
Happy reading!
.
.
.
***
Bukan pada pemberitahuan Peter yang membuat Sara sakit kepala, tapi kenyataan yang harus dihadapinya. Jika benar seperti itu, apa yang harus dilakukannya.
Bibirnya boleh menyangkal akan hal itu, tapi kalau kenyataan membenarkannya, apa yang harus dilakukannya? Seperti tamparan tak kasat mata, hatinya tertohok. Memikirkannya saja sudah membuat Sara menahan rasa tak terkira, bagaimana dia menghadapi kenyataan?
Kakinya melangkah tak menentu hingga dia berakhir di sebuah tempat yang menjadi kamarnya waktu itu. Tempat itu masih sama, pintu kayu berwarna kelabu, menutup rapat kamar itu.
Suara decitan menyambutnya ketika membuka pintu. Ruangan itu masih tertata rapi, rupanya pembantu di rumah itu masih menyempatkan diri untuk membersihkan.
Tidak ada yang berbeda, semuanya masih sama seperti semula. Sara berpikir, mungkin Peter tidak pernah berniat mengacaukan barangnya di sana.
Mengingat ada sebuah pemberian seseorang yang sangat berharga untuknya, Sara membuka laci yang sudah lama tidak disentuhnya.
"Untung masih ada," gumamnya setelah berhasil membuka laci itu.
Sebuah kalung peninggalan ibunya yang jarang dipakai, dengan liontin berbentuk bulan separuh. Benda berharga itu sering ditinggalkan, takut dirinya menjatuhkan tanpa sengaja di perjalanan petualangannya.
"Oh, sepertinya bisa dibuka." Sara berpikir ada sesuatu yang bermakna di dalamnya. Ketukan di pintu menghentikan gerakannya saat hendak membuka liontin itu.
"Siapa?"
"Saya Nadia, Non," jawab seseorang itu.
Tahu bahwa perempuan itu yang datang, Sara mempersilahkannya masuk. Keduanya duduk di tepi ranjang.
"Saya dengar Anda di rumah dari pembantu yang lain, Nona. Apa kabar? Jarang sekali kau mengunjungi kami," tanya perempuan yang sudah dianggapnya sebagai ibu itu. "Saya membawakan camilan untukmu."
"Terima kasih, Nadia. Maaf membuatmu merindukanku," ucap Sara terkekeh. "Aku baik-baik saja seperti yang kau lihat."
Perempuan itu menatapnya tanpa kedip, menelusuri setiap jengkal wajahnya.
"Kau membuatku takut, Nadia. Kau seperti seorang detektif penjahat, ada apa? Sesuatu di wajahku?" Sara merasa canggung, dia mengambil beberapa potong kue yang disiapkan Nadia untuk mengusir ketegangan mukanya.
"Kau punya masalah?"
Oh sial, aku lupa kalau dia seperti hantu pembaca pikiran.
Sara tersedak kue itu, dan Nadia secepat mungkin menyodorkan minuman untuknya.
__ADS_1
"Jangan bercanda lagi, Nadia. Kau berlagak seolah-olah kau tahu semua tentang orang lain," ujar Sara ketus.
Perempuan paruh baya itu berdehem. Sifat Sara yang pemaksa itu masih melekat, dan mungkin akan selamanya seperti itu.
"Berhenti membohongi dirimu sendiri, Sara. Kau tidak pandai menyembunyikan apapun dariku."
Tatapan Nadia melekat pada wajahnya dan itu membuat Sara risih. Dia membalikkan badannya dan berbaring di pangkuan Nadia.
Setegar-tegarnya karang, akan habis juga terkikis oleh ombak. Begitu pula Sara, dia tidak bisa menyembunyikan apapun meski dia berusaha setegar karang, nyatanya semua ketegaran itu habis tertelan oleh kelembutan Nadia yang seperti seorang ibu.
Tangan perempuan itu membelai rambutnya, menyentuh kulit kepalanya dengan hangat. Sara merasakan ulu hatinya menghangat, tempat yang seperti neraka baginya itu, hanya Nadia yang memperlakukannya layak manusia.
"Kau pernah bertengkar dengan suamimu, Nadia?"
Pertanyaan itu tentu tidak menimbulkan banyak tanya bagi Nadia, kehidupan berumahtangga tentunya ada perselisihan. Dan dia yakin, Sara pasti sedang mengalami masalah seperti itu sekarang.
"Hal seperti itu lumrah terjadi dalam sebuah rumah tangga, Sara. Menyatukan dua pribadi yang berbeda sifat tentu saja menimbulkan banyak perselisihan. Semuanya tergantung dari kesadaranmu, mengakhiri perselisihan atau menambahkannya. Apa kau bertengkar dengan suamimu?"
Sara memejamkan mata mendengar setiap perkataan Nadia. Perempuan yang rambutnya hampir beruban itu seperti air sejuk, yang menyegarkan disaat dahaga.
"Kami bertengkar setiap hari, bahkan setiap saat. Tapi setelah itu, dia selalu meminta maaf padaku. Sangat membosankan mendengar kata maaf itu, dan dia mengulangi perbuatannya lagi."
