
Vote yaš
.
.
.
***
"SeƱor, kau yakin tidak pulang?"
"Aku sudah mengatakannya berulang kali, Alex. Kau pulanglah terlebih dulu."
Alex terlihat khwatir bercampur kesal atas keputusan Max. Dia disuruh pulang sedangkan Max masih ingin menetap di sana untuk sementara waktu dengan Alana.
"Apa yang harus aku katakan pada SeƱora?"
"Kau pandai membuat alasan, Alex. Jangan membebaniku dengan pertanyaan bodoh itu."
Alex menghembuskan napas jengah, Max selalu pada pendiriannya dan sulit untuk merubah itu.
"Aku akan menunggumu, SeƱor. Aku tidak akan pergi sendiri, kau yang membawaku ke sini. Jadi, aku juga harus pulang bersamamu."
"Alexander!"
"Tidak, jangan menyebut nama panjangku. Kau juga tidak akan bisa menghentikanku!"
Max menyugar rambutnya frustasi. Menyuruh Alex pulang terlebih dahulu ternyata lebih sulit dari yang dibayangkannya.
Ini bukan kehendaknya, tapi Max harus melakukannya demi sesuatu yang mengganggu pikirannya.
"Ayolah, Alex. Bantu aku sekali ini saja."
"Tidak, SeƱor, aku tidak akan pergi tanpamu. Kita akan terus bersama, bahkan saat kau bersama wanita itu."
Sekilas terlihat seringai Max. "Terdengar seperti kalimat yang diucapkan untuk seorang kekasih yang sedang selingkuh," gumamnya.
Meski dia mengimingi Alex dengan barang berharga dan menggiurkan untuk mematahkan pendirian keras pria itu, tetap saja Alex tidak goyah.
Terkadang Max merasa aneh dengan Alex. Apa dia manusia? Kenapa tidak suka uang dan berlian?
"Kau ingin apa? Aku akan memberikannya untukmu."
Alex menyeringai, terbesit satu permintaan di otaknya. "Kau bisa mengambil matahari untukku, SeƱor. Aku menginginkan itu."
"Fuckk! Apa yang kau pikirkan?"
"Agar kau tidak buta dan tetap pada jalan yang terang, SeƱor."
Max terkekeh. "Aku selalu di jalan yang terang, Alex."
"Tidak, kau berada di kegelapan, SeƱor."
"Termasuk kau."
Alex menggeleng. Dia tidak bisa disamakan dengan Max.
"Tapi aku tidak menyakiti hati wanita."
"Kau juga membunuh."
"Itu berbeda, SeƱor."
"Bagiku sama saja."
Alex menggeram kesal, Max berusaha menghentikan dirinya.
"Jadi kau harus kembali!"
"Tidak, SeƱor!"
"Alexander!"
"Kau bilang kita sama, SeƱor. Yang berarti ke manapun kau pergi, di situ ada aku juga."
"Damnn it, Alexander! Kau benar-benar keras kepala."
Pria tampan itu menyeringai senang. Perkataan Max akhirnya kembali ke tempat juga. "Seharusnya kau juga menyadari sisimu yang itu, SeƱor."
__ADS_1
"Aku akan membunuhmu, Alex."
"Aku akan mati."
"Tentu saja, kau akan dikuburkan bersama bangkai dan ulat-ulat di tanah gersang."
Alex terkekeh, dia berhasil membuat Max kesal dan tidak berdaya. Dia tahu keinginan Max bukan hanya itu, tapi Alex tidak bisa tinggal diam saja sementara orang lain mengambil alih tempat Nyonya rumah yang seharusnya.
Alih-alih disuruh pulang, Alex lebih ingin melihat sesuatu secara langsung.
Dia masih bisa melihat ada perasaan tersembunyi di mata Max. Dan baginya itu sangat berbahaya.
Aku tidak akan membiarkanmu kembali dalam kegelapan yang menyakitkan, SeƱor.
