SOLEDAD

SOLEDAD
Hancur


__ADS_3

Vote ya😘


.


.


.


***


Alana keluar dari kamar yang membuatnya pengap. Membawa langkahnya menyusuri koridor yang sama seperti waktu lalu, wanita itu pergi ke belakang mansion. Taman bunga yang luas itu adalah tujuan utamanya.


Sejauh mata memandang, bunga yang bermekaran itu masih sama. Tidak ada yang bertambah ataupun berkurang. Dan itu membuatnya berdecak kagum.


"Ck, lavender itu masih di sini," gumamnya saat melihat kuncup bunga berwarna ungu terhampar luas di satu tempat yang terpisah.


Alana mendekat dan memetik satu tangkai bunga itu. "Aku akan membuat parfum yang sangat harum dengan bunga ini," ucapnya sambil tersenyum menyeringai.


Setelah mendapatkannya, Alana kembali ke kamar. Dia meracik bunga itu dengan beberapa ramuan yang menurutnya akan menambah aroma lavender itu menjadi lebih kuat.


"Astaga, aku sangat memimpikan momen ini."


Wanita itu tertawa menggelegar bahkan seluruh kamar itu terisi oleh suara tawanya.


"Oh, Max ku sayang, kita akan berbagi malam yang panjang hari ini. Kau membuatku bergairah."


Selesai dengan kegiatannya, Alana memastikan lagi sesuatu. Dia melihat seorang gadis sedang mengikutinya tadi. Dan dia tahu, gadis bernama Dove itu pasti akan melaporkannya pada Max.


"Semoga kau menghampiriku karena mengambil bunga lavender kesukaanmu, Max."


Berdandan dengan rapi, Alana memakai lingerie tipis miliknya yang dulu dia selipkan di antara baju yang lain agar Max tidak melihat saat memeriksa kopernya waktu masih di Valencia.


"Aku pastikan kau tidak akan menolak kebersamaan kita malam ini, Serigala Liar," gumamnya menyeringai.


Benar saja, belum sampai beberapa detik setelah Alana memakai lingerie itu, ketukan di pintu membuatnya berjingkrak senang.


"Oh, kau datang terlalu cepat, Bebē," ucapnya sambil memakai jubah tidur untuk menutupi lingerie itu.


"Oke, sebentar!" teriaknya saat ketukan di pintu semakin keras dan lebih sering.


Membuka pintu dan memasang senyum yang paling manis, Alana terkejut saat yang didapatinya di luar bukan Max.


"Ada apa, Adrian?"


"Señor memintaku memanggi Anda ke ruang tamu, Señorita."


Alana tersenyum tipis. "Aku akan ke sana, Adrian."


"Saya permisi, Señorita."


Wanita itu mengangguk. "Pergilah, aku akan siap beberapa detik lagi."


Seringai di bibir wanita itu bertambah lebar. Dia tahu sekarang saatnya beraksi.


Jangan salahkan aku kalau misi ini gagal, Elijah. Kau yang mengizinkanku melakukan apapun.

__ADS_1


Menutup pintu dan kembali ke dalam, Alana mengambil botol kaca kecil dan menuangkan cairan bunga lavender itu ke dalamnya.


Setelah memastikan pekerjaannya rapi, Alana bersiap untuk pergi. Tanpa berniat mengganti lingerie yang ditutupi jubah itu, wanita itu melenggang dengan senyum manis di bibirnya.


"Selamat datang di duniaku yang sesungguhnya, Max sayang. Kita akan bertempur dengan sangat panas malam ini," ucapnya.


Sore itu sepi, tidak terlalu banyak orang yang berlalu-lalang di sekitar. Sepertinya Max sudah mengusir atau mempekerjakan mereka sesuatu sampai sangat sibuk.


Masuk ke ruang tamu itu, Alana langsung melihat Max yang sedang duduk memangku kaki di sofa dengan sebatang rokok terjepit di sela jarinya. Wanita itu tersenyum, dia tahu segalanya tentang Max. Termasuk aroma lavender yang menyembuhkan demam pria itu.


Dan kelemahan Max adalah alkohol, maka Alana tidak akan memerlukan alkohol sekarang. Karena pria itu sudah curiga, maka tidak baik menambah kecurigaan yang akan berdampak pada misinya.


"Hola, Bebē. Di mana istrimu?" sapa Alana dengan sopan dan duduk di samping Max dengan anggun namun sedikit menggoda.


"Dia di kamar," jawab Max. Dan Alana tahu, pria itu sedikit acuh padanya.


"Apa dia kelelahan? Hehehe, pengantin baru seperti kalian harus rajin berolahraga. Tubuh yang kuat akan menbuat stamina meningkat," ucap Alana terkekeh.


Max menanggapi seadanya, pikirannya masih terbagi. Dia ingin mengakhiri permainan yang membuatnya frustasi ini. Istri sahnya sedang merajuk dan Max terganggu dengan itu.


Max tahu hatinya sudah terjatuh sangat dalam pada sang istri. Hanya saja, dia ingin memastikan hubungan masa lalu tidak mengganggu hubungan suami-istri yang terjalin selama dua bulan ini.


Karena itu, dia berniat memulangkan Alana tanpa menyakiti wanita itu. Terlepas dari apapun yang telah dilakukan ataupun yang akan dilakukan Alana.


"Kau benar, aku akan rajin berolahraga dengan istriku. Tapi, aku juga tidak akan melupakanmu semudah itu," ucap Max juga berusaha mencairkan suasana.


Pria itu kembali menarik satu batang rokok dan memberikannya pada Alana. "Aku tahu kau menginginkan ini."


