
Happy reading!
.
.
.
***
Tanpa memedulikan sekitarnya, Sara berlari di sepanjang koridor. Menyeka keringat dingin yang bercucuran karena ketakutan, jantungnya mulai tak karuan.
Rasa takut itu semakin besar ditambah pikirannya yang tidak pernah menuju hal baik. Kakinya yang mulai pegal karena terus berlari tidak dipedulikan lagi.
Yang Sara inginkan secepat mungkin sampai di ruangan tempat Peter berada, memastikan Papanya tidak apa-apa. Sara tidak rela jika apa yang dipikirkannya terjadi. Sara tidak ingin merasa kehilangan lagi, tidak rela sampai dia ingin menghancurkan dunia kalau itu terjadi lagi.
Dari kejauhan, dia melihat Max sedang duduk menyangga kepala di kursi tunggu ruangan darurat. Jantungnya kembali berdetak kencang kala melihat dokter dan beberapa perawat di sana sedang sibuk melakukan pertolongan pada Peter.
Kaki yang lemas itu tidak dihiraukan Sara. Dengan gemetaran, dia mendekat. Menguji nyali dengan memastikan kenyataan. Menggemakan doa yang tak henti-henti dalam hatinya.
Matanya kembali menangis melihat ruangan di mana Peter berada. Orang yang disayanginya sedang berjuang di dalam ruangan sana.
Sara hanya bisa berdoa, memasrahkan semuanya pada Tuhan. Tapi dia akan menyalahkan Tuhan jika keinginannya tidak terpenuhi. Egois memang, tapi begitulah yang dipikirkannya.
Sara hanya tidak ingin kembali ditinggalkan. Alara telah meninggalkannya, dan dia tidak mau Peter juga melakukan hal sama. Kesalahannya di masa lalu, Sara belum meminta maaf pada Peter.
"Kau harus kuat, Sayang. Tidak ada yang abadi di dunia, semua akan kembali menghadap Pencipta. Jika Tuhan menghendakinya, kita tidak bisa melawan takdir. Peter melakukan hal baik, dia menjagamu dengan baik."
Max mengangkatnya dan mendudukkan dia di kursi. Mengusap air matanya dan memeluk Sara erat. Sara hanya terisak, tak menyangka jika hal ini memang harus terjadi.
Bagai mendapat mimpi buruk, Sara memukul kepalanya memastikan bahwa itu benar-benar hanyalah mimpi. Dia ingin bangun dan Peter baik-baik saja.
"Jangan melukai dirimu, Sayang. Kau harus kuat, maka Peter juga akan bangun."
Sara menggeleng, tidak sanggup mengatakan apapun karena isakannya membuat dada sesak. Sekali lagi dia merasakan sakit yang lebih dalam. Lebih dari sakit yang tinggalkan Alara.
Dia ingin menyusul kedua orang yang disayanginya, jika Peter tidak ingin bersamanya di bumi ini. Tangisannya memilukan, membuat manik biru itu mengelus punggungnya lembut. Menyalurkan rasa aman.
Sara berkata dengan lirih, "Apa ini karma karena aku menjadi anak yang tidak berbakti? Papa akan meninggalkanku, Max ...."
"Tidak," jawab Max tegas. Menggeleng cepat dan memastikan istrinya tidak menyalahkan masa lalu. "Kau memang tidak bisa mengubah masa lalu, tapi kau bisa menentukan apa yang akan kau lakukan hari ini dan esok. Percayalah, ada hal menakjubkan yang akan menantimu. Kau ingin berubah, lakukanlah, Peter menyayagimu. Dan yakinlah, Tuhan tidak pernah mengecewakan umat-Nya."
Sara terisak, membenamkan wajahnya dalam dada lebar milik Max. Mencoba memaafkan diri sendiri yang nyatanya sangat sulit. Sara merasa penderitaan yang dialami Peter berasal dari dirinya, dan karena dialah Peter berada di ruangan ini sekarang.
Bahkan dalam tiap hembusan napas yang keluar, dia menyesal. Dan tiap detik itupun dia hanya berharap, menggumamkan doa pada Tuhan.
Setelah dirasa dada yang tadi sesak kini merasa lega, Sara mengeluarkan buku yang diambilnya dari ruang kerja Peter tadi. Bibirnya mengerucut tipis melihat benda itu kusut akibat disimpan di saku celana.
