
Vote yaš
.
.
.
***
Tidak ingin menangis lagi, perempuan itu berusaha melengkungkan bibir ala kadarnya. Di dalam jeruji besi yang memenjarakannya dengan pakaian kekuarangan bahan, Sara menipiskan bibirnya mengejek.
Mencemooh hatinya yang telah memercayai tulisan Max. Mengejek nasibnya yang sungguh sial sejak menikah dengan Max dan yang lebih malang lagi, malam ini dia akan menjadi barang yang diperjualbelikan lagi.
Barang yang bisa didapatkan dengan uang atau barang yang bisa dibarter. Tapi, barter mungkin hanya dalam benak Sara saja. Karena Stephen sudah memiliki segalanya, termasuk kekuasaan menguasai Napoli dan sekitarnya.
Sara tersenyum miris, benarkah dirinya akan berakhir di tangan seseorang yang akan memperbudak atau membunuhnya tanpa siapapun yang menolong?
Sara telah memercayai Max dalam seharian, berharap pria itu datang seperti superhero yang terbang di langit dan membumihanguskan seluruh tempat itu dan menolong dirinya.
Nayatanya, khayalannya terlalu tinggi. Semakin menunggu, hati Sara semakin hancur karena ketidaktepatan janji yang dibuat Max. Pria itu tak kunjung datang bahkan sampai detik yang menegangkan ini.
"Dan ini barang terakhir milik kita yang sangat istimewa. Seorang perempuan berumur 26 tahun, masih suci dan tentunya masih virgin. Ratu dari Madrid tanpa identitas yang detail, cantik dan memiliki postur sempurna seorang wanita. Harga awal dimulai dari 1 juta dollar!"
Suara itu membuat Sara bergidik takut. Dalam kepalanya hanya ada peristiwa prostitusi setelah kejadian ini. Mungkin yang lebih parah dari itu, seorang pembunuh akan membawa dan menghabisi nyawanya.
Dan teriakan-teriakan tawaran atas harganya benar-benar menjatuhkan setitik butiran kristal dari mata perempuan malang itu.
"1,2 juta!"
"1,5 juta!"
"3 juta!"
Harga setinggi itu benar-benar membuat Sara ingin tertawa sekeras-kerasnya. Begitukah para orang kaya menghabiskan uangnya? Hanya dengan satu barang koleksi, mereka mampu menguras isi dompet mereka.
Tawa sinis itu membuat seseorang yang datang mengejutkannya. "Kau benar-benar memberi Tuan Elijah banyak keuntungan, Nyonya Del MontaƱa. Semoga kau bisa membantu kami dengan ini," ucap seorang suruhan Stephen yang waktu itu menyiksanya di kapal.
Marcus, pria impoten yang membuat Sara tergelak di suasana mencekam itu. "Rupanya kau, Marcus impoten. Selamat, kau menang dalam taruhanmu. Tapi ini belum menjadi akhir, aku pasti akan datang dan menghunus pedang di leher pendek dan selangkanganmu yang tidak berguna itu."
"Jalaang sialan!" geram Marcus menahan amarahnya. "Tuan Elijah menyuruhmu menjadi wanita yang penurut. Minumlah ini!"
Tanpa menunggu Sara menjawab, Marcus lebih dulu bergerak dan membuka paksa mulut Sara dengan menengadahkan kepala dan memukul lehernya.
Dia tersedak, menumpahkan sebagian dari cairan yang ditumpahkan paksa oleh Marcus.
__ADS_1
"Apa ini, sialan? Kau memberiku racun?"
"Hahaha, kau berguna dan Tuan Elijah tidak mungkin membunuhmu, jalaang! Hanya saja, Tuan ingin kau menjalankan misi ini sampai selesai. Dan kau akan dipuaskan malam ini," ucap Marcus dan berlalu dari sana.
"Brengseekkk! Aku benar-benar akan membunuhmu!"
Tanpa mendengar teriakan dan umpatannya, pria itu benar-benar pergi meninggalkan banyak ketakutan dalam dirinya. Sara mungkin takut pada serigala, tapi ini lebih menakutkan lagi daripada hewan buas itu.
Berada di ujung tanduk, antara hidup dan mati setelah berada di tangan lelaki yang bermuka tebal dan cabul, Sara takut. Dia menggenggam erat tangannya, menautkan jemarinya dengan sangat keras untuk mengusir hawa menakutkan meski itu sangat tidak mungkin.
Sara kedinginan di dalam jeruji besi itu. Pakaian tipis dan sangat aneh itu membuatnya menderita. Memeluk tubuhnya dengan erat, Sara masih saja kedinginan.
