SOLEDAD

SOLEDAD
Panggilan


__ADS_3

Jangan lupa like dan komen😊😘


.


.


.


***


"Kenapa kau pulang lebih awal? Biasanya orang kaya sepertimu akan pulang saat malam menjelang."


"Aku bukan mereka, Sara."


Sara menepis kepala Max saat pria itu tidur di pangkuannya. Mereka sedang bersantai di sofa ruang tamu di lantai utama.


"Max?!"


"Ayolah, Sara. Untuk beberapa menit."


"Astaga, kepalamu berat."


Max terkekeh seraya memejamkan matanya. Perasaannya kembali gundah mengingat seseorang itu. Dan mungkin satu-satunya obat yang manjur adalah usapan sang istri.


"Tolong usap kepalaku, Sayang."


Sara berdecih tapi akhirnya melakukan itu juga.


"Aku baru tahu kau sangat manja."


Hening mengambil alih hingga bunyi ponsel Sara yang menggelegar mencairkan suasana.


"Itu mengejutkanku, Sara."


Perempuan itu tertawa dan menjawab panggilan.


"Wow, kau Ed?"


Rupanya itu panggilan video sehingga Sara bisa melihat semua teman-teman sepetualangannya di sana.


"Apa kabar, Sara? Kau tidak mengabarkan kami setelah menjadi istri mafia tampan itu."


"Astaga, Claire. Jangan menyebutnya seperti itu. Dunia akan terbalik kalau dia mendengarnya."


"Aku dengar, Sayang."


Sara terkejut saat mengingat masih ada Max di sampingnya. Ia terlalu bahagia kembali berbicara dengan teman-temannya yang sudah tidak bisa dihubungi beberapa hari kemarin sehingga melupakan kepala Max yang menurutnya berat berada di pangkuannya.


"Kau bersama suamimu?"


"Ya. Kalian dimana?"


"Di puncak Alpen."


Sara melongo takjub. "Itu hebat. Kenapa kau tidak mengajakku, Ed?"


"Kau lupa kalau akan menikah? Astaga, Sara, aku bisa terbunuh oleh suamimu kalau aku membawamu kabur."


Sesaat Sara menyengir bodoh. Ia lupa bahwa beberapa hari kemarin ia dikurung oleh Peter di gudang.


"Maaf," ujarnya sambil terkekeh. "Bagaimana di sana? Menyenangkan?"


"Sangat menyenangkan tanpamu, Sara."


"Kau jahat, Ed! Dimana Alana?"


Mendengar nama itu, jantung Max seakan berhenti. Nama Alana mengingatkannya pada kekasihnya yang menghilang beberapa bulan yang lalu. Ia menajamkan telinganya untuk mendengar percakapan mereka selanjutnya.


"Sedang menyalakan api."


"Kalian membuat api unggun? Bagaimana dengan barbeque?"


"Pastinya, Sayang. Jangan khawatir, aku pasti akan mengirimimu foto kami saat berpesta nanti."


Sara memutar bola matanya malas. Teman-temannya memang sekonyol itu. Jika salah satu dari mereka tidak ikut berkelana, maka apapun yang dilakukan mereka akan memenuhi galeri ponsel untuk menggoda temannya yang tidak ikut.


"Tidak perlu. Aku bosan melihat wajahmu, Ed."


Terdengar suara kekehan dari seberang sana. Sara mendelik kesal.


"Sudahlah. Aku ingin istirahat. Nikmati perjalanan kalian dan semoga kau menjadi Olaf, Edwin."


Sara menutup panggilan itu dan langsung diburu oleh pertanyaan dari Max.


"Siapa pria itu? Kenapa dia memanggilmu sayang?"


"Ck, dia temanku, Max. Namanya Edwin. Ada apa? Kau mengenalnya?"


"Tidak! Aku tidak suka panggilannya itu. Hanya aku yang boleh memanggilmu seperti itu."


"Ayolah, Max. Kami memang selalu memanggil sayang untuk semua kaum. Dia teman pria yang baik."


"Apa?!" Max mengangkat kepalanya dari pangkuan Sara dan menatap manik perempuan itu. "Kau juga menyebutnya sayang? Astaga, Sara, berhenti memanggilnya seperti itu."


***


"Ayolah, Max, ini menggelikan. Aku tidak bisa memanggilmu seperti itu."


"Lakukan sampai bisa. Aku tidak menerima penolakan!"


Sara mendesah pasrah. Sejak siang tadi, Max menyuruhnya merubah panggilan untuk sang suami. Ia yang tidak terbiasa memanggil orang asing dengan panggilan 'sayang' bergidik geli.


"Oke, baiklah." Sara meraup udara sebanyak-banyaknya dan mencoba. "Sayang ...."


Max tersenyum tipis. "Kau bisa. Panggil aku seperti itu lagi."


"Sayang ...."


"Bagus. Istri yang baik."


