SOLEDAD

SOLEDAD
Bonchap 1


__ADS_3

Happy reading!


.


.


.


***


Tengah malam, Max meringis mendapati istrinya bergerak gelisah dalam tidurnya. Tangannya mengelus punggung sang istri dengan lembut. Berusaha menenangkan istrinya yang tengah hamil.


Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Begitu perkataan Deborah dan Iglesias yang selalu memberi support untuk mereka.


Max memercayai itu dan ternyata benar-benar terjadi dalam kehidupannya. Pada ulang tahun pernikahan mereka yang kedua, Sara memberi hadiah yang sangat besar berupa berita kehamilan.


Rasa bahagia segera membuncah di dadanya tatkala mendengar kabar itu. Hal yang paling dia tunggu dan dia harapkan di setiap kalimat dia. Di luar dugaan dan atas kehendak Tuhan, semuanya terjadi.


Namun, semua itu membuat hatinya gelisah tatkala usia kehamilan Sara memasuki usia tua. Sara lemah dan seringkali masuk rumah sakit karena sering muntah dan mengalami demam.


Dan itu membuat Max tidak lepas pengawasan dari Sara. Wanitanya masih sering keras kepala dan melakukan olahraga yang menurut Max berbahaya.


"Sssshhhh," bisiknya menenangkan saat Sara kembali bergerak.


Tidak lama, mata cokelat itu terbuka. Max menatapnya dalam. Rasa cintanya untuk Sara semakin bertambah seiring waktu berjalan. Apalagi kini wanita cantik di dekapannya sedang mengandung buah cinta mereka.


Sara tersenyum manis, yang mana membuat jantung Max kembali berulah. Berdegup kencang seperti hendak keluar dari rongga dada.


"Aku baik-baik saja," ucap Sara dan mengusap bulu-bulu halus yang mulai memanjang di rahangnya.


"Apakah kita perlu ke dokter?" tanya Max khawatir. Karena berulang kali kejadian yang sama telah terjadi.


Kembali Sara tersenyum membuat Max mendesah pasrah. Kekeraskepalaan istrinya masih melekat.


"Aku baik-baik saja, Sayang. Tidak perlu cemas," ujar Sara.


"Aku tidak tahan melihatmu seperti ini."


Sara tidak tahan dengan wajah menggemaskan Max yang sedang khawatir, dia mengecup lembut bibir Max.


"Aku sudah mengatakannya, aku baik-baik saja."


"Astaga, ini benar-benar membuatku gila, Tuhan ...," desah Max kala Sara kembali meringis merasakan tendangan dari perutnya.


Sara terkekeh. Dia membalas pelukan Max meski tubuh keduanya tidak bisa saling menempel seperti dulu. Merasakan itu, dia kembali tertawa.


"Perutku besar," ujarnya yang membuat Max juga ikut terkekeh bahagia.


"Ini cantik, kau makin berisi," sahut Max dengan serigai lebar.


Sara tertawa pelan dan memukul dada Max. Suaminya masih saja mesum dan selalu meminta haknya dengan alasan untuk membesuk anaknya. Juga dengan alasan tidak tahan dengan badan Sara yang makin berisi.


Tentu saja badan Sara bertambah besar. Meski sering mengalami demam dan muntah di pagi hari, nafsu makannya meningkat. Bahkan Adrian memasak tiga kali lebih banyak dari porsi biasa.


"Jangan berpikir macam-macam," tegas Sara saat bibir Max menyatu dengan bibirnya.


Max terkekeh. Dia mengusap perut Sara dan kembali merasakan tendangan dari sana. Dia sengaja tidak mendeteksi jenis kelamin bayinya. Max ingin menjadi surprise saat dia lahir nanti.

__ADS_1


"Hanya satu macam."


"Maxwell!"


"Sí, Mi Esposa?"


Sara mengerucut. "Kau menyebalkan," ucapnya. Tapi setelah itu dia mengecup bibir Max lagi. Membuat Max terkekeh.


Pada masa-masa seperti ini menjadi surga bagi Max. Tanpa permintaannya, Sara selalu menciumnya tanpa aba-aba.


Kadang Max terkejut saat Sara tiba-tiba menangis karena belum menciumnya. Tentu saja hal itu membuat jiwa liarnya kembali bangkit.


"Aku juga mencintaimu."


Max menarik tengkuk istrinya agar memperdalam ciuman mereka. Menggigit kecil bibir Sara hingga dia bisa mengekspos rongga mulut istrinya.


***


"Mom, aku lelah."


"Baiklah, kita istirahat," ucap Deborah.


Keduanya sedang memakai ruang gym milik Max untuk melakukan yoga bagi ibu hamil, yang dipimpin oleh seorang ahli.


Max masih mengizinkan olahraga seperti itu selagi keselamatan Sara di bawah kendali. Tapi tidak seperti berenang karena kaki Sara kadang keram dan membengkak.


"Regangkan kakimu, Sara." Deborah mengingatkan ketika dia melihat Sara hampir berjongkok.


Sara menyengir dan segera melakukan perintah Deborah. "Kau yang terbaik, Mommy," ucapnya untuk menenangkan emosi sang mertua yang tidak terkendali jika menyangkut cucunya.


"Kau harus ingat ada nyawa yang kau jaga dengan nyawamu juga, Sara."


