
Jangan lupa like dan komen😊😘
.
.
.
***
Sara yang pura-pura tidur itu terkejut saat Max menggendongnya. Hampir saja ia memeluk erat leher pria itu jika tidak ingat bahwa ia sedang berpura-pura.
Ini tidak boleh terjadi, seharusnya dia tidak melakukan ini. Aku bukan perempuan istimewa, aku hanya barang rongsokan yang dijual Peter demi keuntungannya. Ingat posisimu, Sara, jangan memiliki harapan yang lebih.
Tidak baik berharap terlalu tinggi karena kenyataan tak selalu seperti yang diharapkan. Bukannya tidak boleh berharap, tapi ingatlah batasannya. Itulah prinsip yang dianut Sara.
Meski dibilang pernikahannya dengan Max masih dalam hitungan jari, pria itu memperlakukannya dengan baik. Kadar kekesalan hanya terjadi beberapa saat saja. Selebihnya, ia merasa terhibur dengan keusilan Max.
Kini punggung dan kepalanya bersentuhan dengan bagian ranjang yang empuk. Syukurlah, Max tidak menjatuhkannya di tangga karena fantasi liarnya berkelana seperti dalam film aksi, membunuh istri yang tidak dicintai dengan cara yang tragis.
Benda kenyal dan hangat terasa di keningnya disertai sebuah bisikan yang membuatnya merinding.
"Kau pandai berpura-pura, Sara. Semoga Peter tidak menyesali apa yang telah diperbuatnya padamu. Kau gadis yang malang, dibuang demi keuntungan yang akan sia-sia."
Apa maksudnya? Dia sedang menghinaku? Ah, sudahlah, kalimat seperti itu sangat biasa kudengar selama ini.
"Alara meninggal demi menyelamatkan perusahaan ini, Sara. Berjanjilah kau akan membuat dia bangga dengan kepatuhanmu!"
Perkataan Peter pada malam pernikahan itu masih mengusik pikirannya. Hatinya berdenyut sakit, merasakan sesak yang tak tertahankan. Menyesali dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan wanita yang mencintainya.
"Mama, aku merindukanmu," lirihnya dalam hati. "Maafkan aku, pria ini bukan milikku. Tapi, bolehkah aku menjadi egois?"
***
Terbangun karena gemericik air di kamar mandi, perempuan itu buru-buru membuka matanya. Nyatanya, kepura-puraannya tadi membuatnya benar-benar terlelap.
"Astaga, aku tertidur. Apa yang akan dikatakan Max nanti? Payah!"
Tak ingin menghabiskan waktu untuk menggerutu, ia bangkit dan keluar kamar. Dapur menjadi tempat favoritnya sekarang. Memporak-porandanya menjadi hobi baru bagi Sara.
"Adrian! Kenapa kau tidak membangunkanku untuk membantumu?"
"Eh, maaf, Nyonya. Kau tidak perlu melakukannya, ini pekerjaan kami."
Sara berdecak, mengambil sesuatu dari hadapan Adrian dan menggulungnya seperti yang dilakukan lelaki itu.
"Aku memaksa. Max akan membunuhku nanti karena aku tidur terlalu lama."
Lelaki itu memutar bola mata malas. "Kau tidak pantas menjadi istri yang baik."
"Kau mengatakan sesuatu, Adrian?"
"Tidak ada. Cucilah wajahmu terlebih dulu. Lihat, ludah ada dimana-mana."
"Kau membohongiku."
"Lihat saja sendiri di kaca sana!"
Mengikuti instruksi Adrian, matanya terbelalak melihat banyak tanda merah di lehernya.
"Sial, lelaki tua itu pasti melihatnya. Memalukan sekali. Harusnya aku tidak masuk dapur saja tadi."
Mendengar Adrian memanggilnya, Sara berlari ke kamar lagi.
"Astaga!!" Ia terkejut melihat pemandangan unik di kamar.
Warna cerah roti sobek menggiurkan lidah liarnya, dengan titik air yang terus jatuh seolah waktu berhenti saat itu juga. Ia menelan ludah kasar.
__ADS_1
Sejak kapan dia setampan ini? Selama ini aku melihat wajah berjambangnya yang seperti Tarzan. Benar-benar pria brengseek! Dia akan menggoda wanita mana dengan wajah tengilnya itu?
Sara mengepalkan tangannya kuat ketika bisikan-bisikan bernuansa abu mengusik pikirannya. Bisikan liar untuk menyentuh area yang menggiurkan itu. Bisikan untuk mencubit dan menggambar sesuatu di sana.
Sadar bahwa dirinya terjebak oleh pesona Max, perempuan itu menjerit. Ia ingat tujuan utamanya kembali ke kamar.
"Apa yang kau lakukan dengan tubuhku, Max!?! Kau sialan! Brengseekk! Dasar iblis!"
"Apa, Sayang?"
Dengan senyum tengilnya, Max bersedekap dan mendekat ke arahnya. Mengikis jarak di antara mereka, Sara mundur perlahan dengan mata menajam dan berusaha keluar dari area berbahaya itu.
"Yang mana? Aku tidak ingat telah melakukan sesuatu."
Sialan, sepertinya dia menjebakku.
Sara menghirup udara sebanyak-banyaknya, menghadapi Max tidak butuh otak. Hanya butuh udara. Jika menggunakan otak, maka kau akan kesurupan dan lebih parah adalah kejiwaanmu terganggu.
"Kenapa diam?" Seringai iblis itu muncul lagi.
"Max?! Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!"
Merontapun tak ada gunanya. Pria itu sudah mendekapnya erat dengan mulut yang berkeliaran dimana-mana. Mencium area favoritnya dan menandainya dengan tanda yang sama seperti tadi.
