SOLEDAD

SOLEDAD
Menunggu


__ADS_3

Jangan lupa vote ya😘 Te amo❤


.


.


.


***


"Apa saja yang telah kau lakukan di sini? Kenapa preman itu mengejarmu?"


Max bertanya dengan khawatir pada wanita di hadapannya. Dia membawa Alana ke villa, membiarkan wanita itu membersihkan diri dan memulihkan tenaga setelah berlari dikejar preman tadi.


"Aku berhutang pada mereka."


"Hutang? Kau meminjam uang dari mereka?"


"Mereka pernah menyelamatkanku dari kejaran polisi saat aku sedang mengamen di jalanan."


Max menghela napas, dia tampak sedih mendengar cerita wanita itu.


"Kenapa kau melakukan itu? Kau bisa kembali ke sisiku dan mendapatkan semua yang kau inginkan, Lana."


Wanita itu menunduk, dia menautkan jemarinya dengan erat. "Aku takut kau mengusirku, Bebé," lirihnya.


Panggilan sayang yang diucapkan Alana kembali mengingatkan Max pada kenangan lama keduanya. "Meski aku marah kau pergi tanpa pamit, tapi jika kau kembali, aku akan menerimamu dengan lapang dada, Lana."


"Maaf, aku menyakitimu. Kau pasti menjalani hari yang berat."


Max tertawa miris, menyayangkan harinya yang pernah dia lalui dengan alkohol dan rokok. Padahal, wanita yang dia cintai bisa kembali.


"Melihat kau kembali, aku merasa hidup lagi. Tidak perlu menyalahkan dirimu."


Alana mengangkat pandangannya, menatap lurus ke dalam bola mata biru itu. "Kau memaafkanku?"


Max menggenggam tangan wanita itu erat, dia balas menatap Alana. "Tidak ada alasan untuk membencimu, Cariño."


Senyuman terpancar di bibir wanita itu, dia memeluk Max. "Kau memaafkanku? Terlepas dari kesalahan di masa lalu, apa kau juga akan memaafkanku kalau aku melakukan kesalahan lagi?"


Max terdiam sesaat, dia nampak ragu. Ragu jika wanita itu pergi lagi dan dia tidak akan menemukannya.


"Tergantung dari jenis kesalahan yang kau buat. Ada kesalahan yang bisa dimaafkan dengan mudah, Lana, dan adapula yang sangat sulit dimaafkan oleh manusia sepertiku. Jadi, berpikirlah dua kali jika kau ingin melakukannya."


Wanita itu terkekeh di leher Max, dia mencium area itu membuat Max menegang.


"Aku mengerti, Bebē."


Meski Alana memeluknya sangat erat, tapi tangan Max seolah ragu untuk menyentuh tubuh wanita yang dicintainya itu. Dipanggil seperti itu, Max lebih merasa kesal dibandingkan senang.


Karena itu, dia berniat melepaskan pelukan Alana dari lehernya. Namun, wanita itu memeluknya lebih erat lagi.


"Lana, kau membuatku gerah. Tolong lepaskan tanganmu," pinta Max dengan sedikit mendorong pinggang Alana.


"Kenapa? Kau tidak senang aku memelukmu, Bebē?"


Max mengerjap ragu, dia melihat mata Alana yang polos itu sedikit sayu. Dan Max yakin, wanita itu pasti akan menangis.


"Maaf, lakukanlah. Tapi jangan terlalu erat, aku hampir kehabisan napas."


Alana tersenyum senang. Dengan tidak ragu-ragu, dia menempelkan bibirnya di bibir Max. Membuat Max yang sedang bingung itu bertambah bingung.

__ADS_1


"Aku merindukanmu, Bebē."


Max diam dan hanya tersenyum menanggapinya.


"Kenapa kau tidak mengatakan sesuatu, Sayang? Apa kau tidak merindukanku?" tanua Alana sedikit murung.


"Ayolah, jangan seperti itu, Lana. Kau tahu aku hampir gila karena mencarimu. Bagaimana mungkin aku tidak merindukanmu? Hanya saja, kau telah mengatakan apa yang ingin aku katakan padamu."


Wanita itu mengerucutkan bibirnya, dia menyesal telah mengatakan itu lebih dulu. "Kau bisa mengatakannya lagi. Itu isi hatiku, dan aku juga perlu mendengar isi hatimu, Bebē."


Max terkekeh, dia bersandar di kepala ranjang dan membiarkan Alana duduk di pangkuannya.


"Kau tahu semua isi hatiku, Cariño. Apa lagi yang bisa kusembunyikan darimu?"


"Tapi aku ingin mendengarnya, Sayang. Katakanlah, ayo!"


Alana menggoyang-goyangkan kepala Max dan sesekali menepuk pipinya, membuat Max sedikit jengah dengan sikap manja dan cengeng wanita itu.


"Te extraño tanto, Cariño (Aku sangat merindukanmu, Sayang)."


Wanita itu tertawa, kembali lagi dia mencium bibir Max. Kali ini sedikit lebih lama dan ada lumataan kecil yang dilakukannya.


"Yo te quiero, Bebē. Eres mi aliento, eres tu el fuedo de mi hogar. (Aku mencintaimu, Sayang. Kau adalah napasku, kau juga cahaya dalam rumahku)."


"Aku tahu, kau terus mengatakannya, Lana."


***


"Señor, apa kau tidak waras? Kenapa kau membiarkan wanita itu di kamarmu?"


Alex yang khawatir akan keberadaan Alana di villa itu mencoba mengingatkan Max.


Keduanya sedang bersantai di kamar Alex, mengingat kamar Max dipakai Alana untuk istirahat.