Sara beralih pada wanita yang sedang duduk bersila di hadapannya. "Kau bisa pulang, Adriene. Aku rasa sudah cukup hari ini."


Adriene tersenyum ramah, dia mengemasi barang miliknya. "Terima kasih, Señora. Kau bisa beristirahat dengan baik."


"Berkendaralah dengan hati-hati, Adriene."


Setelah kepergian wanita itu, Sara menoleh pada Deborah yang sudah telentang di atas karpet.


"Mom, kau bilang meluruskan kaki, kenapa malah tidur?"


"Aku tidak mengatakan kalau dilarang tidur, bukan?"


Sara tersenyum hambar. Benar juga, padahal mereka tidak pernah tidur setelah yoga sebelumnya.


Ketika hendak membaringkan dirinya di atas karpet, Sara merasakan kontraksi yang sedikit berbeda dari yang biasa. Ada rasa sakit yang asing.


Namun dia membiarkannya saat tidak berkelanjutan. Dia ikut membaringkan diri, menyamping dan berhadapan dengan Deborah.


Sekali lagi rasa sakit itu menerjang. Kali ini lebih kuat dari yang sebelumnya. Dan pada saat itulah Sara merasakan ada sesuatu yang keluar dari pusat tubuhnya.


"Mom ...," lirihnya menahan sakit.


Sara mulai merasakan sakit dan peluh membanjiri keningnya. "Mommy, ada sesuatu yang keluar dari sana."


Sara menunjuk bersamaan dengan suara teriakan cemas Deborah yang menggema.

__ADS_1


"Adrian, Adrian! Siapkan mobil! Marilyn? Adrian! Marilyn!"


Sara memegang perutnya yang terus berkontraksi. Deborah membantunya untuk berdiri dan membawanya keluar dari ruangan gym itu.


Sekali lagi Deborah berteriak membuat telinga Sara berdengung.


"Adrian! Marilyn! Lewis!"


Deborah memanggil semua nama orang yang diketahuinya sebagai orang yang selalu dipakai Max. Sampai Adrian menghampiri, Deborah berteriak panik.


"Siapkan mobil, ayo ke rumah sakit sekarang!"


Sara tertatih-tatih, mungkin jika Deborah tidak memapahnya, Sara sudah terjatuh. Sakit itu tidak tertahankan. Bahkan air matanya menetes tatkala rasa sakit menyerang.


"Max ...," lirihnya kemudian.


***


Panik sendiri dalam perjalanan, Max membawa mobilnya seperti orang yang sedang kesetanan. Alex yang dijadikannya patung di samping hanya bisa pasrah jika terjadi sesuatu pada mobil itu.


Sesekali dia mengumpat saat banyak mobil mengganggu jalannya. Jalanan sedikit macet karena banyaknya kendaraan yang berlalu-lalang demi meramaikan suasana Natal malam ini. "Alex, bagaimana ini? Sara-ku pasti sangat kesakitan sekarang," ujarnya dengan mata memerah dan mencengkram erat kemudi.


"Fuckk!" umpatnya saat sebuah truk menyalip dengan cepat. Truk itu tampaknya sedang mengejar waktu untuk mengantarkan Pohon Natal.


Alex hanya diam. Berbicara sama saja dengan mengantar nyawa, karena Max sekarang tidak berada dalam kondisi yang baik-baik saja.


Rahang Max mengetat, tangan yang mencengkram erat kemudi dan siap kapan saja untuk memukul wajahnya jika salah berbicara.


"Tuhan, ku mohon, jangan buat istriku sakit," ucapnya lemah dengan kaki yang terus menginjak pedal gas.


Ingin sekali Alex tertawa, mengejek ekspresi Max jika saja keadaannya tidak seserius ini.


"Bagaimana perasaanmu waktu istrimu melahirkan, Alex?"


Alex yang sudah menikah setahun yang lalu dengan Claire telah mengalami hal yang sama. Hanya saja dia tidak sepanik dan seceroboh Max. Alex bisa meredam emosinya.


"Kemudikan saja mobilnya dengan benar, Señor. Banyak salju di aspal, kau harus sampai dengan selamat," ujar Alex berhati-hati sambil melirik tangan Max, bila saja tangan itu menonjok rahangnya.


"Jangan bicara omong kosong! Diam di tempatmu!"


Max berteriak panik. Akal sehatnya tidak terkendali, membuat jawaban yang seharusnya dari pertanyaan yang diajukan olehnya sendiri, menjadi salah besar dalam seketika.


Alex kembali menutup mulutnya. Keselamatannya kali ini yang terutama. Peduli amat pada pertanyaan-pertanyaan lain yang diajukan oleh si gila di sampingnya.


"Alex, berikan uang untuk memperlebar jalan ini. Aku tidak ingin seperti ini lagi lain kali!"


Masih panjang perjalanan menuju rumah sakit. Mulut dan tangan Max tidak bisa diam. "Alex, katakan sesuatu! Apa yang harus aku lakukan?"


Padahal baru saja Max menyuruh Alex untuk diam. "Alex! Astaga, Tuhan ..., sebaiknya aku memakai helikopter saja setiap saat," gumamnya tidak jelas.


Kewarasannya tidak berada di tempat. Khawatir pada istrinya yang sudah pasti menahan kesakitan di sana.


.


.


.

__ADS_1


***


__ADS_2