SOLEDAD

SOLEDAD
Alasan


__ADS_3

Vote ya😘


.


.


.


***


Dua orang pria berpakaian serba hitam duduk santai di tepi pantai yang tidak terlalu ramai. Kacamata hitam juga bertengger di hidung mancung mereka.


Pemilik manik biru itu menghembuskan asap putih dari mulutnya ketika selesai menghisap benda bernikotin di tangannya.


"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya, SeƱor?"


Max menatap lautan luas itu. Semilir angin sore membuatnya tenang. Dengan deburan ombak yang menjadi musik di telinganya.


"Stephen tidak membunuhku, itu artinya dia tidak mengincar nyawaku. Sepertinya ada sesuatu yang dia sembunyikan dan mungkin itu berkaitan dengan peristiwa waktu itu."


"Kau tidak akan melakukan hal yang berbahaya 'kan? Thompson tidak mudah dihadapi," ucap Alex khawatir.


Max terkekeh, dia kembali menghisap rokok itu. "Mungkin dia sedang menyiapkan kejutan istimewa untuk menyambutku. Aku akan menunggu sambil berbulan madu dengan istriku di sini," jelas Max sambil tersenyum.


Pria bermanik abu itu menatap Max dengan intens. Kemudian terkekeh pelan. "Kau mengatakannya dengan baik, SeƱor. Apa aku perlu menyiapkan sesuatu?"


"Tidak, kau tidak perlu menggangguku dalam hal ini. Kau hanya perlu mencari tahu motif Stephen menculik istriku. Aku tidak akan pergi sebelum mengetahui sesuatu dari peristiwa ini, juga motif penculikan waktu itu."


"Baik, SeƱor." Alex mengangguk mengerti. "Dan ada teman SeƱora yang menelpon ke mansion untuk menanyakan kebersediaannya untuk ikut traveling bersama mereka. Bagaimana menurutmu, SeƱor?"


Max terdiam. Kembali teringat dengan janjinya, pria bermanik biru itu menggeleng lemah.


"Banyak yang terjadi belakangan, aku pikir dia memang butuh liburan. Tapi sekarang kita masih terjebak di sini, aku akan mengambil waktu lain untuk bersenang-senang bersamanya."


Ketika Alex hendak membuka mulutnya, seringai mengejek di bibir Max mengurungkan niatnya.


"Apa kau dan gadis itu berhubungan lebih lanjut? Kau terlihat sangat antusias ingin menelpon," goda Max.


Alex memalingkan wajahnya, dia terlihat gugup. "Kau mengatakan sesuatu yang mustahil, SeƱor. Tidak ada hubungan pria wanita, aku tidak menyukainya."


"Kau tidak menyukainya tapi kau sangat gugup sekarang. Ya, aku mengerti. Kebohongan adalah kejujuran yang tertunda. Aku akan menunggu kabar baik, dan sebaiknya kalian segera menikah," ucap Max yakin.


Pria di sampingnya itu memasang tampang datar. Dia tidak ingin diganggu dengan kekonyolan yang dikatakan Max.


"Aku memang akan menikah, SeƱor, tapi belum sekarang."


"Lalu kapan?"


"Saat kau sudah punya anak."


Max tertawa mengejek, dia baru saja menanam benih tadi pagi dan belum tentu berhasil.


"Apa yang kau lakukan kalau dalam waktu dekat ini aku punya anak?"

__ADS_1


"Aku akan mencari kekasih."


"Ck, kau memang suka lari dari kejaran pertanyaan ini. Tunggu saja kalau aku mendapatkanmu sedang berhubungan dengannya."


Alex memutar bola mata malas, bukan karena takut pada ancaman Max, tapi lebih malas karena pria itu mengurusi masalah pribadinya.


"Itu mustahil," tegas Alex.


Max terkekeh. Dia mengeluarkan selembar foto dan memperlihatkannya pada Alex.


"Apa saja yang dia lakukan padamu?"


"Menyuruhku turun dari helikopter dan menghentikan pencarian. Dia juga yang menghentikan anak buah Elijah yang berbondong-bondong mencarimu, SeƱor."


"Ternyata dia sudah punya kuasa di sini," gumam Max bagai angin lalu. "Apa dia mengatakan sesuatu yang lain?"


Alex tampak ragu. Namun tak urung dia berucap setelah melarikan pandangannya ke arah lain. "Ganti rugi karena banyak darahnya yang menetes karena ulah serigala itu. Dan juga izin mendapat perlakuan khusus untuk masuk ke Madrid."


Max tertawa tidak percaya. "Dia sangat rakus. Astaga, Silver, apa dia punya banyak permintaan seperti itu saat menyelamatkan istrimu?"


Setelah menghabiskan rokoknya, Max bangkit dari bibir pantai itu. "Lakukan saja sesuai yang dimintanya. Mengenai darahnya yang keluar karena serigala itu, aku akan mengurus itu nanti."


"Baik, SeƱor."


"Cara bermain yang sangat kekanak-kanakkan," gumam Max menggeleng tidak percaya.


***


Netra cokelatnya menatap punggung yang sedang duduk manis di bibir pantai itu. Kadang bibirnya mengukir senyum, pria itu telah menjadi utuh miliknya.


