
Jangan lupa like, komen dan rate 🌟 5😊😘
.
.
.
***
"Kenapa Jeanne jarang kemari?" tanya Max seraya menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Jangan banyak bicara, telan makananmu!"
"Cerewet sekali."
"Apa?!" geram Deborah sambil menunjuk Max dengan garpu miliknya. "Dasar anak nakal!"
"Aku hanya merindukan adikku. Apa pekerjaannya tidak bisa ditinggalkan?"
"Jangan bicara sambil makan, Maxwell!"
"Ck, dasar rubah tua," desis Max bergumam.
Sara yang mendengar itu langsung mendelik ke arahnya. Ia menginjak kaki Max dengan keras dari bawah sana. "Rasakan itu," bisiknya.
"Kau membelanya, Sayang?"
"Tentu saja. Kami sesama wanita."
Max mendengus, dia berpikir untuk meminta pertolongan Alex untuk membelanya melawan kedua perempuannya.
"Alex, kau berpihak pada siapa?"
Pria itu hanya mengangkat bahu seolah berkata, "aku tidak tahu dan tidak akan peduli!"
"Kau tidak berperasaan. Tuanmu sedang disiksa oleh kedua wanita ini, tapi kau sama sekali tidak mau membantu."
Alex yang hampir menyuapkan makanannya terhenti. Ia menipiskan bibirnya mengejek Max.
"Aku berada di pihak yang benar. Dan kau, Señor, tidak baik terlalu banyak bicara saat makan."
"Dia bukan Tuanmu di sini, Alex! Panggil dia Max," bantah Deborah tidak terima yang hanya dibalas anggukan oleh Alex.
Max memutar bola matanya, bagaimanapun tingginya nada suara sang ibu, ia tetap tidak bisa membantah. Wanita itu yang paling berharga di hidupnya sebelum seseorang yang pernah menyelamatkan nyawanya.
"Lanjutkan makan kalian, suamiku menelpon," girang Deborah sesaat setelah mengangkat panggilan dari Iglesias.
"Alex," ucap Max sinis. "Jangan mengganggu waktu berkencanku dengan istriku. Pergilah cari wanita agar kau bisa makan bersama!"
Usiran halus itu tidak dipedulikan oleh Alex, ia terus menyuapkan makanannya sampai Max menggeram di tempatnya. "Alex!"
"Sí, Señor?"
"Cepat habiskan makananmu!"
"Masih banyak di piringku. Bagaimana kalau kau juga membantuku menghabiskannya?" goda Alex.
"Menjijikkan. Cepat!"
"Jangan pura-pura jijik, Señor." Pria itu mengedipkan matanya. "Kau pernah men--"
"Sialan! Aku akan membunuhmu!" Max langsung menutup mulut pria itu, takut aibnya diumbar oleh Alex di depan Sara.
"Max?" panggil Sara saat melihat mata Max melotot ke arah Alex. "Apa kau ingin mengatakan sesuatu, Alex?"
Alex mengangguk tapi Max menjawab, "tidak ada!"
Keheranan, Sara menginjak lagi kaki Max dan akhirnya bekapan di mulut Alex terlepas.
"Sayang, kakiku sakit," rengek Max.
"Tidak peduli." Sara acuh dan bangkit dari tempatnya, membereskan sisa makanan di meja.
"Jangan pergi!"
"Huh? Kenapa? Aku hanya ke dapur!"
"Tetap di sini!"
Alex yang juga telah menghabiskan makanannya bangkit dan menghilang entah kemana. Ia tahu, berada di sana sama saja dengan menjadi benalu, mengganggu.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Aku bilang tetap di sini."
Tahu bahwa nada bicara suaminya sedikit berubah, Sara menurut dan membiarkan para maid melakukan pekerjaannya.
"Suapi aku!" perintahnya.
Tak ingin suasana hati Max berubah, ia menurutinya. Tanpa banyak berdebat, suapan itu ia berikan berulang-ulang tanpa peduli apapun.