Wanita itu terkekeh pelan. Menerima rokok itu dengan gaya menggoda dan sengaja menyentuh Max dengan ujung dadanya, Alana melakukan sesuatu dengan benda yang disimpannya di saku jubah.


"Aku tidak pernah melupakan apapun yang pernah diingat, termasuk kesukaanmu, Lana," jawab Max seraya tersenyum.


Wanita tergelak dan Max mulai terpesona dengan wajah cantik yang dipolesi make up tipis itu.


"Kau cantik, Sayang," ucap Max sambil membelai lembut pipi Alana. Dia bahkan menarik wanita itu agar semakin dekat padanya. "Aku mencintaimu. Kau harum bahkan lebih dari aroma lavender."


Dalam dekapan Max, wanita itu tersenyum menyeringai. Hatinya bergirang akan melalui malam yang panjang yang baru dimulai sore ini.


"Berbicaralah terus, Bebē. Kau akan bergairah denganku sebentar lagi."


***


"Di mana Max? Apa dia pergi menemui wanita iblis itu?"


Sara mencari keberadaan sang suami yang tidak ada di kamar dan mendapati ranjang sedang kosong saat dia keluar dari kamar mandi. Naluri liarnya mengatakan bahwa Max sedang bersama dengan Alana.


Dengan kesal, Sara memakai piyama dan keluar mencari Max.


"Aku akan membunuhmu kalau kau bersama wanita itu, Max," geram Sara mengepalkan tangannya.


Dalam hati dia merutuki dirinya yang gampang emosi jika berkaitan dengan Max. Namun, sesaat kemudian dia mengatakan bahwa itu adalah haknya sebagai seorang istri.


"Aku istrinya dan aku berhak melarang dia meski dia mengatakan aku adalah barang yang dipermainkanya."


Seraya melangkah keluar dari kamar, Sara mencari keberadaan sang suami. Mungkin saja ada di sekitar, pikirnya.

__ADS_1


"Ini memang memalukan, tapi demi Mommy aku harus melakukannya. Dia sangat baik padaku, aku tidak boleh membuatnya menyesal telah percaya padaku."


Sara berjalan dengan perasaan campur aduk. Pikiran negatif terus membayangi tiap langkahnya dan dia berharap itu hanya perasaannya saja.


Dalam setiap detik dan tiap hembusan napasnya, ada doa yang diucapkannya pada Tuhan. "Semoga ini tidak menjadi kenyataan, Tuhan."


Dan tak lama setelah itu, mata Sara membulat sempurna. Melewati ruang tamu yang luas itu, matanya menangkap sosok yang dikenalinya sedang berada di atas wanita lain.


Prianya, lelaki miliknya, suaminya sedang bercumbu dengan wanita lain. Wanita yang dibilang hanyalah bagian dari masa lalu.


Kenapa sekarang dia melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau ucapan yang diucapkan Max adalah kebohongan? Sara sudah berusaha percaya pada Max. Tapi sekarang?


Sara tidak ingin memercayai itu, tapi kenyataan telah menyadarkannya.


Max berbohong. Pria itu tidak bisa dipercaya. Semuanya adalah kebohongan dan sudah memercayai itu. Sara bodoh telah menganggap ucapan Max adalah kebenarannya.


Nyatanya, suaminya telah berbuat sejauh itu dengan wanita lain sementara dirinya masih ada di rumah itu. Sara tidak sanggup lagi, dia ingin berlari sejauh yang dia bisa.


Namun, kakinya terasa sangat lemas, Sara tidak kuat berdiri lagi. Seakan semua makanan yang telah dimakan diserap habis oleh makhluk tak kasat mata dari perutnya.


Matanya kian memanas dan kini bahkan telah mengeluarkan air mata. Tidak, Sara tidak kuat lagi. Sara ingin menangis sekarang. Dalam hati Sara berharap tidak ada yang melihatnya yang sedang menangisi nasibnya yang sangat malang itu.


Bahkan Sara tidak ingin Dove melihat air matanya itu. Tidak, gadis manis itu tidak boleh melihat dia sedang menangis.


Sekuat-kuatnya Sara memanjat dan berlari, sekarang kekuatan itu hilang lenyap. Bahkan untuk menggerakkan kaki ke belakang, Sara sudah tidak bisa lagi.


Dia ingin berlari sejauh mungkin dari Max. Sara tidak ingin lagi berada di tempat ini. Rumah besar yang bagai neraka untuknya.


Dengan segenap kekuatan, Sara menyeret langkahnya menjauh dari sana. Dia berusaha kuat, tidak boleh menyerah. Belum sampai di tangga yang menghubung lantai atas dan lantai dasar, perempuan malang itu jatuh terkulai.


Kekuatannya hilang. Kaki yang sangat kuat itu tidak bisa lagi menopang tubuhnya yang langsing itu.


Namun, Sara tidak akan menyerah dengan mudah. Dia merangkak naik ke atas, membiarkan lututnya tergores sudut tangga yang kasar.


Tidak peduli apapun, Sara ingin sampai di kamar dan menumpahkan air matanya. Dan karena keteguhan hatinya dan kepercayaan pada kekuatan yang tinggal sedikit di kakinya itu, Sara akhirnya sampai di kamar dengan lutut yang berdarah dan mata yang berlinang air mata.


.


.


.


***


Udah ya, jan salahin bang Max mulu. Aku jadi kasihan sama dia, kan sayang tampan-tampan disumpahin, hehehe🙄


----


Visual yang terlambat😉


Langsung tau kan ya, siapa yang rayu siapa😂😂



Dove

__ADS_1



__ADS_2