
Vote ya😘
.
.
.
***
Memapah Max turun dari perahu itu, Sara tertatih-tatih. Pria itu belum membuka matanya sejak tadi dan itu membuat Sara sedikit khawatir.
Para nelayan itu menepikan perahunya di pantai dekat sebuah hotel. Sara tersenyum karena mereka akan segera tiba.
"Nyonya, biarkan aku membantumu. Kau terlihat kesulitan."
Seseorang yang mengikuti di belakang mengejutkan Sara.
"Kau mengikutiku?"
"Aku lihat kau kesulitan membawa tubuh suamimu, Nyonya. Aku bisa membantumu."
"Tidak, terima kasih. Aku bisa melakukannya sendiri, kau pergilah. Maaf, sudah merepotkan," ucap Sara sungkan.
Lelaki itu menghentikan langkahnya. Sara tersenyum dan melambaikan tangan.
"Pergilah, aku hampir sampai."
"Semoga selamat sampai tujuan, Nyonya."
Sara terkekeh, dia menyuruh orang itu pergi dengan isyarat tangan. "Terima kasih."
Lelaki itu menatap kepergian keduanya dengan senyum. Dia menyambungkan alat komunikasinya dan menelpon seseorang.
"Target sudah mendekati hotel, Tuan Kecil. Kau bisa menemui mereka."
Tidak mengalihkan pandangan dari Sara dan Max, lelaki itu terus memantau dari kejauhan, memastikan keamanan keduanya.
***
Sampai di sebuah hotel dekat pantai, Sara terus memapah Max dan berhadapan dengan resepsionis. Meski resepsionis pria itu menatapnya dengan pandangan aneh, Sara tersenyum dan merapatkan selimut yang melilit di tubuhnya.
"Tolong, satu kamar dengan single bed."
Resepsionis itu memerhatikan kondisi keduanya dan terkekeh pelan. "Anda bisa ke kamar ini, Nyonya," ucapnya sambil memberikan satu kartu kamar.
"Terima kasih."
Sara berbalik hingga sebuah suara menghentikan.
"Tunggu! Berikan kamar terbaik di hotel ini untuk pamanku."
Sara menengok. Tampak seorang anak laki-laki kecil dengan pakaian serba hitam dan topi hitam tak lupa menutupi kepalanya.
Sesaat resepsionis itu terkejut, namun keberadaan satu kartu ajaib di atas meja membuatnya mengerti. Dengan sigap, dia memberikan kartu untuk presidential suite room.
"Dan juga, tolong siapkan pakaian untuk mereka," ucap anak kecil yang tidak kelihatan mukanya itu.
Sara menatap lamat. Dia penasaran dengan wajah anak kecil itu. Namun, yang terlihat hanya bibirnya yang berwarna merah muda.
__ADS_1
Kemudian, anak kecil itu mendekat dan memberikan satu amplop untuknya.
"Tolong berikan ini pada Senior saat dia bangun. Dia pasti akan mengenalku dengan beberapa barang di sana. Selamat malam, Aunty. Beristirahatlah dengan tenang."
Anak kecil itu langsung pergi. Sara sempat melihat seringai kecil di bibirnya sebelum berbalik.
"Siapa namamu, Nak?" Sara sedikit berteriak setelah anak kecil itu menjauh.
"Penakluk Serigala!" jawab anak kecil itu sambil melambaikan tangan tanpa menoleh. Dia berlalu begitu saja membuat Sara semakin penasaran.
Dia melihat amplop di tangannya dan penasaran dengan isinya. Sara kembali memapah Max ke kamar yang dipesan anak kecil itu, dia ingin membuka amplop tadi saat sampai di sana.
Memasuki kamar yang sangat mewah itu, Sara mengatupkan mulutnya membayangkan betapa kayanya seorang anak kecil yang menyebut dirinya Penakluk Serigala tadi.
Memesan hotel dan memiliki kartu khusus untuk kamar seperti ini, dia bertanya-tanya berapa umur anak yang terlihat seperti masih lima tahun itu.
"Aku penasaran siapa dia dan di mana Max bertemu dengannya," gumam Sara sambil memasuki kamar mandi.
***
Sara menatap intens wajah yang ditumbuhi jambang itu. Tidak, jambang itu sudah sangat panjang dan mungkin pria itu tidak punya niat untuk mencukurnya.
Sambil menelusuri wajah yang tampak mengerut dalam tidurnya itu, Sara bisa melihat sang rembulan sudah terbit dan dia menebak kalau sekarang sudah tengah malam.
Dia tidak bisa tidur. Ingin terlelap, tapi pikirannya mengkhawatirkan sang suami yang masih belum terbangun dari pingsannya.
Ponsel dan segalanya, Sara tidak punya. Bahkan kalung pemberian ibunya diambil oleh Stephen. Dan ponsel milik Max juga sudah terlanjur basah. Dia bingung melakukan apa untuk membangunkan Max.
Belum sempat Sara menyentuh kening Max yang berkerut itu, ketukan dari pintu membuatnya terkesiap.
Dia bangun dan mengintip dari lubang kecil di pintu. Dan dia terkejut saat anak kecil itu datang lagi dengan seorang yang tampak seperti dokter.
"Kenapa kau tidak masuk?"
"Aku tidak bisa berada di tempat yang tertutup, Aunty."
"Tapi kau menutup seluruh tubuhmu."
Anak kecil itu terkekeh. "Ya, aku melakukannya. Ini penyamaran terbaikku di malam hari. Oh ya, Aunty, ini ponsel sekali pakai, berikan pada Senior. Dia mungkin membutuhkannya nanti."
