
Happy reading!
.
.
.
***
Saking bahagia karena Peter tidak meninggalkannya, Sara terus memeluk dan tidak peduli pada pandangan aneh para pelayan yang menyiapkan makanan untuk mereka di kamar VVIP itu.
Senyum di bibirnya terus merekah, menciptakan rasa hangat dan damai di hati. Rasa syukur tidak terhingga Sara gumamkan dalam doanya, bergumam tidak henti pada Tuhan yang dia percayai.
Papanya, malaikatnya telah kembali menjadi Peter yang pemarah seperti semula. Bibir lelaki itu terus menggerutu kesal tatkala Sara makin mengeratkan pelukannya. Marah tentu saja, sejak siang Sara tidak melepaskan pelukan di tubuh Peter hingga sore yang hampir ditelan gelap ini.
Tapi mata Sara seolah tertutup. Dia tidak peduli bahkan hanya cengiran yang menjadi jawaban atas kekesalan Peter.
"Jangan memberontak, Papa. Aku hanya menagih pelukan yang tidak pernah kau berikan padaku lagi sejak aku berumur lima belas tahun."
Sara bisa mendegar dengusan kasar dari Peter. Dia terkekeh pelan mengetahui itu, Sara bahagia. Setidaknya Peter tidak menyembunyikan kekesalan dan kemarahannya dari Sara.
"Napasku sesak, Bodoh. Apa otakmu menjadi tumpul karena sering terbentur di batu?"
Sara menggeleng dan kembali terkekeh. "Kau mengetahui segalanya karena menguntitku, Papa. Pantas saja kami hampir terjebak ke hutan terlarang jika tidak ada anak buahmu yang menjaga kami."
Berulang kali Peter menghembuskan napas kasar. Tersenyum bodoh pada setiap perkataan Sara. "Rupanya kau sudah membaca seluruh isi buku itu, Sara. Jangan besar kepala, aku tidak menyayangimu. Lagipula sekarang, Max sialan itu sudah merantaimu."
Manik cokelat itu berbinar dengan kekehan halus terdengar dari mulutnya. Sara menatap mata merah milik Peter yang langsung berpaling ke samping.
"Mata lebih jujur daripada mulut, Papa. Jangan alihkan tatapan, biarkan aku melihat matamu. Kau menyayangiku."
Sara tertawa saat Peter lebih memilih menutup matanya daripada terus memandangnya dengan tajam. Dia tahu segalanya, kasih sayang Peter nyata. Hanya tertutupi amarah yang tidak bisa dikendalikan dan mata merah yang selalu menatapnya tajam. Bibir yang menggemakan kebencian karena Sara tidak menurut.
Dia memandang wajah yang mulai keriput, rahang yang dulu tegas kini mulai termakan usia. Kelopak mata Peter mulai cekung dengan kerutan di kening yang menjadi bukti nyata seseorang yang pernah muda akan berubah tua dalam lingkaran waktu tertentu.
Sara kembali terkikik geli ketika mata Peter menyipit untuk meliriknya. Dia mencodongkan badannya dan menoleh tepat di wajah Peter. "Aku akan mengambilkan makanan untukmu, Papa. Kau harus istirahat lebih cepat."
"Aku bisa sendiri. Jangan memandang rendah diriku, Bodoh."
Meski dalam suasana yang damai, mulut Peter tidak pernah berbicara lebih lembut dari biasanya. Sara tidak merespon, dia tahu Peter bukanlah orang yang pandai berbahasa sopan. Tanpa peduli seberapa banyak Peter berteriak, Sara menulikan telinganya. Mengambil makanan yang sudah disiapkan pelayan di atas meja dan duduk di samping ranjang Peter untuk menyuapi lelaki paruh baya itu.
"Aku bisa makan sendiri, Sara."
Sara menggeleng. "Aku yang menyuapimu, Papa."
__ADS_1
Sengaja tidak melihat tangan Peter yang menggapai sendok, Sara memilih untuk tidak melihat dan mengambil sendok dari mangkok. "Kau bisa keluar untuk jalan-jalan besok, Papa. Saat ini biar aku yang membantumu makan."
Sorot mata merah itu tambah tajam. Peter memutar bola mata malas. "Aku membencimu, Sara."
"Ya, dan aku menyayangimu, Papa."
"Dasar muka tembok."
Sara terkekeh. Dia menyuapi Peter dengan sesekali bibirnya mengulas senyum tipis. Rasa bahagia membuncah di dadanya.
Hingga makanan itu tandas, tidak ada lagi percakapan. Keheningan menyelimuti. Sara menatap Peter dalam diam. Hendak menanyakan sesuatu tapi pertanyaan itu tercekat di tenggorokannya.
Menghembuskan napas kasar, Sara merapikan piring kotor. Masih hening, dan dia terkejut saat tangan kekar memeluk pinggangnya. "Te echo de menos, Querida."
Bibir Sara tersenyum, tanpa menoleh dia tahu siapa pelakunya. "Kita baru saja berpisah beberapa saat yang lalu dan kau mengatakan rindu, sungguh konyol," cibir Sara dengan bibir mengerucut.
