SOLEDAD

SOLEDAD
Badmood


__ADS_3

Happy reading!


.


.


.


***


Max mengedarkan pandangan ke segala arah, tapi tidak mendapati istrinya di kamar. Namun, dia mendengar gemericik air di kamar mandi.


Dia meletakkan nampan teh di atas meja, menunggu istrinya keluar. Sambil melakukannya, Max memeriksa beberapa email yang masuk ke ponselnya.


Keningnya mengerut melihat ada beberapa hal yang mengganjal. "Peter?" gumamnya tidak yakin.


Menelpon Alex untuk memastikan, tapi nomor pemilik manik abu yang selalu aktif itu tiba-tiba sibuk. Mungkin sedang bermain dengan wanita, begitu pikir Max.


Sambil menunggu Sara, Max mengganti pakaiannya dengan jas yang masih tergantung rapi di lemari, bersiap ke kantor dan bertepatan dengan itu, Sara keluar.


"Kau akan pergi? Apa aku ikut bersamamu?"


Max tersenyum dan mendekati istrinya lalu mengecup bibir yang terasa memabukkan itu. "Banyak pekerjaan yang aku tinggalkan di kantor, Sayang. Kau bisa bersama Mommy sebelum aku menjemputmu."


Sara melangkah ke lemari dan terkejut semua gaun ada di sana. Gaun indah dan cantik bergantung rapi, menunggu pemilik menyentuhnya.


"Dari mana datangnya pakaian ini? Kenapa tadi malam tidak ada?" Sara menoleh tajam, seolah ingin membunuh Max dengan mata cokelatnya.


"Mommy sudah menyiapkan semuanya dengan rapi, Sayang. Sebelum kau bangun, para pelayan merapikannya. Dan juga kau tidak mungkin tidak memakai baju sepanjang hari 'kan?"


Kekehan nakal dari mulut Max menambah kekesalan Sara. Dia memutar bola mata malas dan mengambil salah satu gaun berwarna merah. "Tidak ada kaos," protesnya setelah mencari sehelai baju yang nyaman saat dia pakai.


Memasrahkan diri memakai gaun yang tidak nyaman menurutnya, Sara menoleh dan mendapati Max belum selesai dengan jasnya. Sara juga tidak melihat ada dasi di leher Max.


Sara mengambil satu dasi yang cocok dengan jas abu-abu Max, memakaikannya untuk sang suami. Yang mendapat tatapan dan cengiran dari Max.


"Kau sudah merasa baikan? Aku membuatkan teh untukmu."


"Teh? Kau bisa membuatnya?" Sara bertanya kebingungan, pasalnya selama ini Sara yang selalu membuatkannya untuk Max.


Max terkekeh, dia ingat sikap manjanya pada Sara. Tidak bisa melakukan apapun dan membiarkan Sara mengambilkan untuknya, yang sekaligus menguji wanitanya bisa melakukan hal itu atau tidak.


"Sebenarnya, Mommy yang membuatnya," kilahnya yang tidak ingin diketahui Sara. Dia menikmati waktu bersama sang istri yang membiarkan Sara melayaninya.


Sara mengerutkan keningnya pertanda tidak percaya. Dia mengecap rasa teh yang sedikit tidak biasa, berbeda dengan rasa teh yang pernah dibuat Deborah. Sara melirik Max curiga. "Benar bukan kau yang membuatnya?"


Max menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal, menyengir dan meraih dagu istrinya, lalu mengecap rasa teh dari bibir Sara.


"Bagaimana rasanya?" Max mengalihkan pembicaraan.


"Jawab pertanyaanku dulu, siapa yang membuatnya? Kau, bukan?"


Max terkekeh. Sara mengenali rasa itu. "Apa berbeda dengan yang dibuat Mommy?"


"Tentu saja," ucap Sara mengerucutkan bibirnya. "Kau bisa membuat teh?"


"Hanya untuk istriku," jawab Max terkekeh pelan, yang mendapat pelototan dari Sara.

