SOLEDAD

SOLEDAD
Aib


__ADS_3

Jangan lupa like, komen dan rate ya😊😘


.


.


.


***


Sudah beberapa hari sejak kejadian itu, Sara masih terus mendiami Max. Berbicara seadanya dan jarang meladeni perkataan konyol pria itu.


Itu merupakan salah satu aksi protesnya. Kenapa pria itu terus saja memanggilnya Alana setiap mabuk. Padahal dirinya yang menemaninya setiap hari. Bahkan hal-hal mesum yang dilakukan pria itu padanya dibiarkannya.


"Pria sialan, aku bisa saja kabur dari sini jika tidak mengingat siapa diriku. Peter brengsekk! Aku tidak akan memaafkanmu, lelaki tua!"


Menggerutu seraya menggosok tubuhnya dengan sabun, berusaha membersihkan bekas ciuman Max yang masih membekas.


"Kau memanggil nama kekasihmu tapi mencium tubuhku. Benar-benar pria sialan!"


Ia terus mengomel sampai selesai. Belum sempat ia memakai bajunya, terdengar suara Max dari luar.


"Menyebalkan!"


"Sayang? Dimana dasiku yang berwarna maroon?"


Mata Sara berotasi sempurna, ia sangat membenci situasi seperti ini. Saat dimana Max mencoba mengajaknya berbicara dengan cara menanyakan hal-hal kecil seperti itu.


Jelas-jelas semua perlengkapannya ada di dalam laci yang sama. Jam tangan dan dasi berada di tempat itu yang hanya dipisahkan oleh beberapa ruas..


"Sayang? Keluarlah, aku tahu kau bersembunyi lagi dariku."


Sara menghentakkan kakinya di lantai, buru-buru memakai pakaiannya dan menemui sang suami yang sangat manja di pagi hari.


"Apa?" tanyanya dengan nada dingin tanpa menatap manik biru itu.


"Kenapa kau sangat dingin? Aku merindukanmu yang hangat dan penuh gairah, Sayang."


Tangan Max yang hendak merangkulnya ditepis kasar. Ia tidak peduli lagi tentang perusahaan Peter sekarang. Yang ia tahu, dirinya sangat kesal terhadap perbuatan Max.


Bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa setelah terbangun. Lihatlah, senyum iblis di bibir Max kembali mengembang.


"Sayang?"


Tanpa memedulikannya, Sara membuka laci tempat dasi berada. Mencari benda yang disebutkan Max tadi. Berdasarkan warna? Tidak ada. Ukuran? Apalagi!


Mengotak-atik laci itu sampai benda di dalamnya berantakan tapi benda sekecil itu tidak ditemukan.


Sial, dimana barang itu? Setahuku, aku mencucinya dan .... Oh sial, aku lupa.


Menyerah, Sara berbalik dan mendapati tubuh Max tepat di depannya. Kemeja berwarna yang belum dikancing sempurna memerlihatkan otot liat di perutnya.


Matanya terbelalak. Tangannya yang tidak sengaja terayun menyentuh dada pria itu. Bulu-bulu di dada Max membuat tangannya geli. Secepat kilat, ia menariknya.


Tapi sayang, tangan Max tak kalah cepatnya. Ia menyambar tangan itu dan menarik tubuh langsing Sara ke dalam dekapannya.


Sara yang masih sangat kesal itu meronta, memukul-mukul punggung Max yang memerangkapnya sangat erat.


"Kenapa kau mendiamiku beberapa hari ini? Apa salahku, Sayang?"


Gejolak amarah di kepalanya memecah seketika. Semudah itu Max menanyakan apa salahnya? Tidakkah ia mengingat apa yang dilakukannya malam itu?


"Sayang? Kenapa diam? Ayolah, aku tidak mengingat apapun malam itu."


Dengan dingin, Sara menjawab, "kau tidak bersalah. Aku yang telah menempati posisi yang salah di rumah ini, memgambil tempat yang seharusnya dimiliki orang lain."


Napas Max terdengar memburu, ia menahan amarahnya mendengar penuturan perempuan itu.


"Kau istriku, Sara."


"Ya, hanya seorang istri," jawabnya dingin. "Lepaskan, aku harus mencari dasimu."


