
Happy reading!
.
.
.
***
Sudah dua minggu sejak kejadian itu, Sara kembali berperang dingin dengan sang ayah. Kehangatan yang pernah ada sirna begitu saja. Sara juga melupakan janji yang diucapkan untuk menjadi anak yang baik itu.
Dalam keheningan di kamar siang itu, Sara menatap gambar teman-temannya yang baru saja menyelesaikan misi menaklukan pegunungan tertinggi di dunia.
"Ck, aku benar-benar tidak bisa mencapai mimpiku ini," gumamnya.
Kepergian Peter ke Palma membuat Sara tidak memiliki teman untuk bertengkar lagi. Pertengkaran mereka terjadi setiap saat, tapi tidak menimbulkan kesalahpahaman seperti dulu.
Sara juga sudah mengetahui alasan kenapa Ibunya menikahi Peter.
--
Aku dan Alara adalah sahabat baik sejak kecil. Setiap saat bersama, menghadapi ancaman bersama dan ke mana pun selalu bersama.
Namun, beranjak remaja semuanya sedikit berubah. Perubahan itu terjadi saat dia mengenal cinta. Alara mencintai seorang pria yang umurnya terpaut jauh darinya.
Aku sebagai sahabat yang baik selalu mendukungnya. Memberinya nasihat saat dia mengalami pasang surut dengan pasangannya itu. Tapi siapa sangka ....
Suatu hari Alara pulang dengan tubuh memar dan wajah yang penuh darah. Dia tidak mengatakan apapun padaku. Aku sempat curiga, tapi semuanya tertutupi dengan sandiwara yang dilakukan kekasihnya itu.
Waktu berlalu begitu cepat, Alara hamil. Sejak saat itu selalu muncul kejadian aneh yang menimpanya. Kecelakaan selalu menghampiri kami, dan itu semua adalah perbuatan kekasihnya itu.
Karena itu, aku membawa Alara pergi. Memaksanya menikahiku dan meninggalkan lelaki itu. Tidak ada cinta di mata Alara untukku, setiap hembusan napasnya hanya untuk lelaki yang menyakitinya itu.
Dan saat bayinya lahir, aku tahu bahwa kekasih masa lalunya itu mengincar anak kecil itu. Berencana membunuhnya dengan segala cara dan saat itu juga aku dengan segenap kekuatan menjaga keluargaku. Mencintai Alara dengan seluruh nyawaku dan menjaga putri kecil kami dengan baik.
Keluarga kecil kami terbentuk hanya dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Terlihat harmonis karena kami sudah sering bersama dan tidak ada dendam yang tersimpan. Meski sebenarnya, Alara sangat ingin bertemu kekasihnya itu dan menjalin kasih selamanya.
---
Tidak alasan untuk membenci Peter seperti yang dilakukan Sara waktu dulu. Lelaki itu menyelamatkan nyawanya. Membiarkannya merasakan indah alam ciptaan Tuhan.
Menghembuskan napas berat, Sara bergegas keluar dari kamar. Max sudah tidak melarangnya keluar rumah, hanya syarat yang diajukan membuat Sara sedikit risih.
"Kau bisa keluar dengan Lewis."
Bukan hanya itu, ada hal yang lebih menyeramkan lagi bagi Sara. Para penembak jitu selalu bergerak ke mana pun dia pergi. Mencari posisi di tempat tertinggi untuk mengawasinya.
Hari ini Sara hendak keluar. Sebuah tempat yang dulu dia datangi bersama Max menjadi tujuan utamanya. Bukan sekadar menghirup udara segar, tapi menghilangkan trauma yang pernah dialami.
Di bawah, Lewis sudah menunggu. Lelaki itu membuka pintu saat Sara mendekat. "Señor sudah memberikan saya titik petanya, Señora."
"Eh bien, gracias."
__ADS_1
Duduk manis sambil mencari tempat yang tercantik di dunia lewat ponsel pintarnya, Sara tersenyum melihat sebuah tempat yang belum pernah dia kunjungi sebelumnya.
"Danau tiga warna yang indah," gumamnya sambil tersenyum.
"Lewis, apa kau pernah mendengar tentang Danau Kelimutu yang ada di Asia?" tanya Sara memecah keheningan, karena sopir pribadi sang suami tidak berani mengatakan apapun.
"Saya pernah membaca di sebuah artikel. Kalau tidak salah, itu berada di negara Indonesia, Señora."
Sara tersenyum. Merasa bahagia karena Lewis juga sedikit mengetahui tentang keindahan alam. Ada teman yang juga penikmat alam sangat disyukurinya. Setidaknya ada bahan pembicaraan.
"Kau benar. Tempat yang sangat indah," gumamnya lagi.
Di sisa perjalanan, mata Sara tak henti menatap pemandangan alam yang membiuskan jiwanya itu. Dan semua tidak lepas dari pengawasan Lewis.
Sampai di tempat yang dituju, Sara memasukinya tanpa berpikir untuk merasa takut. Dia ingin menghilangkan traumanya yang dulu.
Dalam hati, dia merapalkan doa. Suara gemericik air menyegarkan suasana sehingga terik mentari serasa masih sangat pagi.
Sejauh mata memandang, hanya tumbuhan liar yang memiliki kembang bunga yang indah. Bibir Sara tak henti tersenyum menikmati keindahan itu.
Jemarinya tidak malas mengambil gambar dengan kamera mini miliknya. Mengamati sambil mengabadikan gambar, tentu saja hal yang sangat sempurna bagi seorang traveler.
Sampai di tempat hewan buas yang selalu ditakutinya selama ini, Sara masih tetap mengambil gambar. Lokasi yang minim pencahayaan membuatnya sedikit merasa tidak biasa. Apalagi dia hanya sendirian.
