SOLEDAD

SOLEDAD
Ungkapan


__ADS_3

Happy reading!


.


.


.


***


Bulu mata yang lentik itu mengerjap pelan, menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam manik cokelat miliknya. Lampu tidur masih menyala redup menandakan pagi belum menyapa.


Sara melayangkan pandang ke bagian perutnya yang terasa berat seperti ditindih sesuatu. Benar saja, tangan kekar milik sang suami melingkar erat di sana.


Berusaha memindahkan tangan itu tapi Max malah memeluknya erat. Menariknya ke dalam dekapan pria tampan di sampingnya.


"Kau sudah bangun, Sayang?"


Suara serak yang terdengar seksi itu membuat Sara mengerjap gugup. Apalagi hembusan napas Max menggelitik wajahnya.


"Kau juga sudah bangun?"


"Hm."


Mata Max yang terpejam tidak membuat Sara mengira bahwa pria itu sudah bangun. Ketika dirinya bergerak gelisah dalam kungkungan dekapan Max, gigitan di telinganya mampu menghentikan.


"Jangan bergerak, kau bisa membangunkan macan tidur, Sayang. Atau memang kau ingin diterkam, aku akan melepaskannya dengan senang hati."


"Apa maksudmu?" tantang Sara pura-pura tidak mengerti.


Ia juga ingin tahu sejauh mana Max bertindak selain ciuman yang setiap detik dilakukannya saat bersama Sara.


Max mengendorkan dekapannya dan menatap manik cokelat itu dengan intens.


"Kau tidak mengerti maksudku? Berpura-pura polos atau memang bodoh, huh?"


Perempuan yang seringkali mendapat perlakuan dan ungkapan-ungkapan menyakitkan dari kerabatnya itu mengerucut dan itu nampak menggemaskan di mata Max.


Sara tidak pernah memasukkan ke hati setiap ucapan kasar Max dan ia selalu bertindak sesukanya di hadapan pria itu. Itu karena Max tidak pernah melarangnya untuk melakukan apapun di mansion itu, kecuali pergi keluar.


"Kau selalu menyebutku seperti itu. Aku istrimu atau bukan, huh? Punya suami yang terlalu seram itu menyebalkan," ucapnya sambil berusaha menutup mulut Max yang hendak menciumnya. "Aku belum sikat gigi, Max."


"Itu lebih baik. Kita sama."


Satu kecupan berhasil ia dapatkan. Saat mata Sara terus menatapnya dalam diam, Max mengerjap bingung. "Kenapa? Mengagumi ketampananku?"


Tanpa diduganya, Sara mengangguk. "Kau sangat tampan, Max. Aku baru tahu alasan mengapa Claire tergila-gila padamu."


Sara memberanikan diri menyentuh wajah Max yang kini ditumbuhi jambang dan itu menggelitik telapak tangannya. "Dan lebih tampan lagi kalau kau membiarkan jambang ini seperti ini."


Max, aku mencintaimu.


Andai punya keberanian untuk menyampaikan perasaannya itu, ia tak harus segan untuk menyentuh dan mencium pria yang meluluhkan hatinya itu.


"Kau baru sadar aku tampan? Ck, mengecewakan sekali."


Max menangkap tangan istrinya yang menggoda wajahnya, tak tahan dengan sentuhan halus itu, Max membalikkan posisi mereka.


"Kau benar-benar menggodaku, Sara. Jangan salahkan aku jika menerkammu sekarang."


Sara terkekeh ketika Max mencium pipinya dengan gemas. Apalagi pria itu suka menggigitnya dengan menggoda.


"Aku tidak pernah menggodamu dan kau menyalahkanku karena aku terlalu cantik sehingga kau terpana. Begitu, bukan?" tanya Sara mengedipkan matanya seraya tersenyum menyeringai.


"Sara," geram Max. Ia menangkap pergelangan Sara saat jemari lentik itu hendak membelai wajahnya. "Berhenti menggodaku, Sayang."


"Aku tidak melakukannya, Sayang."


"Astaga." Max menggeram frustasi, tak tahan dengan sikap Sara yang tiba-tiba manis itu. "Kau memanggilku sayang?"

__ADS_1


"Ada yang salah?"


Max menggeleng lemah, kekuatannya seolah terendam oleh sejuta kekuatan sihir.


"Kau pandai menggoda, Sayang."


Max langsung membungkam mulut istrinya dengan ciuman yang sedikit memaksa, membelai wajah yang sesekali bersikap manis padanya itu.


Entah apa yang ada di pikirannya saat ini, ia hanya mengikuti nalurinya untuk menyentuh bagian-bagian yang sering disentuhnya lewat bungkusan kain tipis.


Tangannya bermain-main di kancing piyama Sara, memikirkan apa yang harus ia lakukan. Melangkah maju untuk menghadapi rintangan ke depannya atau terus berlabuh di satu tempat tanpa berniat mundur atau maju.


Sara yang tidak terkejut lagi oleh aksi mendadak Max memejamkan matanya dan mencoba untuk membalas ciuman itu. Ia mengalungkan tangannya di leher suaminya dan melakukan hal yang sama.


Max yang selalu tidur tanpa baju itu membuat Sara leluasa menyentuh dan meraba punggungnya yang bidang. Sesekali membuat pola abstrak sambil menikmati pertautan bibir mereka.


"Kita belum pernah melakukannya, Sara. Jangan menggodaku," ucap Max terengah-engah saat bibir mereka terlepas.


Matanya berkabut oleh gairah besar yang berusaha diredamnya dalam gigitan kecil di leher sang istri.


