SOLEDAD

SOLEDAD
Akhir


__ADS_3

Happy reading!


.


.


.


***


Pagi menyapa, kicauan burung terdengar dari balik jendela yang celahnya terbuka. Sara mengerjap. Meraba tempat sampingnya, tapi tidak mendapati siapapun di sana.


Saat kesadarannya kembali, Sara mengintip ke luar dari balik jendela. Matahari sudah merangkak naik, mengintip dengan senyum cerah tepat di wajah Sara.


Melupakan sesaat soal mencuci muka, Sara lebih memilih berdiam diri di depan jendela dan menikmati hembusan angin awal musim panas.


Semalam tidurnya tidak nyenyak. Meski kantuknya masih terasa, tapi semilir angin dari jendela membuat wajahnya tersenyum.


Tidak ada lagi rasa sakit seperti kemarin. Yang tersisa hanyalah keram biasa dan tidak sesakit itu lagi.


Beberapa detik bertahan dalam posisi itu, Sara beranjak dan masuk ke kamar mandi. Mengganti pakaian dan bersiap-siap pulang seperti yang dikatakan Max semalam.


Namun, ketika Sara keluar dari kamar mandi, Max masih belum ada di sana. Entah kenapa ada rasa khawatir yang merayapi dadanya.


Sadar bahwa dia tidak membawa ponsel ke rumah sakit, Sara membuka pintu ruang VVIP itu dan tampaklah sosok bodyguard sedang berjaga di depan.


Tapi jauh di koridor sana, tampak sosok yang tidak asing baginya. Wanita paruh baya itu tersenyum dan melambai ke arah Sara.


"Mommy," lirih Sara sambil tersenyum.


Sara mendekati Deborah dan ternyata wanita paruh baya itu hendak menjemputnya.


"Max menyuruhku menjemputmu. Ada hal yang perlu diurus suamimu," jelas Deborah.


Sara mengangguk paham, meski hatinya sedikit tidak rela. "Aku mengerti, Mom."


Deborah menghela napas melihat ekspresi Sara yang suram.


"Jangan pernah bersedih, Nak. Semua dalam kendali Yang Maha Kuasa, kau hanya perlu bersyukur atas apa yang terjadi," hibur Deborah seakan mengerti apa yang ada di dalam pikiran Sara.


Bibir Sara tersenyum tipis, sangat tipis bahkan Deborah tidak menyadarinya.


"Aku hanya merasa tidak sempurna, Mom."


Deborah menarik Sara masuk ke dalam lift tatkala mata Sara memerah.


"Kau sempurna, Sara. Max mencintaimu, itu sudah menjadi kekuatan untukmu. Selebihnya biar Tuhan yang mengatur."


Kembali Sara mengangguk. Mereka saling mencintai, hanya saja tidak akan sempurna tanpa kehadiran seorang anak yang akan melengkapi kebahagiaan mereka.

__ADS_1


Sara menyesali perbuatannya dulu yang menganggap kesehatan hal yang biasa. Tidak pernah terbayangkan dalam hidupnya akan diperhadapkan situasi sulit seperti ini, saat seorang suami menginginkan lebih dari yang seharusnya.


Manusia adalah makhluk yang serakah, semakin dimiliki maka akan semakin menginginkan lebih. Sara merasakan itu, menginginkan seorang bocah kecil yang akan memanggilnya 'Mama'.


Air mata yang tadi berdesakkan hendak turun, akhirnya menetes bersamaan dengan rasa haru saat membayangkan itu.


"Mom, apa aku bisa memiliki anak nantinya?"


Deborah mendesah dan memutar bola mata malas. Memegang pundak Sara yang bersandar pada dinding lift dan berucap keras : "Percaya pada Tuhan, Sara. Tidak ada yang mustahil bagiNya, mukjizat itu ada!"


Sara hanya terdiam membuat Deborah kembali bersuara.


"Apa kau meragukan kuasa Tuhan? Dia bisa membangkitkan orang mati, menyembuhkan orang buta dan tuli, yang lumpuh bisa berjalan, dan Dia sendiri bangkit dari kematianNya. Itu nyata, Sara. Hanya perlu waktu sampai mukjizat itu terjadi padamu. Jangan menyerah pada apapun di dunia ini karena kita memiliki Tuhan yang luar biasa. Kuatkan hatimu."


***


Suasana mencekam. Ruangan yang lembab dan penuh lumut yang mengotori dinding, tanpa cahaya yang menerangi menjadi tempat khusus yang dikunjungi Max pagi buta ini.


Mata birunya menajam seiring dengan langkahnya yang terus berderap di lantai kasar tempat itu. Alex mengikuti dari belakang, menjadi tameng pelindung bagi tuannya dalam misi ini.


Decitan pintu kayu yang sudah tua menjadi suara pembuka di ruangan itu. Bibir Max menyeringai tatkala melihat seorang lelaki tua bersimpuh dengan rantai dan borgol di kedua tangan dan kaki palsunya.


Tidak ada alas tempat tidur, tanah yang berair menjadi ranjang empuk untuknya. Seluruh tubuh lelaki itu penuh dengan lebam dan luka baru yang didapatnya saat memberontak tatkala anggota militer milik Max menangkapnya.


"Selamat datang di duniaku yang gelap, Thompson," ucapnya sinis dengan nada mengejek yang kental.