Tangan Max bertambah erat, dengan dingin pula ia menggertak.

__ADS_1


"Jangan berpura-pura bodoh, Sara. Kau masih mengingat perkataanku, bukan? Aku tidak sebaik yang kau pikirkan. Jadi, sebelum aku menghancurkan apa yang kau miliki, menyerahlah sekarang."


Bukannya mengangguk atau gemetaran, mata cokelat perempuan itu balas menatapnya. Senyuman manis di bibirnya mengubah suasana di kamar itu menjadi mencekam.


"Aku tahu kau pria brengsekk, dan tidak menyangkal itu. Mengenal ancamanmu itu, ketahuilah, aku tidak memiliki apapun yang bisa kau hancurkan. Peter?" Sara tertawa. "Aku bahagia jika kau benar-benar menghancurkannya dan membuangku setelah itu."


Dengan geraman tertahan agar ia tidak lepas kendali dan memukul perempuan itu, Max mendekapnya lebih erat lagi sampai Sara lemas, tak kuasa meronta.


"Kau tidak akan kubuang bahkan ketika kau rusak sekalipun." Max melonggarkan pelukannya dan memegang kedua pundak Sara untuk menatap manik cokelatnya. "Aku tidak membuang uangku hanya untuk menghancurkan perusahaan kecil milik keluargamu, Sara."


Belum sempat ia membuka mulut, kembali suara Max menghentikannya.


"Berpikirlah dua kali jika kau ingin kabur, Sayang. Orang-orangku banyak di luar sana. Mereka mengenalmu dan tentu saja akan tunduk padaku dan pada perintahku."


Sara menelan ludah kasar. Pemikirannya ternyata dibaca oleh Max. Satu-satunya keinginan langsung dihapus dari kepalanya. Kabur? Hanya mimpi buruk yang terjadi semalam. Ia tidak akan memikirkannya hari ini. Tidak tahu untuk besok.


Berusaha untuk tenang, Sara melunakkan tatapannya.


"Tolong lepaskan tanganmu, aku harus mencari dasi maroon-mu."


"Tidak sebelum kau memberitahuku alasan kau mendiamiku beberapa hari ini."


Sara mendesah pasrah. Matanya memanas melihat mata sayu milik Max. Seolah pria itu menunggu jawaban pasti darinya.


Setelah dipikir-pikir, ia memang tidak pernah memberi waktu bagi Max untuk menceritakan kronologinya. Sara merasa bersalah.


Ia tak kuasa menahan air mata yang tiba-tiba meronta ingin keluar hingga cairan bening itu jatuh di pipinya.


"A-ku benci saat kau menyebutku Alana setiap kali mabuk. Aku benci diriku yang tidak bisa menolak setiap kau menciumku."


Tangannya memukul dada Max dan mengeluarkan semua perasaan emosinya.


Tidak ada reaksi dari pria itu. Ia hanya melihat Sara dengan datar. Tanpa menghindari pukulan bertubi-tubi dari istrinya. Matanya meredup, seolah kehilangan cahaya.


Ia tahu dirinya tidak akan mengetahui apapun yang dilakukannya saat mabuk dan yang lebih parahnya adalah ia membuat Sara menangis.


"Maafkan aku, Sara."


***


"Siapa?"


"Siapa lagi kalau bukan istriku. Apa yang harus kulakukan?"


Alex terdiam memikirkannya. Melihat wajah Max yang tidak bersemangat beberapa hari ini, ia sudah menduga terjadi sesuatu dengan rumah tangganya. Dugaannya kini dibenarkan, Max benar-benar memiliki masalah.


Anehnya, kenapa pria itu tampak frustasi? Bukankah ia mengatakan akan mengembalikan Sara ketika Alana ditemukan?


"Kau melakukan apa padanya, SeƱor?"


"Aku mabuk dan salah mengenalinya."


"Alana?"


Max terkejut, ia melihat Alex yang tersenyum lewat kaca depan. "Kau tahu?"


"Tentu saja, kau selalu memelukku dan menyebut nama wanita itu setiap kali kau mabuk. Dan yang lebih menjijikkannya adalah kau mencoba menciumku, SeƱor!"