"Lebih baik kita tidur dan berhenti menggodaku."


Tanpa melihat wajah istrinya, Max menutup mata dan memeluk Sara dengan erat layaknya sebuah guling. Ia harus menahan dirinya agar tidak menerkam istrinya sekarang. Memejamkan mata mungkin berhasil, begitu pikirnya.


***


"Max, bangun! Sudah siang!"


Sara mengguncang pelan tangan Max, berusaha membangunkan pria yang sudah tertidur sampai jam tujuh.


"Max, tidak baik tidur sampai siang. Ayo bangun!"


Tidak ada jawaban membuat Sara kesal, ia menarik selimut yang masih membungkus kulit suaminya.


"Max, aku membuatkan sesuatu untukmu, cepat bangun!"


Masih belum ada jawaban. Sara menggeram di tempatnya. "Dia bahkan lebih buruk dariku. Apa kau ingin menjadi seperti singa yang tidur sampai berhari-hari?"


"Sayang, ayo bangun," bisiknya pelan dan mengecup bibir Max. Ia menyeringai ketika Max bergerak menyentuh bibirnya.


"Yes, berhasil! Sekali lagi!"


Bukan hanya kecupan, Sara melumaat bibir itu dengan buas dan seskali menggigitnya dengan kasar.


"Berani tidak bangun, aku akan membunuhmu," ucapnya tepat di wajah Max.


"Kelinci liarku beraksi!"


Seringai mesum yang tercetak di bibir tipis itu membuat Sara membungkam mulutnya sendiri. Kegugupan melandanya.


"K-kau?"


"Ingin menggodaku lagi?"


Max membuka matanya dan menarik istrinya ke ranjang.


"Max, kau harus bangun!"


"Kau harus membunuh dan mematikan api yang sudah kau nyalakan, Sayang. Panggil aku seperti tadi!"


Wajah Sara kini memerah malu. Ia nekad melakukan itu tanpa memikirkan apapun tadi. Niatnya hanya ingin membangunkan, namun ternyata ia dipermainkan suaminya.


"Tidak mau!" ketusnya. "Kau menyebalkan!"


Max terkekeh keras, ia menyetuh bibir Sara yang tampak sedikit basah. "Hukum aku dengan manis seperti tadi, Sayang. Itu benar-benar membuat pagiku bergairah."


"Max! Ayo sarapan!"


"Aku ingin memakanmu!"

__ADS_1


Sara mengerucutkan bibirnya, dan mendelik kesal pada Max. "Belum saatnya, kau berubah jadi mesum sekarang!"


"Astaga, istriku unik. Berikan aku ciuman dan aku akan mandi."


Sara mengikuti perintah Max. Mencium sang suami setiap pagi sudah menjadi kebiasaannya, morning kiss, begitu kata Max. Entah itu keinginan hati Max atau pria itu hanya ingin mempermainkannya, Sara tidak peduli karena hanya itu kesempatan yang didapatkannya untuk mencium Max, mengungkapkan isi hati yang sebenarnya lewat bahasa tubuh.


"Kau berubah jadi penurut! Cium aku lagi!"


"Bukan hanya mesum tapi sudah menjadi maniak ciuman."


"Hahaha, aku suamimu, Sayang!"


Ciuman itu lembut, didominasi oleh Sara yang memeluk lehernya dengan erat. Max memejamkan matanya dan membalas ciuman istrinya.


"Apa artinya ini? Kau tidak menggigitku seperti tadi."


"Kau suamiku dan aku tidak ingin menyakitimu."


Mata perempuan itu menatapnya dan itu membuat Max sedikit risih.


"Jangan menatapku seperti itu kalau tidak ingin aku memakanmu sekarang!"


"Kau bisa melakukannya."


"Apa?!" Max mengerjap, menelaah setiap tindakan dan ucapan Sara yang aneh baginya. "Apa maksdumu, Sayang?"


"Nothing," balas Sara menyengir. "Apa yang kau pikirkan? Bercinta, huh?"


"Kalau benar kenapa?"


"Kau tidak bisa melakukan itu pada pagi hari."


"Kapanpun aku bisa. Pagi, siang, sore, malam, kapanpun dan di manapun," ucap Max mantap dan mendapat gelakan dari istrinya.


"Kau mesum!"


"Kau istri pria mesum ini."


"Ya, ya, ya. Aku tidak bisa menyangkal fakta itu, kau suamiku. Suami mesum."


Suara gelak tawa Sara terdengar indah di telinga Max, ia menarik tengkuk istrinya dan membungkam bibirnya.


"Apa yang kau buat untukku?"


"Sesuatu yang manis karena kau harus menemaniku ke suatu tempat," ucap Sara menunjuk rambut pelanginya.


"Wah, kau pandai main suap-suapan, Sayang. Peter mengajarimu tentang ini?"


"Kau yang mengajariku."


Sara bangkit dari sana dan menyiapkan pakaian untuk suaminya setelah mengecup bibir itu sekali. Perkataan Max membuatnya kembali mengingat Peter. Lelaki yang pernah menjadi orang paling baik dalam hidup masa kecilnya.


"Ck, istri nakal."


"Kau menyukainya, Max."


"Kau menyukaiku?" teriak Max menggoda yang berhasil menghentikan gerakan Sara.


Dan anggukan dari Sara membuat Max menengang.


"Ya, aku menyukaimu bahkan mencintaimu. Apa kau keberatan? Tidak masalah, aku tahu ini terlalu cepat untukmu dan kau tidak perlu membalasnya."


.


.


.


***

__ADS_1


Love,


Xie Lu♡


__ADS_2