SOLEDAD

SOLEDAD
Pergerakan


__ADS_3

Happy reading!


.


.


.


***


Latihan adu nyali di tebing yang curam itu menghabiskan waktu yang banyak. Matahari sudah hampir ditelan sang ufuk saat Sara selesai memburu beberapa ekor hewan yang dilepas Max.


Keringat bercucuran di kening, tapi senyuman puas tidak luntur dari bibirnya. Max terkekeh pelan melihat banyaknya tanah di sekujur tubuh sang istri.


"Mungkin kau butuh seribu liter air untuk membersihkan tubuhmu, Sayang," ucap Max mengejek.


Sara mengerucut. Tapi selepas kemudian dia tertawa. Wajahnya berpeluh dan tanah mengotori kaosnya.


"Bagaimana dengan air laut?"


"Kau bisa melakukannya."


Keduanya pergi ke arah pantai yang kebetulan hanya beberapa kilometer dari sana. Matahari sudah habis ditelan tatkala Sara masuk dan berendam.


Kesunyian melanda di tepi laut itu. Hanya beberapa kicauan burung penunggu malam yang mengisi keheningan. Juga deru ombak yang menjadi musik satu-satunya yang mengisi pendengaran.


"Setelah aku pikir-pikir, kau sempurna dalam segala hal. Apa saja yang tidak bisa kau lakukan, Max?"


Benar juga, dalam hal apapun yang pernah dilakukan Sara, Max melakukan itu dengan baik. Menyelam di laut, memanjat tebing bahkan dalam hal membuat teh yang tidak pernah dilakukan Sara, lelaki itu bisa melakukannya.


Dipikir-pikir lagi, hanya satu yang belum pernah dilakukan Max untuknya. "Oh, aku ingat, apa kau bisa memasak?"


Pemilik manik biru itu terkekeh hambar. Dan satu hal yang terlintas di benaknya membuat Sara tersedak air liur.


"Aku belum bisa membuat anak," ucapnya tanpa dosa.


Mata Sara melebar, dia menepuk dadanya yang sesak karene terkejut. "A-apa?"


"Kau mendengarnya, Sayang."


Max bangkit dari hamparan pasir putih itu, mendekati Sara yang tiba-tiba menjauh dari jangkauannya. "Mau ke mana?"


"Apa yang akan kau lakukan? Kenapa tiba-tiba masuk ke air?" Sara bertanya penuh curiga, memperketat kewaspadaannya. Karena Max memang seekor serigala lapar yang akan melakukan apapun.


"Hanya ingin menemani istriku berendam air laut."


Serigai tipis terbit di bibirnya, tapi tidak dilihat Sara. Dia mendekat dan memeluk istrinya. Max merasakan bahwa istrinya menegang karena tangan nakalnya mencubit perut Sara.


"Kita belum pernah mencobanya di laut lepas, Sayang. Bagaimana kalau kita melakukannya sekarang?"


Sara menoleh dengan tatapan tajam. Dia menyikut perut Max sehingga lelaki itu meringis. "Jangan gila," hardik Sara dengan kasar.


Max tergelak. Menggoda istrinya memang selalu menyenangkan. Apalagi dengan perangai Sara yang galak membuatnya selalu gencar menggoda. "Ayolah, ini pasti lebih seru daripada di dalam bathup," bisiknya nakal tepat di telinga Sara.


"Max bajingaannn!"


Keduanya saling berperang mulut. Max yang suka membuat masalah ditambah Sara yang membesarkan masalah.


Telinga Max tidak sengaja mendengar percakapan dan membuatnya segera membekap mulut Sara yang masih terus mengomel. Bukan hal baru dalam hal itu, dia segera menenggelamkan kepala Sara tanpa aba-aba. Membuat sang istri yang tidak siap memberontak.

__ADS_1


Sara menggapai tangan Max yang menekan kepalanya, tapi seolah tangan lelaki itu tak berwujud. Napasnya sesak karena ketidaksiapan. Sara menahan dirinya dan berusaha tenang.