__ADS_1


"Kau membohongiku selama ini?" tanya Sara dengan bibir mengerucut.


Tidak ada tanda penyesalan dari mata biru itu, hanya cengiran yang tercetak di bibir Max. Dia menggapai pundak Sara dan mengangkat dagunya, Max menatap mata istrinya dalam.


"Apa kau memaafkanku?"


Mata cokelat itu sesaat tidak berkedip, keheningan menjawab pertanyaannya. Membuat Max kembali mengulangi pertanyaannya. "Apa kau akan memaafkanku, Sara?"


Melepaskan tangan Max yang memegang dagunya, Sara berlalu dari sana. Duduk di depan meja rias dengan wajah datar.


Max mendesah, mendekati istrinya yang sedang merajuk. Dia ikut menyisir rambutnya yang sedikit berantakan.


"Kau tahu aku tidak pandai merayu wanita, Sara. Hanya itu yang bisa aku lakukan agar kau tetap di sisiku, tidak pergi ke manapun saat aku ingin melihat senyummu. Aku mencintaimu sejak awal, tapi tidak tahu harus menggunakan cara apa untuk mengatakannya." Max meletakkan sisir dan menatap Sara lewat pantulan cermin. "Dengan berpura-pura tidak bisa melakukan apa-apa, aku merasa senang. Kau ada di sisiku setiap hari, melayaniku dan membuatku benar-benar merasakan surga."


Sara hanya diam sebelum balas menatap Max dengan mata yang tidak berkedip. Dia mendesah sambil menata rambutnya.


"Kenapa kau mengatakan itu? Aku tidak punya alasan untuk marah padamu, Max."


Manik biru itu berotasi sempurna. "Astaga, Sara, jangan mengatakan itu. Aku benar-benar akan menganggap kau marah padaku. Jadi, kau akan memaafkanku?"


Seringai tipis di bibir Sara tidak dilihat Max, tapi dia terkejut saat Sara memberikan sisir padanya. "Sekarang gantian. Mau 'kan?"


***


Ditemani tumpukkan kertas putih dengan sebatang pulpen, manik biru itu tak henti berkedip. Kacamata menghiasi batang hidungnya yang mancung, menambah ketampannya berkali lipat.


Seorang wanita seksi berdiri, menunggu berkas yang membutuhkan tanda tangan si bos.


Setelah selesai menandatangani beberapa lembar kertas yang penting, Max membuka kacamatanya dan memberikan berkas pada sekretarisnya. "Kau bisa pergi sekarang, Melanie."


Melanie duduk dengan lemas di kursi sekretarisnya, menatap lesu ruangan yang bertuliskan 'CEO Office'.


Pada saat bersamaan, pemilik manik biru itu menggeram kesal. Pikirannya tidak fokus.


"F*ck, aku tidak bisa terus begini," ucapnya.


Dia menelpon Alex. "Keluarkan perintah baru. Larang semua karyawan wanita mengenakan pakaian seksi, rok harus di bawah lutut dengan kemeja yang menutup dada. Termasuk sekretaris dan jajaran direktur yang lain."


"Sí, Señor."


"Dan ...," Max ragu-ragu mengatakannya. "Tolong jemput istriku dari rumah Mommy. Sekarang."


Dia menutup telponnya dan melemparnya asal dan jatuh tepat di atas sofa. Max kembali merenung, dia menyesal telah menyuruh istrinya ke kantor.


Bangkit dan memungut ponsel yang dilantarkan itu, Max kembali menelpon Alex dan sialnya, pria itu tidak menjawab.


"Ah, sudahlah, mungkin bisa menjadi moodboosterku," gumamnya kemudian.


Beberapa saat kemudian di tempat lain, Sara dikejutkan dengan kedatangan Alex yang tergesa-gesa.


"Ada apa, Alex?" Deborah yang bertanya bingung. Dia dan Sara dengan membuat makan siang.


"Maaf, Señora, Señor Max meminta Anda ke kantor sekarang."


