SOLEDAD

SOLEDAD
Patah


__ADS_3

Vote ya😘


.


.


.


***


Ternyata dia benar-benar berusaha membeli lukisan itu untukku.


Alana memandang Max dari kejauhan, pria itu sedang meminta izin untuk membeli karya di museum yang pada dasarnya tidak boleh dimiliki.


Wanita itu tersenyum saat Max berjalan ke arahnya. "Bagaimana, Sayang?"


"Kau bisa memilikinya sekarang."


"Kau serius? Wah, aku pasti sedang bermimpi sekarang. Terima kasih, Bebē."


Wanita itu langsung memeluk Max, melompat girang seperti anak kecil yang mendapat permen.


"Berhenti bertingkah aneh, Lana. Kau bukan anak kecil lagi."


Alana menggeleng, dia tetap memeluk Max dan tertawa. "Aku sangat bahagia, Max. Kau pasti benar-benar mencintaiku."


"Kau tahu jawabannya, Lana."


Max merasa udara di sekitarnya berubah menjadi panas yang membakar kulit. Alana terus menempel, memeluk dan berteriak seperti anak kecil.


"Terima kasih, kau benar-benar yang terbaik."


"Ya, jadilah gadis yang pintar. Lepaskan pelukanmu dulu."


Tapi wanita itu menggeleng dan malah mengeratkan pelukannya di pinggang Max. "Biarkan aku memelukmu seperti ini. Aku sedang bahagia."


"Kau tetap akan memelukku bahkan saat kau tidak bahagia," gumam Max yang masih didengar Alana.


"Kau pintar, Bebē. Karena aku juga akan memelukmu setiap saat sampai kita tua."


"Ayolah, lepaskan dulu pelukanmu. Kita harus pergi makan, aku sudah lapar."


Wanita itu melepaskan pelukannya, dia menyeringai.


"Bagaimana kalau kau memakan aku saja?" bisiknya manja di telinga Max.


Pemilik manik biru itu terkekeh ringan, dia tidak pernah berpikir Alana akan berubah sedemikian cepat.


"Aku tidak akan kenyang hanya dengan itu, Alana."


"Tapi kita belum pernah melakukan sekss, Max. Aku ingin mencobanya denganmu," ucap Alana mengerucutkan bibirnya. "Ayolah, kita bisa memesan hotel terdekat."


Max merinding mendengar itu. Dia bahkan melepaskan cekalan Alana di lengannya. Pria itu tiba-tiba merasa sangat marah, entah karena Alana yang mudah mengatakan itu atau membayangkan Alana pernah melakukannya dengan pria lain.


"Kau gila?" ucapnya sarkas. "Apa kau terbiasa melakukan itu dengan banyak pria?"


Mata Max memerah oleh amarah, dia tidak bisa mengendalikan dirinya. Karena itu, dia menelpon Alex agar dia bisa memendam amarah dengan cara tersendiri yang tidak akan menyakiti wanita itu.


"Bawa wanita itu ke villa! Dia sudah gila."


Melangkah pergi dari sana, Max tidak menghiraukan teriakan Alana yang mencegatnya. Dia marah, sangat marah mendengar ajakan Alana yang menghancurkan hatinya.


"Max, berhenti! Kau mencintaiku, jangan tinggalkan aku. Aku tahu kau sangat mencintaiku, jadi ku mohon, jangan pergi."


Wanita itu menangis sesegukan ditonton oleh banyak orang di luar gedung. Tampaknya dia tidak menghiraukan ocehan orang dan hanya memedulikan Max yang pergi jauh darinya.


Alana berlari mengejar Max yang sudah jauh di depan. Pria itu tidak menengok sedikitpun.


"Max, aku tahu kau tidak tega meninggalkanku sendirian. Kembalilah, aku mohon."


Tetap saja pemilik mata biru itu melangkah pergi. Alana jatuh terduduk dengan lutut menghantam keras lantai kasar di luar bangunan.


"Max, aku mohon. Aku mohon ...."


"SeƱorita?"


Seseorang berdiri di hadapannya, dengan tatapan sedingin es dia menjulurkan tangannya. "Bangunlah, SeƱor hanya pergi mengambil lukisan itu."


Wanita itu menerima uluran tangannya. Dia tersenyum setelah tahu bahwa Max tidak akan pergi meninggalkannya. "Aku tahu dia tidak akan bisa meninggalkanku. Dia mencintaiku."


Kemudian menghapus air mata yang menguncur deras tadi. "Terima kasih, Alex."


"Kenapa dia tidak menungguku?"


"Kau sedang menangis, SeƱorita."


