SOLEDAD

SOLEDAD
Menggoda


__ADS_3

Vote ya😘


.


.


.


Aku duduk di sini, menanti bintang jatuh dan memohon pada semesta. Berharap kebahagiaan kita tidak hanya sampai di sini.


Maxwell Del MontaƱa


***


Sara menutup mata dan telinganya rapat-rapat sementara Max berusaha untuk menghentikannya.


"Aku hanya ingin tidur. Kau membuatku lelah sepanjang hari ini, Max."


Max mengerucut. Dia tidak bisa mengabaikan masalah ini tapi kesehatan sang istri juga harus diperhatikan.


"Apa kau akan menyalahkanku jika seandainya akulah penyebab kematian ibumu, Sayang?"


Sara terdiam sejenak membuat Max khawatir. "Hei, tolong jawab aku."


Perempuan itu menghembuskan napasnya, dia menatap Max dengan sayu. "Aku percaya padamu. Berhenti berbicara, aku ingin tidur."


"Apa kau tidak ingin tahu cerita yang sebenarnya tentang kematian Alara?"


"Orang mati tidak akan bangkit lagi meskipun aku mencari tahu kebenarannya. Semuanya sudah terjadi, untuk apa membebani diri dengan masalah yang sudah selesai?"


Max mengernyit, seperti inikah Sara yang selalu histeris ketika membahas tentang ibunya? Karena setahunya, Sara selalu mengumpat dan memarahi Peter jika menyinggung tentang Alara.


Max merasa ada yang aneh dengan sang istri. Sara menjawab dengan nada biasa, tidak terbesit adanya amarah.


"Apa kau mengetahui sesuatu?"


"Apa yang aku tahu? Mamaku meninggal karena penyakit asma, itulah kenyataannya."


Max bisa menangkap ada perasaan yang tidak biasa dari ucapan itu. Tapi dia tidak bisa melihat mata sang istri karena Sara sudah membungkus tubuhnya dengan selimut.


"Itu yang Peter katakan padamu?"


"Itu juga faktanya, mamaku memang mengidap penyakit itu."


Max menarik napas dalam saat Sara benar-benar membelakanginya. Meski Max memeluknya, tidak reaksi dari perempuan itu.


"Sepertinya kau menyembunyikan sesuatu dariku, Sayang. Apa seseorang sudah mengatakannya padamu?"


Tidak ada jawaban membuat Max menerka-nerka. "Sepertinya dugaanku benar. Stephen pasti melakukannya, dia tidak akan tinggal diam."


Sara masih tidak bergerak membuat Max kembali memeluknya erat.


"Alara meminum racun yang hampir membunuhku. Itu penyebab dia meninggal dengan cepat," ucap Max dengan perasaan bersalah.


Dia memejamkan matanya menunggu jawaban dari sang istri. Tapi tetap tidak ada reaksi apapun dari Sara.


"Sayang," panggil Max.


Tidak ada sahutan. Max terdiam, dia mendengar dengkuran halus dari bibir tipis itu.


"Dia benar-benar kelelahan," gumamnya.


Kemudian Max menyelimuti istrinya dengan baik dan dia beranjak untuk mandi.

__ADS_1


***


"SeƱor, dia hampir mati. Apa tidak keterlaluan dengan cara ini?"


Max terkekeh mendengar aduan Alex yang khawatir. "Sejak kapan kau punya rasa kasihan pada musuhmu, huh?"


"Tapi, SeƱor, Russel benar-benar seperti mayat yang terbunuh."


"Itu yang aku inginkan. Dia menggigit bibir istriku, aku hanya membalasnya sedikit dan masih mengampuni nyawanya."


Membayangkan lelaki paruh baya itu sedang terkapar dengan darah dan tubuh yang tercabik-cabik membuat serigai di bibir Max bertambah lebar.


"Hentikan dulu untuk malam ini, aku akan mengunjunginya besok. Aku juga perlu menyiapkan cambuk yang bagus," ucap Max menyeringai.


Dia berdiri di dekat jendela dan menatap langit penuh bintang. Dengan sesekali matanya menjaga sang istri yang terlihat gelisah dalam tidurnya.


"Bagaimana dengan pergerakan Stephen? Apa dia melakukan sesuatu dengan kasino yang meledak itu?"


"Ku dengar, putranya dengan Alana ikut terbakar di sana."


Max terdiam sejenak kemudian menghembuskan napas kasar. "Aku tidak yakin dengan itu. Dia sedikit licik dan pasti sedang memainkan peran sebagai korban."


"Kenapa kau berpikiran seperti itu, SeƱor?"


"Dia pasti sudah membunuhku sebelum melempar Sara ke laut malam itu untuk membalas dendamnya. Tapi dia tidak melakukannya, ada sesuatu di sana."


"Berarti berita palsu itu untuk menarik perhatian orang. Apa aku perlu melakukan sesuatu untuk itu?"