Sara tidak terkejut. Max memang selalu penuh misteri, tidak mudah ditebak.


Kadang seperti anak kecil yang manja, dan kadang seperti iblis yang tidak bisa dipahami. Kejam dan kelam. Mata birunya bersembunyi di kegelapan, siap menerkam mangsa.

__ADS_1


Sara menoleh pada Deborah dan tersenyum. "Maaf, Mommy, aku harus berhenti sampai di sini."


Wanita paruh baya itu mengerucut, tidak senang karena kebersamaan dengan menantunya berakhir begitu saja. Dia berpesan pada Alex. "Suruh Max jangan membuat menantuku lelah. Badannya masih pegal."


Alex berdehem sementara Sara berlari mengganti gaunnya. Wajah pemilik manik abu itu tiba-tiba memerah, entah apa yang dia pikirkan. Dan itu membuat Deborah curiga.


"Apa kau sudah punya wanita, Alex? Kau tampak berseri-seri."


Deborah bisa melihat bola mata Alex bergerak gelisah. Wanita itu terkekeh pelan. "Jangan seperti Max, menyakiti wanita itu perbuatan yang salah. Cintai dia dengan nyawamu."


"Mom, kau salah. Aku tidak punya wanita."


"Ck, matamu mengatakan kebenaran, Alex."


Bersamaan dengan itu, Sara datang dengan senyum di wajahnya. "Namanya Claire, Mommy," ucap Sara menggoda Alex.


Benar saja, wajah Alex merah padam. Namun masih mempertahankan raut tidak peduli.


***


Kakinya melangkah cepat, entah apa yang membuat Sara bahagia, dia tidak tahu karena semua tentang hari ini patut disyukuri. Dia merasa seperti menemukan keluarga yang lengkap di rumah mertuanya. Iglesias yang terlihat acuh tapi peduli dan menerima dia apa adanya, dan Deborah yang semakin cerewet dalam memberikan metode dalam bercinta.


Pipinya bersemu merah tatkala mengingat hal-hal vulgar yang diucapkan Deborah. Mertuanya itu sangat mesum, Sara berpikir hal itu menurun pada Max. Suaminya sangat mesum, bahkan sangat sangaattt mesum.


Sara sampai di depan meja sekretaris. Dia melihat wanita seksi sedang duduk berhadapan dengan komputer. Tiba-tiba saja dia merasa moodnya ambyar.


Dia menilik cara berpakaian wanita itu. Seksi dan memperlihatkan belahan dadanya. Bibir yang dicat lipstick merah menyala, bulu mata yang disambung dan rambut yang digerai indah.


Sara kembali melihat dirinya sendiri, tidak cantik bahkan lipstick tidak menyentuh bibirnya. Pakaiannya longgar dan tidak membentuk badannya yang terbilang rata.


Meski kesal dengan itu, Sara tersenyum dan menyapa. "Halo, aku--"


"Hola, Señora. Señor sudah menunggu Anda sejak tadi." Sekretaris seksi itu memotong ucapannya.


Sara bergumam. "Dia cantik dan sopan, tapi pakaiannya sangat terbuka."


"Gracias," ucap Sara dan pergi. Dia bisa melihat garis bibir wanita itu melengkung ke bawah. "Apa maksudnya itu? Cemburu? Huh, dia suamiku," ucapnya dengan nada kesal.


Sara membuka ruangan Max yang baru kali ini dia datangi dengan kasar. Tiba-tiba saja dia sangat kesal. Tidak memedulikan Max yang sedang berbincang serius dengan lelaki yang tidak pernah dia jumpai.


Hingga akhirnya dia tersadar saat kedua pasang mata berbeda warna itu menatapnya. "P ... pa-pa?"


.


.


.


***


Sorry ya, kemarin gak up🙏.


.


Intip juga cerita tentang bang William dengan kata kunci "After Yesterday" karya Xie, available on NovelToon/MangaToon.


__ADS_1


__ADS_2