Max terkekeh pelan. "Aku selalu merindukanmu kapan pun dan di mana pun, Sayang."
Sambil membalikkan badannya, Sara menyuapkan Max sepotong churros yang diolesinya dengan cokelat. "Kau pasti merindukan makanan, Max," ucapnya sambil terkekeh.
Dan deheman dari arah ranjang membuat Max mengurungkan niat untuk mencium bibir istrinya. "Oh, aku pikir kau sudah tidur, Peter." Max menyengir tanpa dosa. Mendekat ke arah Peter dengan mulut yang kembali mengunyah makanan itu.
"Bagaimana keadaanmu saat ini, Peter?"
Lelaki itu menatap Max tajam. "Tambah buruk saat kau masuk."
Ekspresi itu yang terakhir kali ditunjukkan Peter saat terjatuh di kantor Max hari kemarin. Sara takut, takut hal itu terjadi lagi.
Air mata mulai menumpuk di pelupuk matanya. Rasa takut itu kembali lagi. Debaran jantung mendominasi dirinya dengan tubuh gemetaran, dia mendekat.
"Papa ...," ucapnya lirih.
Ditatapnya mata yang mulai sayu itu. Tidak ada yang bisa dilakukannya. Rasa cemas mengalahkan semua akal sehat.
Sementara itu, Max yang hendak memanggil dokter dihentikan oleh Peter. "Jangan ... ini hari terakhirku ...."
Sara menggeleng dan air matanya jatuh bersamaan dengan itu. "Panggilkan dokter, Max!"
"Max, dengarkan aku ...."
Langkah Max terhenti. Masih dengan membelakangi ranjang Peter, dia menyahut. "Ya?"
"Jaga anakku dengan baik. Cintai dia dengan nyawamu, - seperti yang kau janjikan di hadapan Tuhan - jangan biarkan air matanya menetes, dia permata hatiku. Aku ... aku sudah menyakitinya selama ini. Jadi ...."
Suara Peter terjeda dan dia kembali memegang dadanya dengan kuat. "Jangan buat dia menangis. Berjanjilah ...."
__ADS_1
Tanpa menatap mata Peter, Max berbalik dan mengangguk. Mengiyakan syarat Peter.
Sara sesegukan, air mata kembali membanjiri pipinya. Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat orang yang disayangi menjadi putus asa. Sara menggenggam tangan Peter dan bibirnya terus bergumam. "Tidak ... jangan ..., jangan tinggalkan aku ...."
Dengan susah payah, Peter menoleh pada Sara. "Maafkan aku, Sara ...."
Menggeleng kuat, Sara berteriak histeris. "Tidakkkkk! Aku tidak akan memaafkanmu, Peter! Kau brengseekkkk! Kenapa kau masih ingin pergi?!"
Lengkingan suara Sara tidak berhasil menghentikan Peter. Dalam sekejab, mata Peter tertutup.
"Tidakkkkk!!! Kau brengsekkkk!"
Sara mengepalkan tangannya. Rasa sakit dan marah bercampur. Bagaimana bisa dia harus merasakan berada di puncak langit sebelum dijatuhkan ke dasar bumi? Takdir tidak adil, bahkan Tuhan tidak adil. Mengambil semua milik Sara tanpa tersisa.
Tangisannya memilukan bercampur dengan amarah yang juga dia ucapkan di setiap kalimat. Pelukan Max tidak diindahkannya.
"Kau brengsekk, Peter! Beraninya kau meninggalkanku!"
Max memeluk pinggangnya erat saat Sara hendak mencengkram tangan Peter. "Hentikan, Sara!"
Tetapi Sara menolak. Dia terus memberontak dalam pelukan Max. Menangis sebisanya karena merasa telah kehilangan orang yang paling disayanginya.
"Tidak ... dia tidak boleh meninggalkanku ...."
Rasa kehilangan mengacaukan emosinya. "Dia masih hidup, Max! Panggilkan dokter!"
Uhuk! Uhuk!
Sekejab, teriakan Sara terhenti. Dia menutup matanya dan menajamkan pendengaran.
"Tidak perlu memanggil dokter, Max. Ternyata mati tidak semudah itu, aku pikir dengan menutup mata akan segera mati. Tapi teriakan anak bodoh ini mengacaukan malamku. Aku ingin istirahat."
Antara sedih dan kecewa, bahagia dan terharu, Sara tidak bisa mendeskripsikannya lagi. Suasana seperti ini tidak bisa mengembalikan akal sehatnya.
"Peter sialaan! Kau mempermainkanku?!" Sara berteriak saat kesadarannya kembali pulih. Peter mempermainkannya lagi. Ini lebih parah.
Dan Max juga tertipu. Dia menatap Peter dengan datar. "Kau sungguh pintar bersandiwara, Peter. Kenapa kau tidak menjadi aktor saja selama ini?"
"Istrimu yang menyuruhku istirahat lebih awal!"
.
.
.
__ADS_1
***
Oh maaf ya, aku juga tertipu😎