Mata cokelatnya mengawasi, mengintip setiap sudut hutan mini milik Max. Beberapa serigala berbaring malas, mungkin baru saja menyantap mangsa, begitu pikir Sara.
Begitu Sara makin dekat di area itu, seekor serigala yang tidak asing baginya mendekat. Sara perlahan mundur. Ketakutan itu masih merajai dirinya.
"Blue ...," lirih Sara mencoba mengajak hewan bermata biru itu. Tangannya yang gemetar terangkat dan disambut dengan cakaran oleh hewan itu.
Sara meringis kesakitan. Sakit dan takut, membuatnya hendak menyerah. Tapi mengingat perkataan Max, dia menatap hewan liar itu. "Sambutan serigala sedikit kasar, tapi setidaknya dia tidak menerkammu. Itu artinya kau dikenali olehnya."
"Aku Tuanmu, Blue."
Hewan itu meraung lagi, dan sekarang kawanannya berkumpul. "Oh astaga, ini menakutkan," gumam Sara sambil menahan berat badannya di dahan pohon. Sara masih takut.
Sara memang pengecut jika berbicara soal serigala. Meski dirinya tangguh dalam hal apapun, tapi serigala-lah yang menjadi kelemahannya. Karena ketakutan, dia kembali pingsan.
***
Bibir lelaki itu menggeram. Letupan birahi di puncak percintaan dengan istrinya membuat peluh di kening bertambah banyak.
Max menahan inti tubuhnya agar tetap menyatu dengan sang istri, hingga cairan hangat darinya memasuki liang milik Sara.
Bibirnya mengulas senyum saat semuanya berakhir. Max mengecup kening Sara, menandakan terima kasih atas pelayanan sang istri.
Merebahkan diri di samping Sara, Max menarik istrinya dalam pelukan. "Kau tidak boleh pergi sendirian lagi ke sana, Sayang."
Bibir Sara mengerucut dan Max menahan tawa karenanya. Wanitanya pingsan karena Blue, serigala kesayangannya. Dan akhirnya serigala itu menarik Lewis dari pinggir hutan untuk membawa Sara.
Mengingat itu, Max terkekeh. Nasib istrinya patut dikasihani.
"Aku tidak mudah menyerah. Biarkan aku mencoba lagi nanti, Max."
__ADS_1
Meski segan, tapi kepala Max akhirnya mengangguk juga. "Kau yakin? Tidak pingsan lagi?"
"Itu karena aku kelaparan," ucap Sara dengan bibir yang masih mengerucut sebal.
Max kembali terkekeh mengejek. Istrinya yang keras kepala ini tidak pandai berbohong.
Lama keduanya berbaring dengan saling memeluk, memadu kasih yang tidak pernah pudar di antara keduanya. Bibir Max terus tersenyum. Dia telah mengirim Peter ke Palma dan membiarkan lelaki paruh baya itu menikmati keindahan alam di sana.
Karena pada akhirnya, Peter tetaplah menjadi lelaki rakus yang menginginkan kemewahan meski kesalahpahaman antara mereka telah berakhir.
Mengecup bibir istrinya dengan lembut, Max bangkit dan pergi ke kamar mandi. Meningalkan Sara yang enggan berpisah dengan tempat tidur. Pagi yang indah untuk berbaring begitu pikirnya.
Seluruh tubuhnya masih pegal. Sara tetap tidak bisa mengalahkan kekuatan Max di ranjang. Lelaki itu benar-benar gagah. Berulang kali membuat Sara merasakan berada di puncak nirwana.
Saat hendak menutup matanya dan menikmati tidur panjang lagi pagi ini, dering ponsel menahan manik cokelatnya terbuka.
Ponsel Max berbunyi. Sara mengintip dan nomor tidak dikenal muncul di layar. Mencoba mengabaikan, tapi berulang kali bunyi yang memekakkan telinga itu mengganggu.
Decakan kesal lolos dari bibirnya dan mengangkat panggilan itu.
"Halo, Max. Ini aku, Alana."
Mendengar nama dan suara yang tidak asing itu membuat mata Sara berubah gelap. Dia memandang tajam layar ponsel itu.
"Halo! Halo! Halo!"
Sara tidak menjawab, membiarkan wanita dari seberang berteriak tak sabaran.
"Ck, sudahlah, kau pasti masih marah padaku. Asal kau tahu, aku tidak akan mengganggumu dan istrimu lagi. Aku menelponmu hanya karena ingin memberikan kabar buruk padamu. Stephen gengsi menghubungimu, jadi aku --- Aku tidak gengsi! --- Ah ya, jangan dengarkan lelaki tua ini. Dengarkan aku, Thompson mengincar istrimu lagi. Dia sudah membentuk pasukan rahasia di bawah pimpinan asisten kepercayaannya. Stephen tidak bisa menahannya. Aku harap kau bisa menghentikan ini. Sudahlah, aku sudah berbicara banyak, selamat tinggal, Max."
Sara mengerjap bodoh. Perkataan Alana bagai angin lalu baginya. Dia tidak menyadari ponsel itu sudah terjatuh dari tangannya.
Kabar buruk yang mengejutkan itu berhasil membuat otaknya tidak mencerna apapun dengan baik.
"Ada apa?"
Suara Max mengejutkan. "Astaga, kau mengejutkanku, Max."
"Apa yang kau pikirkan sehingga tidak fokus?"
"Alana ... dia ...."
Max mengerutkan kening memerhatikan ekspresi Sara yang sangat aneh itu. "Tenangkan dirimu terlebih dulu, Sayang."
"Alana bilang Thompson membentuk tim untuk membunuhku lagi."
.
.
.
***
__ADS_1