Tetapi larangan Max diindahkannya. Dia berjanji dalam hati tidak akan melawan Max jika yang dikatakan pria itu untuk kebaikan. Sara tersenyum lagi. Mungkin hari ini bibirnya tidak henti melengkung ke atas.


Tiap detik yang dilaluinya di tempat itu sangat membahagiakan. Hanya dengan melihat punggung Max dari kejauhan sudah membuatnya tergoda.


Pergulatan mereka tadi pagi sangat membekas di pikiran Sara. Pipinya kembali merona mengingat kejadian itu. Max melakukannya berkali-kali hingga tubuhnya susah digerakkan.


Itulah mengapa Sara seharian di kamar dan tidak keluar sekadar untuk menghirup udara sore di pantai.


Ketika dilihatnya Max berdiri, Sara langsung menutup tirai itu agar tidak ketahuan sedang mengintip. Memalukan jika dia ketahuan dan membayangkan Max akan menggodanya habis-habisan jika jal itu terjadi.


"Astaga, aku benar-benar jatuh cinta," gumam Sara dan menepuk pipinya dengan kedua tangan.


Tidak selang beberapa lama, suara pintu terbuka mengejutkannya. Dan Max yang masuk dengan gaya pakaian casual itu membuat Sara tidak berkedip.


Sejak kapan dia datang? Bukankah tadi masih di pantai? Apa dia bertelepati?


"Mengintipku, huh?"


Max langsung mendekat kemudian memeluknya erat. Sara tersenyum hambar, ternyata ketahuan.


"Kau melihatnya?"


"Aku punya mata untuk melihat keberadaan istriku. Kenapa? Takut aku pergi?"

__ADS_1


Sara mendengus kesal, kepercayaan diri pria itu telah kembali. Dan Sara yakin tidak ada hal buruk yang dibicarakannya dengan Alex.


"Tentu saja aku takut. Kau telah meniduriku dan kau harus membayarnya dengan hidupmu."


Max terkekeh, dia mencium punggung istrinya yang terbuka. Dia memang melarang Sara untuk memakai baju yang tertutup lagi, dan akhirnya wanita itu hanya memakai gaun terbuka yang dipersiapkan khusus untuknya.


"Aku berjanji. Kau satu-satunya orang yang ada di hatiku, tidak ada lagi alasan untuk meninggalkanmu, Sayang."


"Sudah seharusnya begitu," ucap Sara lemah.


Dia merasa terganggu oleh perkataan Stephen waktu itu yang mengatakan Max memiliki alasan lain menikahinya, bukan murni sebagai pelunasan hutang semata.


Sara berbalik dan memeluk Max. Dia menempelkan kepalanya di perut suaminya.


"Aku takut kau meninggalkanku, Max. Mamaku mengingkari janjinya padaku, tapi kau tidak boleh melakukan itu padaku. Hanya kau yang sekarang peduli padaku," lirih Sara dan semakin mengeratkan pelukannya di perut sang suami.


Tak ingin menangis, Sara menutup matanya. Dia menggosok-gosok wajahnya di kaos hitam Max agar air matanya tidak keluar.


"Aku sudah berjanji di hadapan Tuhan, akan selalu ada untukmu disaat susah dan senang, disaat sakit dan sembuh, bersama untuk selamanya," ucap Max mantap di telinga Sara.


Dan itu membuat Sara mengingat kembali proses pengucapan janji suci di malam pernikahan mereka. Mungkinkah pria itu benar-benar mengucapkannya dari hati?


"Kau?!" Sara menengadah untuk melihat mata biru yang sedang menatapnya itu.


"Janjiku itu bukan sekadar bualan. Kau memahaminya, Sayang, kau milikku selamanya sejak malam itu. Apapun yang terjadi, kita terikat dalam ikatan suci pernikahan dan tidak bisa diputuskan begitu saja. Apa kau tidak merasakannya?"


Max menangkup wajah yang menatapnya tanpa kedip itu. Dia memberikan kecupan singkat di kening istrinya.


"Aku sudah mantap untuk melangkah bersamamu sejak saat itu. Meski perasaanku tidak sedalam sekarang, aku sudah melihatmu sebagai seseorang yang benar-benar akan mengubahku dan membawaku keluar dari penyesalan."


Mengerti akan maksud itu, Sara menelan ludah kasar. Dia berdehem dan memalingkan wajahnya. Dia belum siap menerima pengakuan Max.


"Aku mengerti. Kau memperlakukanku dengan baik, itu bisa menjadi buktinya. Tolong gendong," ucap Sara mengulurkan tangannya meminta digendong.


Max menuruti keinginan istrinya. "Kau harus tahu sesuatu, Sayang. Aku menikahimu bukan hanya karena hutang Peter, tapi punya alasan lain."


Sara menegang. Dia melupakan kenyataan kalau Max tidak bisa dihentikan. "Bisakah kau berhenti bicara? Aku lelah."


"Kau harus mendengarkanku, Sayang."


"Tapi aku ingin tidur."


"Tidak, aku tidak ingin kau mendengarnya dari orang lain dan menganggap aku tidak ingin menceritakannya padamu. Kau harus mendengar kenyataan dariku."


"Aku percaya padamu. Kau bisa menceritakannya lain waktu."


"Aku ingin sekarang."


.


.


.

__ADS_1


***


__ADS_2