Nadia menghela napas dalam, dia meluruskan kakinya yang tadi ditekuk. "Meminta maaf itu bagus, suamimu punya kesadaran kalau dirinya salah. Perlu kau tahu, meminta maaf juga bukan berarti kau salah, Sara. Minta maaf karena kau membuat suamimu marah atau membantah ucapan suamimu, itu perlu dilakukan."
"Aku tidak pernah membuatnya marah."
"Hanya hal kecil. Kenyataannya itu bisa menjadi masalah besar bagi Max."
Nadia menghentikan tangannya yang mengelus rambut Sara. "Api kecil juga bisa menghanguskan hutan besar, Sara. Jangan menganggap remeh hal-hal kecil seperti itu. Adakalanya kau perlu memadamkan api kecil itu agar bara api tidak membakar hangus semua benda."
Sara menghembuskan napas gusar. "Kau selalu membuatku speechless, Nadia. Tapi, aku juga selalu tersulut emosi."
"Belajar meredam emosimu, tidak ada yang mustahil kalau kau berusaha."
"Ora et la bora?" ~~ Berdoa dan bekerja.
"Anak pintar," puji Nadia. "Kau juga harus menghormati suamimu, keharmonisan sebuah keluarga berawal dari hal kecil seperti itu. Jangan anggap semua kemarahan dan larangan suami sebagai hal buruk, itu juga demi kebaikanmu seorang istri. Kau tahu? Suami-istri itu adalah satu tubuh, kau menyakiti suamimu, juga menyakiti dirimu sendiri karena kalian adalah satu tubuh. Tanganmu sakit, seluruh tubuh merasakannya, bukan?"
Sara hanya diam mendengarkan nasehat Nadia, belum ada seorangpun yang memberinya wejangan hikmat tentang tanggung jawab seorang istri. Dan mungkin juga dirinya yang tidak memiliki siapapun, menjadi alasan utama ketidaktahuannya.
Elusan lembut di kepalanya itu bagai musik yang menghantarkannya ke dunia mimpi. Rasa nyaman di kepalanya menjalar ke seluruh tubuh, mungkin inilah yang dimaksud Nadia tentang satu tubuh, pikirnya. Akan terasa nyaman kalau hanya ada kelembutan.
Nadia yang merasa Sara tertidur di pangkuannya itu terkekeh pelan. "Masih kekanak-kanakan seperti dulu."
Dia lanjut mengelus kepala Sara, membiarkan perempuan itu tidur dengan nyaman dalam pangkuannya.
"Kau menanggung semua perbuatan Peter, Nak. Semoga kau selalu kuat," bisik Nadia kemudian.
__ADS_1
***
Sara mengerjap, dia mengucek matanya dengan buru-buru. Dia berharap ini hanya mimpi, dirinya berada di kamar lama dengan bantalan yang agak aneh.
Tidak membiarkan penglihatannya kembali normal, Sara menekan bantal di kepalanya. Dia merasa sangat aneh ketika menyentuh sesuatu yang empuk layaknya tubuh manusia.
Belum sempat kesadarannya kembali, suara seseorang mengejutkan. "Kau menekan perutku, Sara."
Sara terkejut, dia mengangkat kepalanya dan menengok ke atas. "Aku tidak bermimpi 'kan? Nadia, aku di mana?"
Dia menepuk pipinya kuat. "Sial, ini benaran? Aku tidak bermimpi? Astaga, bagaimana mungkin aku berakhir di sini?" Sara kebingungan karena kesadarannya masih belum kembali.
Nadia yang menyaksikan itu terkekeh, dia menikmati wajah linglung Sara. "Kau belum sadar rupanya."
Setelah mengumpulkan kesadarannya kembali, Sara baru tahu kalau dirinya tertidur di pangkuan Nadia. "Maaf, aku tertidur. Pahamu pasti pegal, aku tertidur lama."
Nadia menggeleng, dia menarik Sara dalam pelukannya. "Apa kau sering diperlakukan dengan kasar oleh suamimu?"
Sara mengerjap pelan, dia bingung harus menjawab apa. "Max memperlakukanku dengan baik. Tidak perlu khawatir."
"Kau mengigau, Sara."
Deg!
"Benarkah?" tanyanya seolah tak percaya. Bagaimana mungkin dirinya mengigau tentang Max. "Tidak mungkin."
"Apa yang sebenarnya terjadi? Aku masih penasaran apa yang membawamu ke sini, dan juga datang sendirian."
"Aku ingin mengambil barang-barang itu." Sara menunjuk pada ranselnya yang berisi peralatan snorkeling. "Max tidak ada di rumah."
"Apa mungkin kau pergi tanpa sepengetahuan suamimu?"
"Dia di Valencia, Nadia. Aku kabur, membosankan berdiam diri di rumah."
Nadia tidak terkejut karena kebiasaan Sara memang seperti itu. "Kau dikurung?"
"Pria semuanya sama, Nadia. Sama-sama brengsekk."
Nadia merenggangkan kakinya yang keram, lalu menatap manik cokelat di depannya itu.
"Pulanglah, Nak. Tidak baik meninggalkan rumah tanpa izin suami. Ingat tanggung jawabmu sebagai istri, banyak hal yang harus kau selesaikan di sana."
.
.
.
__ADS_1
***