"Aku telah menyelesaikannya, Señor. Tapi peta itu sangat kotor, dia menimbunnya di dalam tanah dan disiram air."


Max menghembuskan asap rokok, membiarkan asap itu mengepul di udara. "Masih bisa dibaca 'kan?"


Alex mengangguk. "Mungkin itu cara Gerald agar benda itu tidak dicuri."


"Kau membakar rumah itu?"


Alex terkekeh. "Warga sangat panik, mereka mengira ada kebakaran hutan."


"Kau memakai granat?"


"Itu bagus, Señor. Bunyi granat lebih merdu dari bensin."


Max tertawa, dia memahami keisengan Alex. "Kau memang pandai, Alex. Aku akan menambahkan gajimu."


"Tidak perlu, Señor. Kau pasti akan menghabiskan setengah dari timbunan uangmu untuk wanita pengemis itu nanti. Aku hanya berharap istrimu tidak kabur lagi."


Max menatap Alex tajam. "Pelankan suaramu, Alana sedang tidur."


Pria bermata kelabu itu mengedik acuh. "Bagaimana kau akan menjelaskannya pada istrimu, Señor? Apa kau yakin akan membawanya ke sana?"


"Aku bisa melakukan apapun yang ku mau tanpa persetujuan orang lain, Alex. Berhenti mengurusi urusanku yang ini. Terlalu banyak tahu akan memendekkan umurmu."


Alex tetap pada pendiriannya. Mengingatkan Max pada karma yang akan datang suatu hari, tentu saja membuat Alex cemas. Pria bermata biru itu sedang bimbang, begitu pikirnya. Dan sebagai teman, dia harus menolong.


"Karma tidak pernah salah alamat, Señor. Kau harus menentukan pilihanmu dari sekarang, apakah kau akan membawa pulang katak yang melompat ke dalam sakumu atau mempertahankan berlian yang ada di sana."

__ADS_1


Keterdiaman Max membuat Alex melanjutkan. "Belum terlambat untuk melakukan sesuatu, Señor. Istrimu sedang menunggu di sana, dia pasti akan terluka melihatmu membawa wanita lain dalam pelukanmu."


Pria bermanik biru itu menghembuskan napas kasar yang diikuti oleh asap bernikotin.


"Aku bisa mengatasinya sendiri, Alex. Berhentilah mengoceh, aku belum tuli. Tentang Sara, dia bisa menentukan pilihannya nanti. Entah perpisahan seperti apa yang dia inginkan, aku akan mengabulkannya mengingat dia pernah mengucapkan janji suci untukku."


***


Hari-hari yang dilalui Sara sudah terasa menyenangkan. Meski awalnya sangat berat dilakukan, tapi berkat Deborah dan Lilia dia bisa melaluinya.


Kebiasaan bangun pagi langsung senam dan gym, diubah menjadi pagi yang menyibukkan di dapur dan kamar. Menyiapkan makanan untuk sarapan dan membersihkan kamarnya sendiri.


Sara tersenyum setelah berhasil menyajikan makanan di atas meja sesuai aturan sajian makanan yang diajarkan Lilia.


"Mommy, ayo sarapan!" teriak Sara pada Deborah yang sedang merenggangkan ototnya di halaman depan.


"Ok, aku datang!"


Sara kembali tersenyum mengingat belakangan ini Deborah tidak menagih janji tentang pijatan, tapi malah menyuruhnya istirahat. "Kau lelah, Sara. Pergi tidur," begitu katanya.


"Kau sudah pandai memasak, Sara. Lihatlah tampilannya, sungguh kreatif dan menyegarkan pandangan," puji Deborah setelah mencuci tangan dan duduk di kursi.


"Terima kasih, Mommy. Ini berkat bantuanmu dan Lilia," ucap Sara sungkan.


"Tapi kau melakukannya dengan baik. Max pasti senang melihatnya."


"Aku juga berpikir begitu," kata Sara. Dia tersenyum membayangkan betapa bahagianya Max setelah mencicipi masakannya.


"Bagaimana rasanya, Mom?"


"Luar biasa," ucap Deborah setelah mencicipi makanan yang menggiurkan di matanya. "Kau memang menantuku."


Sara tersipu, dia belum terbiasa dengan kalimat itu. "Ayolah, Mom, berhenti mengatakan itu."


"Kau memang menantuku, Sayang. Duduklah, ucapkan doa makan."


Sara melakukannya. Setelah memimpin doa, dia menyendokkan makanan ke dalam piring Deborah dan terakhir untuknya.


"Mom, bagaimana kabar Max? Belakangan ini dia tidak pernah menelponku."


Deborah menghentikan kunyahannya. "Dia juga tidak menelponmu? Aku pikir kalian berbicara setiap hari. Apa kau merindukannya?"


Sara mengangguk. "Sudah seminggu di sana, apa dia lupa kalau dia sudah punya istri?"


Deborah tertawa. "Kau konyol, Sara. Dia pria yang bertanggungjawab seperti Daddy-nya. Untuk wanita yang dicintai, mereka pasti menepati janji."


Aku bukan wanita yang dicintai, Mom. Kau memandangku terlalu tinggi.


Sara tersenyum untuk menutupi kepahitan dalam hatinya. "Kau pandai menghiburku, Mom."


Aku menunggumu pulang, Suamiku.


.


.


.


Bang Max udah balik sama mantannya😑, bagaimana denganmu? Apa kamu juga bakal kembali pada rasa sakit yang sama?


Maaf telat, kemarin gak sempat ngehalu😂

__ADS_1


***


__ADS_2