SOLEDAD

SOLEDAD
Rambut


__ADS_3

Jangan lupa like, komen dan rate 🌟5 ya😊😘


.


.


.


***


Lama-lama di mansion itu, Sara merasa bosan juga. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain berkeliling dan berenang di kolam. Meski ukuran kolam itu cukup luas, tetap saja tidak sebanding dengan luasnya samudera yang pernah ia selami.


Setiap hari Max sibuk bekerja dan dirinya masih tidak diperbolehkan keluar rumah oleh sang suami. Ingin kabur dan bermain di luar, ia merasa belum waktunya.


"Biarkan dia jengah dan saat itulah aku mulai beraksi," pikirnya.


Setiap gerakan tangan dan kakinya yang menendang di dalam air, ia melepaskan segala kekesalannya.


"Awas saja kalau kalian pergi ke Himalaya tanpa memberitahuku, aku kukirim kepala kalian ke dalam mulut macan," gerutunya.


Ia sempat mendapat telepon, tidak pantas disebut telepon tapi disebut sebuah umpan dan ejekan untuknya dari Claire. Mengejeknya bahwa dirinya anak kecil yang tidak diperbolehkan keluar rumah oleh Max, tentu saja itu membuatnya tidak tahan.


"Sara!"


Teriakan yang menggema itu membuatnya memunculkan kepala ke permukaan. Dan bibirnya melengkung tipis melihat Deborah sedang melipat kedua tangannya di dada, kacamata hitam bertengger di batang hidungnya.


"Keluar sekarang!"


Perintah yang harus dipatuhi, Sara keluar. Ia menyeka air dari tubuhnya sampai kering


"Apa kau tidak kedinginan?"


"Airnya hangat, Mommy."


"Sudahlah, lupakan. Cepat ganti bajumu, ikuti aku!"


"Ke mana, Mommy?"


Deborah yang sudah melangkah terlebih dahulu itu membalikkan badannya lagi. "Aku akan mengirimmu neraka."


"Jangan bercanda, Mommy." Ia memelas dengan wajah sok imut.


"Jangan buat wajah seperti itu, menggelikan. Kau kedinginan dan aku mengirimmu ke dalam api itu sebuah perbuatan mulia. Ganti saja bajumu!"


Masih dengan pakaian renangnya, Sara mendekat dan hendak memeluk Deborah.


"Jangan mendekat apalagi menyentuhkuuu!"


"Astaga, kau membuatku tuli, Mommy!"


Menggosok-gosok telinganya yang berdengung oleh teriakan Deborah, Sara berlari masuk ke kamar dan mengganti pakaiannya.


Dengan mengikat rambut panjangnya secara asal, ia turun.


"Kita akan ke mana, Mommy?"


Pertanyaan itu membuat wanita paruh baya itu mendongak, menilai penampilan Sara yang terlihat acak-acakan.


"Apa kau baru keluar dari kuburan? Rambutmu sungguh konyol."


Sara menyengir, membantah tak ada gunanya karena penampilannya memang seperti itu. Rambutnya yang masih basah tentu saja akan terlihat seperti lidi.


"Kau tidak punya hairdryer?"


"Apa itu?"


Mendumel, Deborah tidak menggapi. "Sisir?"


"Ada di kamar. Apa Mommy membutuhkannya?"


"Astaga, Max menikahi wanita aneh. Apa kau tidak merapikan rambutmu sebelum turun ke sini?"


Sara masih terus menanyakan tentang sisir. "Mommy menanyakan sisir, tapi aku lihat rambut Mommy sangat rapi."


"Kau bisa membedakan rapi dan berantakan? Bagaimana dengan tatanan rambutmu sendiri? Termasuk dalam kategori apa?"


"Berantakan," jawabnya jujur.


"Oh, tahu diri. Ayo pergi."


"Ke mana? Eh, Mommy, Max tidak mengizinkanku keluar rumah."


Deborah tidak menghiraukan, ia terus menarik Sara dan menguncinya di dalam mobil agar tidak kabur.

__ADS_1


***


Menunggu seseorang menjawab panggilan di seberang sana membuat Max kesal. Hampir saja ia membuang ponselnya ketika ada sahutan dari seberang.


"Hola, SeƱor."


"Kemana saja kau?" teriaknya marah. "Berikan berita baik untukku!"


"Maaf, SeƱor. Beberapa bandit yang berusaha mendapatkan berita terbaru tentang keberadaannya menghilang tanpa jejak."


