
Happy reading!
.
.
.
***
"Meski seribu mulut mengatakan kau buruk, kau tetaplah yang terbaik di mata yang mencintaimu." KP.
.
Tidak ada yang lebih sakit dari yang dirasakannya saat ini. Sara meremas kuat selimut yang membentang di atas perutnya ketika rasa sakit kontraksi itu menghampiri.
Sara memilih untuk melahirkan normal. Dokter menyarankan untuk melakukan operasi mengingat dirinya yang lemah dan seringkali masuk rumah sakit.
"Max ...," lirihnya ketika kesakitan menyerang.
Sara menggeram, mengadu giginya dan meneteskan air mata. Dia berusaha mengejan seperti yang diperintah dokter padanya.
Kesakitan bertambah berkali-kali lipat, Sara menatap nanar langit ruangan itu.
"Nyonya, apakah Anda yakin masih ingin melanjutkannya?" tanya dokter yang bertugas.
Sara mengangguk, karena suaranya tercekat di tenggorokan. Dia ingin melahirkan secara normal. Sara ingin merasakan bagaimana menjadi ibu yang sebenarnya, seperti Alara yang berjuang untuknya.
Suara pintu yang dibuka paksa membuat Sara menoleh. Senyum di bibirnya terbit melihat sang suami menghampiri dengan wajah datar.
"Max ...," ucap Sara lemah.
Sara seolah mendapatkan kekuatan saat Max menyentuh tangannya, ditambah dengan kecupan di kening yang membuat Sara meneteskan air mata.
"Semua akan baik-baik saja, Sayang," bisik Max ditelinganya.
Max duduk dan menggenggam tangannya, membisikkan kata cinta yang menghangatkan dada. Sara mendapatkan semangat yang besar, dia kembali mengejan saat ada aba-aba dari sang dokter.
Max ikut meringis takut melihat wajah istrinya yang sangat kesakitan. "Kau nyawaku, Sara, kau cintaku, kau jantungku. Berjuanglah demi cinta kita," ucapnya dan mengecup kening istrinya. Ibu jarinya menghapus air mata yang jatuh dari sudut mata Sara.
"Kau wanita yang kuat, karena kau istriku," ucap Max lagi.
Sara kembali menggeram. Gemeletuk giginya terdengar, dia mencengkram erat lengan Max bahkan menjambak rambut lelaki itu karena rasa sakit yang luar biasa.
Sakit yang tidak tertahankan, Sara merasakan kepalanya seperti hendak pecah dan bahkan telinganya berdengung, juga tubuh bagian bawahnya mengalami hal yang sama. Dia makin mengeratkan jambakan di rambut Max, dan bahkan kukunya menancap di kulit kepala sang suami.
"Max!!!!" teriaknya bersamaan dengan suara tangisan yang menggema indah, memekakkan telinga dengan nada yang merdu.
Tangisan seorang bayi yang detik itu merasakan dan menghirup udara untuk yang pertama kalinya.
Bibir Sara tersenyum, dia langsung melupakan rasa sakit yang bahkan hampir membunuhnya tadi ketika suara tangisan itu sampai di pendengarannya.
"Terima kasih, Tuhan," gumamnya perlahan.
Jambakan di rambut Max dilepaskannya dan kepala Max akhirnya terangkat untuk memerhatikan wajah bahagia sang istri.
"Terima kasih, Sayang," ucap Max dan mengecup bibir istrinya dengan sayang. "Terima kasih, Tuhan. Aku mencintai wanita ini." Detik itu juga air mata Max menetes dengan senyum bahagia terukir di bibirnya yang tipis.
"Su bebé, Señor, Señora. (Bayi Anda laki-laki, Tuan, Nyonya)," ucap seorang dokter yang bername tag Victoria, menginterupsi interaksi lovey-dovey sepasang suami istri yang sudah sah menjadi orang tua itu.