"Tidak perlu, ada bagian yang tidak bisa kau sentuh dari bagian tubuh seseorang. Dampaknya akan meluas nanti, aku tidak ingin ada dendam yang tersisa untuk keturunanku dan untuk klan kita."


"Baiklah, SeƱor, aku harus melepaskan ikatan Russel untuk sementara."


Setelah sambungan itu diputuskan oleh Alex, pemilik manik biru itu termenung di dekat jendela. Semakin larut, bintang-bintang di langit semakin terlihat sinarnya.


"Mungkin kau seperti itu, Sayang," ucap Max sambil melirik istrinya yang terlelap itu.


Melihat punggung istrinya yang terekspos, Max menelan ludah kasar. Dia telah tergoda hanya dengan melihat kulit lembut itu.


Pria itu mendekat. Dia menyentuh lembut kulit Sara membuat perempuan itu menggeliat. Dan itu membuat Max tersenyum.


Dia tahu istrinya sangat sensitif dengan sentuhan. Karena itu, dia tidak ingin mengganggu lebih lama. Max takut tidak bisa mengendalikan sisi liarnya sedangkan sang istri masih kelelahan.


Menahan gairah dalam dirinya yang kembali bangkit, Max berbalik hendak pergi. Namun, tangannya dicekal.


"Kau mau pergi?"


Max kaget. Mendengar suara serak itu benar-benar membuat dirinya beraksi. Dia memalingkan wajahnya dari tatapan Sara yang kebingungan.


"Aku gerah."


"Tapi aku kedinginan."


Max mengerjap gugup. Dia yang tidak ingin membuat istrinya kelelahan justru diperhadapkan dengan pilihan sulit. "Kau ingin dipeluk?"


"Ya," jawab Sara sambil menarik Max untuk naik ke ranjang.


Max baru tahu ada sisi diri Sara yang berbeda. Dari keras kepala menjadi sangat manja. Sara dulu selalu menolak jika mendapat tawaran seperti itu meski tidak menolak jika melakukannya langsung tanpa bertanya.


Apa ini perubahannya setelah mengetahui aku mencintainya?


"Kau masih lelah?"


"Tidak."

__ADS_1


"Oh."


"Kenapa?" tanya Sara sambil mengeluarkan kepalanya dari dalam selimut. "Kau ingin bercinta lagi?"


Max menelan ludah kasar. Apa yang terjadi pada perempuan keras kepala ini?


"Jangan bercanda, kau pasti lelah. Tidurlah," ucap Max sambil mengelus rambut istrinya dengan sayang.


"Apa yang akan kau lakukan jika tidak?"


Mendapat pertanyaan semacam itu membuat Max menyeringai. Dia tidak ingin digoda istrinya dan mendapat penolakan pada akhir karena Sara kembali aneh seperti pada hari itu.


"Kau benar-benar tidak lelah?"


Sara terkekeh, dia memeluk Max dan menelusupkan kepalanya di dada sang suami. "Aku tahu kau menginginkannya. Kenapa berpura-pura pergi?"


"Aku tidak ingin membuatmu lelah, Sayang."


"Kau bisa melakukannya lagi. Aku kuat."


Max terkekeh hambar. Apa ini Sara istrinya?


"Kita akan menemui seseorang besok. Kau harus menyimpan energimu."


Sara berdecak. Karena kesal, dia mencubit punggung Max. "Kau menyebalkan."


Pria itu terkekeh, dia kembali membelai kepala istrinya. "Tidurlah."


"Berikan aku ciuman."


Sara menyeringai ketika menyadari Max menghentikan elusan di kepalanya. Tapi dia terkejut saat bibir Max menyentuh keningnya.


Kecupan itu sangat hangat meski hanya sekejab. Karena tak ingin menyia-nyiakan kesempatan menggoda suaminya, Sara menarik tengkuk Max untuk menggapai bibir pria itu.


"Aku ingin ciuman di bibir."


Tidak membiarkan ciuman itu terlepas, Sara menahan tengkuk Max hingga dia bisa merasakan sesuatu mengeras di bawah sana.


"Kau yakin tidak menginginkan lebih?" tanya Sara setelah dia melepas ciuman itu.


"Jangan menyalahkanku kalau besok pagi kau tidak bisa turun dari ranjang."


"Kau bisa membuktikannya," ucap Sara.


Max menyeringai puas. Dia mencium bibir istrinya sangat lama hingga Sara hampir kehabisan napas.


"Max!!!"


"Ini akibat dari menggodaku, Sayang."


Sara mengatur napasnya yang terengah-engah. Dia menatap Max yang menatapnya dengan bibir mengejek.


"Kau hampir membunuhku!"


Max terkekeh. "Aku akan melakukannya sekarang."


Dia kembali menarik tengkuk Sara dan memperdalam ciuman mereka hingga keduanya benar-benar terlena oleh suasana.


.


.


.

__ADS_1


***


__ADS_2