Max mengepalkan tangannya. "Kirim lebih banyak lagi. Jangan biarkan aku menunggu lebih lama!"


"Sƭ, SeƱor."


"Jangan mengulangi cara yang lama. Kerahkan semua orangmu dan menyamarlahlah di sana! Berikan informasinya lebih cepat, kau harus menyelesaikannya dalam seminggu!"


"Se-seminggu?" Suara orang itu terdengar kaget.


"Itu waktu yang panjang untukmu, Demetrius. Atau aku menarik semua yang pernah kuberikan?"


"Ti-tidak ... jangan, SeƱor. Aku akan berusaha."


"Jangan berusaha, ini perintah dan harus kau laksanakan!"


"Baik, SeƱor."


Tangannya mengepal erat, kemarahannya tak terkendali. Max memukul meja kerjanya sampai buku-buku jarinya berdarah.


"SeƱor ...." Alex menegurnya panik.


"Cari brengsekk itu, Alex. Jangan biarkan dia menghabiskan waktu terindahnya di bumi ini. Dia harusnya tahu sedang berurusan dengan siapa."


Alex mengangguk, dia mengambil obat untuk mengobati luka Max.


"Tidak perlu."


"Lukamu harus diobati, SeƱor."


"Alexander!"


Meneguk ludahnya kasar, Alex menyerah membujuk pria keras kepala itu. Ia keluar ruangan membiarkan Max meredakan amarahnya.


"Alex!"


"Panggilkan si tua Peter itu kemari!"


Pria itu mengangguk, dan Max menghela napasnya.


Kabar bahwa seorang pengedarnya di Valencia membawa kabur sejumlah barang miliknya, Max marah. Bukan tentang barang yang hilang tapi mengenai kepercayaan.


Gerald, pria muda yang dipercayainya untuk mengedarkan barang-barangnya di sana. Pria yang ditemuinya dalam keadaan sekarat karena dipukuli sekumpulan bandit.


Keadaan di ambang kematian yang dihidupkan olehnya menjadi alasan kuat baginya untuk menjadikan Gerald orang kepercayaan.


Namun, pria itu mengusik kepercayaannya. Dan orang yang mengkhianatinya harus mati.


"Tuan Peter dalam perjalanan kemari, SeƱor."


"Berikan aku sebotol anggur."


"SeƱor ...." Alex mengingatkan. Keadaan akan memburuk jika ia membiarkan Max minum anggur.


"Berikan aku sedikit saja."


"Kau akan mabuk, SeƱor, dan semuanya tidak akan terkendali."


Max menipiskan bibirnya mengejek. "Kau takut aku salah mengenali Sara? Tenang saja, Alex, dia bukan orang penting dalam hidupku. Kau tahu alasan aku menikahinya."


Alex menegang di tempatnya. "Maaf, SeƱor. Aku akan menunggu Tuan Peter di bawah."


"Berikan aku anggur!"


"Bagaimana dengan chamomile, SeƱor?"


"Tidak, aku menginginkan anggur sekarang. Berikan itu, Alex!"


Alex keluar dari ruangan itu, enggan berpaling. "Maaf, SeƱor," ucapnya tepat saat ia membuka pintu.


"Sialan! Kau keparatt! Keras kepala!" Max menggeram kesal. "Akan kuturunkan gajimu!"


Meski sangat ingin meminum anggur atau alkohol yang bisa mengalihkan pikirannya dari Alana, Max masih berpikir bahwa belum saatnya ia memberitahu Sara fakta tentang hubungannya dengan Alana.


Ia mengingat apa yang dikatakan Alex bahwa dirinya memeluk orang sembarangan disaat mabuk. Ia tidak ingin Peter mengetahui sisi dirinya yang itu dan menggunakannya sebagai kelemahan untuk menjatuhkannya kemudian hari.

__ADS_1


"Sial, sekarang aku lapar."


Tak memedulikan perutnya yang lapar, Max kembali memeriksa sesuatu yang menurutnya sedikit aneh belakangan ini.


"Kau akan membayar untuk ini, pria tua."


Ponselnya yang bergetar menandakan ada pesan yang masuk. Ia mengecek layar pipih itu dan ternyata sang ibu mengiriminya sebuah pesan multimedia.


Penasaran dengan gambar yang dikirimkan ibunya, Max berniat membukanya tapi ketukan dari pintu mengalihkan perhatiannya.


"Ada apa?" tanyanya pada Alex yang membuka pintu tersebut.


"Tuan Peter telah tiba, SeƱor."


