
Vote ya😘
.
.
.
***
Setelah pergulatan panas keduanya, Sara menutup matanya dan memeluk erat sang suami. Dia tahu Max merasa bersalah atas kejadian yang pernah menimpanya, karena itulah Sara tidak ingin menenggelamkannya lebih dalam.
Menggodanya mungkin cara terbaik, tapi bukan cara yang ampuh. Bagaimanapun, kenyataan harus diungkapkan. Dan mungkin Max akan terus tenggelam dalam rasa bersalah selamanya.
"Max, apapun yang telah terjadi pada Mamaku, kau tidak perlu menanggung rasa bersalah. Mungkin dia melakukan itu untuk sebuah alasan," ucap Sara yang masih memeluk dan mengelus dada sang suami.
"Aku sudah mendengar sebuah cerita yang diceritakan Elijah. Seorang pemuda membunuh seorang wanita, dan kemudian mengambil anak gadis dari wanita itu untuk menjadi istrinya. Dan kau tahu? Aku menendangnya saat itu."
Sara terkekeh pelan. Dia semakin mengeratkan pelukannya pada Max.
"Ada sebagian cerita yang berfungsi untuk menghibur, ada sebagian lagi yang berfungsi untuk membunuh setengah dari sisi baik manusia. Aku percaya pada apa yang ingin aku percayai, dan aku tidak percaya cerita bodoh itu."
Dia menelusupkan wajahnya di dada Max, Sara tidak ingin melihat ekspresi pria itu sekarang. Max masih saja diam, dia tidak menanggapi Sara.
"Aku mendengarmu tadi. Kau mengatakan Mama meminum racun, bukan? Kenapa dia melakukan itu?"
Sara mendengar hembusan napas pria itu. Dan jemarinya menyentuh kepalanya dengan lembut.
"Kau bisa mengatakan akulah pembunuhnya seperti yang dikatakan Stephen karena dia menyelamatkan nyawaku dengan itu," ucap Max lambat bersamaan dengan tangannya yang turun untuk mengusap punggung sang istri.
"Kau tidak membunuh Mamaku dengan tanganmu, kenapa kau mengatakan itu? Siapa yang hampir mencelakaimu itu?"
Max menghela napas sebentar. Dia harus menggali kenyataan pahit itu lagi dan menanggung rasa bersalah atas kejadian itu.
"Kau pernah mendengar cerita dari Mommy tentang penculikan itu bukan? Penjahat itu yang melakukannya."
Sara terdiam. Deborah memang pernah menceritakan itu tapi tidak menyinggung soal ibunya.
"Kenapa?" Sara memegang dadanya yang berdetak kencang. "Kenapa dia melakukan itu?"
"Aku berhasil kabur dari penjara yang mengurungku dan dia mengejarku serta menginginkan aku menjadi ketua kelompok pembunuh yang dipimpinnya. Tapi aku tidak mau kemudian mereka menyiksaku. Di saat aku sekarat, Alara menemukanku dan menghentikan orang itu."
Sara menatap mata biru itu. Lalu menangkup wajah Max yang terlihat sangat kacau. "Apa yang Mama katakan saat itu?"
Max memejamkan matanya sesaat. Rasa sesak di dadanya kembali dirasakan. Dia mengingat kembali kenangan lama, seorang wanita terkapar di hadapannya dengan mulut berbusa dan darah segar keluar dari hidungnya.
"Dia bilang ingin menitipkan putrinya padaku kalau aku berhasil selamat. Karena itulah, aku mencarimu. Dan alasan itulah yang menjadi awal mula cerita kita."
__ADS_1
Sara menjadi pendengar yang baik. Meski awalnya dia merasa sedih dengan alasan pernikahan mereka, setidaknya sekarang mereka sudah saling mencintai.
"Bagaimana dengan hutang yang dimiliki Peter?"
Max terkekeh. "Aku menjebaknya dengan itu. Aku tahu dia tidak akan memberikanmu padaku dengan cuma-cuma. Sedangkan aku harus membalas budi Alara, jadi aku harus mendapatkanmu."
Sara menatap terkejut. Dia mencubit kulit yang sedang dipegangnya itu dan membuat Max meringis.
"Kau hampir membunuhku. Peter mengikat dan menyuntikkan racun penenang padaku waktu itu."
"Dan mengancam bunuh diri, huh? Aku tahu kau tidak bisa dipaksa, tapi aku tidak punya cara lain. Peter satu-satunya yang punya kuasa atas kepemilikanmu."
Sara mengerucut sebal. "Aku memang tidak akan menikah denganmu jika saja Peter tidak berhasil mengurungku waktu itu."
"Aku tahu, aku selalu beruntung."
"Siapa penjahat yang kau maksud tadi?"
"Ayah dari Stephen. Apa kau bertemu dengannya sebelum ini?"
Sara menggeleng lemah. Sara tidak menyangka, anak dari orang yang membunuh ibunya juga hampir membunuhnya di laut Mediterania.
"Apa dia sangat jahat?"
"Aku pikir ada sesuatu yang berkaitan dengan ibumu yang diketahui oleh Thompson. Percakapan mereka waktu itu tidak terdengar jelas. Dia juga memberikan racun itu dengan sukarela karena alasan sepeleh itu."