Max dan Sara tersenyum bahagia. Dokter Victoria menidurkan bayi laki-laki itu di dada Sara demi beradaptasi dan bisa mencari nutrisinya sendiri.
Dan benar saja, kepala kecil yang masih rentan itu bergerak-gerak, membuat Sara merasa geli untuk pertama kalinya. Air mata bahagia Max kembali menetes, dia menyentuh bayi mungil itu dan merasakan dadanya menghangat.
Beginikah rasanya menyentuh bayi sendiri? Begitu banyak pertanyaan yang terlintas di benaknya, yang hanya bisa dijawab langsung dengan menyentuh kulit lembut yang masih terlihat keriput itu.
"Dia sangat kecil," ucap Max dengan suara parau. Bahkan dia hampir tidak bisa bersuara lagi karena saking bahagianya.
__ADS_1
"Siapa namanya, Señor?" tanya Dokter Victoria.
"Zion Nathanael," sahut Max cepat. Dia memang mempersiapkan nama bayi laki-laki sebelumnya. Insting memberinya kepastian, dan ternyata benar bayinya laki-laki.
Zion yang berarti pemimpin karena Max berharap putranya menjadi pemimpin seperti dirinya, dan Nathanael yang artinya karunia Tuhan, juga bertepatan pada hari Natal.
"Nama yang bagus," ucap sang dokter.
Sara menatap Max yang juga menatapnya. "Kau tidak pernah berdiskusi padaku tentang mencari nama," ucapnya sedikit mengerucutkan bibir.
"Maaf, Sayang. Aku hanya ingin kejutan."
Sara tersenyum. Dia ikut mengusap kepala bayi kecil yang tengkurap di dadanya.
"Kau akan menjadi penyembuh dalam hidup Mum dan Dad, Zion," ucap Sara.
***
Benar-benar keajaiban, Sara terus menatap bayi kecil yang berada di pangkuannya. Bibir mungilnya terus menyedot nutrisi dengan rakus, membuat Deborah yang duduk di hadapan Sara menyentuh pipinya.
"Benar-benar karunia Tuhan, Sara," ucap Deborah.
Sara tersenyum. Sudah sebulan mereka di rumah dan selama itu pula Deborah tidak ingin lepas dari cucu pertamanya.
"Astaga, biarkan aku menggendongnya lagi."
Deborah menggapai bayi kecil itu, menggendongnya dengan penuh semangat, membuat Sara tergelak kencang tatkala Zion pipis di baju Deborah.
"Hahahaha ... ini keajaiban, Sara," sahut Deborah yang hanya tersenyum menanggapi.
Wanita paruh baya itu selalu mengatakan hal yang sama berulang kali.
"Biar aku sendiri yang menggantinya." Deborah langsung menahan Sara yang hendak mengganti celana bayi kecilnya.
Sara mengedikkan bahu acuh. Dia selalu kalah dari Deborah jika berebutan untuk menggendong Zion.
"Juga untukku," ujar seseorang lagi. Peter tersenyum menatap bayi yang digendong Deborah.
Dan bantahan dari seseorang membuat seringai di bibir Sara bertambah lebar.
"Hei, Kalian!! Istriku bukan mesin pencetak anak! Dad, kau bisa buat bayi lagi, jadikan Anne seorang kakak. Dan kau, Peter, carilah istri untuk menemani masa tuamu!"
"Bajiingan!" teriak Peter dan Iglesias bersamaan. Yang hanya dibalas tatapan mengejek oleh Max, dia mendekati istrinya.
"Jangan dengarkan mereka, Sayang. Mereka iblis yang menjelma menjadi papamu dan papa mertuamu," ucap Max dan melesakkan kepalanya di ceruk leher sang istri.
"Oh iya, jangan membawa anak sulungku lagi ke rumahmu, Peter!"
Peter menatap horor pada Max. Kladius dijadikan Max anak sulung, dan anak remaja itu sering berkunjung ke rumah Peter.