"Suruh dia masuk!"


Alex mempersilahkan lelaki paruh baya itu masuk. Wajahnya tampak tak bersahabat, aura permusuhan nampak jelas.


Max tersenyum tipis merasakan kekesalan yang dirasakan Peter. "Duduklah, Papa mertua. Kau pasti kelelahan datang kemari, maafkan aku yang tidak bisa menghampirimu ke sana. Kau tahu aku pria yang sibuk."


"Katakan saja, sialan! Kau menyita waktuku!" Peter mengepalkan kedua tangannya, rahangnya mengeras dengan gemeletuk gigi terdengar jelas.


Max terkekeh. "Oh, jangan terlalu menguras emosi, Tuan Peter. Aku hanya bersikap sewajarnya terhadap tamu istimewa yang berhasil masuk dalam ruangan pribadiku ini. Aku menyambutmu dengan tangan terbuka, bagaimana menurutmu kalau kita duduk dulu?"


Max sengaja memancing kemarah lelaki paruh baya itu, dan nampaknya berhasil. Wajah Peter memerah, tapi ia menurut untuk duduk di sofa.


"Katakan! Apa yang kau mau dariku?"


Seringai tipis terpatri di bibir tipis Max, ia melirik Alex yang diam di tempatnya berdiri.


Mengerti dengan itu, Alex menekan satu tombol dan sebuah tayangan terputar di layar.


"Kau mungkin melupakannya setelah beberapa pekan ini karena aku masih membiarkan Joe brengsekk itu hidup. Bukankah saatnya untuk mengakui sesuatu, Tuan Peter?"


"K-kau?" Suara Peter tercekat, namun wajahnya masih berusaha menahan agar tidak pucat pasi. "Apa yang kau inginkan dariku, sialan?"


"Kau yakin akan melakukan semua perintahku, Papa mertua?"


Meski enggan, namun demi perusahaan yang dipertahankannya, Peter mengiyakan.


"Kau sunguh baik, Papa mertua. Kalau begitu, kau harus mengembalikan barangku yang kau curi pada malam itu."


Peter menegang. "Aku sudah menjualnya. Barang itu sudah tidak ada."


"Oh baiklah, maka aku akan menghancurkan barang berharga milikmu. Perusahaan kertas yang tidak ada arti--"


"Cukup!" teriak Peter memenuhi seisi ruangan. "Kau tidak bisa melakukan itu, brengsekk! Kau mendapatkan Sara dan aku mendapatkan uangmu, bukankah itu penjualan yang sempurna?"


"Dan kau lupa bahwa kau pernah mencuri milikku, itu harus dibayar. Harga anakmu tidak sebanding dengan uangku. Lagipula, dia tidak sebagus yang kubayangkan."


Peter menyeringai, dia berpikir bisa melakukan sesuatu. "Bagaimana kalau kau mengembalikan dia dan kau mendapatkan barang milikmu?"


"Kau tidak berada dalam posisi bisa bernegosiasi, Peter. Saat ini, yang bisa kau lakukan adalah tunduk pada perintahku, kalau tidak maka perusahaan kecilmu bukanlah satu-satunya yang akan hancur dalam sekejab."


Tangannya memegang sebuah benda dan menunjukkannya pada Peter dan lelaki paruh baya itu terbelalak.


"K-kau .... Hentikan! Aku akan mengembalikan milikmu!"


Max tertawa sinis, ia menepuk pundak Peter. "Bagus. Keluarlah, aku akan memberitahu tugasmu nanti."


Dengan rahang mengeras dan tangan bergetar, Peter keluar ruangan itu.


"Alex, pantau dia, jangan biarkan kancil liar itu berulah."


"Sƭ, SeƱor."


Max kembali membuka ponselnya yang sempat tertunda tadi. Kini banyak sekali pesan yang masuk, dan itu hanya dari sang ibu. Karena penasaran, ia membukanya. Dan itu kejutan yang mengerikan buatnya.


"Astaga, Alex! Jangan biarkan rambut pelangi itu merusak mataku setelah pulang!"


.


.


.


***


Mohon maaf karena beberapa hari ini Xie tidak up dan jarang membalas komentar kalian. Semua karena Xie sedang sakit gigi. Yang pernah mengalami pasti tahu bagaimana rasanya, jadi mohon maaf ya. Xie senang kalian menunggu dengan sabar, karena itu Xie semangat untuk nulis kelanjutannya meski masih sakit.


Regards,


♔♔♔

__ADS_1


Xie Lu


__ADS_2