Dalam diam, Max terus menatap manik cokelat di sampingnya. Indah dan menenangkan. Hidungnya mancung dan mungil, juga memiliki bibir yang tipis dan menggoda.
Suasana saat ia mencium bibir itu kembali terputar dalam memorinya. Rasa manis dan hangat bercampur jadi satu. Ia ingin mencicipinya lagi jika tidak ada orang lain di sana.
"Max? Buka mulutmu!"
Ia menurut, namun seringai kembali terbit di bibirnya.
"Kau memanggilku apa, Sayang?"
Perempuan itu mencebikkan bibirnya. Ia tahu di sana bukanlah tempat yang bagus untuk melakukannya. Banyak maid yang hilir-mudik menjalankan tugas mereka.
"Habiskan dulu makananmu."
"Apa saja yang akan kau berikan jika aku menghabiskan makanan ini?"
"Apapun yang kau minta," jawab Sara asal agar Max menghabiskan makanan di piringnya.
Jujur saja, tangannya pegal karena harus mengangkat sendok berlama-lama sedangkan Max tidak fokus pada makanannya.
"Istri yang baik!"
Apa ini? Dia makan cepat sekali, bahkan sebelum aku menyendokkannya dari piring. Apa yang sedang dipikirkan psikopat ini?
Pikiran Sara ambyar ketika Max menarik tangannya dan berlalu dari sana. Terburu-buru hingga ia menabrak punggung Max saat pria itu berhenti mendadak.
"Kenapa berhenti? Ada apa?"
"Tidak ada. Kau berjalan sangat lambat."
"Apa- akh, tidak! Turunkan aku!"
Terlambat, Max sudah menggendongnya naik ke atas. Di pundak pria itu, Sara meronta-ronta tapi tangan nakal Max memukul bokongnya.
"Mereka akan berpikir bahwa aku menculik istriku sendiri."
"Kau memang memaksaku. Turunkan aku, Max!"
"Aw, kau menyakitiku, Max!"
"Ternyata kau sangat menginginkan hukumanmu, Sayang," bisik Max dengan nada parau di telinganya. "Kau selalu menyebut namaku."
Sara memalingkan wajah, dia bingung apa yang harus dilakukan karena Max menindihnya. Senyuman iblis itu menggetarkan seluruh tubuhnya. Apa yang akan terjadi setelah ini?
Tangan pria itu memegang pipinya dan memaksa mata keduanya bertemu. Ada yang tidak bisa diungkapkan oleh mulut karena tubuh akan bereaksi sempurna sesuai naluri.
"Kenapa wajahmu memerah?" tanya Max terkekeh.
"Ka-kau terlalu dekat ...."
"Hei, bahkan kita sudah pernah berciuman, Sara! Tidurpun kau selalu memelukku," elak Max menutupi fakta.
"Kau yang memelukku!"
"Ck, katakan saja kalau kau ingin dipeluk oleh pria tampan ini. Jangan memutarbalikkan fakta!"
Max mengulum tawanya, dia tahu Sara sekarang mengumpatnya dalam hati. Karena yang memutarbalikkan fakta adalah dirinya sendiri.
"Kau yang melakukannya, memeluk sampai aku hampir kehabisan napas. Dasar licik!"
Mengabaikan fakta yang terucapkan, Max mengalihkan percakapan. "Hukumanmu, Sayang. Kau mengatakan aku bisa melakukan apapun tadi dan sekarang aku menagih janji itu."
"Benar-benar licik. Kau rubah jantan yang kehilangan ekor," umpat Sara.
Masih ingin kucium padahal punya kekasih yang dicintai. Kira-kira dimana wanita itu? Selama ini aku belum pernah bertemu dengannya. Dia harusnya datang dan mengamuk karena aku menikah dengan prianya.
***
Menjadi istri sang mafia ternyata tidak seperti yang dibayangkan Sara sebelumnya. Andai tahu bahwa calon suaminya adalah orang yang memiliki sisi lembut, ia tidak akan menggoreskan lehernya dengan beling sialan itu.