"Kau baru menyadarinya? Ah, sayang sekali, Padahal saat kita melakukannya tadi kau sungguh ingin. Meminta sampai aku kelelahan," bisik Max di telinganya.
Keterlaluan. Sara tidak tahan lagi. Ia mendorong Max sekuat tenaga. Persetan dengan fantasi liar yang sangat ingin menyentuh perut abs. Kekesalannya memuncak, membanjiri keningnya dengan keringat dingin.
"Kau mengambil kesempatan saat aku tidak menyadarinya, sialan."
"Ingin melakukannya lagi? Sekarang kau sudah sadar sepenuhnya."
Masih berusaha menggoda Sara yang sudah memerah, Max mengambil tangannya untuk menyentuh bagian yang unik itu.
"Aku suka saat kau melenguh tadi. Aku merindukan suara seperti itu lagi. Ingin mencobanya?"
"Kau?!"
Tangannya menunjuk wajah yang kembali mulus tanpa jambang itu, membalas tajam tatapan jahil Max.
"Hm?"
"Kau benar-benar brengsekk! Kau iblis berwujud manusia."
Lagi-lagi. Senyuman tengil itu melebar, menghiasi wajah tampan tanpa cela.
"Kau menyukainya, Sayang. Aku paham bahwa kau masih sangat malu. Ayolah, tidak perlu seperti itu, tubuhmu juga menginginkannya."
Kembali lagi ia memerangkap tubuh Sara dalam lengan kekarnya, mendorongnya untuk menempel pada dinding di belakangnya.
"Kita sudah menikah dan semua yang kita lakukan tidak salah. Saling membutuhkan satu sama lain bukan sebuah dosa, bukan?"
Menggeleng takut, Sara berusaha melepaskan diri.
"It-itu tidak akan terjadi. Tidak ada cinta di antara kita."
"Tapi ...." Ia menjeda kalimatnya. "Aku bisa melakukan ini, Sara."
Max membungkam bibirnya, mencecap seluruh isi mulutnya dengan rakus.
Sekali lagi, Sara memberontak, tapi tangan Max menahan pergelangannya dan memerangkapnya di atas kepala. Ciuman itu terasa sangat memaksa, tidak seperti yang pernah dilakukan pria itu sebelumnya.
Semakin kuat ia memberontak, maka semakin kuat pula Max mencengkram tangannya. Bibir Max terus melumatt dengan rakus, sesekali menggigit kasar namun tak mengeluarkan darah.
Tangan Max yang satunya menahan agar ciuman itu tidak terlepas, menekan tengkuk Sara supaya ia bisa mengecap dalam rasa lidah Sara.
Ketika ia merasa tubuh sang istri melemah tak lagi memberontak dan napasnya tersengal-sengal, ciuman itu diakhiri.
__ADS_1
Senyum puas tercetak di bibir iblisnya membuat Sara mendelik sebal. Pria sialan itu hampir membunuhnya, menghalangi oksigen masuk ke paru-parunya.
"Benar-benar iblis. Sepertinya kau jelmaan Calypso versi pria."
Max terkekeh, ia mengusap bibir Sara yang berantakan karenanya.
"Jangan marah, banyak keriput di wajahmu."
"Apa?!"
Terkejut, Sara mendorong tubuh Max sampai pria itu terjungkal. Ia buru-buru menghadap cermin dan mencari bagian wajah yang dikatakan Max.
"Tidak ada," gumamnya.
Ia menggeram ketika tersadar.
"Sial, kau membodohiku, Max. Aku akan membalasmu dengan keji!"
Max tertawa di dalam walk-in closet. Ia memanggil Sara mendekat.
"Aku tidak akan terpengaruh oleh bualanmu lagi, Max!"
"Cepat!"
Dengan wajah yang ditekuk, Sara mendekat. Lagi, ia terpesona oleh wajah tampan itu. Jantungnya kini berdegup tak karuan. Pikiran liarnya kembali berdatangan. Menyuruhnya untuk menyentuh rahang yang tegas dan membelai lembut bibir yang selalu menyiksanya itu.
Tidak, kau sudah gila, Sara. Ingat kedudukanmu. Sara gila, gila, gila!!!
Ia menggeleng kuat, menghapus bayangan gila di otaknya.
"Sayang?"
"Y-ya?"
"Kancing kemejaku!"
Sangat manja. Childish!
Meski hatinya sangat dongkol, Sara menurut. Ia melakukannya dengan tergesa-gesa agar bisa terbebas dari aura mencekam di sana.
"Terima kasih, Istriku!" Max mencium pipinya. "Ini hukumanku."
Perasaan aneh menyelimuti rongga dada Sara. Tidak disangka, ia mendapat ucapan istimewa dari pria menyebalkan di hadapannya. Rasanya menggelitik sehingga permukaan kulitnya memerah.
Menyangkal untuk terpesona, Sara memalingkan wajahnya.
"Ingat hukumanmu, Sayang," bisik Max pelan.
Tanpa aba-aba, Max menarik pinggang Sara menempel padanya. Manik keduanya kembali beradu.
Netra biru itu menatap datar penuh arti sementara manik cokelat itu menutupi kegugupannya dengan mengerjap berkali-kali.
Untuk beberapa lama, keduanya terdiam. Saling mengutarakan rasa lewat sentuhan jemari hingga bisikan nakal terdengar di telinga Sara.
"Apa kau akan terus menempel padaku seperti ini? Aku tahu kau sangat mendambakan tubuhku, tapi untuk saat ini biarkan aku keluar. Kita akan bermain setelah aku pulang."
Sara melotot horor, ia mendorong dada Max. "Jelmaan iblis!"
.
.
.
***
Love,
__ADS_1
Xie Lu♡