"Max menyebalkan," ucap Alana mengerucutkan bibirnya. Dia kemudian berlari ke arah di mana Max pergi.


"SeƱorita! Kau tidak boleh ke sana!"


Alex mengejar dan menarik tangan Alana, menghentikan wanita itu agar tidak mengganggu Max yang sedang melakukan sesuatu.


"Aku kekasih Max, kau tidak bisa menghentikanku."


"Hanya pembeli yang bisa ke sana, SeƱorita. Kau tidak memiliki uang."


Alana menghentakkan kakinya, dia kesal pada Alex.


"Kalau begitu biarkan aku sendirian."


"Aku bertanggung jawab menjagamu, SeƱorita. SeƱor khawatir kau dikejar preman itu lagi."


Bibirnya tersenyum lagi, wanita itu tampak sangat bahagia. "Aku tahu. Dia memang Max yang aku kenal."


"Jadi jangan mengecewakan SeƱor, SeƱorita."

__ADS_1


"Aku tidak melakukannya."


"Aku khawatir kau akan melakukan itu lagi di kemudian hari."


Alana mendelik kesal, dia menatap tajam pada Alex. "Aku tidak akan melakukan itu, Alex."


Pria tinggi itu menyeringai tipis. "Kenapa kau menatapku seperti itu, SeƱorita? Apa aku menebak dengan benar?"


"Kau salah, aku tidak akan meninggalkan Max karena dia mencintaiku. Aku akan patuh padanya."


Pemilik mata abu itu menatap Alana datar membuat wanita itu sedikit waspada.


"Sikap seperti ini terkesan sangat murahan. Jangan mempermalukan dirimu lagi di depan umum, SeƱorita."


"Bukan urusanmu!"


"Menjadi urusanku karena kau bersama orang yang dijunjung tinggi."


***


"Sara, kemarilah!"


Deborah berteriak dari belakang, tepatnya di taman yang luas.


"Yes, Mom?"


"Kemarilah! Ambilkan beberapa tangkai bunga ini untukku."


"Yang mana?" Sara mendekat, dia melihat sekumpulan bunga cantik yang ditunjuk Deborah.


"Yang warna-warni."


"Semuanya berwarna-warni kalau digabung, Mommy."


"Maka lakukanlah!"


Sara menggeleng pelan. Terkadang dia tidak mengerti maksud perkataan Deborah.


"Mommy butuh berapa tangkai?" tanya Sara yang sedang sibuk memangkas bunga yang sedang mekar.


"Cukup untuk sepuluh meja."


"Sebanyak itu?"


"Jangan banyak bertanya. Aku tidak akan menghabiskan bunga di rumahmu."


Perempuan itu tertawa, dia tidak berpikir demikian. "Ayolah, Mom. Kau tahu maksudku."


"Suamiku suka bunga yang indah."


Sara mengingat lelaki paruh baya yang terlihat bugar itu. "Kenapa Dad tidak pernah datang ke sini, Mom?"


"Dia tidak suka berjalan."


"Astaga, padahal itu bagus untuk kesehatan," ucap Sara.


"Wow, itu menyenangkan. Kenapa Mommy tidak menemani?"


Deborah menatap Sara, dia terkekeh. "Dia pria tua yang cabul, Sara."


Mata perempuan itu membulat, Sara menutup mulutnya yang hampir berteriak.


"Tertawalah sesukamu," ucap Deborah mengizinkan.


Sara tertawa keras memenuhi hamparan luas taman itu. Pagi yang tenang dan penuh semangat.


Dia jadi teringat pada Max yang sering menggodanya. Suami yang selalu menggoda kapanpun dia mau.


Ah, ingin rasanya Sara menangis mengingat betapa mesumnya Max.


"Sara, kenapa kau melamun?"


"Eh?" Sara mengerjap. Dia menggeleng cepat mengusir bayang-bayang seringai mesum Max yang selalu mengganggunya.


"Maaf, Mom. Aku teringat ada sesuatu yang harus aku kerjakan lagi," ucapnya berbohong. Padahal dirinya ingin menyembunyikan diri karena malu.


"Pergilah, aku tahu kau merindukan anak nakal itu. Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya, Sara. Telpon dia!"


Lalu apa kabar buah yang jatuh di tempat yang miring, Mom?


Sara pergi tanpa suara, dia malu karena Deborah sudah mengerti apa yang terjadi.


"Aku tidak bisa menyembunyikan apapun dari Mommy juga, sama seperti Nadia," gumamnya.


Kembali ke kamar, Sara mengambil ponsel yang dibuangnya asal. Mengecek beberapa pesan dan email yang masuk dari temannya.