Seketika Sara mengingat kalung berliontin bulan separuh yang diberikan Alara padanya. Ibunya mengatakan bahwa benda itu sangat berharga dan Sara tidak boleh menghilangkannya.
"Max, bisakah kau membantuku?"
"Apapun untukmu."
***
Mentari pagi mengintip dari balik dedaunan. Suasana di kamar itu sangat suram. Seorang lelaki berbaring lemah di ranjangnya dengan kaki dan tangan diborgol sementara seorang pria bertato duduk menyangga dagunya di samping ranjang.
Aura mencekam sangat terasa. Stephen memandang datar pada mata yang mengancamnya itu.
"Aku menyuruhmu untuk membunuh anak wanita itu, Stephen. Kenapa kau membiarkannya lari?"
Stephen tersenyum tipis, bibirnya mengejek dengan jelas. "Bangunlah dari tempat tidurmu dan lakukan apapun yang kau inginkan. Aku tidak bisa selalu menuruti perkataanmu, Papa."
Lelaki paruh baya yang tergeletak di ranjang itu menggertakkan giginya. Stephen menyeringai puas. "Kau tidak bisa memaksakan kehendakmu disaat kau tidak bisa melakukannya sendiri. Aku bukan robot yang bisa kau atur sesukamu."
"Anak s*nd*l kurang ajar! Apa ini yang diajarkan ibumu padamu?!"
Mata hitam itu menatap tajam, Stephen mempertahankan posisi duduknya. Tidak mungkin Thompson akan membunuhnya sementara tangan dan kakinya tidak bisa digerakkan.
__ADS_1
"Mama mengajarkanku untuk melawan jika tidak sesuai dengan keinginan dan sekarang aku sedang melakukannya. Untuk apa aku melawan hati nuraniku?"
Thompson mengepalkan tangannya yang diborgol itu. Dia menatap marah pada anaknya.
"Sekarang kau bisa melawanku, Stephen. Apa yang telah dilakukan anak wanita jalaang itu padamu?"
"Menurutmu?"
Stephen terkekeh pelan. Dia menyentuh tangan ayahnya yang semakin kurus itu.
"Dia mengajarkanku betapa pentingnya bertahan hidup disaat terdesak. Tidak mudah menyerah dan menghadapinya dengan senyuman. Maximus Kecil dan istrinya menjadi teladan bagiku. Aku tidak akan melepaskan apa yang sudah menjadi milikku sekarang, Papa."
Lelaki itu menoleh geram. Dia menahan amarahnya yang hampir meledak itu. "Apa maksudmu?"
"Aku tidak akan melepaskan Atlanta lagi. Dia wanitaku dan aku mencintainya, kami akan bersama-sama membesarkan putra kami."
Tenaga yang telah terkuras itu semakin menipis ketika Thompson memberontak. Matanya memerah dan gertakkan giginya terdengar.
"Kau tidak akan pernah bisa hidup hanya karena cinta, Stephen! Wanita itu tidak memiliki latar belakang, kau akan menjadi orang rendahan yang tidak memiliki apapun nanti."
Stephen menggeleng. "Kekayaanku sudah cukup untuk menghidupi anak dan wanitaku. Latar belakang dan kekayaan tidak akan mengahalangi keinginanku. Kau seharusnya sadar, aku mirip denganmu, Papa. Ambisius dan pemimpin yang hebat. Aku akan memilih jalanku sekarang!"
Thompson berteriak ketika Stephen bangkit dari duduknya. "Kau akan mati dengan pedangmu, Anak S*nd*l! Iblis akan mengantarmu ke neraka!"
"Neraka atau Surga, kau tidak punya hak untuk menentukan tempatku. Aku bisa menentukan jalanku mulai dari sekarang dan kau matilah dengan tenang."
Sebelum benar-benar meninggalkan kamar itu, Stephen berbalik sebentar. "Aku tidak akan menjadi suruhanmu mulai dari sekarang. Membunuh Max? Dalam mimpimu saja! Tapi, aku berterima kasih padamu karena penculikan itu aku bisa bertemu dengan orang hebat seperti Max."
"Kau telah melecehkannya, kau harus ingat itu! Kau juga membunuh Alara!"
"Kau yang membunuh Alara, bukan aku!!!" teriak Max memenuhi kamar itu. "Dan aku juga tidak melecehkan Max. Kau pikir aku serendah itu? Aku memang melakukannya dengan baik, dan Max mendukungku dengan akting terbaik malam itu."
"A-apa?"
"Aku hanya melakukan hal licik seperti yang kau lakukan. Aku membunuh orang jahat seperti yang kau suruh, tapi bukan sembarangan orang."
"Kau tidak akan bisa melawanku, Stephen. Aku Papamu!"
"Kau Papaku, aku tidak menyangkal fakta sialan itu. Tapi tentang jalan hidupku, kau tidak berhak ikut campur lagi!"
"Oh iya, aku hampir lupa. Aku tidak pesimis tentang perasaanku pada Atlanta, seperti yang kau lakukan pada Alara. Kami akan berjuang untuk kehidupan keluarga kami."
Thompson melotot kaget. "Apa yang kau ketahui?"
.
.
__ADS_1
.
***