"Aku menemukan ini di ruang kerja Papa, Max."
__ADS_1
Max menerima dan hendak membuka sebelum dokter yang tadi bertugas keluar. Sara yang sangat takut dan cemas segera menghadang dokter itu. "Bagaimana Papaku? Dia sudah bangun? Apa dia baik-baik saja?"
Lelaki paruh baya itu membuka masker yang menutup mulutnya, menghela napas sebentar sebelum memberi jawaban.
"Maaf, apa Anda anaknya pasien?"
Sara mengangguk. "Ya, itu saya. Apa yang terjadi dengan Papa?"
"Anda bisa melihatnya langsung, Nyonya. Maaf sekali lagi, kami sudah berusaha tapi takdir berkata lain. Beliau sudah tiada."
Bagai tersambar petir, Sara merasakan seluruh tubuhnya lumpuh. Dia tidak berdaya mendapat kabar seperti itu. Peter meninggalkannya, pergi menemui Alara di alam yang lebih bahagia.
Dengan sisa-sisa kekuatannya, dia mencengkram kerah baju dokter di hadapannya. Menariknya keras hingga kekuatan yang bertumpu di sana hilang dan membuatnya terkulai.
"Kau ... ber ... bohong padaku .... Katakan itu hanya prank ...," ucap Sara terbata-bata.
Tungkainya lunglai, tidak bisa menahan beban tubuhnya yang hendak bangkit. Hingga kesadarannya diambil alih, Sara tidak mendapat jawaban yang membuatnya bangun.
***
Max menekan pelipisnya yang ikut berdenyut, merasakan bagaimana tertekannya sang istri mendapat kabar yang mencekam.
Dengan bibir menipis, dia melirik lelaki yang tampak menahan kesal ke arahnya. "Kau bisa saja membunuh istriku, Peter. Lihat ulahmu, kau tetap tidak bisa menunjukkan kasih sayangmu padanya."
Peter yang tidak bergerak dari ranjangnya mendengus. Memandang ke arah lain, ke mana saja asal tidak bertemu tatapan Max.
Max tersenyum tipis. Merasa lega karena Peter telah kembali menjadi orang yang keras. Lelaki paruh baya yang tega membohongi anaknya sendiri hingga Sara pingsan dan tidak sadarkan diri selama dua jam ini.
"Ya, kau harus istirahat yang cukup untuk sementara waktu. Aku punya sebuah villa di Palma, kau bisa menenangkan diri di sana."
Peter mendengus protes di tempatnya. "Huh, kau ingin aku berterima kasih padamu? Jangan naif, putriku harus kau kembalikan setelah aku sembuh. Villa-mu, aku tidak mau."
Max terkekeh pelan. Dia menatap Sara yang masih terbaring lelap, menggenggam erat jemari yang lentik itu. "Mungkin aku harus mengecewakanmu tentang Sara, dia tidak bisa kau ambil kembali. Dan kalaupun kau ingin melunasi hutangmu dengan semua propertimu yang kau miliki, tetap saja tidak bisa lunas. Karena kau kembali berhutang padaku."
Melihat reaksi Peter yang tercengang di ranjangnya, Max menyeringai tipis. "Apa maksudmu, sialan? Apa lagi yang kau lakukan padaku?"
"Tidak banyak, hanya membuat Thompson lumpuh dan tidak bisa bergerak dari tempat tidurnya."
Reaksi terkejut Peter membuat Max terkekeh keras. Dia menepuk ranjang yang bersebelahan dengan ranjang Sara. "Ayolah, kau tidak perlu berterima kasih padaku. Sainganmu sudah tidak berdaya, kau bisa liburan untuk sementara waktu."
Peter menatap Max tajam. Mata merah itu kembali seperti semula, tajam dan mengintimidasi. "Jadi, kepura-puraanku tidak ada artinya? Dan Sara pingsan kau juga ikut serta di dalamnya, Max?! Bajingann tidak tahu malu, kau sungguh licik!"
Max hanya terkekeh mendengar umpatan yang kerap kali diucapkan Peter. Keduanya bermusuhan tapi tetap menjalin kerja sama yang baik. Mata biru dan merah itu mengeluarkan aura yang mencekam, hingga mereka tidak sadar sepasang mata cokelat terbuka dan mendengar perdebatan keduanya.