Sekarang ia menyesali itu. Bekas luka itu masih tertinggal meski hanya sedikit. Salep penghilang bekas luka yang dibelikan Alex memang manjur.
"Semoga Max tidak berubah menjadi orang lain nanti," gumamnya seraya mengoleskan salep ke pundaknya yang telah sembuh akibat luka tembakan itu.
Tanpa diketahuinya, pria yang digumamkannya berdiri tegap di belakangnya. Buliran air dari rambutnya membasahi kepala Sara tapi masih belum dirasakan olehnya.
__ADS_1
Melihat istrinya kesusahan mengusap pundaknya, Max berinisiatif membantunya. Tapi, Sara yang terkejut oleh keberadaannya menjatuhkan salep itu.
"Kau mengejutkanku, Max."
"Kau yang terlalu banyak melamun, Sayang. Apa yang kau pikirkan?"
Max memungut wadah itu dan menggosoknya pelan di pundak Sara. Karena bajunya terbuka, bagian tubuh perempuan itu terekspos. Max menelan ludah kasar.
Beberapa tanda merah yang ditinggalkannya di tubuh Sara saat perempuan itu tertidur nampak jelas di matanya. Tak ingin mengganggu istrinya, Max memilih mengalihkan fokusnya.
"Apa masih sakit?"
Sara menggeleng. "Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau menggosok leherku?"
"Eh? Maaf," ringisnya. "Bagaimana bekas di lehermu?"
"Kau bisa melihatnya sendiri."
Mendapat persetujuan seperti itu, Max melihatnya. Karena tidak bisa menahan diri karena kulit mulus itu, ia mengecup leher jenjang milik istrinya.
"Max?! Jangan membuat jaring di sana!"
"Aku suamimu."
"Tidak, jangan -awww .... Kau menggigitku? Kau bukan vampire, Max!"
Max terkekeh dan mengusap hasil karyanya kali ini.
"Sama seperti ini," ucapnya seraya menyentuh bagian-bagian tersembunyi dari penglihatan sang istri.
"Apa?! Kau melakukannya di sana?"
"Jangan berteriak, Sayang. Simpan salepmu, kau harus menyiapkan baju untukku."
"Kenapa kau memberi warna jelek itu di kulitku?"
"Hadiah karena menjadi istri yang penurut. Itu warna alami, Sayang. Tidak bisa dibeli oleh uang dan kekayaan seberapapun. Kau beruntung karena aku memberikannya secara gratis," tutur Max menyombongkan diri.
"Kau harus membersihkannya!"
"Tentu saja, dengan ini pasti akan segera hilang."
Max kembali memberikan tanda yang sama di seluruh bagian leher Sara. Membuat perempuan itu menjerit dan mendorongnya.
"Kau menghisapnya seperti menghisap sedotan limun, itu menggelikan!"
"Memang seperti itu, Sayang. Kau harus membayar hukumanmu yang tadi dengan ciuman di sini juga."
Max menunjuk bagian yang diinginkannya. "Harus ada tanda, kalau tidak maka akan berlanjut sampai kau benar-benar melakukannya."
Ia tergelak ketika Sara menyentuh lehernya. "Geli, Sayang."
"Itu yang aku rasakan sebelumnya, dasar idiot!"
"Astaga, istriku pandai, tapi masih belum yakin apa kau benar-benar tulus melakukannya atau tidak."
Sara berdecih, dia tahu bahwa Max hanya menggodanya dan entah kenapa ia juga tidak bisa membantah.
"Cium aku lagi!"
"Huh?"
"Kau mendengarnya, Sara."
Belum sempat Sara mendekatkan bibirnya, suara seseorang dari pintu mengganggu.
"Max?"
Mata Sara melotot, dia pernah melihat gambar orang itu di dalam laci Max sebelumnya.
Dia? Dia kembali? Alana?
.
Cocoklah ya jadi Alexander😃🤔
.
.
***
__ADS_1
Love,
Xie Lu♡