***
"Terima kasih, Sayang. Kau yang terbaik. Aku ingin berjalan-jalan di sini bersamamu. Kau tidak keberatan 'kan?"
"Apapun untukmu, SeƱorita."
Alana mengerucut sebal. "Ayolah, jangan panggil aku seperti itu."
Max terkekeh. "Lalu aku harus memanggilmu apa?"
Wanita itu tampak berpikir sebentar. Dan saran dari Alana membuat Max menegang.
"Mi esposa? (Istriku)."
"Jangan bercanda, Lana. Kita belum sampai sejauh itu."
Alana tertawa. "Belum? Yah, aku menantikan hari itu."
"Maaf, aku sudah menikah."
Wanita itu lama terdiam. Dia menunduk dengan tatapan sayu. Namun, tak lama kemudian dia tertawa lagi.
"Kau mencintainya?"
Max menelan ludah kasar. Pertanyaan yang sulit dia jawab, meski jawabannya dia sangat tahu jelas.
Berada dalam situasi seperti ini, rasanya Max ingin sekali pergi sejauh dia bisa. Berlari ke manapun agar Alana tidak lagi bertanya tentang itu.
"Kau tahu jawabannya, Lana."
"Hahaha, aku tahu kau hanya mencintaiku. Dulu dan sekarang, bahkan sampai nanti kita tua. Kita akan bersama selamanya."
Meski mata Max menunjukkan adanya keraguan dalam menjawab, Alana seolah tak melihat itu. Dia hanya peduli pada perasaannya, pada hatinya yang dia pikir dimiliki oleh pria di hadapannya.
Setiap yang ada pada pria itu, semua miliknya. Bahkan hatinya, Alana berpikir telah memenangkannya.
Alana melingkarkan tanganya di lengan Max, menarik pria itu ke pinggir jalan untuk menghindari kumpulan pejalan kaki lainnya.
"Kau akan mencintaiku seumur hidup, bukan? Aku ingin kita bersama, memiliki putra dan putri yang lucu. Merawat mereka dan melihat mereka tumbuh dewasa bahkan sampai mereka menikah. Max, kau akan melakukannya untukku 'kan?"
Pria itu tersenyum renyah, tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Bahkan dengan Sara, dia tidak pernah kehilangan suara untuk sekadar menjawab.
"Kau menginginkannya, maka kau akan memilikinya, CariƱo."
Alana tersenyum manis, dia menarik Max dalam pelukannya dan mengecup bibir pria itu setelahnya.
"Aku mencintaimu, Max," bisiknya.
"Aku tahu."
"Kau belum mengatakan itu untukku hari ini, BebÄ. Say something, please!"
Max menghela napas dalam. "Ayolah, Lana, kau bukan anak kecil lagi. Kau sudah tahu jawabannya, kenapa harus bertanya lagi?"
Senyum wanita itu meredup, matanya memerah. Dan itu membuat Max tidak tahan. Karena satu kelemahan Max adalah air mata perempuan.
Dia menarik Alana dalam pelukan, mengelus rambut wanita itu dengan lembut.
"Jangan menangis, Sayang. Kau tahu aku mencintaimu. Mi corazón para ti, solo para ti. (Hatiku untukmu, hanya untukmu)."
Alana tersenyum dalam dekapan Max, dia menghapus air mata yang sudah menetes itu.
"Kau harus mengatakan itu setiap hari untukku, BebÄ."
"Cualquier cosa para ti, CariƱo. (Apapun untukmu, Sayang)."
__ADS_1
"Te amo, Max. Ayo pergi jalan-jalan, aku belum pernah ke sini sebelumnya."
Alana menarik Max ke sebuah gedung besar. Sebuah museum terkenal di Valencia Museo Nacional de Ceramica Gonzalez Marti, museum keramik yang terkenal dengan keindahan artistiknya.