Sara terkejut dan segera bangkit dari tempatnya. Dia terbelalak melihat Peter berbaring di ranjang sebelahnya. "Papa?!"
Peter sekaligus Max ikut kaget karena teriakan Sara. Keduanya sama-sama menatap horor pada wanita yang sedang berteriak dan meneteskan air mata. Sara menangis lalu turun dari ranjang dan memeluk leher Peter erat.
Dia lega, bahagia dan perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Air mata bahagia menetes begitu saja. Sara tidak melepaskan pelukannya meski yang dipeluknya berusaha melepaskan diri karena sesak napas.
__ADS_1
"Terima kasih, Tuhan. Kau menjawab doaku," ucapnya yang kembali sukses meneteskan air mata. "Papa, aku tidak sendirian lagi."
Peter yang tidak bisa meraup udara karena pelukan erat Sara melepaskan dengan paksa tangan putrinya. "Apa kau ingin membunuhku, Anak Bodoh?! Aku hampir kehabisan napas!"
Sara terkekeh, tapi tidak lupa kata maaf keluar dari bibirnya. Rasa bahagia itu membuncah, menghangatkan dadanya dan membuatnya tersenyum bodoh. Dia terus memeluk Peter, tidak peduli seberapa kesal lelaki itu menahan napas.
"Meski kau mengerjaiku dengan pura-pura mati, aku bahagia. Aku bahagia karena kau tidak meninggalkanku," ucap Sara lagi.
Dia menghapus air mata yang terus menetes di pipinya. "Jangan sakit lagi, Papa."
"Aku bisa mati kehabisan napas, Bodoh! Lepaskan aku!" Peter menarik tangan Sara, tapi tangan itu tidak bergeming dari sana.
"Jangan marah lagi, oke? Dokter bilang itu tidak baik untuk penderita penyakit jantung sepertimu."
Tidak memberikan waktu bagi Peter untuk berbicara, Sara mengutarakan isi hatinya yang selama ini dia pendam. Rasa rindu pada lelaki yang dipanggilnya Papa.
"Papa, aku minta maaf untuk semua yang sudah aku lakukan. Maaf telah membuatmu marah dan tertekan, maaf karena aku sering membantah dan mengumpatimu. Tolong berjanjilah, jangan pernah meninggalkanku. Kau harus berumur panjang."
Masih dengan posisi memeluk Peter, Sara kembali berbicara. "Aku mengambil buku yang kau simpan di antara boneka Barbie itu. Belum sempat aku baca, tapi akan ku lakukan."
Sara bisa merasakan tubuh Peter menegang. Dan pada detik itu pula, Peter mendorongnya. "Kau ...?! Kembalikan buku itu, Bodoh!"
"Tidak, itu milikku." Sara menggeleng kemudian kembali memeluk Peter dengan erat seolah tidak ada hari esok untuk mereka.
Melihat keras kepala Sara yang hampir sama dengan dirinya, Peter melirik Max yang hanya tersenyum dalam dia. Dia mengumpati Max karena tidak membantunya melepaskan pelukan Sara.
"Kau akan membiarkanku mati dicekik anak bodoh ini, Max?"
Pemilik manik biru itu hanya mengedikkan bahu acuh, tidak menanggapi dengan serius. "Aku yang mengizinkannya, Peter. Istriku menyayangimu."
Mata merah itu melotot tidak percaya, senyum mengejek terukir di bibirnya. "Jangan mempermainkanku dengan kalimat licikmu itu, Max. Dan kau, Bodoh, lepaskan pelukanmu!"
Sara menggeleng, terus memeluk Peter seperti saat dirinya masih kecil, dimanja dan dipeluk sang Papa dengan hangat. "Jangan sakit lagi. Aku meminjam buku itu sebentar, sebelum akhir pekan akan ku kembalikan padamu."
"Tidak, kau tidak boleh mengambilnya! Itu barang milikku, Sara!"
"Itu milikku juga. Banyak namaku yang tertulis di sana."
Peter menggeram kesal. "Max, bawa si Bodoh Gila ini keluar! Aku bisa saja mati sebelum menikmati kekayaanmu di Palma!"
Max menyeringai tipis. "Jadi, kau sudah mempertimbangkannya?"
.
.
.
***
__ADS_1