Malam hari dengan angin laut yang bertiup menjadi suasana yang dibenci Sara saat ini, bukan lagi kesukaan seperti dulu. Ditambah dengan durasi waktu tawar-menawar yang sedang terjadi menjadi sangat lama.
"10 juta dollar!"
"Penawaran tertinggi 10 juta, ada yang lebih tinggi lagi?"
Hening mengambil alih. Sara mendengarkan baik-baik dari balik kegelapan hingga tawaran sejumlah lima puluh juta dolar menutupi acara lelang itu.
"50 juta dollar!"
"Selamat untuk Tuan Russel yang telah memenangkan pelelangan barang yang sangat istimewa malam ini. Silahkan menandatangani surat serah terima."
***
"Jalan! Apa kakimu digigit musang, jalaang?!"
Teriakan Max berdengung sakit di telinga wanita yang telah berdandan rapi itu. Keduanya baru turun dari mobil dan untuk mengurangi kecurigaan, Max dan Alana datang sebagai tamu berpasangan dalam acara lelang yang dilakukan di kasino tepi pantai Amalfi.
Dengan menahan rasa takut diancam oleh Max, Alana menggandeng tangan pemilik manik biru itu. Berjalan beriringan dan bisa melewati petugas di depan pintu kasino itu dengan undangan yang dimanipulasi oleh Max.
"Kau akan meledak begitu kau mengkhianatiku, jalaang," desis Max di telinga Alana.
Wanita itu mengangguk. Dengan ditemani Max menuju sebuah ruangan yang ditujukan Alana sebagai tempat rahasia bagi Stephen, Max mengaktifkan alat pendengaran di telinganya.
"Aku masuk," pamit Alana.
"Kau tahu akibat dari mengkhianatiku, jalaang."
Tanpa menjawab lagi, Alana memasuki ruangan gelap itu. Dan Max memantau dari luar sebelum melakukan sesuatu.
Terlibat percakapan yang sangat serius di antara dua belah pihak dan ketika Max mulai melangkah, terdengar suara Alana yang meringis kesakitan.
"Kau pandai berakting, jalaang," gumam Max dan pergi.
__ADS_1
Namun, lagi-lagi suara itu menghentikan langkahnya. Karena itu, dia mengaktifkan kamera di kacamatanya. Dan sesuatu yang tidak diduga, dipertontonkan Alana dan Stephen di ruangan itu.
"Ck, ternyata kau suka bermain kasar, jalaang," desis Max geram dan seketika mematikan kamera.
Tak memedulikan apa-apa di depannya, Max menabrak siapapun yang menghalangi jalannya. Keberadaan Sara di kasino itu tidak diketahui. Dan dia terlambat beberapa menit membuatnya menyesal.
Karena itu, Max mengaktifkan lagi pelacak lokasi perempuan itu.
"Alex, dia pergi ke arah Barat Daya."
"Aku mengejarnya, SeƱor."
"Sial," umpat Max. "Jangan sampai dia dijamah lelaki itu! Tetap lacak dia, jangan biarkan lelaki brengseek itu membawanya pergi dariku!"
"Baik, SeƱor."
Max hendak keluar dari kasino itu dengan tangan kosong, namun belum sampai di pintu, ribuan penjaga menghadangnya.
Pemilik manik biru itu menyeringai. Dia tahu ini pasti akan terjadi karena awalnya sangat mulus dan tentu saja pasti ada serangan pada akhir.
"Main keroyokan? Ayolah, Bung. Kau sangat besar dan kalian banyak," ucap Max sambil tertawa sinis. "Karena aku punya misi penting, aku berkecil hati karena tidak bisa melayani kalian. Jumpa lagi lain kali!"
"Berhenti!" Suara penjaga itu menghentikan langkahnya.
"Oke, baiklah. Aku menerima tantangan kalian!"
Tak ingin menghabiskan waktu yang banyak, Max merogoh kantong jaket hitamnya dengan penuh kehati-hatian dan melakukan sesuatu di sana. Setelah waktunya tepat, dia membuang granat yang telah dibakar itu di depan para penjaga dan berlalu dari sana.
"Matilah dengan terhormat!"
Tepat di tepi pantai tempatnya menyiapkan sebuah perahu motor, seorang anak kecil memegang tangannya.
"SeƱor, ini aku," bisik anak kecil itu.
Tak mengatakan sesuatu yang banyak, Kladius memberikan Max secarik kertas yang usang dan berlari meninggalkan pemilik manik biru itu.
"Kerja bagus, Kladius," gumam Max sambil tersenyum setelah membaca isi kertas itu. "Tunggu aku, Sayang, kita akan bersama-sama setelah semua ini."
.
.
.
***
__ADS_1