"Aku dengar ada lukisan yang indah di sini. Mungkin kau bisa membelinya untuk dijadikan cenderamata."
"Aku tidak suka lukisan."
Alana mengerucutkan bibirnya. "Kita bisa melihat-lihat. Aku pikir kau tidak akan menolak setelah melihatnya."
"Kau berbicara seolah kau pernah ke sini, Lana."
Wanita itu tertawa, dia tetap menarik Max untuk masuk ke sana.
"Aku tidak sengaja pernah mendengar ada orang yang membicarakannya. Dan kebetulan aku sedang suka mengoleksi beberapa lukisan terkenal."
"Kau ingin membelinya?"
Wajah Alana seketika murung dan Max sudah tahu apa maksudnya itu.
"Aku akan memberikannya padamu. Kau bisa memiliki apapun yang kau inginkan."
"Terima kasih, Sayang."
***
Jauh di seberang sana, seorang perempuan sedang duduk termenung di bawah pohon. Ponsel di tangannya terus diperhatikan dengan wajah suram.
Kenapa dia jarang menelponku belakangan ini? Apa dia sedang sakit? Tidak, tidak, dia tidak mungkin sakit. Dia lelaki kuat yang cabul. Tidak mungkin sakit karena cuaca yang seperti ini.
Sara menghembuskan napas kasar, dia meletakkan kembali ponsel itu di bangku kayu tempatnya.
"Aku harus menjaga image-ku di hadapan pria brengsekk itu. Kau tidak boleh jatuh begitu saja, Sara. Ingat kau adalah ratu di hati teman-temanmu."
Tapi, aku rindu ....
"Oh, apa yang baru saja aku pikirkan? Esto es una locura, debo estar loca. (Ini gila, aku pasti sudah gila)."
Sara menepuk kepalanya agar cepat sadar dari lamunan gila itu.
Kembali dia membuka ponsel itu. Mencari sesuatu di galeri, berharap dia pernah mengigau atau tidak waras sehingga mengambil foto Max secara diam-diam.
Jujur saja, dia ingin sekali melihat wajah pria mesum yang selalu mengganggunya itu. Hanya sekadar melihat, bukan sesuatu yang lebih.
Dan sesuatu membuatnya terkejut bukan main. Bukan hanya satu atau dua, tetapi galeri ponselnya penuh dengan foto Max dalam berbagai pose.
Ada yang memakai baju dan ada yang bertelanjang dada, ada yang hanya menampilkan hidung, bibir, pipi dan dagu.
Dan yang paling mengejutkan adalah pose Max yang sedang tidur tanpa sehelai kain, hanya selimut yang menutupi pangkal pahanya.
"Astaga, kapan aku mengambil foto ini? Ini memalukan sekali, dia pasti akan mengira aku orang cabul."
Sara menepuk-nepuk pipi yang diduganya sudah memerah, membangunkannya dari mimpi buruk yang sedang melandanya.
"Aku benar-benar gila. Aku tidak menyangka akan suka memotret gambar yang segila ini."
Kembali Saraa berpikir, menekan kepalanya agar mengingat hari di mana dia melakukan hal cabul itu.
"Tapi, aku tidak pernah melakukan itu. Bahkan kalau dilihat ini bukan kamar kami."
Sara kaget, dia mulai sadar.
"Pria mesum! Kau memberiku foto yang sangat jelek. Sialan kau Max!"
Sara melemparkan ponselnya dan menutup wajahnya dengan telapak tangan.
"Kenapa mukaku mudah sekali memerah? Hanya foto, Sara. Kau jangan gila!"
Dia menggeleng berusaha menghilangkan ingatan tentang foto itu. Namun, semakin dia melakukannya semakin jelas wajah dan otot perur Max tercetak di otaknya.
"Kau membuatku gila, Max. Aku akan membunuhmu saat kau pulang nanti!"
.
.
.
***
__ADS_1