SOLEDAD

SOLEDAD
Pertemuan 2


__ADS_3

Jangan lupa vote ya😘


.


.


.


***


Seperti yang dikatakan Deborah, hari ini adalah hari yang sibuk bagi Sara. Pagi yang biasanya dia pakai untuk senam dan nge-gym diganti dengan pelajaran memasak yang menguras banyak tenaga dan pikiran.


Ya, pikiran karena Sara harus menghafal jenis-jenis bumbu dapur yang jarang dia jumpai. Meski kebidupannya berkisar di tengah hutan dan bawah laut, jarang dia menjumpai tanaman yang berfungsi sebagai bumbu itu.


Seorang koki terkenal yang pandai membuat makanan Spanyol didatangi Max, khusus untuk mengajari istrinya. Dan tentu saja koki itu seorang perempuan handal, mengingat bagaimana Max sangat posesif terhadap istrinya.


"Aku pikir ini lebih sulit dari ajaran Adrian," gumam Sara menonton koki itu memisahkan beberapa bahan.


"Kau akan mengajari aku tentang apa hari ini, Chef Lilia?"


Perempuan yang memakai apron itu menjawab tanpa menoleh. "Seafood Paella."


"Oh, aku membaca di internet semalam. Sepertinya lumayan gampang."


"Cocok untuk pemula, SeƱora." Lilia memberikan kerang yang sudah dicuci pada Sara. "Kau bisa merebus kerang itu, jangan terlalu banyak air."


"Oke, bagaimana dengan langkah selanjutnya?"


"Perlahan-lahan, butuh kesabaran untuk menciptakan aroma dan rasa yang menyentuh hati, SeƱora. Karena bagi pecinta kuliner, makanan adalah dunia mereka."


Sara mengangguk paham, meski tidak sepenuhnya mengerti apa yang diucapkan Lilia. "Berapa umurmu, Chef Lilia? Kau terlihat sangat muda, seperti seorang gadis berusia lima belas tahun."


Perempuan itu terkekeh pelan, dia menoleh pada Sara. "Dua puluh, kurang dua bulan."


Sara takjub, seorang perempuan muda yang sangat sukses di usia seperti itu.


"Aku sudah mengikuti kompetisi memasak sejak usia dini, SeƱora. Jangan berkecil hati, belajar tidak terbatasi umur. Kau bisa melakukannya jika bersungguh-sungguh."


Kembali berhadapan dengan kompor, Sara memasukkan paha ayam ke dalam minyak panas. Dan cipratan minyak membuatnya hendak menjauh.


Namun, Lilia mencekal tangannya, membatalkan niatnya yang hendak menjauh. "Kau tidak akan sukses jika takut dan menyerah, SeƱora."


"Luka dan darah, keringat dan air mata akan kau jumpai setiap hari di dapur. Itu akan membuatmu paham arti menjadi sukses. Sukses memanjakan orang lain dengan cita rasa dan warna masakan yang menggugah selera, itu adalah bagian terpenting dari seorang koki."


Meski sangat ingin menyerah karena terkena cipratan minyak di keningnya, tapi demi dirinya dan masa depan keluarganya, Sara terus berjuang.


Tentu saja dia harus berperan penting dalam urusan dapur nanti, mengingat Max sangat kekanak-kanakkan.


"Jangan sampai gosong, SeƱora."


"Aku sudah pernah melakukan ini sebelumnya, Lilia."


"Masukkan bawang putih, bawang bombai dan paprika."


Sara melakukannya. Setelah bahan-bahan itu menguning, Lilia lanjut memerintah. Ya, begitulah kebiasannya. Karena menurut Lilia, saat seseorang hanya melihat dan tidak bekerja, itu sama saja dengan nol bulat tanpa isi.


"Masukkan cumi dan tomat, lalu aduk."


"Oke. Apalagi?"


"Masukkan saffron, garam dan merica."


"Saffron?" ulang Sara. "Yang mana?"


"Kau sudah melupakannya, SeƱora?"


Sara terkekeh. "Kau tahu aku belum pernah menjumpai tumbuhan itu sebelumnya, Lilia."


"Yang berwarna merah."


"Oke. Aku sudah melakukannya. Seberapa banyak garamnya?"

__ADS_1


"Lihat seberapa banyak isi daging dalam panci, perkirakan juga seberapa banyak garam yang harus dibutuhkan."


Sara mengambil garam satu sendok penuh.


"Masih kurang."


"Hah? Nanti asin, Lilia."


"Kau bisa mencobanya nanti, SeƱora."


Sara memasukkan lagi beberapa sendok, dan sudah cukup menurutnya.


"Aku pikir sudah cukup, Lilia."


"Kau bisa mencobanya, SeƱora."


"Tapi aku tidak melihat para Chef di tv mencoba masakan mereka, Lilia."


Perempuan itu tersenyum. "Itu karena mereka sudah berpengalaman, SeƱora. Tapi bukan berarti mereka yang mencoba itu tidak keren, justru itulah yang akan membedakanmu dari yang lain."


"Oke, aku akan melakukannya."


Setelah mencicipi, Sara mengangguk. "Sedikit asin."


"Masih ada bahan yang belum dimasukkan, SeƱora."


Beralih ke satu kompor yang merebus kerang, Sara tahu bahwa sudah saatnya mengangkat masakan yang satu itu. Dia mematikan kompor untuk memudahkannya menyisihkan kerang yang sudah matang itu.


"Saatnya masukkan beras ke dalam tumisan itu, SeƱora."


Sara beralih lagi, memasukkan beras seperti instruksi Lilia.


