
Vote ya😘
.
.
.
***
"Apa yang kau lakukan? Kenapa mematikan ponselku?"
Wanita itu tertawa manja, dia melingkarkan tangannya di pinggang Max.
"Kita sedang bersama, Bebē. Tidak baik kalau kau mengacuhkan aku."
Max menghela napas dalam, dia membiarkan Alana melakukan apapun sesukanya. Karena pada akhirnya, Max sendiri yang akan mengalah pada air mata wanita itu.
"Itu tidak sopan, kau bisa mengucapkan salam sebelum mematikan ponsel."
"Maaf, aku menyesalinya. Maukah kau memaafkanku?"
"Berjanjilah tidak akan mengulanginya lagi."
"Ya, aku janji."
Keduanya berjalan dengan Alex yang mengikuti dari belakang. Alana terus menempel dan bermanja-manja dengan Max membuat pria yang mengikuti itu merasa risih.
Terkadang Alex menghentikan langkahnya karena terlalu dekat menyusul sehingga melihat pemandangan yang menyakiti matanya. "Aku tidak tahu apa yang dipikirkan lelaki beristri itu. Bisa-bisanya dia bermesraan dengan wanita lain di sini," gumamnya kesal.
"Sayang, terima kasih untuk lukisan itu ya, aku sangat menyukainya."
"Bagus kalau kau menyukainya. Jangan sungkan untuk mengatakan apapun yang kau suka," ucap Max sambil tersenyum.
"Kau memang pria yang aku kenal, tidak berubah sama sekali." Alana terkekeh seraya berjinjit dan mencium pipi Max. "Kau tidak akan meninggalkan aku lagi seperti yang tadi 'kan?"
"Asal kau menjadi gadis yang patuh. Jangan mengatakan hal bodoh seperti itu lagi."
Alana tersenyum hambar, malu rasanya kejadian itu diungkit lagi. Dia yang berinisiatif dan berakhir menggenaskan.
"Aku sepertinya kesurupan, maafkan aku."
"Bersenang-senanglah di sini," ucap Max meninggalkan Alana berlarian di antara rerumputan yang tumbuh subur di ladang itu.
Wajah yang tadi tersenyum berubah menjadi datar. Tanpa ekspresi, dia menatap Alex.
"Kau tahu harus melakukan apa, Alex."
"Aku sedang berusaha, Señor. Hasilnya belum maksimal."
Max diam cukup lama. Dia mengingat kejadian yang baru saja terjadi. Alana, wanita itu, mengajaknya melakukan sesuatu yang haram dalam hidupnya. Sesuatu yang bagi Max adalah perbuatan najis yang dilakukan para pria dan wanita yang belum menikah.
Karena bagi dirinya, melakukan sekss adalah hal yang diperbolehkan bagi pasangan yang sudah menikah. Dia tidak ingin menodai wanita yang dicintainya itu sebelum adanya ikrar suci pernikahan. Max ingin menjaga kesucian dirinya dan pasangannya.
Bahkan dengan Sara, istrinya yang sah di dalam Tuhan, Max belum pernah melakukannya. Bukannya Max tidak ingin, hanya saja perasaannya belum sedalam itu untuk melakukan sekss.
Max tidak ingin melakukan itu karena tuntutan haknya sebagai seorang suami, dia ingin melakukannya setelah dia tahu perasaan di hati mereka masing-masing.
Keyakinan akan menguatkan hubungan ditambah dengan sekss yang membuat mereka bisa menikmati keindahan dunia.
Melihat Alana yang sedang sibuk dengan kegiatannya berselfie dan membuat konten vlog, Max menjauhkan diri dari sana.
__ADS_1
"Aku memiliki urusan penting, Alex. Lakukan tugasmu di sini!"
"Sí, Señor."
Dia kembali menelpon istrinya.
"Come on, Sayang, angkat!"
Max menekan layar ponsel dengan gemas, merasa kesal bercampur khawatir.
"Ayolah, Sara, angkat telponku." Dia berbicara dengan nada kesal.
Lama sekali Max menunggu dan tidak ada jawaban dari Sara.
"Apa saja yang dia lakukan sehingga mengabaikan aku? Apa dia kabur lagi?"
Max melotot, dia baru berpikir tentang itu sekarang.
"Shitt! Aku melupakan hal penting itu, dia pandai melarikan diri."
Dengan cepat dia menelpon sang ibu.
"Mom, kau di mana?"
"Aku di bumi."
Max meremas rambutnya frustasi. Disaat seperti ini, dia masih mendengar jawaban aneh dari ibunya. "Ayolah, Mommy, kau tahu maksudku. Aku tahu kau ada di bumi yang sama denganku."
"Kenapa kau bertanya? Aku tidak mungkin pergi ke Mars tanpa sepengetahuanmu."
"Shiit! Mommy! Ayolah, jangan bercanda!"
Max setengah frustasi, dia benar-benar dipermainkan oleh jawaban Deborah. Dia hanya ingin mengetahui keberadaan istrinya, apa yang dilakukannya dan apa kabar istrinya hari ini. Mengapa untuk menanyakan itu saja harus mendapat jawaban super aneh dari ibunya?
"Jangan bertanya hal lain, Mommy. Kau ada di mana sekarang?"
"Aku pindah rumah."
