dan menembak lagi kepala dua orang itu.


"Maaf, aku terlambat, Sayang," gumamnya dan mendobrak pintu yang dikunci itu.


Kemarahannya kembali memuncak saat melihat seorang lelaki paruh baya di atas Sara.


"Kau menyentuh istriku, brengseekk! Rasakan ini!"


Max memukul Russel dengan tinjunya yang merobek ujung bibir lelaki tanpa busana itu. "Kau bajiingan! Brengseek!! Aku akan membunuhmu!!" teriak Max dan memukul lelaki itu dengan membabi buta.


Dia tidak melihat Sara yang bangkit dari ranjang dan berjalan sempoyongan ke arah pintu. Bibir perempuan itu terus meracau. Dan tanpa diduga, sesuatu terjadi di depan pintu.


Ketika amarah Max telah puas dilampiaskan, dia menengok ke ranjang dan tidak mendapati sang istri di sana.


"Sara! Sara! Di mana kau?"


Dan suara dari luar membuatnya menegang. "Shiit!"


"Istrimu sedang memohon untuk dipuaskan, Maximus Kecil," kekeh seseorang di sana.


Max mengepalkan tangannya menahan amarah. "Akhirnya kau keluar, Cabrera. Jangan libatkan orang tidak bersalah dalam permasalahan kita. Lepaskan istriku dan kau bisa melampiaskannya padaku."


Stephen tertawa sinis. Dia memegang Sara yang terus memberontak. Di tubuh perempuan itu hanya tinggal dalaman membuat Stephen tertawa puas.


"Lihatlah, dia seperti jalaang yang memohon untuk dipuaskan. Sama sepertimu pada waktu itu, mendesah untuk kenikmatan yang pernah ku berikan."


"Fuckk you! Lepaskan istriku, brengseekk!" teriak Max dan mengacungkan pistolnya ke arah Stephen.


"Jangan salah sasaran, istri tercintamu ada di tanganku. Aku punya penawaran terbaik untukmu," ucap Stephen dan mengisyaratkan pada Selena untuk mendekat.


"Kau punya dua pilihan, wanita yang menjadi cinta pertama atau wanita yang sudah dijamah lelaki lain. Pilihanmu menentukan hidup mati mereka berdua."


Tidak membiarkan Max bicara, Stephen langsung melempar Alana dan Sara bersamaan ke dalam laut.


"Bajiingan, kau akan terbunuh oleh perbuatanmu yang keji!"


Max melempar pisto itu asal dan melompat ke laut, mencari siapapun yang dekat padanya. Dan yang pertama dilihatnya adalah Alana.


"Ini hanya karena cinta yang pernah hadir di hatiku. Hiduplah untuk dirimu sendiri," ucap Max setelah berhasil mengangkat Alana ke permukaan.


"Ternyata kau lebih memilih cinta pertamamu, Maximus Kecil," kekeh Stephen yang menonton dari atas.


Max tertawa getir, kemudian melambaikan tangannya.


"Aku menyelamatkannya karena rasa terima kasih, tapi aku akan ikut tenggelam dan mati bersama istriku. Aku akan menggenggam tangannya dan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja."


.


.


.

__ADS_1


***


Follow me @xie_lu13


__ADS_2