Lelaki tua renta yang sedang dirantai itu mengangkat kepalanya. Max melihat kilatan amarah dari kedua bola matanya.


"Aku bersyukur karena kau tertangkap sebelum menyakiti istriku. Lihatlah dirimu, bukankah lebih baik berada di kandangmu sendiri daripada menganggu kediaman orang lain?"


Tangan Thompson mengepal, menyebabkan rantai yang mengikatnya berbunyi. "Kau akan mati, bajiingan. Kau dan anak haram itu akan masuk neraka!"


Suaranya terdengar lemah, tapi Thompson mampu mengucapkannya dengan jelas.


"Madrid adalah rumahku, tidak ada yang bisa mengusikku di rumah sendiri, Thompson. Karena aku selalu menyapu bersih semua kotoran yang mengganggu penglihatan."


Max kembali berucap sinis. Mata birunya menatap tajam meski bibir tipis itu menyeringai.


"Kau akan mati, Max! Kau harus mati! Aku akan membunuhmu! Bajiingan tidak tahu diri! Kau dan keluargamu akan mati!"


Bukannya terprovokasi oleh ucapan Thompson, Max malah tertawa mengejek. "Kau ingin membunuhku? Apa kau bisa?"


Bangkit dari posisi jongkoknya, Max meraba dinding di belakangnya dan menekan sebuah tombol yang tersembunyi di sana. Tampak sebuah layar kaca yang lebar, memperlihatkan sisi lain dari ruangan yang berbeda.


Anggota pembunuh milik Max sedang menyiksa anak buah Thompson. Mereka diikat dan dipukuli, disiksa sebelum peluru meledakkan kepala mereka.


Thompson menyaksikan itu dengan tangan gemetar oleh amarah, gemeletuk giginya terdengar jelas. Semua pasukan yang dipersiapkannya hancur dalam sekejab. Dan Max pelakunya, orang yang ingin dia singkirkan agar lebih mudah membunuh Sara.


"Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri, Max!"

__ADS_1


"Kau bisa mencobanya sekarang!"


Bukan suara Max, tapi seseorang yang masuk dengan sebuah pistol di tangannya dan sebuah senter untuk menerangi jalan, menatap tajam pada Thompson yang berusaha melepaskan diri.


Max menegang dan mendapati sang istri memasuki tempat yang tidak pernah diberitahunya.


"Jalaang!" teriak Thompson saat sepasang manik cokelat itu mendekat.


"Kau membunuh Mama, dan sekarang ingin membunuhku? Apa kau pantas?"


Sara menatap mata Max yang tampak khawatir. Dia mendekat dan memegang tangan suaminya.


"Aku akan membunuhmu, Anak haram! Kau jalaang seperti ibumu, kau pantas mati!"


Rasa sakit kembali dirasakan Sara. Bukan oleh kata-kata itu, tetapi mengingat bagaimana Alara diperlakukan oleh lelaki yang seharusnya dia sebut papa. Tapi Sara tidak ingin sisi lemahnya diketahui siapapun, termasuk Max yang makin erat menggenggam tangannya.


"Aku anak haram, lalu kau seorang ******?"


"Jalaang! Kau jalaang! Ibumu jalaang! Semua keluargamu jalaang!"


Stok kesabaran Sara menipis. Dia menghembuskan napas kasar sebelum menarik pelatuknya tanpa beban. Suara jeritan Thompson membuatnya terkekeh. Pangkal paha lelaki itu berdarah.


"Kau tidak bisa membunuhku, Jalaang! Kau jalaang kotor yang tidak pantas hidup!"


Max menyeringai ringan. Dia memeluk Sara dari belakang membuat sang istri tersenyum tipis.


"Apa kau salah menargetkan sasaran, Sayang?" tanya Max sedikit terkekeh pelan. "Kau tidak bisa membunuh musuh dengan peluru yang menancap di paha. Aku sudah mengajarimu, bukan?"


Sara tertawa ringan dan menutup mulutnya. "Oopss, tanganku tergelincir," ucapnya. "Bisakah kau memegang tanganku, Sayang?"


Max terkekeh pelan. Tanpa ragu, dia mengangkat tangan Sara yang memegang pistol dan mengunci sasaran.


"Sebenarnya aku masih ingin bermain-main denganmu, Thompson, tapi istriku tidak sabar. Maaf, Sara-ku menginginkan kepalamu."


"Kalian tidak bisa membu --- Aaaaaakkkhhhh ...."


Satu tarikan pelatuk oleh tangan yang saling menggenggam dengan sebuah pelukan yang membunuh ancaman bagi nyawa keduanya. Max dan Sara sama-sama tersenyum menyaksikan darah yang terus mengalir dari kepala Thompson.


Tidak ada yang tersisa, di layar yang memperlihatkan sisi ruangan sebelah, anggota pembunuh Max juga menyelesaikan misi mereka.


Dengan langkah ringan, Sara mendekati tubuh kurus yang terkapar di tanah. Dia berbisik, "Deuda de sangre por sangre, deuda de vida por vida, Thompson. (Hutang darah dibayar darah, hutang nyawa dibayar nyawa, Thompson)."


Entahlah, Sara tidak mengingat dosanya yang makin bertambah karena membunuh. Sara hanya merasa dadanya lega karena nyawanya kini tidak berakhir di tangan Thompson.


.


.


.

__ADS_1


***


__ADS_2