Sara menerimanya. "Terima kasih."
Dari pengamatannya, Sara bisa melihat gerak gerik yang gelisah dari anak kecil itu. "Apa yang kau takutkan? Kau terlihat waspada dengan sesuatu."
"Kakek akan mengurungku kalau mendapati aku keluyuran malam-malam begini, Aunty. Aku hanya bisa membantu Senior sampai di sini."
Benar juga, anak kecil sepertinya memang tidak layak berkeliaran malam-malam. Apalagi tanpa orang tua yang menemani.
"Bagaimana kau bisa keluar tanpa diketahui?"
"Memanipulasi keadaan. Ayolah, Aunty, jangan ajak aku terus bicara, suruh dokter lamban itu mempercepat pemeriksaannya. Aku harus cepat, mereka sudah mengepung hotel ini," ucap anak kecil itu cemas.
Dia menghentak-hentakkan kakinya dan mendorong Sara masuk agar mendesak sang dokter.
"Bagaimana keadaan suamiku, Dokter?" tanya Sara setelah berpapasan dengan sang dokter di tengah ruangan itu.
"Tidak ada yang serius. Tuan akan siuman secepatnya, dia hanya syok dan terlalu lelah. Aku sudah memberikan suntikan untuknya dan beberapa vitamin ini harus diminum secara teratur---"
"Hei! Bisakah kau lebih cepat, Dokter bodoh? Kakek Tua itu sudah naik ke sini!"
__ADS_1
Teriakan anak kecil itu menghentikan sang dokter dan segera berlalu. Sara menghembuskan napas lega karena keadaan Max tidak parah seperti yang dibayangkannya.
"Terima kasih, Tuhan, telah memberikan penolong disaat genting seperti ini," gumam Sara sambil menarik selimut dan menutupi tubuh topless Max.
Dia membenamkan wajahnya di dada hangat sang suami dan memeluk pria itu dengan erat.
"Maaf, aku hampir meragukan kepercayaanmu, tapi kau juga telah berhasil menanamkan kembali kepercayaan itu dalam waktu singkat. Aku percaya padamu. Apapun yang terjadi ke depannya, aku hanya akan percaya padamu."
***
Mata biru itu terbuka. Dia menyipit dan menyesuaikan cahaya yang masuk.
Tubuhnya terasa remuk ditambah dengan sebuah beban yang menindih dadanya. Tangannya secara otomatis dan menyentuh kepala perempuan yang bersandar itu.
Senyuman di bibirnya terbit ketika menyadari itu adalah ulah sang istri.
"Sayang ...," panggilnya lembut. Dia mengelus rambut yang menutupi sebagian wajah cantik itu.
"Bangun, Sayang ...," panggilnya lagi seraya mencubit pelan pipi Sara. Dan itu berhasil membangunkan Sara.
"Hmm, kau sudah bangun?"
Sara yang masih setengah sadar itu kembali telungkup dan menyusupkan lagi kepalanya di dada Max.
"Hei, jangan tidur lagi. Apa yang terjadi semalam? Aku pikir aku sudah mati, tapi saat bangun aku sudah ada di sini."
"Kau hampir mati tenggelam. Kenapa kau sangat bodoh, Max?"
Sara mengangkat kepalanya dan memukul pelan lengan Max. "Kau membuatku takut. Kau menenggelamkan dirimu sendiri hanya demi menyelamatkanku? Sungguh ironis," sungut Sara.
Dia bangun dan merapikan rambutnya yang berantakan. Diikuti oleh Max yang langsung menariknya ke dalam pangkuan.
"Bangun tidur jangan langsung marah, itu akan membuatmu cepat tua, Sayang. Ceritakan apa yang terjadi. Aku hanya ingat terakhir kali melihat cahaya mendekat padaku dan aku pikir itu adalah panggilan dari Yang Kuasa."
"Bodoh!" Sara memukul pelan dada Max. "Kau benar-benar bodoh! Aku bisa menyelamatkan diriku sendiri tanpa bantuanmu. Harusnya kau pergi tanpa peduli padaku dan menyelamatkan nyawamu sendiri. Kenapa mencelakai diri sendiri?"
Max mengeratkan pelukannya di perut sang istri dan menaruh kepalanya di ceruk leher Sara. "Tidak ada yang akan memisahkan kita selain maut. Kau istriku dan aku peduli padamu, kau tenggelam aku juga akan ikut tenggelam dan mati bersamamu. Aku hanya ingin menggenggam tanganmu dan pergi bersamamu ke manapun."
Sara mengerucut sebal. "Kau bisa hidup dengan layak dan melihat matahari, Max. Jika takdir memisahkan kita, kau harus merelakannya."
"Tidak!" bantah Max dengan keras. "Aku akan mengubah takdir. Kau tidak akan ke manapun tanpaku karena aku men--- karena kau istriku."
"Kau pandai membual. Katakan sesuatu yang benar, kau membuatku khwatir sepanjang malam."
Max berdehem, dia kembali mengeratkan pelukannya dan mencium leher istrinya dengan lembut.
"Maaf, aku membuatmu takut. Kau mengalami hal menakutkan lagi saat bersamaku, tapi aku janji, tidak ada lagi lain kali. Aku akan terus menggenggam tanganmu karena kita satu tubuh. Sara, dengarlah, aku mencintaimu. Sangat, sangat mencintaimu hingga aku hampir gila setelah kau pergi. Aku mohon, berhentilah lari dariku dan teruslah berjalan di sampingku. Aku tidak bisa kehilanganmu."
.
.
.
***
Love,
Xie Lu
__ADS_1