Bola matanya hampir keluar. "Apa?! Kau bercanda, Alex!"


"Aku tidak menuntut kau untuk percaya. Aku yakin kau juga melakukan hal yang sama terhadap istrimu. Berhati-hatilah, SeƱor! Wanita selalu benar."


Bagai disambar petir di siang hari, kepala Max hampir pecah. Ia mengaitkan semua peristiwa yang terjadi.


Malam saat ia mabuk sendirian di ruangan rahasianya, ia terbangun dan mendapati Sara mengacuhkannya juga. Tapi, itu tidak berlangsung lama.


Dan sekarang barulah ia tahu penyebabnya. Pantas saja perempuan itu menyebut dirinya sebagai wanita yang merebut posisi orang lain, ini maksudnya.


Sial, kenapa otakku gagal paham? Bukankah itu sebuah ungkapan hati seorang istri?


Dan mencium? Sungguh memalukan, ia melakukannya juga dengan Alex? Benar-benar sesuatu.


"Katakan kau bercanda tentang itu, Alex. Aku akan menambahkan gajimu lima kali lipat."

__ADS_1


Alex terkekeh di depan kemudi. "Maaf, SeƱor. Mama pasti akan membunuhku jika melakukannya."


"Jangan mempermainkanku, Alexander!"


"Bukan sesuatu yang pantas dijadikan permainann, SeƱor. Aku mengatakan kebenaran tanpa menutup-nutupinya."


Max menggeram di tempatnya. Ingin sekali ia menonjok muka Alex yang tergelak di depan sana.


"Kau sialan! Putar balik arah!"


Pria itu mengerutkan keningnya.


"Aku ingin pulang!"


"Wow, sesuatu terjadi?"


"Bukan urusanmu! Putar mobilnya! Jika tidak, aku akan membiarkanmu di sini sendirian."


Tanpa banyak membantah, Alex melakukannya. Melihat senyum yang tercetak di bibir Max membuatnya bertanya-tanya. Gerangan apa yang membuat sang tuan terseyum setelah uring-uringan di tempat dan mengumpatnya.


"Aneh!"


"Kau mengatakan sesuatu?"


"Kau aneh, SeƱor."


"Maksudmu?"


"Setelah mengumpat dan mencaciku, kau tersenyum dan ingin pulang segera. Ada sesuatu yang mendesak?"


Max berdecih, ia memberi ancaman pada Alex lewat tatapannya.


"Singgah di toko bunga. Aku ingin ke suatu tempat terlebih dulu."


"Baik, SeƱor."


Aku sudah lama tidak mengunjungimu.


Pikirannya menerawang pada peristiwa masa lampau, saat seseorang datang meraih tangannya dan memeluk tubuhnya dengan erat.


Berhenti di depan toko bunga langganan, Alex keluar hendak membeli bunga yang sering dibeli Max.


"Tunggu, Alex. Jangan masuk ke sana. Lihatlah di seberang jalan, ada seorang wanita tua menjualnya, belilah dari sana!"


Melihat Alex yang berdecak sebal, Max menipiskan bibirnya.


"Rasakan itu! Beraninya kau mengungkapkan aibku dengan lantang. Hanya istriku yang boleh melihatnya."


Baru beberapa langkah Alex dari sana, Max kembali berteriak. "Tunggu! Berikan aku dompetmu!"


Menahan kekesalannya, Alex memberikannya tanpa curiga sedikitpun hingga Max menyodorkannya kembali setelah mengambil uang cash yang berada di sana.


"Berusahalah! Aku tahu kau pandai melakukan apa saja."


"Sialan," umpat Alex. Ia harus mencari tempat yang bisa menarik uang cash.


Max tergelak melihatnya. Ini pembalasan bagi Alex.


Aku merindukannya.


"Eh? Pikiran macam apa itu? Ah, sudahlah, aku harus ke sana secepatnya dan pulang memeluknya."


.


.


.


***


Gimanasi bang Max? Cowokpun dikira AlanašŸ˜‚. Apakabar diriku yang jomblo kalau dia sudah memelukku seperti itu?😭😭 (Tangisan para jones😣)


.

__ADS_1


Love,


Xie Luā™”


__ADS_2