Max menahan kesal. Dia tahu tidak akan mendapat jawaban yang memuaskan lebih cepat.
"Mommy!"
"Aku pindah ke Pluto hari ini, Max. Ada istana yang bagus di sana, yang tidak bisa dihancurkan oleh bom atau granat."
Max menjauhkan ponsel dari telinganya dan mengumpat kesal.
"Apa Sara bersamamu? Mommy, biarkan aku berbicara dengan istriku."
"Sara? Kenapa kau bertanya padaku? Dia di bumi, aku tidak sedang berurusan dengan istrimu. Sudahlah, kau mengganggu pekerjaanku. Aku sedang memburu alien luar angkasa."
"Mommy, tung-- Sial!"
Deborah langsung mematikan ponselnya.
"Bebē, kau menelpon siapa?"
Alana sudah berada di belakangnya, dan itu membuat Max kembali tersenyum.
"Temanku," kilahnya.
"Siapa?"
__ADS_1
"Teman lama yang menyebalkan."
***
"Tenanglah, aku akan memberinya pelajaran. Kau tidak boleh menangis, Sara."
Sara menggeleng sambil menghapus air matanya yang tidak henti mengalir sejak tadi.
"Aku tidak menangis, Mom. Mataku kelilipan."
"Kau tidak pandai berbohong, kenapa masih melakukannya?"
Perempuan itu terpaksa menipiskan bibirnya, dia merasa geli mendengar alasan yang diberikan Deborah pada Max.
"Aku tidak berbohong, Mom. Aku hanya ...."
"Bodoh!" Deborah menarik Sara dalam pelukan, dia menepuk pelan pundak Sara untuk menenangkan menantunya. "Kau tidak perlu berusaha kuat. Kalau sakit, menangislah. Kau membutuhkan itu sekarang."
"Mom, apa aku harus menyerah tanpa mendapat hasil? Ini ... benar-benar membuatku sakit."
Sara menangis dalam pelukan Deborah, mengeluarkan semua perasaan yang menyakiti hatinya.
Jika tidak ada Deborah, Sara sudah pasti akan pergi dari mansion sejak tadi. Wanita paru baya itu mendapatinya sedang menangis di atas ranjang dan menanyakan apa yang terjadi.
Bahkan Deborah menyembunyikan posel Sara dan tidak menjawab semua panggilan dari Max.
"Menyerah dan tidak, itu tergantung keputusanmu. Aku hanya memberimu saran, apapun yang terjadi, dengarkan dulu kebenaran dari mulut Max. Pernikahan bukan sebuah mainan, Sayang. Kau sudah berjanji di hadapan Tuhan akan menghadapi kesedihan dan kebahagiaan bersama Max. Apa yang akan kau pertanggungjawabkan di hadapan-Nya kalau kau mengingkari janji suci itu?"
Sara tetap menangis sesegukan dan hanya mendengar penuturan Deborah sebagai angin malam yang berhembus sambil lalu. Dia tidak ingin mendengar saran sekarang.
Yang Sara inginkan hanyalah menangis dan menangis. Berharap hari esok lebih baik dari sekarang. Dan tidak ada air mata lagi.
"Apa kau mencintai Max?"
Sara terkejut, dia menggeleng. "Kau tahu jawabannya, Mom. Aku hanya menahan diri agar tidak menjatuhkan harga diriku di hadapannya. Lagipula, tidak akan ada yang berubah meskipun aku berteriak pada seluruh dunia kalau aku mencintainya."
Kembali Sara menunduk dalam diam, hatinya sangat hancur mengingat bahwa dirinya adalah orang ketiga dalam hubungan Max dan Alana. Perempuan yang datang sebagai penghalang dan menghalangi kebebasan Max untuk wanita yang dicintainya.
Bukan atas kehendaknya jika dia jatuh cinta pada Max, salahkan saja jarak yang pernah renggang di antara mereka. Juga salahkan Max yang selalu memperlakukannya dengan manis hingga hatinya takluk dalam pesona pria itu.
"Aku mencintainya, tapi hati dan pikirannya tidak untukku, Mom. Aku ingin sekali memeluknya dan berkata bahwa aku istri yang seharusnya dia cintai."
"Kau memang harus melakun itu, Sara. Kau istri Max, punya kendali penuh atas diri suamimu."
Sara menggeleng lemah, dia tahu dirinya tidak akan sanggup melakukan itu. Dan membayangkan wajah Max yang mengejeknya akan lebih memalukan daripada menanggung sakit hati.
"Aku tidak ingin, Mom, dia tidak akan berubah pikiran. Max memiliki pendirian yang kuat dan tidak mudah goyah. Dia pasti akan mengejekku."
"Kau pesimis, Sara. Kau tahu istilah 'Ora et labora'? Tidak ada yang mustahil, Sayang."
Sara tetap menggeleng. "Tidak, Mom. Itu memalukan, dia tidak mencintaiku. Wajahnya sangat tidak aman bagiku."
"Kau harus. Kau tidak akan tahu apa yang akan terjadi jika belum mencoba. Aku mendukungmu, kau bisa mengalahkan ular busuk itu."
Sara masih tetap menggeleng, dia tidak mau mepermalukan dirinya. "Tidak, jangan paksa aku, Mom. Ini lebih memalukan daripada menjadi istri simpanan."
.
.
.
__ADS_1
***