"Terus aduk, jangan biarkan berasnya gosong, SeƱora."


Ketika beras itu setengah matang dan mulai menempel di wajan, Sara terus mengaduk dan tangannya mulai lelah.


"Lilia, tanganku lelah."


***


Berjalan kaki menyusuri jalan sempit dan kumuh itu membuat Max kesal. Apalagi mereka sudah berjalan beberapa meter dan jalanan itu tidak bisa dilalui mobil.


"Di mana tempat itu, Alex? Apa masih jauh?"


"Tinggal beberapa belokan, SeƱor."


"Apa kau yakin itu tempat mereka?"


Alex mengangguk. "Aku sudah memeriksanya."


"Bagaimana perkembangan Gerald di sana? Apa dia sudah bertemu gadis itu?"


Mengerti dengan maksud Max, Alex menggeleng. "Aku membatasi ruang geraknya di sana. Dia belum diperbolehkan masuk ke mansion sebelum berhasil menjadi kejam, SeƱor."


"Aku khawatir pada gadis kecil itu."


"Kau bisa menjadikannya pelayan untuk istrimu, SeƱor."


Max mengangguk paham. Dia tidak memikirkan itu sebelumnya, dan malah membiarkan seorang pria untuk mematai istrinya.


"Akan ku pikirkan. Apa Lilia ke sana hari ini?"


"Bibi mengatakannya, SeƱor."


Max tersenyum. "Aku akan dimanjakan dengan masakan istriku saat pulang nanti, Alex. Cepatlah menikah agar kau tahu betapa menyenangkannya memiliki istri."


Pria yang berstatus jomblo itu terdiam menahan kesal. Selalu itu yang dibanggakan Max dan berhasil mematahkan harga dirinya.


"Jodohku belum lahir, SeƱor. Mungkin setelah kau memiliki bayi baru aku memikirkannya."


Pria bermata biru itu menghentikan langkahnya, dia melotot marah pada Alex. "Apa yang kau pikirkan? Aku tidak akan membiarkan lelaki tua sepertimu menjadi pria untuk anakku."

__ADS_1


Alex terkekeh. "Kau salah paham. Aku tidak punya pandangan seperti itu, SeƱor."


"Apa maksudmu?"


"Aku tidak akan menikah."


"Kau akan melajang seumur hidup?"


"Itu lebih baik daripada memiliki yang halal tapi masih memikirkan yang haram."


Tahu bahwa kalimat itu menyindirnya, Max hendak meninju Alex tapi langsung dihindari oleh pria itu. "Apa yang kau katakan?"


"Hanya sebuah fakta, SeƱor."


Max menghembuskan napasnya kasar. Dia menatap langit yang sedikit cerah dipertigaan hari itu. "Aku pikir kau tahu isi hatiku, Alex."


"Aku tidak pandai menebak isi hati seseorang, SeƱor."


"Sialan, jangan pura-pura. Aku tahu kau mengetahui kalau aku mencintainya. Aku mencintainya sampai aku menjadi gila jika tidak mendengar suaranya. Aku mencintainya melebihi nyawaku, Alex."


Pria tampan bermata kelabu itu mengangguk. "Tapi kau selalu menyakitinya, SeƱor. Setiap perkataanmu membuatnya murung."


"Aku memang melakukannya. Tapi aku punya alasan yang kuat."


Alex mendengus. "Alasan yang kuat demi barang yang haram?"


"Aku akan menyelesaikannya tepat waktu, Alex."


"Semoga tidak terlambat dan kau tidak perlu menyesalinya, SeƱor," gumam Alex yang masih didengar Max.


Tidak sempat menyahut perkataan Alex, seorang pengemis menabrak Max yang berjalan di depan.


"Apa yang kau lakukan?" teriak Alex saat melihat sang tuan ditabrak. Namun, isyarat Max menghentikannya.


"Kenapa kau berlari, SeƱorita?" tanya Max pada perempuan yang sedang menunduk di hadapannya.


Tidak ada sahutan, hanya gelengan yang menjawabnya.


Tidak lama setelah itu, sekelompok pria menghampiri mereka. "Kau dikejar preman?"


Kembali perempuan itu menangguk.


"Hei, ĀæQue pasa? Porque no hablas?" (Hei, ada apa? Kenapa kau tidak berbicara?)


Perempuan itu terus menggeleng dan tidak membuka mulut, hingga preman itu mendekat.


"Danos esa mujer, SeƱor. La es mƭo. (Berikan wanita itu pada kami, Tuan. Dia milikku," ucap seseorang yang diyakino Max sebagai pemimpin geng itu.


Max membawa perempuan itu berlindung di belakang punggungnya. "No temas, tengo aqui. (Jangan takut, ada aku di sini)."


"Ambillah sendiri jika kau menginginkannya," tantang Max pada preman itu.


"No hables demasiado, Maldita sea. Solo dƔmelo! (Jangan banyak basa-basi, sialan. Berikan saja dia padaku!)"


Percakapan panas itu terhenti saat Max melumpuhkan mereka semua.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Max pada perempuan yang menolak bicara sejak tadi.


"Eh bien, gracias. (Ya, baik, terima kasih)."


Max melotot mendengar suara perempuan itu . Dia membuka jaket yang menutupi kepala perempuan yang mengejutkannya itu.


"Alana? K-kau? Benar-benar kau? Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa tidak pernah menemuiku?"


.


.


.


Dan pada akhirnya, si mantan pacar kembali guys. Apa yang akan dilakukan Max?

__ADS_1


***


__ADS_2