Tak disangka, pendengarannya menangkap percakapan beberapa orang yang diduganya sebagai penguntit. Mungkin ini alasan Max menekan kepalanya di dalam air.


Hanya sayang, sekarang udara di paru-paru Sara menipis. Jika kepalanya tidak segera diangkat, dia khawatir tidak bisa bernapas lagi. Dan ambisinya untuk membunuh Thompson akan berakhir begitu saja.


Tapi Max tidak meninggalkannya. Dengan segera, lelaki itu ikut menenggelemkan diri, membekap mulut Sara dan memberikannya napas dari mulut ke mulut.


Pertautan di bawah laut yang gelap itu sedikit lama. Beberapa orang di pinggir pantai masih terdengar membicarakan hal yang sempat didengar Sara.


Menahan dan saling membagi napas dalam air tidak bisa bertahan lama. Hampir kehabisan oksigen, Max menarik Sara ke permukaan. Tidak peduli pada penguntit yang terang-terangan mengikuti mereka.


Sara terengah-engah dan menekan dadanya yang kembang kempis akibat udara yang dihirup sebanyak mungkin. Tanpa menunggu kesiapannya, Max sudah menariknya keluar dari sana.


"Bisakah kau menarikku lebih lambat?" bisik Sara kesal, tapi Max bergerak cepat.


"Mereka menargetkan kita, Sara."


Dari suara Max, Sara sudah paham situasi sekarang. Dia bersiap secara mental, mungkin saja ada hal yang terduga akan terjadi.


Benar saja, dari balik kegelapan suara senapan yang siap diisi amunisi mengisi pendengaran Sara. Dia mencengkram erat lengan Max, memaksa lelaki itu menoleh padanya.


"Aku di sini, Sayang. Tidak ada yang akan terjadi," ucapnya menenangkan.


Tangan Sara gemetar seiring langkah Max yang semakin cepat menginjak pasir. Dia berusaha mengimbangi langkah itu dan kembali terkejut saat bunyi tembakan berkali-kali menggema di kesunyian malam.


Saat kesadarannya kembali, dia memukul punggung Max yang berdiri gagah di depannya. "Kau mengambil kesempatan untuk menciumku di dasar laut, sialan! Tidak tahu malu!"


"Apa yang kau pikirkan tadi?"


Sara mendengus kesal. "Penembak jitu yang menghabisi mereka, bukan?"


Max terkekeh membuat Sara kembali mengomel. Bukan tanpa alasan dia melakukannya, tapi sejak siang dia mengendorkan keamanan. Membiarkan dirinya sendiri yang menjadi pagar pelindung bagi Sara.


Dan bibirnya menyeringai mendengar sapaan. "Señor, kau baik-baik saja?"


***


Beberapa hari sudah berlalu. Tidak ada lagi gerakan lanjutan terkait penembakan malam itu. Hari-hari Sara berlalu seperti biasa.


Duduk merasakan dinginnya embun pagi ditemani secangkir teh, Sara mengambil ponselnya tatkala benda itu berbunyi pertanda pesan masuk.


Bibir Sara tersenyum merekah. Ada beberapa hal yang harus dia selesaikan dalam beberapa hari ini di suatu tempat. Tempat yang tidak pernah dia ceritakan pada siapapun, termasuk Claire.


Sara membalas pesan singkat seseorang itu.


Aku akan ke sana, Reddington.


Kepergian Max ke kantor menjadi ruang bebas bagi Sara untuk bergerak. Meminum teh yang sudah hampir dingin itu dengan sekali teguk, Sara berlari masuk ke kamar dan bersiap-siap mengganti pakaiannya.


Di depan lemari, Sara menahan napas karena kesal. Dia lupa, celananya yang robek-robek telah diganti dengan gaun pendek yang tidak sesuai selera Sara. Max memaksanya melakukan itu.


Terpaksa, Sara mengambil satu-satunya celana kesayangan yang dia sembunyikan dari Max. Merobek celana itu di bagian lutut dan paha hingga sesuai selera fashionnya. Dipadukan dengan kemeja usang yang sering dia pakai ke tempat yang dituju.