"Satu panggilan suara tak terjawab? Max?"


Sara tersenyum. Dia memanggil kembali. Sekali dering langsung diangkat membuat Sara terkejut.


"Kau dari mana saja? Aku menelponmu dari tadi, Bodoh!"


Sara mengerucut sebal. Dia menjauhkan ponsel dari telinganya karena suara Max sangat keras.


"Aku bersama Mommy."


"Apa yang dilakukan Mommy di sana?"


"Menghabiskan waktu bersamaku."


"Ck, kalian semakin dekat. Apa saja yang diceritakan Mommy tentangku?"


"Tentang masa kecilmu saja dan beberapa tahun yang lalu tentang kau diculik dan hampir terbunuh."


Terdengar helaan napas Max. "Berhenti membicarakanku lagi, ok? Tugasmu hanya merindukanku."

__ADS_1


"Aku mengerti. Sedang apa kau?"


"Menelpon istriku. Kenapa? Kau merindukanku?"


Sara memutar bola mata malas. "Jangan naif, aku tidak begitu," sangkalnya meskipun itu benar. "Kapan kau pulang? Ini sudah tujuh hari."


"Maaf, masih ada beberapa hal yang belum diselesaikan. Aku akan pulang setelah semuanya selesai. Jangan marah ya, Sayang."


Ingin rasanya Sara melempar ponsel itu di kepala Max yang sangat naif itu. "Kau baik-baik saja 'kan? Kenapa bicaramu seperti orang yang sedang mengigau?"


Max terkekeh. "Sayang, ubah ke panggilan video. Aku ingin melihat wajahmu."


Sara melakukannya. "Kau berada di luar?"


"Ya, sedang berjalan-jalan."


Tak lama kemudian, tampaklah sosok perempuan di belakang Max. Dan itu membuat Sara kaget sekaligus khawatir.


"Siapa dia, Max?"


"Aku Alana."


Bagai tersambar petir musim kemarau panjang, Sara menegang. Dia menelan ludah kasar.


Perasaannya campur aduk, tidak disangka panggilan video yang dilakukannya berujung pada kejadian patah hati. Alana, dia kembali.


Sara menahan dirinya agar tidak menangis meski dadanya sesak oleh napas yang tidak mampu lagi dia hembuskan.


Dia bermaksud menunjukkan kekasihnya padaku dengan panggilan video ini? Aku terlalu naif, pria itu bukan milikku.


"Kau istrinya Max? Hahaha, aku sedang bersama suamimu. Maaf ya."


Sara mengerjap cepat saat panggilan itu diputuskan begitu saja. Dia belum sempat mengucapkan apapun pada Max.


Perempuan itu menunduk di antara dua lututnya, duduk dengan perasaan kalut di ranjang king size. Hatinya hancur lebur, membayangkan Max berlaku mesum pada Alana, sang kekasih.


Tidak ada harapan baginya, mentari yang terbit pada akhirnya harus tenggelam lagi dalam kegelapan. Ingin menangis, tapi Sara merasa dirinya bukan apa-apa.


Max, suaminya, pria miliknya sedang bersama wanita yang dicintainya. Wanita yang selalu digumuli Max ketika mabuk, dan wanita yang membuat Max hilang kendali dan yang penting Alana adalah wanita yang sangat dicintai oleh Max.


I'm hurting baby, I'm broken down


(Aku terluka, kasih, aku hancur)


I need your loving, loving, I need it now


(Aku butuh kasih sayangmu, aku butuh sekarang juga)


When I'm without you, I'm something weak


(Saat aku tanpamu, aku lemah)


You got me begging, begging, I'm on my knees


(Kau membuatku memohon, memohon, aku berlutut)


I don't wanna be needing your love,


(Aku tidak ingin butuh cintamu)


I just wanna be deep in your love


(Aku hanya ingin tenggelam dalam cintamu)


And it's killing me when you're away


(Dan aku tersiksa saat kau jauh)


Oh, baby


(Oh kasih)


'Cause I really don't care where you are


(Karena aku sungguh tak peduli di mana kau berada)


I just wanna be there where you are


(Aku hanya ingin ada di tempat kau berada)


And I gotta get one little taste


(Dan aku harus sedikit mencicipi)


Your sugar, yes please


(Gulamu, ya, ku mohon)


Won't you come and put it down on me


(Maukah kau datang dan memberikannya padaku)


I'm right here, cause I need


(Aku di sini karena aku butuh)


Little love and little sympathy


(Sedikit cinta dan sedikit simpati)


Sugar, Maroon 5


.


.

__ADS_1


.


***


__ADS_2