"Kau bisa mengikatnya agar tidak bisa pergi ke mana pun, bajiingan," saran Peter dengan nada sinis.
Suara tawa Kladius terdengar. Dia ikut bergabung dengan sebuah tablet di tangannya dan earphone terpasang rapi di kedua telinga. Dia duduk di antara Peter dan Iglesias.
"Aku tidak akan menjadi anak mereka, Dad. Mereka tidak cukup kaya," ucap Kladius membuat Max menyeringai.
Deborah tertawa. "Anakmu materialistis, Sara."
"Dia memang anakku dan Max, kakak dari Zion," jelas Sara sambil terkekeh, dia mengedipkan sebelah matanya pada Kladius.
"Tapi aku bisa mengubah marga menjadi O'connor kalau kau memberiku sebuah kapal pesiar, Kakek."
"Apa?!" Peter melotot horor, bahkan memukul kepala Kladius. "Kekayaanku akan ku bawa sampai mati."
Semuanya tertawa, tahu bahwa Peter tidak akan rela kekayaannya dibagi-bagi. Bahkan Sara memegang perutnya yang keram karena terlalu banyak tertawa.
SELESAI ....
__ADS_1
.
.
.
***
Terima kasih sudah menemani perjalanan kisah Max dan Sara. Ada tawa dan tangis yang mengiringi setiap pertemuan, juga kesal dan marah pada tingkah laku mereka, bahkan greget pada Author yang lama updatenya. Xie minta maaf, updatenya disesuaikan dengan kondisi Xie.
Xie mengucapkan terima kasih yang tak terhingga, kalianlah alasan mengapa Xie berhasil membuat tulisan ini memiliki ikon END.
Xie juga minta maaf karena Xie tidak bisa membuat novel dengan banyak chapter, Xie takut bakal kayak sinetron yang tidak ada habis-habisnya dan alurnya mutar-mutar, kan bikiin puyeng🙄.
Komentar luar biasa dari kalian menjadi penyemangat, menerbitkan tawa yang juga menjadi pena untuk tulisan ini. Terima kasih, kalian luar biasa!
Xie tahu kalian tidak rela melihat Sara yang sulit hamil, tapi Xie usahakan tidak mengecewakan pembaca. Tapi satu hal yang ingin Xie sarankan, jika mengalami hal yang sama seperti yang dialami Sara, segera melakukan check-up rutin. Karena kenyataan di dunia nyata tidak seindah kenyataan di dunia novel.
Te amo, Amigos♡.
Jangan lupakan komentar terbaik kalian untuk karya Xie selanjutnya ya!😊 Berikan juga kesan terbaik kalian selama membaca kisah Max dan Sara!♡
.
.
Nama asli cast Soledad :
Maxwell Del Montaña - Fabián Castro
Sara O'connor - Mon Rovi
Alexander - Jorge Del Rio Romero
Claire - Gabriela Di Zio
Gerald - Dani Garcia
Dove - Julia Chluba
Stephen Cabrera - Stephen James Hendry
Alana atau Atlanta - Júlia Ferré
Bagi yang merasa tidak puas dengan visual yang Xie pasangin, kalian bebas berimajinasi siapa Sara dan dengan Max yang mana dia dipasangin.
Sara tidak cantik? Menurut Xie, tidak hanya wanita cantik yang mendambakan kisah cinta romantis dan seindah novel, juga tidak selamanya pria tampan bisa bersama wanita cantik.
"Karena semua orang memiliki perspekstif yang berbeda dalam menilai. Tidak cantik bukan berarti jelek, dan jelek bukan berarti tidak cantik."
-Xie Lu♡
Intip juga cerita tentang bang William dengan kata kunci "After Yesterday", available now on MangaToon/NovelToon.
Salam hangat,
Xie Lu.
.
.
.
***
__ADS_1