Selesai dengan itu, Sara keluar dengan buru-buru. Alhasil dia tidak sengaja menabrak seseorang di bawah tangga.


"Maaf, aku sedang buru-buru," ucapnya tanpa melihat wajah orang itu.


"Aku mengerti, Señora."

__ADS_1


Sara menghentikan langkahnya dan menoleh. Dia terkejut melihat orang yang ada di hadapannya. "Adrian? Kapan kau pulang? Bagaimana keadaanmu? Ke mana saja kau selama ini?"


Runtutan pertanyaan itu membuat Adrian tersenyum samar. "Maaf, Señora. Kau mengatakan sedang terburu-buru, bukan?"


Kembali mengingat apa yang pernah diterapkannya beberapa waktu terakhir, Sara berbalik dengan wajah datar.


"Jangan menyalahkanku karena menembakmu malam itu, Adrian. Karena selamanya aku tidak akan pernah meminta maaf. Dan aku pikir kau pantas mendapatkannya."


Tanpa peduli pada tatapan para maid di mansion itu, Sara mengemudikan motor miliknya yang selama ini menganggur di parkiran bawah.


Menancap gas dan membelah jalanan, Sara menuju sebuah toko yang jarang dia datangi. Toko berukuran sedang yang dia bangun tujuh tahun lalu. Setiap dua kali setahun, Sara mengunjunginya.


Dan sekarang sudah waktunya dia mendatangi tempat rahasia miliknya.


"Kak Sara," seorang pemuda menyapanya dan dibalas senyuman oleh Sara.


"Everything ok, Reddington?"


"Kakak bisa melihat sendiri. Musim panas ini banyak yang membutuhkan pakaian untuk pesta bikini dan berendam di laut. Banyak juga yang mencari peralatan untuk menyelam."


Sara tersenyum lebar. Bisnis yang dia bangun sendiri tanpa diketahui banyak orang, sedang berkembang pesat di bawah operasi Reddington.


"Kau bisa berlibur hari ini. Aku mengambil alih tempatmu."


Pemuda yang beberapa bulan lebih muda darinya itu tersenyum lebar. "Yeah, aku bisa berkencan dengan Kristina di hari yang cerah ini," ucap Red.


Sara memutar bola mata malas. Gadis yang diketahui dengan nama Kristina itu sudah menjadi kekasih Reddington selama beberapa tahun.


"Kapan kau akan menikahinya?"


Reddington memgerucut. "Ayolah, Kak. Kau saja tidak mau menjaga toko ini. Bagaimana aku punya persiapan untuk menikahi Kristina?"


Kini giliran Sara yang mengerucut. "Kau tahu alasannya, Red. Tapi aku akan mencoba meminta izin pada Max untuk menjalankannya nanti."


"Suamimu posesif?" Reddington bergegas memgambil sweater berhoodie-nya dan melambaikan tangan pada Sara. "Semoga hari ini lancar, Kak Sara.


Sara membalas lambaian tangan Reddington dan bergumam. "Posesif? Tidak juga, dia hanya tidak ingin aku terluka."


Hari yang tenang bagi Sara hanya berlanjut beberapa jam saja. Dering ponsel mengejutkan. Nama Max tertera di layar membuat Sara kalang kabut dan mengangkatnya setelah menetralkan deru napas.


"Aku tahu kau di luar, Sayang. Kau baik-baik saja?"


Suara Max terdengar lebih berat. Membuat Sara mengerutkan kening.


"Kau terdengar cemas. Ada apa?"


"Tunggu aku menjemputmu pulang. Ada pergerakan dari orang-orang itu. Luci tertembak."


"Siapa Luci?"


"Nenek Kladius. Kau mengingat anak kecil yang aku kirim ke Napoli?"


Sara menegang. Ternyata kedamaian beberapa hari ini hanya untuk mengulur waktu dan membuat mereka mengendorkan penjagaan.


"Aku menunggumu, Max."


.


.

__ADS_1


.


***


__ADS_2