Max menariknya untuk duduk lebih dekat dengan pria itu.


"Kau selalu seenaknya, Max."


"Apa?! Ulangi!"


Sara yang segera melupakan panggilan itu merinding ketika melihat seringai iblis di bibir Max.


"Maaf, Sayang."

__ADS_1


Max terkekeh kemudian mengecup pipi istrinya. Hal itu membuat Sara mendelik marah.


"Kau?! Kenapa kau menciumku?"


"Aku mencium istriku sendiri dan itu bukan dosa."


Selain menyimpan kemarahannya dalam hati, Sara tidak bisa berkata-kata lagi. Pria itu menautkan jemari mereka, mengangkat tinggi tangan yang memakai cincin pernikahan itu.


"Sara."


"Hm."


"Jangan tinggalkan aku."


Sara terdiam.


"Jangan berpikir untuk pergi dari hidupku. Apapun yang terjadi, tetaplah tuntun aku untuk melihat cahaya terang."


Sara tetap diam.


"Bila suatu saat nanti aku salah arah, pegang tanganku dan peluk aku seperti sekarang dan tarik aku ke arah yang benar."


"Apa yang kau bicarakan? Aku tidak mungkin meninggalkanmu. Kau kaya."


Max terkekeh kemudian membawa tangan Sara ke wajahnya.


"Kau bertahan karena aku kaya?"


"Ya."


Jawaban singkat itu membuat sudut hatinya berdenyut. Ada sedikit rasa tidak suka mendengarnya.


"Tapi jangan khawatir, meskipun kau sudah tidak kaya lagi nanti, aku tidak akan ke manapun karena Peter tidak menginginkanku lagi. Lagipula, kau sudah mengancamku untuk tidak boleh kabur."


"Astaga, aku pikir kau bertahan karena aku kaya."


"Itu juga salah satunya."


"Yang lainnya?"


"Aku belum memikirkannya. Tapi, mungkin karena kau hebat dalam segala hal, menemukan orang yang menghilang misalnya."


Mata birunya menatap Sara dengan datar. Tak ada kata yang diucapkannya, membiarkan manik biru itu berbahasa dengan sendirinya.


***


"Kau harus memandikanku, Sayang."


"A-apa?! Ma-mandi?"


"Hm. Kenapa? Apa kau tidak mau? Ingat, Sara, istri adalah pelayan sua---"


"Ya, ya, aku tahu. Jangan mengatakan itu lagi, otakku masih ingat."


"Bagus. Ayo!"


Max segera menarik tangannya masuk ke kamar mandi. Di sana, Sara merasa gerah. Melihat perut Max yang berotot membuat pikirannya liar. Ia memalingkan wajahnya sesaat untuk menghalau pikiran aneh itu.


"Astaga, apa yang ku pikirkan? Gila, gila," umpatnya seraya memukul-mukul kepalanya.


"Sayang, apa yang kau lakukan? Ayo ke sini! Gosok punggungku!"


"Sayang?"


Sara gelagapan. "Y-ya?"


"Apa liurmu sudah menetes? Kau membuka mulutmu sejak tadi."


Sara sontak menyeka sudut bibirnya dan saat itulah Max tertawa.


"Menyebalkan," sungutnya dan memukul punggung Max.


"Aw, sakit, Sayang. Apa kau tergoda dengan tubuhku? Ya, aku akui, aku memang tampan dan berkharisma. Tidak ada seorangpun pria yang sesempurna diriku."


Sara mendengus. Max selalu menyombongkan dirinya. Ia berpikir apa pria itu memang begitu pada orang terdekatnya. Membayangkannya saja membuat Sara geram dan meremas otot punggung Max.


"Wow, apa kau sangat menyukainya? Baiklah, aku biarkan kau menyentuhnya semalam. Tapi, jangan mengulitinya, ok? Punggung itu harus mulus tanpa cakaran, kecuali ...."


Seringai mesum pria itu membuat Sara meneguk ludah kasar. Matanya melirik Sara lewat kaca cermin di depan bathup.


"Hentikan, Max. Jangan bergerak, aku hendak menyelesaikannya."


Tanpa aba-aba, Max menarik tangannya sehingga ia terjatuh di dalam bathup tepat di pangkuan suaminya. Kedua netra itu saling bertatapan dalam diam hingga Sara tersadar dan memalingkan wajahnya.


"Max! Aku sudah mandi!"


"Kau memanggilku apa?"


"Ma-maaf, Sayang."


Max tersenyum tipis. "Istri yang baik," tuturnya dan mengecup bibir Sara.


Ketika Max hendak mengulanginya lagi, Sara langsung menutup mulutnya dengan mata yang melotot.


"Kenapa?" tanya Max dengan tawa di bibir tipisnya. Sara menggeleng.


"Aku tidak akan menciummu lagi. Lepaskan tanganmu." Sara tetap menggeleng tanpa melepaskan bekapan di mulutnya.


"Astaga, kau seperti anak kecil, Sayang," ledek Max lalu mengusap gemas rambut putih milik istrinya.


"Maaf, aku tidak akan melakukannya tanpa izinmu. Kau harus mandi lagi."


***


"Kau membelikanku baju panjang dan ketat seperti ini? Ini bukan pakaian yang indah, Max."


Sara menggerutu karena isi lemari yang diperuntukkan baginya terisi penuh oleh gaun-gaun pesta yang mewah dan berkilauan. Tidak hanya itu, sepatu yang menurutnya sangat aneh juga bertengger di sana. Ia tidak pernah memakai barang yang seperti itu.


"Itu gaun, Sayang. Kau harus memakainya untuk acara seperti ini."


" Aku tidak bisa bernapas. Astaga, belikan aku kemeja dan jeans, Max. Sungguh, aku tidak bisa memakai ini."


Sara menunjuk pada sekumpulan gaun yang bergantung di dalam sana.


"Uangku habis."


"Kau kaya, Max."


"Kau tidak merayuku."

__ADS_1


"Apa itu perlu?"


"Tentu saja."


"Ayolah, aku tidak bisa melakukannya, Max."


"Panggil aku sayang!"


Sara terdiam mengingat beberapa saat yang lalu ia memanggil Max dengan nama bukan panggilan menggelikan itu dan berakhir dengan bibirnya yang dilumat.


"Baiklah, Sayang. Aku tidak akan meminta yang aneh-aneh. Aku akan memakai ini."


Takut pada ancaman Max, ia mengakhiri perdebatan itu. Ia gugup melihat seringai mesum di bibir suaminya. Ia takut Max menciumnya lagi.


"Kenapa kau tiba-tiba menurut? Apa otakmu bermasalah?"


"Ck, aku menghargai pemberianmu, Sayang. Aku memakai baju pendek yang hitam ini."


Max tersenyum. "Kau mau ke mana?!"


"Mengganti baju!"


"Ganti di sini!"


"Tidak mau!"


Max menyeringai. Ia tahu Sara akan meminta bantuannya lagi. Tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka, dan....


"Sayang! Tolong aku!"


"Apa yang bisa kubantu?"


"Kau membelikan pakaian aneh dan sangat payah. Lihat, aku sudah bilang tidak bisa memakainya tapi kau memaksa." Sara membelakangi Max dan menyuruh pria itu menarik ritsleting gaunnya.


"Alex yang melakukannya."


"Pantas saja dia tidak tahu mana pakaian yang bagus."


"Pakai heels-mu."


"Benda apa lagi itu?"


"Sepatu yang kau katakan aneh tadi."


"Astaga, aku bisa gila. Tolong beritahu Alex untuk membelikanku sneakers saja. Aku tidak bisa memakai sepatu ini."


"Akan ku lakukan."


***


Perjalanan menuju tempat yang dikatakan Max terasa sangat jauh bagi Sara dengan dirinya yang dihimpit gaun ketat itu.


"Aku susah bernapas, Max."


Seolah sadar, tangan Sara langsung membekap mulutnya sendiri saat Max melirik ke arahnya.


"Maaf, Sayang."


"Sepertinya kau suka dengan hukuman itu, Sayang."


Max menarik tubuhnya agar mendekat dan bersandar di pundak sang suami.


"Jangan lakukan lagi."


"Kau pikir aku akan mempertontonkan adegan itu padanya?" Max menunjuk dengan dagunya ke arah depan tempat sopir berada.


Wajah Sara memanas. Ia merasa malu pada sopir itu. Tangannya langsung menutup mulut Max dan menyuruhnya diam.


Namun, bukan Max namanya jika tidak berhasil membuat istrinya kesal. Dengan senyum jenaka di bibirnya yang tertutup tangan itu, ia menjulurkan lidahnya membuat Sara kegelian.


Hendak protes dengan perilaku Max yang menyebalkan itu, tiba-tiba mobil yang ditumpangi mereka berhenti mendadak.


"Ada apa, Lewis?"


"Seseorang menghentikan mobil kita, Tuan."


"Urusi dia!"


Rahang Max langsung mengeras melihat orang yang terlibat percakapan dengan Lewis itu mengacungkan sebuah pistol.


"Ada apa ini?" lirih Sara di telinga Max.


"Bukan sesuatu yang besar."


Tak selang beberapa lama, pecahan kaca mobil bagian depan mengejutkan.


"Sara! Hei! Bangun!"


.


.


.


iklan**


.


Author : lu tau ga


Nerizen : apaan gajelas🙄


Author : lu gatau kan ngakuu😆😆


Netizen : paansih kumat😑


Author : yakan, lu gatau berarti kita jodoh karena jodoh gaada yang tau


Netizen : ya Tuhan ampuni orang yang sedang sableng ini, gue takut ikut ga waras😭😭


.


.



***


Love,

__ADS_1


Xie Lu♡


__ADS_2